Mas Elang nampak marah dengan muka yang memerah. Dia melihat ke arah kami bertiga dengan tatapan tajam. Aku segera menjauh dari Ramdan dan Romi seraya memberi kode untuk pergi.
Mas Elang menggamit seraya berjalan lebih dulu dengan langkah yang panjang. Aku mengikutinya dengan langkah setengah berlari. Aku merasakan hawa marah yang luar biasa, bersamaan dengan jantungku yang berdebar-debar. Aku berlari menyusulnya dan berharap Mas Elang tidak marah.
Tiba di meja VIP yang tadi kami tempati untuk makan, Aku melihat Sya sudah tertidur di pangkuan Ibu. Aku segera meraih Sya dan membawanya dalam gendonganku.
"Ma, kami duluan!" Pamit Mas Elang seraya menatapku tajam. Aku juga pamit sama Ibu walau tidak dibalas. Wanita paruh baya itu rupanya masih belum mau menerimaku dengan ikhlas sebagai menantunya, sehingga sikapnya masih dingin padaku.
Tiba di parkiran gedung, Mas Elang membuka pintu untuknya sendiri. Sedangkan Aku harus bersusah payah membuka pintu sambil menahan berat badan Sya. Mas Elang tidak peduli padaku padahal tanganku begitu pegal menahan Sya.
Mobilpun keluar parkiran gedung dengan sedikit disentak, Aku yang tidak seimbang langsung kejedot dashboard mobil.
"Awww....!" pekikku sakit. Nasib baik Sya tidak terbangun dan dia tidak kejedot apapun karena Aku menahan badannya. Mas Elang sama sekali tidak peduli padaku.
Aku sekilas menatap ke arah Mas Elang yang fokus menyetir dengan kecepatan tinggi, dan berharap Mas Elang menghentikan aksi yang bisa bikin bahaya ini. Aku melihatnya seperti seorang yang kesetanan. Tubuhku tiba-tiba gemetar ketakutan.
"Mas, tolong jangan ngebut. Nada takut," pintaku lirih setengah merengek. Mas Elang tidak menggubris, dia tetap pada pendiriannya.
Tidak berapa lama, mobil yang dijalankan secara brutal oleh Mas Elang, tiba dengan cepat di depan gerbang. Klakson dibunyikan berulang dan kerap, tanda kemarahan Mas Elang semakin menjadi.
Tidak berapa lama Usep Satpam yang kebetulan jaga malam, membuka pintu gerbang lebar-lebar dan dengan hormat mempersilahkan mobil Mas Elang masuk. Mobilpun memasuki gerbang dan berhenti setelah terparkir dengan benar.
Mas Elang segera turun dan menuju pintu mobil yang Aku duduki, dia membuka lebar pintu mobil, lalu Aku segera keluar dan menuju pintu rumah.
Bi Narti yang menyadari kedatangan kami, menyambut kami dengan sumringah.
"Non Nada... Den Syanya sudah tidur. Biar Bibi bantu masuk kamarnya," Bi Narti menawarkan bantuan namun Aku menolak lembut.
"Tidak usahh... biar saya sendiri....!" tolakku lagi terus melangkahkan kaki menuju tangga dan kamar Sya.
Tiba di kamar, Aku segera membaringkan Sya yang benar-benar sangat nyenyak. Aku bersyukur, sebab Sya tidur dengan nyenyak tanpa gangguan apapun. Tanpa melihat kemarahan Mas Elang dan sikap brutalnya.
Tanpa peduli lagi dengan kemarahan Mas Elang tadi, akupun ikut terbaring meluruskan pinggang dan kakiku yang terasa pegal ini di atas kasur Sya. Sejenak Aku lupa akan kejadian marah Mas Elang tadi, badanku cape dan mataku berat sehingga lamat-lamat Aku tertidur.
Tiba-tiba Mas Elang datang ke kamar Sya, mencoba membangunkanku dengan menggoyang-goyangkan bahuku. Lalu dengan sedikit tersentak, Aku mencoba bangkit. Dengan cepat Mas Elang meraih tanganku dan menariknya sedikit kasar sehingga menimbulkan rasa sakit. Ingin menepisnya namun tenaganya lebih kuat.
Melewati pintu penghubung antara kamar kami dan Sya, Mas Elang menarikku lalu pintu penghubung itu dikuncinya.
Dengan emosi Mas Elang menghempas tubuhku di ranjang.
"Kamu tahu kenapa Aku melakukan ini padamu? Seperti yang pernah kamu ketahui bahwa Aku pernah kehilangan istri gara-gara dia berselingkuh dan pergi dengan laki-laki lain."
"Kamu dengan seenaknya ngobrol dengan pria-pria sampai lupa ada anak dan suami. Tertawa dan tersenyum di depan laki-laki lain. Mau menjatuhkan harga diri kamu sebagai seorang istri?" tuduhnya dengan sorot mata yang tajam.
"Nada, minta maaf Mas. Nada tidak bermaksud seperti itu. Tadi saat keluar toilet, Nada tidak sengaja bertemu teman Nada saat kami kerja dulu. Dan kami mengobrol sejenak," ucapku lirih, tak terasa air mata keluar dari sudut mata tidak terbendung.
"Alasan... kalau aku tidak segera datang dan menemukanmu, bisa jadi kalian tukaran nomer HP dan chatingan, lalu ketemuan dan selingkuh." tudingnya semakin geram lalu menaiki ranjang dan mencengkram kedua bahuku kuat, Mas Elang menatapku garang. Tatapan marah yang belum pernah Aku jumpai sebelumnya. Kali ini benar-benar dia seperti kesetanan. Aku semakin takut kalau Mas Elang sampai melakukan kekerasan yang selama ini tidak pernah dia lakukan.
"Aku minta maaf Mas, Aku tidak pernah kepikiran untuk selingkuh dari kamu. Aku tidak akan pernah menodai pernikahan kita dengan perselingkuhan. Aku cinta kamu Mas, demi Tuhan. Nada mencintai kamu Mas!" ucapku kencang, sebab Mas Elang mencengkram bahuku makin kuat.
"Awww....!" pekikku saat Mas Elang mulai melucuti gaun hijau sageku dengan kasar.
"Sret... sret... " bunyi sobekan gaun berbahan brukat itu terdengar. Aku mencoba menahannya dan melawannya, namun kekuatan Mas Elang saat marah seolah bertambah menjadi dua kali lipat.
Kini tubuhku polos, Aku seakan menjadi korban perkosaan yang dipaksa seorang penjahat. Dia mendekat dan menyeringai sembari meraih daguku. Aku meringis kesakitan dan terisak. Mas Elang memaksaku dalam keadaan marah, Aku kesakitan dan seraya berteriak.
"Mas... berhenti... Nada belum meminum pil....!"
Dengan kasar Mas Elang membungkam bibirku. Hingga Aku tidak bisa berkata-kata lagi.
...----------------...
Aku terbangun dengan rasa kecewa yang dalam, Mas Elang benar-benar telah menyakiti hati dan sekujur tubuhku. Perlahan Aku mulai bangkit dan melepaskan pelukan tangan Mas Elang.
Aku ke kamar mandi dengan tubuh ditutupi selimut tipis lalu membersihkan diri dari perbuatan Mas Elang semalam.
Saat Aku keluar dari kamar mandi, Mas Elang ternyata sudah rapi dengan pakaian santainya. Entahlah mungkin dia membersihkan diri di kamar Sya dan sholat Subuh di sana.
"Perlakuanku semalam adalah bentuk hukuman untukmu karena telah menebar senyum di depan lelaki lain, dan Aku tidak suka," tegasnya sambil berlalu menuju ruang kerja.
"Dan ingat, karena Sya masih membutuhkan kamu. Jadi, jangan pernah mengabaikan Sya," peringatnya dan benar-benar berlalu seraya membanting pintu.
Sesak di dada seketika, Mas Elang yang marah hanya gara-gara melihat Aku berbicara dengan kedua temanku satu kerjaan dulu. Marahnya seakan Aku melakukan kesalahan fatal. Padahal Mas Elang lihat sendiri, Aku bukan menebar senyuman menggoda atau yang lainnya. Dan dalam kamus hidupku, tidak akan pernah rumah tanggaku Aku nodai dengan sebuah perselingkuhan. Dan itu tidak akan pernah Aku lakukan.
Aku menangis kembali mengingat perlakuannya semalam, walau secara fisik Mas Elang tidak berani menyakitiku, namun luka batin ini kini mulai menganga dan Aku dituntut untuk selalu kuat dan tenang di depan Sya anak sambungku. Apa Aku sanggup?
Sejak kejadian di malam pesta pernikahan Mbak Risa itu, sikap Mas Elang kepadaku benar-benar dingin. Egois, protektif dan keras. Aku hanya bisa bersabar dan bertahan, sebab disini masih ada Sya yang selalu membuat Aku tersenyum. Terlebih dia memang membutuhkanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
kok jadi gini ya. seolah Nada hanya sebagai pemuas ranjang mu saja, Elang 🙄🙄🙄 dan kedua sebagai penjaga Sya, tanpa memberikan hak lain selayaknya seorang istri
hufft 🤧🤧🤧
2022-12-15
1
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
mengsad 🥺🥺😭😭😭🤧
2022-12-15
1
@Kristin
Aduh semakin ngeri aku sma Elang 😁
2022-12-10
2