Tiba di kamar Sya, Mas Elang menciumi kening Sya lantas menatap sayang anak semata wayangnya. "Tadi gimana, Sya tidak rewel?" tanya Mas Elang. "Rewel sedikit, Sya makannya agak susah, mungkin karena efek demam," jawabku. "Ayo ke kamar kita!" ajak Mas Elang berbisik sambil menarik lenganku.
Tiba di kamar, Mas Elang langsung masuk kamar mandi dan bersih-bersih. 15 menit kemudian Mas Elang keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Mas tadi kemana saja, kok tidak ada kabar sama sekali. Di WA juga tidak membalas, apa Mas Elang tidak khawatir dengan keadaan Sya yang sejak malam demam?" tanyaku memberondong.
"Mas tadi ada urusan, menyelesaikan masalah dengan perempuan tadi malam."
"Apakah perempuan itu Ibunya Sya?" tanyaku hati-hati. Mas Elang mengangguk. "Kenapa dia melakukan hal itu tadi malam?"
"Dia hanya cemburu melihat kamu!" jawabnya.
"Sudahlah jangan bahas dia, Mas tidak suka. Tunggulah Mas mau sholat dulu," ujar Mas Elang seraya menggelar sajadah di pinggir ranjang kami.
Sejenak ku tatap Mas Elang yang sedang melaksanakan Sholat, imamku ini memang tidak pernah meninggalkan sholat. Itulah mengapa Aku begitu cepat menerima pinangannya saat Mas Elang datang meminangku ke rumah Ayah dulu 3 bulan yang lalu. Aku begitu sangat mencintainya walau kadang sifatnya berubah-ubah.
Selesai sholat Mas Elang sejenak membuka HPnya dan sibuk tanpa menghiraukan aku. Karena aku takut Sya terbangun, Aku beranjak bermaksud keluar kamar. "Mau kemana?" tanya Mas Elang tiba-tiba. "Sebaiknya Nada ke kamar Sya, takut Sya bangun."
"Sudahlah, biar Sya malam ini dan malam berikutnya ditemani Bi Narti. Kamu di sini temani Aku sampai pagi!" tahannya sembari mencekal lenganku. "Tapi kenapa? Sya masih rewel dan pasti mencari Aku!" tanyaku heran. "Sudahlah jangan membantah," tegasnya. "Mas, tapi...?"
"Bandel...!" tiba-tiba Mas Elang sudah menyambar bibirku dengan lembut.
"Ayolah... Mas kangen banget," ajaknya memberi kode dan melepaskan sejenak pertautan bibir kami.
"Mas, sampai kapan Mbak Sonia di sini?"
"Besok atau lusa dia pasti sudah kembali!"
"Memangnya benar rumahnya kerampokan?" tanyaku tak percaya.
"Maspun belum yakin, itu hanya berita dari Ibu! Kenapa, kamu cemburu ya?" Aku diam menunduk tidak menjawab.
"Sudahlah jangan dipikirkan, selama Sonia disini, kita harus tidur satu kamar. Atau kalau kita sudah melepas kangen, kita tidur di kamar Sya saja bertiga," rayu Mas Elang sambil meraih pinggangku. Mas Elang mulai melancarkan aksi-aksi andalannya untuk meluluhkanku.
Sebelum berlanjut, selalu saja Mas Elang mengingatkan supaya Aku minum pil penunda kehamilan. Kayaknya Mas Elang saat ini takut banget Aku hamil, dan Aku tidak masalah dalam masa setahun ke depan ini. Lagipula Aku masih fokus memberikan kasih sayang untuk Sya.
"Sayang, Mas kangen banget. Sinilah mendekat!" Mas Elang meraih pinggangku dan menjatuhkan tubuhku di ranjang. Akupun tersenyum senang karena akupun merasakan rasa rindu yang menggebu-gebu pada lelaki perkasa di depanku ini. Saat seperti ini, sikap romantisnya selalu mengalahkan segalanya.
Perlahan namun pasti, pergumulan yang romantis ini terjadi berulang-ulang. Kami melepas kangen yang bertubi-tubi. Terlebih kami masih pengantin baru, dan Mas Elang sepertinya tidak bosannya meminta beberapa kali. Sungguh menyenangkan bisa melepas kangen bersama orang yang paling Aku sayang ini.
Tiba-tiba saat kami sedang pada puncak \*\*\*\*\*\*\*, pintu kami terdengar diketuk. Mas Elang menggeleng supaya Aku tetap di posisi semula. Aku dan Mas Elang anteng seraya masih dalam pergumulan yang hebat, saling mencium dan memeluk erat. Rupanya rasa rindu mengalahkan segalanya. Saat kami saling melakukan pelepasan bersama-sama, saat itulah pintu kamar kami terbuka lebar-lebar. Dan kamipun terkejut.
"Kok bisa pintunya terbuka, sedangkan tadi Mas Elang sudah mengunci pintu?" tanyaku dalam. hati.
"Maaf...!" ucapnya malu-malu. Sonia berlalu tanpa menutup kembali pintu kamar kami. Aku terkejut bukan kepalang, benar-benar malu perbuatan kami ketahuan orang lain. Sedangkan Mas Elang hanya tersenyum tanpa malu. Untung saat kami melakukan pergumulan tadi, kami menutupi tubuh kami dengan selimut tipis. Karena bagaimanapun suhu AC di kamar kami masih terasa dingin walau hasrat kami makin memanas.
"Mas, itu pintunya terbuka?" ucapku malu. Mas Elang menatapku sambil tersenyum usil, lalu turun dari ranjang dengan menutup tubuhnya dengan selimut, lalu mengunci pintu itu dua kali.
"Mas tadi pintunya sudah dikunci bukan, tapi kenapa masih bisa dibuka Mbak Sonia?" tanyaku heran. "Mas tadi tidak menguncinya!" jawabnya santai. "Hahhhh...!" aku ternganga tak percaya.
Belum hilang keterkejutanku, Mas Elang sudah melancarkan lagi aksi romantisnya. Aku benar-benar malu dan tidak habis pikir namun pasrah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
lancang kali kau sonia masuk kamar orang tanpa permisi
2025-03-21
1
💞Nia Kurnaen💞
Elang sengaja g kunci pintu kyaknya...supaya sonia tau kalo elang sangat mwncintai istrinya.
2023-03-14
3
💞Amie🍂🍃
Dasar soang
2022-12-21
1