"Bunda ... ayo! Sya sudah siap," ujar Sya berteriak sambil mempertontonkan gaya coolnya.
Aku meraih jemari Sya dan membawanya ke tangga diikuti Mas Elang di belakang yang sudah rapi dan wangi.
"Let's go ....!" ajakku. Rupanya di bawah sudah ada Ibu dan Mbak Sonia yang sudah rapi. Dan Mbak Sonia semalam nginap. Semakin lengket saja Ibu dengan Mbak Sonia, sedangkan sama aku, Ibu selalu mencari celah untuk menyakiti aku. Duduk bersama di meja makan lagi dengan Ibu dan Mbak Sonia, sebetulnya ada perasaan risih. Sebab Ibu sering berbicara tanpa saringan. Aku menerka-nerka ucapan apa lagi yang akan Ibu lontarkan.
Menuju meja makan, Ibu dan Mbak Sonia menatap sinis ke arahku. Aku berusaha ramah dan menyapa mereka, namun seperti biasa mereka selalu cuek padaku.
Sarapan pagi selesai, Ibu dan Mbak Sonia mendahului Mas Elang pergi. Katanya ada arisan di rumah salah satu teman arisan Ibu.
Mas Elangpun segera pamit, dan mengantar Sya sekolah. "Mas, pergi antar Sya dulu ya sayang. Baik-baik di rumah!" ucapnya berpamitan sambil mengecup kedua pipiku. Kini giliran Sya yang mencium punggung tanganku seraya pamit.
"Sya, sekolah dulu ya Bunda. Assalamu'alaikum!" Pamitnya seraya mencium pipiku. Aku tersenyum mengantar kedua jagoanku pergi.
Jam 11 siang saat Aku membersihkan ruang tengah, aku mendengar deru mesin mobil Mas Elang berhenti di depan rumah. Alangkah senangnya hatiku. Aku tersenyum-senyum bahagia, dan bersiap menyambutnya.
"Assalamu'alaikum, Sayang....!" Salamnya diakhiri memanggilku. Aku mengendap-endap bermaksud mengejutkannya. Mas Elang masih mencari keberadaanku, saat dia berbelok menuju dapur, aku dari arah ruang tengah dengan cepat meraih kedua mata Mas Elang dari belakang. Aku menutup kedua matanya dengan tanganku sambil senyum-senyum bahagia.
"Siapa sih ini bercanda ... jangan main-main ya, nanti diberi hukuman yang lebih dari candaan ini," ancam Mas Elang lembut, sembari meraih kedua jemariku cepat, lalu ditangkapnya dan berhasil membalik tubuhku. Tatapan kami seketika saling bertemu, Mas Elang menyeringai puas lalu mencolek hidungku gemas.
"Berani ya candain, mas," ucapnya sambil menatap wajahku intens, lalu wajah itu makin mendekat dan kubiarkan Mas Elang menciumku sepuas hatinya. Ciuman bibir yang berakhir permintaan manja. "Ayo sayang, Mas kangen!" Ajakan maut yang sudah aku paham maksudnya.
Mas Elang menarikku lembut menuju ruang tengah yang tadi aku bersihkan. Lalu mendudukkan aku di sofa.
"Di sini, bagus buat suasana romantis kita," ucapnya seakan sudah tidak kuat menahan hasratnya, tatapan matanya mulai sayu dan mendamba.
"Mas, jangan di sini. Kita di kamar saja!" Cegahku was-was.
"Tidak apa-apa, Bi Narti masih lama di pasarnya. Mama tidak akan siang bolong pulang dari arisan. Jadi santai saja sayang, ayo!" rayunya membuat aku semakin tergoda.
Mas Elang dengan cepat bergerilya merangsek sekujur tubuhku, dan setelah kami sama-sama polos akhirnya percintaan panas di siang bolong ini terjadi begitu santai dan bergairah sama-sama menikmati manisnya madu percintaan kami. Mas Elang tersenyum dan mengecup keningku lembut, lalu merangkul tubuhku yang tertutup selimut tipis yang tadi sempat aku ambil di lemari ruang tengah.
"Mas, boleh tidak kalau Nada bekerja di salah satu Kafe milik Mas Elang. Di rumah, rasanya bosan. Saat menunggu kalian pulang, Nada merasa bosan dan sepi walau ada Bi Narti yang nemenin tapi tetap saja bosan," ucapku meminta dengan manja.
"Ada-ada saja permintaannya. Kenapa harus bosan? Mas kan pulangnya tidak selalu sore. Ini jam 11 saja Mas sudah pulang. Kamu tidak Mas ijinkan keluyuran dari rumah walaupun untuk bekerja setengah hari. Lebih baik seperti ini, saat mas pulang siang-siang begini dan kangen kamu, mas tidak harus menunggu kamu pulang dulu. Paham tidak?" jelasnya yang seratus persen tidak mengijinkan aku bekerja karena alasan bosan.
"Paham sih Mas, tapi Nada kadang-kadang merasa tidak berguna jadi istri, hanya duduk diam di rumah dan mengerjakan sedikit pekerjaan rumah. Apalagi di mata Ibu, Nada benar-benar sama sekali tidak berguna," rutukku sedikit manyun.
"Ihh ... kamu lucu tahu kalau manyun. Minta dicium bilang dong," balas Mas Elang seraya menyambar bibirku dan menciumnya ganas. Sudah kuduga ciuman ini akan berlanjut pada babak kedua percintaan kami. Dan dengan santai dan penuh gelora, kami kembali merajut asmara cinta kami dalam pertautan yang semakin menghanyutkan.
"Sayang, kamu makin menggairahkan. Sudah cantik, pandai membuat mas melayang-layang dan terbuai. Mas, makin cinta sama kamu," aku Mas Elang saat pertautan kami berakhir, dengan posisi tubuhnya masih di atasku. Aku menyambutnya dengan senyum bahagia, lelaki perkasa yang mampu memanjakanku.
"Nada juga semakin cinta sama Mas Elang," ucapku, lalu kami saling bertatapan dan berciuman kembali.
"Ya ampun ..., kalian sudah gila! 15 menit Mama menonton pertunjukan memalukan kalian. Kalian tanpa rasa malu bercumbu dan bercinta di ruangan ini. Tidak tahu malu. Kalian mengotori ruangan ini dengan aksi sundal kalian. Kamu juga El, mau-maunya memuaskan hasrat istri jalangmu di sini, tidak ada kamar apa? Sudah pasti ini kemauan istri kamu yang \*\*\*\*\*\* itu!" umpat Ibu keras seraya menuding ke arahku, bahwa akulah yang meminta Mas Elang memuaskan hasratku.
Aku kaget dan terkesima dengan tubuh yang masih polos di bawah kungkungan Mas Elang. Mendengar perkataan pedas Ibu yang tiba-tiba, membuat aku dilanda sedih tak terkira. Rasa malu yang tidak bisa ku sembunyikan, berbaur dengan rasa kesal pada Mas Elang. Terlebih di sana Ibu tidak sendiri, ada Mbak Sonia di belakang tubuh Ibu. Aku segera mencari bajuku dengan berselimut tipis.
Mas Elang yang masih kaget baru tersadar setelah aku bangkit dan mencari baju. Perlahan Mas Elang bangkit dan berjalan menuju Ibu mertua yang berdiri di muka pintu dengan tubuh berselimut tipis. Aku menatapnya dengan perasaan bergejolak, rasa marah tiba-tiba menyeruak. Semua ini gara-gara Mas Elang, yang memaksa mengajak bermain di sofa ruang tengah ini.
"Buat apa Mama sengaja menonton kami yang sedang bercinta? Kami suami istri, jadi kami sah-sah saja melakukan ini di mana saja selama tempat ini tertutup. Lagipula, kenapa Mama tidak langsung pergi atau buang muka saat melihat kami begini, apa Mama sengaja mau mempermalukan kami dan bergosip diluaran sana tentang penemuan Mama ini?" seru Mas Elang dengan nada tinggi, sejenak menjeda ucapannya.
"Mama pulang sengaja mengendap-endap, dan memergoki kami sedang bercinta. Kalau Mama orang tua yang benar, tidak mungkin Mama sengaja menonton kami sampai 15 menit dan membuka pintu ruang tengah tanpa bersuara. Elang yakin, setelah ini Mama pasti akan mencemooh Nada di depan orang-orang. Dan Elang tidak suka ya, Mama melakukan itu. Nada istri Elang, bukan pemuas nafsu ranjang Elang semata seperti yang sering Mama bilang," tandas Mas Elang emosi.
Saat Mas Elang berbicara dengan sedikit emosi pada Ibu, aku segera menggunakan satu persatu bajuku yang terlucut tadi diiringi rasa sedih yang mendalam. Tak terasa cucuran air mata deras membasahi pipi. Kejadian kepergok orang lain tengah bercinta ini menjadi kejadian yang kedua, yang ini benar-benar membuat aku shock tidak terkira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
kok ngromet rumah punya siapa anda yg tamu seenaknya klwr masuk rmh anakmu, lagi pula elang apa kelainan sih kok dikit2 minta gt mlh aneh dan seolah nada sprti budak sex saja
2025-03-22
0
💞Nia Kurnaen💞
kalo aq jd elang biar q tambah lg tuh durasi nonton ibunya dan sonia...😂😂😂...biar sama2 kg ada akhlak...🤣🤣🤣
2023-03-14
4
Lina Zascia Amandia
Malunya...
2022-11-28
0