Sya Merajuk

"Non Nada, sudah kembali rupanya," tegur Bi Narti dari dapur saat melihatku keluar dari kamar mandi.

"Iya Bi...," sahutku pendek.

"Non Nada mau dibikinkan minuman?" tawar Bi Narti saat melihatku terduduk di meja makan.

"Tidak, terima kasih Bi. Saya mau bikin teh jahe sendiri saja," sahutku sambil beranjak menuju Pantry lalu menyeduh teh jahe saset yang sudah siap seduh, lumayan bisa buat menghilangkan sakit kepala yang tiba-tiba datang.

Aku kembali ke meja makan untuk menikmati teh jahe buatanku. Tiba-tiba Mas Elang dan Ibu mertuaku datang beriringan. Aku berdiri dan segera menyalami tangan Ibu mertua.

"Ibu... kapan datang?" tanyaku sekedar basa-basi, pura-pura belum tahu bahwa Ibu mertuaku sudah ada sejak tadi di rumah ini.

"Sejak kamu pergi antar Sya...!" jawab Ibu tidak ramah.

"Ibu sudah sarapan?" tanyaku kikuk. Ibu tidak menjawab. Sikap seperti ini sudah sering Ibu perlihatkan padaku sejak aku menikah dan menginjakkan kaki di rumah Mas Elang ini. Walau sudah biasa, tapi rasa sakit itu selalu ada. Dan aku harus berusaha menyiapkan mental seperti baja, terlebih Ibu mertuaku memang terang-terangan tidak menyukaiku. Yang lebih menyakitkan, Ibu pernah bawa seorang perempuan dewasa yang usianya 5 tahun diatasku. Cantik, modis dan dari kalangan sosialita. Ibu bermaksud menjodohkan Mas Elang dengan perempuan itu, padahal Ibu tahu Mas Elang sudah menikahiku, saat itu usia pernikahan kami baru sebulan.

"El, Mama pergi dulu. Tadi Mama sudah ada janji dengan Sonia. Sopir Mama sudah tiba di depan gerbang!" ucap Ibu mertua buru-buru. Ibu berpamitan pada Mas Elang tanpa menoleh ke arahku yang hendak menyalami Ibu. Aku cuma bisa menghela nafas panjang menahan sesaknya dada.

Mas Elangpun beranjak cepat menuju kamarnya tanpa menoleh ke arahku. Heran, kenapa Mas Elang bersikap lebih dingin dari biasanya. Akupun menyusulnya dan bermaksud menanyakan perubahan sikapnya.

"Mas...!" sapaku saat melihat Mas Elang bersandar di ranjang.

Aku menghampirinya dan duduk di tepian ranjang di sebelah Mas Elang.

"Mas, kenapa Nada tidak boleh antar jemput lagi Sya ke sekolah? Sya tadi merajuk dan sedikit marah saat aku bilang bahwa mulai besok Sya tidak akan aku antar jemput sekolah!" ucapku meminta penjelasan dari Mas Elang.

"Aku hanya pengen Sya mandiri, tidak harus bergantung lagi sama siapa-siapa," jawab Mas Elang datar.

"Bukankah dulu sebelum nikah kamu minta aku berhenti kerja, supaya aku fokus dengan Sya? Tapi sekarang kamu tidak membolehkan aku untuk antar jemput dia sekolah, emangnya kenapa Mas?" tanyaku lagi makin penasaran.

Sebelum menikah dengan Mas Elang, aku memang bekerja di sebuah Supermarket besar di kota ini, sebagai pengawas gudang. Namun sejak menikah, aku diminta resign. Alasannya biar fokus sama keluarga.

"Sudah Mas bilang, supaya Sya mandiri dan tidak manja dan tidak bergantung lagi sama orang lain!"

"Tapi aku bukan orang lain Mas, aku Bundanya," selaku seraya menatap Mas Elang heran.

" Kenapa kamu berubah Gini sih Mas, sejak hari ini?" tanyaku.

"Sudahlah tidak perlu banyak tanya. Sya akan ngerti sendiri. Dia anak cerdas dan penurut," jawab Mas Elang bangkit dari ranjang dan keluar kamar.

"Mas..., apa karena kehadiran Ibunya Sya, Mas berubah?" tanyaku yang sukses menghentikan langkah Mas Elang dan berbalik ke arahku. Mas Elang berjalan ke arahku, wajahnya berubah diliputi amarah.

"Apa maksudmu? Ibunya Sya? Kamu tahu dari mana tentang keberadaan Ibu Sya?" Mas Elang mencengkram tanganku kuat, bicaranya kuat dan keras.

"Aku mendengar pembicaraan Ibu dan kamu tadi di kamar," jawabku meringis. Cengkraman Mas Elang menyakitiku, sehingga meninggalkan bekas merah.

"Aku ingatkan, jangan sebut-sebut Ibunya Sya di hadapanku, apalagi di depan Sya," tegasnya penuh ancaman. Tanganku ditepisnya dengan kasar, lalu Mas Elang berlalu dengan langkah yang panjang.

Aku terpekur untuk beberapa saat dan bingung memikirkan semua perubahan Mas Elang.

...----------------...

Jam setengah dua siang, Sya pulang dari sekolah. Tapi ternyata yang jemput adalah Mas Elang.

"Bunda..., Bunda dimana?" suara Sya berteriak sampai ke atas kamar kami. Aku keluar dari kamar dan menyambut Sya yang tergopoh naik tangga.

"Sya..., sudah pulang sayang?" kupeluk tubuh mungil bocah tampan itu penuh rasa kangen.

"Bunda, kenapa tidak jemput Sya di sekolah bareng Papa? Bunda tidak sayang lagi sama Sya, ya?" rajuknya seraya merangkul leherku kuat.

Aku bingung mau menjawab apa pada bocah 5 tahun itu, apalagi di depan kami ada Mas Elang. Biar saja Mas Elang yang berusaha menjelaskannya, toh dia yang tahu alasannya.

"Ayo... ganti baju dulu. Setelah itu, Sya makan siang ya, terus Bobo siang!" ajakku menuntun lengan Sya, menuju ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kami.

"Bunda belum jawab lho pertanyaan Sya, kenapa Bunda tidak jemput Sya tadi?" tanyanya menghentikan langkah kami.

"Bunda tadi sibuk sayang....!" sahutku bohong.

"Sudahlah Sya, kamu sekarang ganti baju dan makan siang ya. Bi Narti nanti yang menyiapkan makan siangnya," timpal Mas Elang. Sya diam merengut, wajahnya seketika ditekuk.

"Ayo, sayang...!" bujukku. Sya, akhirnya mau mengikutiku dan berjalan menuju kamarnya dengan wajah yang masih ditekuk.

Saat makan siang, Sya nampak tidak bersemangat. Mas Elang yang paham kenapa Sya seperti itu berusaha membujuknya. Akhirnya Sya mau makan, setelah Mas Elang membujuknya dengan mengiming-imingi makan malam bersama di luar, nanti malam. Akhirnya Sya makan dengan lahapnya diselingi celotehannya yang menggemaskan. Aku melihat dua jagoan kesayanganku dengan haru, sungguh keakraban antara ayah dan anak yang harmonis.

Setelah makan siang, Sya langsung ku ajak ke kamarnya untuk bobo siang. Tidak lama dari itu, Syapun terlelap. Saat aku mau membaringkan tubuhku di samping Sya, Mas Elang menyelinap masuk dan menarikku keluar. Mas Elang membawaku ke kamar kami. Aku tahu apa yang Mas Elang inginkan.

Saat berada di kamar, Mas Elang langsung mengunci pintu. Padahal aku lagi tidak ingin melayaninya karena masalah tadi pagi saat dia mencengkram kuat tanganku. Saat ada maunya, sudah dipastikan Mas Elang baik-baik padaku dan memperlakukanku dengan manis tanpa pernah meminta maaf atas kesalahan yang pernah dia buat.

"Mas, gak ke restoran lagi?" tanyaku mengalihkan perhatian Mas Elang.

"Gak usah mengalihkan perhatian Mas deh sayang, Mas kangen," ujarnya serak seraya membaringkan tubuhku di ranjang.

"Udah di minum belum?" tanya Mas Elang. Aku paham apa maksudnya, setiap kami mau melakukan hubungan, Mas Elang selalu lebih dulu mengingatkan akan hal itu. Padahal aku paling malas meminumnya, sebab efek mual selalu aku rasakan setelah meminumnya. Demi berbakti pada Mas Elang, mau tidak mau aku menurutinya.

"Sudah Mas tadi malam, diminumnya kan cukup sekali. Nanti malam, baru diminum lagi," jawabku. Mas Elang puas dengan jawabanku, sehingga tanpa menunggu lama dia melancarkan aksinya. Akhirnya kami siang itu, melakukan pergumulan hebat yang sama-sama menyenangkan.

Terpopuler

Comments

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

ih dasar mertua g d akhlak, suka begini nih dia Lupa apa kl gender nya sama2 wanita Sama2 pernah merasakan d posisi istri koo julid banget..mksh kek sm mantu udh ngurus anak laki2 kamu mlh sllu mkr enak2an yg jd istri anakmu y udh urus aja sndiri tu anak anda penuhi semua kebutuhan nya tanpa terkecuali

2025-03-21

1

💞Nia Kurnaen💞

💞Nia Kurnaen💞

hmmm...Elang mudah terpengaruh kyaknya.

2023-03-14

2

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ

astaghfirullah 🙄 🙄 🙄🤦🏻🤦🏻🤦🏻
elang kayaknya menyuruh nada minum pil pencegah kehamilan ya..
mau nya apa sih sebenarnya...

2022-12-08

2

lihat semua
Episodes
1 Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2 Sya Merajuk
3 Insiden Makan Malam
4 Sya Deman
5 Sonia Menginap
6 Kepergok Pengganggu
7 Alasan Kenapa Ibu Benci
8 Keluar Kota
9 Ancaman Mayang
10 Perjumpaan Dua Sahabat
11 Permohonan yang Berulang
12 Ketahuan Ibu
13 Bertemu Mbak Marisa
14 Kemarahan Mas Elang
15 Kedatangan Mbak Marisa
16 Ghibah di Arisan Ibu
17 Di Pernikahan Marisa
18 Kemarahan Mas Elang
19 Pergi dari Rumah
20 Karena Sya
21 Kecanggungan
22 Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23 Kamu Milikku Jauh Segalanya
24 Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25 Kedatangan Mbak Marisa
26 Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27 Bukti Cinta
28 Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29 Saat Mas Elang Pergi
30 Kejutan buat Elang
31 Pantesan Batagornya Kurang Enak
32 Disanjung lalu Dihempaskan
33 Merajuk ke Rumah Bapak
34 Itu Rencana Licik Mayang
35 Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36 Tuduhan Ibu
37 Jangan Berkata Kasar pada Mama
38 Terkuak
39 Terbuai Diantara Rasa Kesal
40 Mayang Datang
41 Mencari Sya
42 Menemui Tuan Zulfikar
43 Meyakinkan Tuan Lalim
44 Sya Kembali
45 Perjuangan Ibu Sambung
46 Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47 Hadiah Permintaan Maaf
48 Hasrat Dalam Mimpi
49 Ke Rumah Ibu
50 Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51 Kembali lagi ke Rumah
52 Pertengkaran
53 Pertengkaran 2 (Pergi)
54 Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55 Mulai Mencari Nada
56 Mencari Nada
57 Insiden....
58 Sya Masuk Rumah Sakit
59 Firasat
60 Menjemput Nada
61 Bertemu Nada
62 Candle Light Dinner
63 Sebagai Kewajiban Istri
64 Ketika Mas Elang Pergi
65 WA dari Mas Elang
66 Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67 Hamil dan Keguguran
68 Rasa Bersalah
69 Pulang dari Rumah Sakit
70 Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71 Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72 Trauma dengan Perkataan Ibu
73 Masih Negatif
74 Pura-pura tidak Melihat Ibu
75 Bertemu Teman Masa Kecil
76 Tangisan dan Penyesalan Nada
77 Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78 Tespek
79 Mama Masuk RS
80 Mengetahui Ibu Sakit
81 Sikap Ibu
82 Mendadak Sensitif dan Cengeng
83 Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84 Gelagat Ibu
85 Ulah Ibu Lagi
86 Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87 Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88 Kedatangan Elang
89 Mengajak Pulang
90 Penolakan Nada
91 Nasihat Bapak
92 Pulang
93 Adik yang Paling Membela
94 Kerinduan Mas Elang
95 Menjenguk Ibu
96 Bisikan Bu Sri
97 Rujak Cinta di Pagi Hari
98 Harus Mandiri
99 Nada Masuk Klinik
100 Morning Sickness
101 Sandiwara Nada
102 Watak Elang
103 Ingin Dimanja
104 Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105 Kecewa di Taman Bahagia
106 Ada Apa Dengan Ibu
107 Kenangan Pahit Mas Elang
108 Sama-sama Meminta Maaf
109 Membujuk Sya
110 Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111 Kepercayaan buat Nada
112 Bertemu Sonia
113 Perubahan Sikap Ibu
114 Obrolan Romantis Vidio Call
115 Surprise dari Elang
116 Menonton ke Bioskop
117 Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118 Keputusan dan Kesepakatan
119 Kabar dari Marisa
120 Marisa Melahirkan
121 Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122 Bertemu Mayang
123 Kemarahan Tuan Zul
124 Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125 Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126 Liburannya Diluar Kota
127 Pembukaan Nada Studio
128 Elang yang Merajuk
129 Arwana dan Hantu Cantik
130 Kumbang dan Bunga
131 Bali
132 Tiba di Penginapan
133 Launching Homestay n Cafe
134 Malam Indah dan Panjang di Homestay
135 Panggilan dari Masa Lalu
136 Kembali Pulang
137 Kesembuhan Ibu Sri
138 Bertemu Teman Bisnis
139 Mencari Nama Bayi
140 Oase di Tengah Padang Pasir
141 Tanda-tanda Melahirkan
142 Melahirkan 1
143 Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144 Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145 Malam Yang Penuh Hasrat
146 Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147 Promosi Novel Baru....
148 Promosi Karya Baru
149 Pengumuman Karya Baru
Episodes

Updated 149 Episodes

1
Sikap Dingin dan Hinaan Ibu Mertua
2
Sya Merajuk
3
Insiden Makan Malam
4
Sya Deman
5
Sonia Menginap
6
Kepergok Pengganggu
7
Alasan Kenapa Ibu Benci
8
Keluar Kota
9
Ancaman Mayang
10
Perjumpaan Dua Sahabat
11
Permohonan yang Berulang
12
Ketahuan Ibu
13
Bertemu Mbak Marisa
14
Kemarahan Mas Elang
15
Kedatangan Mbak Marisa
16
Ghibah di Arisan Ibu
17
Di Pernikahan Marisa
18
Kemarahan Mas Elang
19
Pergi dari Rumah
20
Karena Sya
21
Kecanggungan
22
Kelulusan Sya dan Kedatangan Mayang
23
Kamu Milikku Jauh Segalanya
24
Kedatangan Ibu dan Mbak Sonia Lagi
25
Kedatangan Mbak Marisa
26
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama
27
Bukti Cinta
28
Ciuman Panas di depan Ibu dan Sonia
29
Saat Mas Elang Pergi
30
Kejutan buat Elang
31
Pantesan Batagornya Kurang Enak
32
Disanjung lalu Dihempaskan
33
Merajuk ke Rumah Bapak
34
Itu Rencana Licik Mayang
35
Pengkhianatnya Siapa Lagi?
36
Tuduhan Ibu
37
Jangan Berkata Kasar pada Mama
38
Terkuak
39
Terbuai Diantara Rasa Kesal
40
Mayang Datang
41
Mencari Sya
42
Menemui Tuan Zulfikar
43
Meyakinkan Tuan Lalim
44
Sya Kembali
45
Perjuangan Ibu Sambung
46
Kejutan di pagi Hari dari Mas Elang
47
Hadiah Permintaan Maaf
48
Hasrat Dalam Mimpi
49
Ke Rumah Ibu
50
Ke Rumah Ibu 2 (Kenyataan Pahit)
51
Kembali lagi ke Rumah
52
Pertengkaran
53
Pertengkaran 2 (Pergi)
54
Kesedihan Elang Karena Kepergian Nada
55
Mulai Mencari Nada
56
Mencari Nada
57
Insiden....
58
Sya Masuk Rumah Sakit
59
Firasat
60
Menjemput Nada
61
Bertemu Nada
62
Candle Light Dinner
63
Sebagai Kewajiban Istri
64
Ketika Mas Elang Pergi
65
WA dari Mas Elang
66
Kesedihan Elang dan Kedatangan Nada
67
Hamil dan Keguguran
68
Rasa Bersalah
69
Pulang dari Rumah Sakit
70
Kedatangan Bapak, Kecemburuan Ibu
71
Kata-kata Ibu bagai Sembilu
72
Trauma dengan Perkataan Ibu
73
Masih Negatif
74
Pura-pura tidak Melihat Ibu
75
Bertemu Teman Masa Kecil
76
Tangisan dan Penyesalan Nada
77
Marah tapi Rindu (Siasat Elang)
78
Tespek
79
Mama Masuk RS
80
Mengetahui Ibu Sakit
81
Sikap Ibu
82
Mendadak Sensitif dan Cengeng
83
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku
84
Gelagat Ibu
85
Ulah Ibu Lagi
86
Pertengkaran Elang dan Bu Sri
87
Pertemuan Kembali di Bengkel Bapak
88
Kedatangan Elang
89
Mengajak Pulang
90
Penolakan Nada
91
Nasihat Bapak
92
Pulang
93
Adik yang Paling Membela
94
Kerinduan Mas Elang
95
Menjenguk Ibu
96
Bisikan Bu Sri
97
Rujak Cinta di Pagi Hari
98
Harus Mandiri
99
Nada Masuk Klinik
100
Morning Sickness
101
Sandiwara Nada
102
Watak Elang
103
Ingin Dimanja
104
Ada Apa dengan Danau Cinta (AADC)?
105
Kecewa di Taman Bahagia
106
Ada Apa Dengan Ibu
107
Kenangan Pahit Mas Elang
108
Sama-sama Meminta Maaf
109
Membujuk Sya
110
Kedatangan Mbak Marisa Membawa Damai
111
Kepercayaan buat Nada
112
Bertemu Sonia
113
Perubahan Sikap Ibu
114
Obrolan Romantis Vidio Call
115
Surprise dari Elang
116
Menonton ke Bioskop
117
Perbuatan Tidak Menyenangkan Mayang
118
Keputusan dan Kesepakatan
119
Kabar dari Marisa
120
Marisa Melahirkan
121
Mengajak Sya Jalan-jalan ke Mall
122
Bertemu Mayang
123
Kemarahan Tuan Zul
124
Saat Menatap Wajah Sendu Nada
125
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang
126
Liburannya Diluar Kota
127
Pembukaan Nada Studio
128
Elang yang Merajuk
129
Arwana dan Hantu Cantik
130
Kumbang dan Bunga
131
Bali
132
Tiba di Penginapan
133
Launching Homestay n Cafe
134
Malam Indah dan Panjang di Homestay
135
Panggilan dari Masa Lalu
136
Kembali Pulang
137
Kesembuhan Ibu Sri
138
Bertemu Teman Bisnis
139
Mencari Nama Bayi
140
Oase di Tengah Padang Pasir
141
Tanda-tanda Melahirkan
142
Melahirkan 1
143
Melahirkan 2 (Elana Syafa Perkasa)
144
Kepulangan Baby Elana ke Rumah
145
Malam Yang Penuh Hasrat
146
Akhir yang Bahagia dan Rasa Terimakasih
147
Promosi Novel Baru....
148
Promosi Karya Baru
149
Pengumuman Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!