Minggu malam, kami kembali lagi ke kota kami. Mas Elang yang sempat dingin dan murung, kini kembali hangat lagi seperti Mas Elang yang sebelumnya.
"Ok Sya, kita sudah sampai!" ucap Mas Elang berbinar. Aku segera turun dan membantu Sya turun. Sya berlari menuju pintu dengan gembira, saking gembiranya dia sampai menabrak Bi Narti yang menyambutnya di depan pintu.
"Awas Sya, hati-hati!" peringatku sedikit berteriak. Sya berdiri lagi sambil ketawa-ketawa dan menyapa Bi Narti.
"Bi Narti....!" sapanya gemas.
Bi Narti meraih jemari mungil itu dan membantu Sya berdiri.
"Adenn...., kangen Bibi," ujar Bi Narti seraya memeluk Sya. Sya menyambut pelukan Bi Narti dengan senang hati. Aku terharu melihat keakraban Bi Narti dan Sya, Bi Narti memang begitu menyayangi Sya seperti dia menyayangi cucunya sendiri.
"Ayo Sya... kita ke kamar dulu, mandi dulu!" ajakku.
"Non Nada, bagaimana liburannya Non?"
"Alhamdulillah menyenangkan Bi. Oh iya Bi, saya ke atas dulu ya. Gerah nih, mau mandi dulu," ujarku pamit.
"Oh iya Bi, saya hampir lupa. Itu di bagasi ada oleh-oleh buat Bi Narti, Pak Nanang dan Usep. Bagi-bagi saja Bi!" Ucapku memberi aba-aba sebelum melangkah ke tangga. Bi Narti nampak senang.
Malam tiba, Ibu mertua dan Mbak Sonia datang. Mereka sudah berisik di depan pintu dan suaranya sampai terdengar ke atas.
"El... El...! Mana oleh-oleh buat Mama dan Sonia!" teriak Mama tanpa rasa bersalah.
Mas Elang terkejut, namun dia tidak terlalu menghiraukan Ibu yang berteriak-teriak.
"Tak, tak, tak....!" suara sepatu pentopel milik Ibu bersentuhan dengan tangga begitu nyaring. Rupanya Ibu sengaja menyusul ke atas. Sampai di depan pintu, Ibu mengetuk dengan keras.
"Dor, dor, dor....!"
"El... buka pintunya. Mama mau masuk. Lagipula jam segini sudah ngamar sih. Kalian ini memang tidak tahu tempat, entah dimana selalu saja main ranjang." Ucap Ibu tanpa saringan.
Tanpa dipersilahkan, Ibupun masuk, kebetulan pintu kamar belum dikunci karena kami belum mau tidur.
"Kenapa Mama masuk kamar Elang?" tanya Mas Elang kaget.
"Ya ampun El, jam segini kamu sudah ngamar. Pasti ini kemauan istri kamu yang pengen dikelonin kamu. Ehh, wajar sih istrimu itu kan cuma pemuas ranjang saja!" ujar
Ibu mencibir tanpa merasa berdosa.
Aku seketika tersentak, lagi-lagi ucapan Ibu begitu sangat menyakitkan.
"Ya ampun... Mama bicaranya begitu. Ini istri Elang jadi tolong jangan mencemooh." Ada sedikit kelegaan dalam hatiku saat mendengar Mas Elang mencoba membelaku.
"Kenapa sih Elang kamu tidak sadar juga, disini ada Sonia yang menunggu cintamu. Tapi kamu seolah kena guna-guna istri kamu ini!" tandasnya asal mangap sambil mendelik-delikan matanya ke arahku yang sedang duduk di kursi rias. Cukup nyelekit ucapan Ibu mertua. Sehingga Aku yang sedang duduk di kursi rias berjingkat menuju kamar mandi. Bukan maksud cengeng, tapi seketika ucapan Ibu itu bikin dadaku sesak dan bulir bening di sudut mata seolah mendesak ingin keluar.
"Cukup Ma, jangan kata-katai Nada dengan cemoohan yang menyakitkan. Dia tidak mengguna-guna Elang. Karena Mama tidak setuju dan tidak senang sama Nada, berbagai fitnah dan umpatan seenaknya Mama lontarkan. Sudahlah, kali ini biarkan Elang tenang dengan pilihan Elang sendiri. Jangan coba Mama comblangin El dengan wanita manapun lagi. Sekarang El sudah menikah, jadi stop Mama menjodohkan Elang dengan Sonia atau siapapun. Buktinya saat Mama jodohkan El dengan Mayang, apakah pilihan Mama itu baik? Tidak bukan?" Ucap Mas Elang panjang lebar dengan Nada pembelaan terhadapku.
"Masih saja kamu bela istrimu itu, lihat bukannya menyalami Mama, dia malah pergi ke kamar mandi. Emang dasar tidak berguna dan tidak tahu adab!" ketusnya masih tidak senang.
"Ya ampun Ma, masih saja dicemooh dan diumpat. Tolonglah, untuk kali ini berdamai dengan istriku." Ucap Mas Elang diakhiri kalimat permohonan.
Ibu nampak tidak senang dengan ucapan Mas Elang barusan, dengan wajah yang kesal dia berjingkat dari kamar kami.
"Bela terus, bela terus... nyesel nanti kalau sudah seperti si Mayang. Kamu nangis darah....!" serapah Ibu sambil berlalu dengan kesal.
"Tak, tak, tak,...." suara hak sepatu pentopel Ibu semakin keras terdengar menuruni tangga. Dengan hentakan yang marah, sampai hentakan itu terdengar ke kamar mandi.
Setelah Aku berusaha menenangkan diri, Aku keluar dengan mata yang sedikit sembab. Mas Elang meraihku dan merangkulku.
"Sayang... jangan dengarkan Mama ya. Mama mulutnya memang jahat, tapi saat hatinya terbuka dan menyadari kesalahannya, dia adalah sosok yang cuek dan baik walau kadang ceplas ceplos," bujuknya merayuku yang seketika membuat air mataku jatuh kembali.
"Ibu memang tidak akan pernah suka sama aku Mas, Ibu menginginkan kamu menikah dengan pilihan Ibu. Hiks... hiks... hiks....," ujarku diiringi
isak tangis.
"Sayang... sudahlah... jangan pikirkan lagi omongan Mama, disini ada Mas suamimu. Mas harap kamu jangan pernah tinggalkan Mas walau sekuat apapun usaha Mama ingin memisahkan kita. Sekarang lebih baik kita tidur." Ajak Mas Elang seraya merangkulku. Aku mengangguk, namun sebelum mengikuti ajakan Mas Elang, Aku mengurai rangkulan hangat Suamiku, Aku beranjak menuju kamar Sya untuk melihatnya dulu lewat pintu penghubung dari kamar kami. Pintu penghubung yang baru dibuat oleh para pegawai, saat kami berada diluar kota.
Berhubung ada pintu penghubung, Aku sedikit tenang jika meninggalkan Sya sendiri di kamarnya. Kalau Sya terbangun, Aku bisa dengan cepat menghampirinya. Mas Elang, memang benar-benar memperhatikan keselamatan anak semata wayangnya itu.
Subuh menjelang dan pagipun datang. Sehabis sholat Subuh tadi Mas Elang menghabiskan waktunya di balkon kamar, sepertinya dia sedang bertelponan dengan rekan bisnisnya. Melihatku sudah rapi dan akan beranjak menuju kamar Sya, Mas Elang segera menghampiriku.
"Sayang... sudah cantik banget sih.... " Serunya, sembari meraih pinggangku. Gelagatnya sangat manja, seakan menginginkan sesuatu yang tadi malam tidak kami lakukan. Aku menepis karena hari hampir pagi, Aku harus segera menuju kamar Sya.
"Mas... stop dulu, jangan minta sekarang! Ini sudah pagi sebentar lagi Sya bangun, dia mau mandi dan sarapan pagi dan berangkat sekolah," cegahku seraya melepas rangkulan tangan Mas Elang.
"Iya Mas paham, Oklah Mas minta cium saja," tawarnya. Aku tidak menolak, lantas dengan cepat Mas Elang mencium seluruh wajahku termasuk bibir. Ciuman di bibir ini durasinya paling lama. Setelah lama mencium, Mas Elang memegang kedua bahuku lalu menatap kedua bola mataku seraya berkata.
"Sayang... jangan pernah tinggalkan Mas. Tolong... berada disamping Mas selamanya. Selama Mas masih bernafas!" tegasnya memohon dengan sorot mata yang berkaca-kaca.
Aku terharu melihat Mas Elang berkata memohon seperti itu, permohonan yang sering diucapkan. Kadang tegas, dan kadang sendu seperti sekarang ini. Aku menyimpulkan begitu traumanya Mas Elang dengan sebuah perpisahan, sehingga seringkali mengucapkan kalimat permohonan itu padaku dengan tatapan sendu dan kadang marah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
guntur 1609
kau sibuk jangan tinggalkan aku. tapi perlakuanmu. membuat nada ingin meninggalkanmu
2025-03-10
2
guntur 1609
dasar gila. elang pun tdk pernah bersikap tegas. dengan cara dan perlakuanmu sprti tu. sm saja membuat istrimu tdk nyaman. dan pada akhirnya kau bisa di tinggalkan
2025-03-10
1
Lina Zascia Amandia
Wkwkwkw...
2022-11-28
0