Di meja makan, Aku berusaha bersikap biasa. Melayani Mas Elang dan mengambilkan makanan untuk Sya.
"Sya mau makan apa sayang?"
"Ayam goreng Bunda!" Celoteh Sya. Ibu mertuaku menatap sinis ke arahku dengan bola matanya yang bergulir kesana kemari.
"Oh ya El, Mama sebentar lagi akan ada acara arisan. Dan acaranya inginnya di rumah kamu ini. Apa kamu tidak keberatan El?"
Mas Elang tidak langsung menyahut, dia masih sibuk mengunyah makanan di mulutnya. "Arisan? Kapan Ma?" Tanya Mas Elang kemudian, merasa heran.
"Kira-kira sebulanan lagi El, kamu keberatan tidak?" Desak Ibu.
"El tidak keberatan, tapi kenapa Mama tidak di rumah Mama saja? Di sana kan lebih luas untuk menampung lebih banyak orang."
"Sekali-kali Mama pengen di rumah kamu dong El, di rumah anak Mama satu-satunya." Ucapnya merayu.
"Silahkan saja, asal tidak mengganggu keberadaan Sya di rumah ini." Peringat Mas Elang. Ibu terlihat senang setelah mendengar persetujuan dari Mas Elang. Makan siangpun selesai, Aku sejenak ikut membantu Bi Narti membereskan piring kotor, kemudian kembali ke meja makan.
Baru saja kami mengakhiri makan siang, tiba-tiba pintu rumah digedor seseorang sambil mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum....!"
Suara khas itu sepertinya Aku kenal dan semakin kencang semakin Aku yakin bahwa orang yang menggedor pintu itu adalah Mbak Marisa. Bi Narti segera membuka pintu, dan benar saja orang itu adalah Mbak Marisa atau Aku lebih akrab memanggilnya Mbak Risa.
"Assalamu'alaikum....!" Ulangnya seraya ngeloyor ke dalam rumah tanpa menunggu dipersilahkan.
"Hai Nada... hai Kakak sepupuku yang tampan, hai Uwaku yang cerewet!" ucapnya menyapa satu persatu sambil menyalaminya dan cipika cipiki. Aku tertawa kecil saat mendengar Mbak Risa menyebut Ibu mertuaku dengan sebutan "Uwa yang cerewet". Sedangkan Ibu nampak tidak senang mendengarnya.
"Ohh.... hampir lupa. Mana keponakan tante yang paling lucu dan menggemaskan itu?" Sya yang mendengar suara Mbak Risa, sontak berlari menghampiri keberadaan Mbak Marisa.
"Tante....!" Teriaknya seraya menghampiri Mbak Risa. Mbak Marisa menyambut kedatangan Sya, lalu mereka berpelukan layaknya anak dan Ibunya.
"Ini buat Sya si ganteng menggemaskan....!" Puji Mbak Risa sambil memberi Sya sebuah coklat.
"Asikkk... terimakasih Tante!" Ucap Sya kegirangan.
"Ya ampun kamu itu Risa, anakku jangan selalu kamu beri coklat. Kebiasaan kamu ini!" Sentak Mas Elang kesal.
"Idihh... coklat cuma sebatang saja tidak boleh, lagian Risa kesininya juga jarang Kak. Jangan terlalu berlebihan. Kalau begitu kasih saja coklatnya buat Nada, biar Nada cepat hamilllll....!" Sahutnya tidak mau kalah sambil meleletkan lidahnya.
"Ehhh... Uwa... tumben ada disini, Uwa lagi apa nih? Reuni ya?" Tanya Mbak Risa saat matanya tertuju pada Ibu dengan mimik muka datar. Ibu makin terlihat kesal pada Mbak Risa. Padahal sejak tadi Mbak Risa menyadari Ibu berada disitu sampai cipika cipiki dulu. Entahlah, setiap Mbak Risa ketemu Ibu mertuaku, selalu saja berdebat atau cek-cok mulut padahal hanya masalah sepele.
"Apa lagi selain nengok anak dan cucuku, emangnya kamu ngeloyor kesini tanpa basa basi." Sahut Ibu terlihat dongkol.
"Hahh... nengok anak cucu doang, menantunya nggak disebut, Wa?"
"Sudahlah Mar, kamu jangan ganggu Uwamu ini. Terus ada apa kamu kemari?" Tanya Ibu penasaran.
"Stoppp... jangan panggil Risa dengan panggilan Mar dong Wa!" sela Mbak Marisa memprotes.
"Panggil Marisa dengan sebutan Marisa atau Risa, jangan Mar, Mar, enggak asik banget," gerutu Mbak Marisa cepat seraya memberi aba-aba.
"Marisa kesini untuk minta maaf sama Kak Elang, sebab tadi sudah ngajak Nada pergi. Marisa juga sekalian mau kasih kartu undangan pernikahan Risa yang sebulan lagi digelar. Kalian datang ya! Dandan yang cantik dan tampan. Terutama Uwa nih, dandan yang cantik supaya duda-duda kaya terpesona memelototin kecantikan Uwa," Terangnya tersenyum-senyum gembira.
Ibu nampak geleng-geleng kepala sembari bersedekap tangan.
"Pintar ya bikin lelucon buat orang tua, ini Uwamu sendiri Marisa. Tidak ada sopan-sopannya. Umur saja sudah dewasa, tapi kelakuan persis kanak-kanak, kebanyakan lelucon makanya jadi perawan tua!" Oceh Ibu kesal.
"Apa Uwa bilang, perawan tua? Uwa ini jahat sih sama ponakan sendiri. Pakai nyumpahin segala, Risa bukan perawan tua. Kalau perawan tua tuh, noh yang umur 35 tahun keatas belum nikah-nikah. Itu baru pertu alias perawan tua, Risa masih mending baru 26 tahun. Bukan perawan tua seperti yang Uwa bilang." Sergah Mbak Marisa mendebat Ibu lagi yang qk((tidak mau kalah. Ibu diam seakan kalah bicara oleh Marisa.
"Mar... Mar... kamu ini persis Mamamu, bawel dan suka usil."
"Is... is... is... sudah dibilang jangan sebut nama Marisa dengan sebutan Mar, Uwa masih saja ngeyel." Protes Mbak Marisa benar-benar jengkel.
"Lagipula, nama kamu kan Marisa, jadi wajarlah Uwamu ini memanggil Mar." Sela Ibu tidak mau mengalah.
"Ya ampun... apa-apaan sih kalian ini, berdebat hal yang tidak penting saja. Lagian ya kamu Mar, nama panggilan saja diperdebatkan. Apa salahnya dipanggil Mar, kan masih nyambung?" Ujar Mas Elang menengahi perdebatan antara Uwa dan keponakan.
"Kak Elang sama saja, sudah Risa bilang jangan memanggil nama Risa dengan sebutan Mar, ini masih saja panggil Mar. Kesannya Risa seakan dibentak kalau dipanggil Mar. Awas ya, kalau sekali lagi Mas Elang panggil Risa begitu, maka Risa merajuk." Ancam Mbak Marisa sungguh-sungguh.
"Sudahlah Risa, jangan dibahas lagi. Sini, mana kartu undangannya biar Kakak lihat."
"Punya Kak Elang kan sudah, tinggal punya Uwa. Tadinya Risa mau ke rumah Uwa, berhubung Uwanya ada disini, ya sudah Risa kasih sekalian disini." Mas Elang manggut-manggut.
"Siapa calon suami kamu Risa?" Tanya Mas Elang.
"Coba deh lihat di kartu undangannya. Siapa tahu Kak Elang kenal, hahaha....!" Mas Elang berdecak kesal mendapati Mbak Marisa tertawa.
"Oh ya Risa, lain kali kamu jangan ajak-ajak Nada keluar, kakak tidak pernah ijinkan Nada keluar selain bersama Kakak!" Peringat Mas Elang tegas.
"Emang kenapa sih Kak? Lagian Nada bukan pergi sama orang lain, jadi wajar sekali-kali Nada pergi keluar sama Risa, Risa kan sepupu Kak Elang!"
"Pokoknya Kakak tidak ijinkan. Itu urusan dalam rumah tangga Kakak, jadi kamu tidak usah ikut campur!" Tegas Mas Elang.
"Ya sudah, terserah Kak Elang saja deh. Eh, ngomong-ngomong kalian habis makan, kan? Risa mau numpang makan juga, boleh?" Akhirnya Mbak Marisa ujung-ujungnya ingat makanan. Tubuh kecil tinggi ramping, tapi makannya banyak.
"Bilang saja kamu kesini mau numpang makan Mar." Cibir Ibu mendelik.
"Biarin, suka-suka Marisa. Ingat ya Wa, Marisa bukan Mar!" Peringat Mbak Marisa seraya berjingkat menuju dapur.
Hari semakin gelap. Setelah kepulangan Mbak Marisa dari rumah ini, rumah kembali sepi. Mengikuti suasana hati kami, antara Aku dan Mas Elang yang sama-sama mendingin. Ibu juga tadi pamit pulang dengan alasan akan ke rumah saudara perempuannya yang paling muda.
Aku kini berada di kamar Sya, saat Sya meminta ke kamar karena ngantuk. Akupun ikut membaringkan tubuh disamping Sya, namun mataku enggan terpejam. Bayangan Mas Elang tak henti berputar di dalam pikiranku. Aku sangat merindukanmu. Tapi hanya gara-gara Aku keluar sebentar menemui Mbak Marisa, Mas Elang tidak terima dan marah.
Aku sedih dan merasa Mas Elang sedang mencoba mengurung Aku. Satu pertanyaan yang masih belum ada jawabannya, kenapa Mas Elang selalu membatasiku dan melarang Aku keluar kecuali bersama dirinya? Apakah karena trauma masa lalu yang sempat ditinggalkan Mbak Mayang pergi? Aku masih menjadi teka-teki mencari jawabannya.
Malam menjelang, Aku berharap Mas Elang tidak mencariku untuk tidur bersamanya. Namun suara pintu penghubung kamar kami dan kamar Sya tiba-tiba terdengar diketuk, harapanku buyar. Aku membiarkan Mas Elang mengetuk pintu yang sengaja Aku kunci. Lama mengetuk akhirnya ketukannya berhenti, namun tiba-tiba notif WAku berbunyi.
"Nada, bukalah pintunya. Mas mau masuk!" Perintahnya. Aku jadi bingung namun perlahan Aku bangkit dan terpaksa membuka kunci pintu itu. Setelah pintu terbuka, Mas Elang menatapku lekat penuh kerinduan. Aku juga sebetulnya rindu pada Mas Elang. Lelaki yang selalu bersikap lembut saat bercinta. Tapi kamu selalu lupa untuk meminta maaf.
"Ayolah, tersenyum. Mas kangen...." Rayunya menatapku intens. Sudah kuduga apa yang diinginkannya. Pinggangku direngkuhnya, lalu dibawanya Aku ke kamar kami.
Dan akhirnya satu hal yang diinginkan Mas Elang terjadi juga, dengan seringai puas di wajahnya yang terlihat semakin tampan. Lantas dia mencium seluruh wajahku, dan terakhir memelukku erat sampai kami tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 149 Episodes
Comments
guntur 1609
kau hnya memikirkn anakmu. tpi tdk memikirkan nada istrimu
2025-03-10
2
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
benar kan dugaan ku...
elang itu ingin setiap dirinya berhasrat, harus langsung dia dapatkan dan tuntaskan...
kalo nggak, dia pasti akan marah...
2022-12-15
1
☠༄༅⃟𝐐🧡 𝐌ɪ𝐌ɪᵇᵒʳⁿᵉᵒ㋛ᵗⓂ
mungkin dia kesal, berharap saat pulang, ada istri untuk melepaskan hasrat nya... tapi ternyata Nada nggak ada di rumah...
karena kalo dilihat-lihat, Elang itu tipe lelaki punya libido yang cukup tinggi sehingga jika tidak tersalurkan, akan membuat dia marah dan kesal...
2022-12-15
1