Pergi dari Rumah

Hari demi hari berlalu, sebulan setelah kejadian Aku ketahuan berbicara dengan Ramdan dan Romi, Mas Elang benar-benar berubah. Sikapnya dingin dan keras serta tidak mau dibantah. Kalau mengenai bantah membantah, dari sejak menikah Aku belum pernah membantah Mas Elang. Hanya satu kesalahanku dulu, bertemu Mbak Marisa tanpa menunggu persetujuan dari Mas Elang. Dan saat ini, Aku merasa Mas Elang terlalu berlebihan menyikapi kesalahanku yang tidak seberapa.

Apalagi kalau sudah menyinggung nama mantan istrinya, Mas Elang begitu marah. Dan Aku yang selalu menjadi sasaran kemarahannya. Entahlah Aku selalu kena imbas dari kenangan buruk yang diperbuat Mbak Mayang.

"Mas, kenapa sejak Nada ketahuan berbicara dengan teman Nada, Ramdan dan Romi sikap Mas Elang jadi seperti ini, bukankah itu sudah sebulan yang lalu?" tanyaku tempo hari memberanikan diri.

"Aku hanya menghukum kamu," jawabnya.

"Kenapa Mas? Sudah terlalu lama Mas diamkan Nada seperti ini? Bukankah kesalahan Nada tidak sefatal kesalahan yang Mbak Mayang lakukan?" Mas Elang diam, perlahan dia menghampiriku lalu dengan cepat tangannya mencengkram rahangku kuat, sehingga Aku merasakan sakit.

"Jangan kaitkan ini sama pengkhianat itu! Atau kamu ingin Aku menendang kamu dari rumah ini? Dan jangan sekali lagi menyebut nama itu di depanku atau di depan Sya, jika kamu membangkang maka akan tahu akibatnya," ancam Mas Elang kasar, nafasnya cepat seakan sedang berburu.

"Kenapa Mas, kenapa setiap Nada menyebut nama Mbak Mayang, Mas selalu kasar dan marah pada Nada? Apa Mas Elang masih mencintai dia?" tanyaku dengan suara bergetar. Mas Elang menghampiriku, matanya memerah menyiratkan amarah yang cukup besar, Aku merasa ngeri melihatnya. Lalu Aku berjalan mundur menjauhinya. Namun Mas Elang sangat cepat meraih tubuhku lalu merangkulnya kasar. Tidak ada lagi kelembutan seperti dulu saat dia menginginkan sesuatu.

Perlahan rangkulan itu berubah cengkraman yang kuat, sehingga membuat Aku sedikit sesak dan terbatuk-batuk.

"Uhuk, uhuk, uhuk....!"

"Papaaa... apa yang Papa lakukan sama Bunda?"

Tiba-tiba Sya datang mengejutkan Mas Elang yang sedang mencengkramku kuat. Dengan cepat Mas Elang melepaskan cengkramannya lalu menghampiri Sya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, Aku segera berlari menuruni tangga, lalu menuju pintu utama dan keluar. Aku pergi dari rumah itu tanpa memikirkan Sya yang telah menyelamatkan Aku dari cengkraman Mas Elang.

Aku menghentikan sebuah Taksi yang kebetulan lewat, Taksi berhenti lalu Aku segera naik. "Jalan Pak, sedikit cepat ya!" perintahku tanpa menyebut tujuanku. Pak Supir patuh dengan perintahku, dengan segera dia kemudikan Taksinya sedikit cepat.

Aku menangis dan melihat ke arah belakang Taksi, takut jika Mas Elang mengejarku. Namun tidak sedikitpun mobil Mas Elang kelihatan mengejarku. Perasaanku saat ini antara kecewa dan lega. Kecewa karena Mas Elang tidak mengejarku, dan lega karena kepergianku ini tidak mungkin terkejar lagi.

10 menit berlalu, Taksi yang Aku tumpangi sudah kurang lebih 5 kilometer meninggalkan rumah Mas Elang. Lumayan jauh. Supir Taksi menoleh ke belakang ke arahku yang kini masih menangis, dia melihatku ragu dan merasa kasihan.

"Mau kemana Mbak, ini sudah lumayan jauh. Sudah jarak tempuh 5 kilometer dari tempat tadi, tapi Mbaknya belum mengatakan kemana tujuannya? Kalau boleh tahu Mbaknya mau kemana?" tanya Supir Taksi itu hati-hati.

Aku tersadar, lalu segera menyusut air mataku.

"Ke Taman Setia saja Pak....!" ucapku serak dan sekenanya. Pak Supir mengikuti kemauan ku. Letak Taman Setia lumayan jauh, bisa mencapai 45 menit jarak tempuh dari rumah Mas Elang. Dan Aku rasa Mas Elang tidak akan mengetahui Aku disini. Mungkin karena Aku butuh ketenangan, Aku spontanitas mengatakan Taman Setia sebagai tujuanku pada Pak Supir.

Perjalanan ke Taman Setia yang ditempuh kurang lebih 45 menit itu, akhirnya sampai.

"Mbak, sudah sampai!" tegur Pak Sopir mengagetkan Aku yang tengah melamun memikirkan nasibku kedepannya.

"Ehhh... oh iya Pak, terimakasih," ucapku sedikit gelagapan. Namun Aku menjadi bingung dan salah tingkah, sebab saat tadi keluar rumah Aku tidak membawa apapun, Hpku saja tertinggal. Aku semakin dilanda bingung saat Pak Supir menoleh ke arahku.

"Emmm..., sa-saya... ma-mau berterus terang sama bapak, kebetulan saya tadi saat pergi lupa tidak membawa apa-apa, ja-jadi untuk bayar Taksi, sa-saya tidak punya uangnya. Tapi... bapak jangan khawatir, saya akan bayar nanti saat saya di rumah. Sa-saya minta tuliskan nomer rekening bapak dan jumlah ongkos Taksinya. Supaya saya nanti bisa transferkan," ucapku sedikit terbata seraya menundukkan kepala karena merasa malu.

"Ohhh... ya sudah tidak apa-apa, saya paham kok. Tidak bayar juga tidak apa-apa Mbak," balasnya tidak disangka-sangka. Bicaranya saja lembut tidak menyiratkan marah.

"Saya minta maaf, bukan maksud saya tidak mau bayar, namun tadi saya benar-benar lupa. Sekarang saya mohon bapak menuliskan nomer rekening dan jumlah ongkos Taksi," ucapku memohon. Pak Supir terlihat geleng-geleng kepala.

"Jangan lupa nomer telponnya sekalian, Pak!" ucapku lemah. "Mbak... Saya ikhlas kok, tidak usah dibayar. Jangan dipikirkan...!" ucapnya lembut.

"Tapi....!"

"Tidak usah sungkan Mbak, saya benar-benar ikhlas. Apalagi Mbak, saya lihat dalam kesulitan. Jadi tidak ada salahnya saya sedikit membantu Mbak. Caranya dengan mengikhlaskan ongkos taksi ini," tandas Pak Supir tulus.

Aku tertunduk malu menerima kebaikan Pak Supir yang bernama Darma sesuai *nametag* yang tercantum di gantungan taksi itu. Dengan perasaan malu, Aku hanya mampu berterima kasih.

"Kalau begitu... saya ucapkan terimakasih banyak, Pak! Biar Allah yang akan membalas semua kebaikan Bapak!" ucapku pelan disertai tangan yang terkatup. Pak Supir tersenyum tulus. Tanpa berlama-lama, Aku segera turun dari taksi Pak Darma.

"Pak... sekali lagi saya ucapkan terimakasih....!" Ucapku saat Aku sudah turun dari taksi. Pak Darma membalas dengan senyuman tulus lalu perlahan melajukan kembali taksinya. Taksi semakin jauh, diiringi tatapan sendu dari kedua netraku.

"Terimakasih Ya Allah, dalam kesulitanku Kau kirimkan malaikat penolong. Semoga Pak Darma selalu dilimpahkan rezekinya," doaku sungguh-sungguh.

Taman Setia di hari libur begini memang selalu ramai, siang hari saja masih banyak orang lalu lalang untuk sekedar jogging dengan pasangannya. Aku duduk di sebuah bangku yang sudah tersedia di sana, dengan pohon Kersen yang menaungi.

Tiba-tiba rasa sakit hati ini menyeruak kembali dan tanpa terasa air mata menetes deras. Mas Elang benar-benar telah melukai perasaanku. Bahkan kata-kata kasarnya yang mengancam akan menendangku dari rumahnya, sungguh sangat menyakiti hatiku.

"Sakit sekali, rasanya lelah menghadapi sikap Mas Elang jika seperti ini terus," aku membatin.

Siang berganti senja, hari semakin gelap. Taman Setia mulai sepi, para pengunjung taman satu persatu mulai meninggalkan taman, namun karena letak taman tersebut di pusat kota, jadi taman ini tidak pernah sepi pengunjung meskipun sampai malam hari.

Lampu taman satu persatu mulai dinyalakan, Aku sedikit risau. Sudah hampir empat jam Aku berada di taman ini, meratapi perlakuan kasar Mas Elang. Kadang berjalan kecil dan berpindah dari satu bangku taman ke bangku taman yang lain, persis orang bingung.

Dan Aku memang sedang bingung kini, kemana Aku harus pergi? Menemui Mbak Marisa rasanya malu, mereka pengantin baru pastinya suasananya masih dalam suasana honeymoon. Lagipula untuk ke rumah Mbak Marisa perlu naik taksi, sedangkan Aku tidak memegang uang sama sekali. Tidak mungkin setiap supir taksi seperti Pak Darma baik dan ikhlas menolong saat orang lain dalam kesusahan. Mau ke rumah Bapak, sama saja perlu naik taksi dan Aku tidak memiliki uang untuk ongkos.

"Nada....!" pekik seseorang mengejutkan kebingungan. Aku tersentak kaget dengan kehadiran Ibu mertua yang tiba-tiba. Kenapa dia berada disini, apakah kebetulan atau sengaja?

"Heh... Aku tahu dari Narti kamu sedang pergi dari rumah gara-gara Elang mengusirmu, mau sampai kapan kamu disini?" ketus Ibu seraya menatap tajam ke arahku.

"Aku tahu Ibu senang kan melihat Aku diusir seperti ini, jadi Ibu tidak perlu bersusah payah lagi untuk berusaha menyingkirkanku, karena Aku memang sudah pergi dari rumah itu."

"Hehh... kalau mau jujur, aku memang senang kamu diperlakukan seperti ini oleh Elang. Tapi anakku dan cucuku sekarang masih membutuhkan kamu. Sya menangis mencari-cari kamu, jadi kalau kamu masih sayang Sya, maka pulanglah. Aku mulai sekarang sudah tidak peduli akan hubunganmu dengan anakku. Maka, pulanglah....," ucap Ibu dengan nada mendesak seraya menarik tanganku kasar berniat mengajakku pergi.

Aku sontak menepis tangan Ibu, meminta ku kembali namun caranya masih kasar, tidak ada kelembutan seorang Ibu yang meminta anaknya pulang. Ibu menatapku terbelalak.

"Nada....!" pekiknya kesal.

"Kalau kamu tidak mau pulang sekarang juga, maka lihat saja kamu akan menyesal, kamu akan kehilangan Elang dan Sya selamanya!" Ancam Ibu tersenyum sinis. Aku semakin getir mendengar ucapan Ibu barusan. Siapkah Aku kehilangan kedua orang itu yang masih sangat Aku cintai?

Terpopuler

Comments

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

apa yang terjadi dengan Elang 🙄🙄🙄 semaput kah, karena nada pergi..

2022-12-15

2

@Kristin

@Kristin

Bikin kesal aja punya mertua kayk gini

2022-12-15

1

☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓

☠ᵏᵋᶜᶟเภє๓

pergi aja gak usah pulang daripada menderita

2022-08-23

1

lihat semua
Episodes
1 Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2 Sya Merajuk
3 Insiden Makan Malam
4 Sya Deman
5 Sonia Menginap
6 Kepergok Pengganggu
7 Alasan Kenapa Ibu Benci
8 Keluar Kota
9 Ancaman Mayang
10 Perjumpaan Dua Sahabat
11 Permohonan yang Berulang
12 Ketahuan Ibu
13 Bertemu Mbak Marisa
14 Kemarahan Mas Elang
15 Kedatangan Mbak Marisa
16 Ghibah di Arisan Ibu
17 Di Pernikahan Marisa
18 Kemarahan Mas Elang
19 Pergi dari Rumah
20 Karena Sya
21 Kecanggungan
22 Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23 Kamu Milikku Jauh Segalanya
24 Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25 Kedatangan Mbak Marisa
26 Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27 Bukti Cinta
28 Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29 Saat Mas Elang Pergi
30 Kejutan buat Elang
31 Pantesan Batagornya Kurang Enak
32 Disanjung lalu Dihempaskan
33 Merajuk ke Rumah Bapak
34 Itu Rencana Licik Mayang
35 Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36 Tuduhan Ibu
37 Jangan Berkata Kasar pada Mama
38 Terkuak
39 Terbuai Diantara Rasa Kesal
40 Mayang Datang
41 Mencari Sya
42 Menemui Tuan Zulfikar
43 Meyakinkan Tuan Lalim
44 Sya Kembali
45 Perjuangan Ibu Sambung
46 Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47 Hadiah Permintaan Maaf
48 Hasrat Dalam Mimpi
49 Ke Rumah Ibu
50 Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51 Kembali lagi ke Rumah
52 Pertengkaran
53 Pertengkaran 2 (Pergi)
54 Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55 Mulai Mencari Nada
56 Mencari Nada
57 Insiden....
58 Sya Masuk Rumah Sakit
59 Firasat
60 Menjemput Nada
61 Bertemu Nada
62 Candle Light Dinner
63 Sebagai Kewajiban Istri
64 Ketika Mas Elang Pergi
65 WA dari Mas Elang
66 Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67 Hamil dan Keguguran
68 Rasa Bersalah
69 Pulang dari Rumah Sakit
70 Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71 Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72 Trauma dengan Perkataan Ibu
73 Masih Negatif
74 Pura-pura tidak Melihat Ibu
75 Bertemu Teman Masa Kecil
76 Tangisan dan Penyesalan Nada
77 Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78 Tespek
79 Mama Masuk RS
80 Mengetahui Ibu Sakit
81 Sikap Ibu
82 Mendadak Sensitif dan Cengeng
83 Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84 Gelagat Ibu
85 Ulah Ibu Lagi
86 Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87 Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88 Kedatangan Elang
89 Mengajak Pulang
90 Penolakan Nada
91 Nasihat Bapak
92 Pulang
93 Adik yang Paling Membela
94 Kerinduan Mas Elang
95 Menjenguk Ibu
96 Bisikan Bu Sri
97 Rujak Cinta di Pagi Hari
98 Harus Mandiri
99 Nada Masuk Klinik
100 Morning Sickness
101 Sandiwara Nada
102 Watak Elang
103 Ingin Dimanja
104 Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105 Kecewa di Taman Bahagia
106 Ada Apa Dengan Ibu
107 Kenangan Pahit Mas Elang
108 Sama-sama Meminta Maaf
109 Membujuk Sya
110 Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111 Kepercayaan buat Nada
112 Bertemu Sonia
113 Perubahan Sikap Ibu
114 Obrolan Romantis Vidio Call
115 Surprise dari Elang
116 Menonton ke Bioskop
117 Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118 Keputusan dan Kesepakatan
119 Kabar dari Marisa
120 Marisa Melahirkan
121 Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122 Bertemu Mayang
123 Kemarahan Tuan Zul
124 Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125 Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126 Liburannya Diluar Kota
127 Pembukaan Nada Studio
128 Elang yang Merajuk
129 Arwana dan Hantu Cantik
130 Kumbang dan Bunga
131 Bali
132 Tiba di Penginapan
133 Launching Homestay n Cafe
134 Malam Indah dan Panjang di Homestay
135 Panggilan dari Masa Lalu
136 Kembali Pulang
137 Kesembuhan Ibu Sri
138 Bertemu Teman Bisnis
139 Mencari Nama Bayi
140 Oase di Tengah Padang Pasir
141 Tanda-tanda Melahirkan
142 Melahirkan 1
143 Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144 Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145 Malam Yang Penuh Hasrat
146 Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147 Promosi Novel Baru....
148 Promosi Karya Baru
149 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2
Sya Merajuk
3
Insiden Makan Malam
4
Sya Deman
5
Sonia Menginap
6
Kepergok Pengganggu
7
Alasan Kenapa Ibu Benci
8
Keluar Kota
9
Ancaman Mayang
10
Perjumpaan Dua Sahabat
11
Permohonan yang Berulang
12
Ketahuan Ibu
13
Bertemu Mbak Marisa
14
Kemarahan Mas Elang
15
Kedatangan Mbak Marisa
16
Ghibah di Arisan Ibu
17
Di Pernikahan Marisa
18
Kemarahan Mas Elang
19
Pergi dari Rumah
20
Karena Sya
21
Kecanggungan
22
Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23
Kamu Milikku Jauh Segalanya
24
Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25
Kedatangan Mbak Marisa
26
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27
Bukti Cinta
28
Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29
Saat Mas Elang Pergi
30
Kejutan buat Elang
31
Pantesan Batagornya Kurang Enak
32
Disanjung lalu Dihempaskan
33
Merajuk ke Rumah Bapak
34
Itu Rencana Licik Mayang
35
Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36
Tuduhan Ibu
37
Jangan Berkata Kasar pada Mama
38
Terkuak
39
Terbuai Diantara Rasa Kesal
40
Mayang Datang
41
Mencari Sya
42
Menemui Tuan Zulfikar
43
Meyakinkan Tuan Lalim
44
Sya Kembali
45
Perjuangan Ibu Sambung
46
Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47
Hadiah Permintaan Maaf
48
Hasrat Dalam Mimpi
49
Ke Rumah Ibu
50
Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51
Kembali lagi ke Rumah
52
Pertengkaran
53
Pertengkaran 2 (Pergi)
54
Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55
Mulai Mencari Nada
56
Mencari Nada
57
Insiden....
58
Sya Masuk Rumah Sakit
59
Firasat
60
Menjemput Nada
61
Bertemu Nada
62
Candle Light Dinner
63
Sebagai Kewajiban Istri
64
Ketika Mas Elang Pergi
65
WA dari Mas Elang
66
Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67
Hamil dan Keguguran
68
Rasa Bersalah
69
Pulang dari Rumah Sakit
70
Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71
Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72
Trauma dengan Perkataan Ibu
73
Masih Negatif
74
Pura-pura tidak Melihat Ibu
75
Bertemu Teman Masa Kecil
76
Tangisan dan Penyesalan Nada
77
Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78
Tespek
79
Mama Masuk RS
80
Mengetahui Ibu Sakit
81
Sikap Ibu
82
Mendadak Sensitif dan Cengeng
83
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84
Gelagat Ibu
85
Ulah Ibu Lagi
86
Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87
Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88
Kedatangan Elang
89
Mengajak Pulang
90
Penolakan Nada
91
Nasihat Bapak
92
Pulang
93
Adik yang Paling Membela
94
Kerinduan Mas Elang
95
Menjenguk Ibu
96
Bisikan Bu Sri
97
Rujak Cinta di Pagi Hari
98
Harus Mandiri
99
Nada Masuk Klinik
100
Morning Sickness
101
Sandiwara Nada
102
Watak Elang
103
Ingin Dimanja
104
Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105
Kecewa di Taman Bahagia
106
Ada Apa Dengan Ibu
107
Kenangan Pahit Mas Elang
108
Sama-sama Meminta Maaf
109
Membujuk Sya
110
Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111
Kepercayaan buat Nada
112
Bertemu Sonia
113
Perubahan Sikap Ibu
114
Obrolan Romantis Vidio Call
115
Surprise dari Elang
116
Menonton ke Bioskop
117
Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118
Keputusan dan Kesepakatan
119
Kabar dari Marisa
120
Marisa Melahirkan
121
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122
Bertemu Mayang
123
Kemarahan Tuan Zul
124
Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126
Liburannya Diluar Kota
127
Pembukaan Nada Studio
128
Elang yang Merajuk
129
Arwana dan Hantu Cantik
130
Kumbang dan Bunga
131
Bali
132
Tiba di Penginapan
133
Launching Homestay n Cafe
134
Malam Indah dan Panjang di Homestay
135
Panggilan dari Masa Lalu
136
Kembali Pulang
137
Kesembuhan Ibu Sri
138
Bertemu Teman Bisnis
139
Mencari Nama Bayi
140
Oase di Tengah Padang Pasir
141
Tanda-tanda Melahirkan
142
Melahirkan 1
143
Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144
Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145
Malam Yang Penuh Hasrat
146
Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147
Promosi Novel Baru....
148
Promosi Karya Baru
149
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!