Teror

Setiap malam Alyn selalu mendapat teror mimpi yang menakutkan, kadang dia terpaksa harus pindah ke kamar Fredy kalau terbangun dari tidurnya, dia tak berani tidur sendirian.

Pagi itu Fredy membahas tentang Alyan, sambil membantu ibunya di dapur, dia menceritakan kalau Alyn selalu ketakutan setiap malam.

"Bu, Alyn kenapa, ya. Tiap malam gak berani tidur sendiri, katanya selalu mimpi menakutkan," cerita Fredy pada Farida.

"Hah, masa sih? kog dia gak cerita sama ibu, ya." Farida terkejut mendengar cerita Fredy.

"Coba Ibu tanyain anaknya, 'kan enak kalau ngobrol sesama wanita," pinta Fredy.

"Iya, nanti Ibu tanyain dia,"

Alyn yang sedang dibicarakan datang ke dapur membantu tantenya masak, seperti biasa Fredy selalu melarang melakukan pekerjaan rumah.

"Apa sih, Kak, aku 'kan mau belajar masak, yee. Iya, kalau nanti dapat suami kayak Kakak, enak suaminya bisa masak, kalau suaminya pemalas, aku juga gak bisa, terus kami makan apa," ucap Alyn sewot.

"Makan cinta 'kan kenyang." Fredy menertawakan adiknya.

"Biarin Alyn belajar masak." Farida membela Alyn.

Alyn menjulurkan lidah pada Fredy, kemudian mengambil pisau memotong sayuran.

"Ajarin Alyn masak ya, Tante," ucap Alyn.

"Iya Sayang, walaupun nanti kamu mau jadi wanita karir. Perempuan harus bisa masak, karena itu yang membuat keluargamu selalu ingin pulang ke rumah, karena rindu dengan masakanmu," ucap Farida.

Fredy meninggalkan dua wanita yang dia sayang berduaan di dapur, dia mengambil sapu membersihkan rumahnya, memberi kesempatan ibunya berbincang dengan Alyn.

"Lyn, apa benar kata Kakakmu, kamu tiap malam mimpi buruk?" Farida memulai pembicaraan.

"Tante kog tahu, Kak Fredy cerita ya, Tan?"

"Iya, tadi baru bilang sama, Tante. Emang mimpi apaan sih?" Farida penasaran.

"Enggak tahu, Tan? aku selalu mimpi aneh. Kadang, mahluk hitam besar nyekik Alyn. Kadang kaki Alyn diikat, pokoknya Alyn takut kalau tidur sendiri, Tan." Alyn menceritakan mimpinya.

"Sejak kapan kamu kayak gitu?" Hamid, suami Farida datang mengambil minum.

"Ah, Om ngagetin aja. Alyn lagi cerita mimpi. Sejak di rumah Om, pokoknya kelas tiga Alyn sudah sering mimpi buruk," jawab Alyn.

"Kamu pernah bermasalah sama orang?" tanya Hamid penuh selidik.

"Mmm, nggak ada sih Om, emang kenapa ya, Om?" Alyn penasaran.

"Sepertinya, ada yang ngerjain kamu." Hamid berlalu ke ruang tamu.

Alyn dan Farida saling pandang, mereka tak mengerti maksud ucapan Hamid, keduanya melanjutkan memasak.

Setelah makanan siap, Alyn mencuci tangan, kemudian memanggil Fredy, juga Om Hamid untuk sarapan.

"Kak Fredy, Om, sarapan yuk!" ajak Alyn pada kedua orang itu.

Mereka berkumpul dimeja makan, menikmati sarapan, Fredy mencicip telur dadar langsung terbatuk.

"Pelan-pelan makannya,Kak." Alyn menyodorkan minum.

"Asin!" Fredy menunjuk telur dadar yang ada di piring.

"Ah, masa sih?" Alyn ikut mencicipi, wajahnya seketika berubah karena keasinan.

"Kena prank telur dadar, harap maklum namanya juga baru pertama masak." Farida menertawakan Alyn dan Fredy.

Alyn menyingkirkan telur dadar agar tidak ada yang makan lagi, dia malu telur dadar itu dia yang buat. Hamid dan Farida tertawa, melihat tingkah ponakannya yang menahan malu.

"Sudah biarin aja, ayo makan lagi," bujuk Hamid.

"Mmm, Alyn jadi nggak enak hati." Alyn menunduk malu.

"Nggak apa-apa udah biasa itu, gak ada orang belajar masak langsung enak. Tante dulu juga begitu," hibur tante Farida, Alyn kembali tersenyum gembira.

Keluarga ini memang asyik, Om Hamid walau bapak tiri, dia sangat baik sama Fredy. Meski jarang ngobrol kalau tidak ada yang penting, Tante Farida juga sudah sangat berubah, dulu waktu Fredy kecil, dan baru ditinggal mati suaminya dia tak seramah ini. Fredy ikut orang tua Alyn karena ibunya stres berat.

***

Ponsel Alyn bergetar, dia bergegas mengambilnya, panggilan masuk dari orang tak dikenal, Alyn menekan tombol terima.

"Hai Lyn, jalan yuk, ku jemput ya!" suara pria di ujung sana.

"Ini siapa, ya?" Alyn tak mengenali suara penelpon.

"Aku Rei, kamu gak simpan nomorku, ya?" suara Reinhard terdengar kesal.

"Rei, kamu Reinhard?" Alyn memastikan siapa yang menelponnya.

"Iya lah, emang ada Rei lain yang kamu kenal selain aku?" ucap Rei.

"Oh maaf Kak, aku lupa simpan nomor Kakak." Alyn berbohong, padahal dia memang malas menyimpan nomor pria ini.

"Aku jemput sekarang, ya." Rei langsung mengakhiri panggilannya. Alyn padahal belum sempat membalas mau atau tidak.

Alyn mendengus kesal, kenapa harus ketemu pria aneh seperti Rei, sikap Reinhard mengingatkannya pada Adrian, kurang lebih mereka sama. Rei malah lebih parah dari Adrian, masa baru kenal sebentar sudah berani ngatur Alyn.

Suara pintu di ketuk dari luar.

"Lyn, ada temenmu di depan," panggil tante Farida.

Alyn kaget, baru juga matiin hp orangnya udah nongol, emang sih rumah Rei dekat, tapi dia tak menyangka Rei datang secepat ini.

"Iya Tante, Alyn ganti baju dulu," sahut Alyn.

Alyn mengganti kaus dan celananya, dia keluar menemui Reinhard yang menunggu di ruang tamu.

"Kak Rei," sapa Alyn.

"Hai ...," sapa Reinhard dengan senyum manis.

"Cepat amat datangnya?" Alyn heran.

"'Kan rumahku dekat sini, cuma beda komplek aja kita, yuk jalan," ajak Reinhard.

"Tapi, Kak," Alyn ragu, dia takut tantenya tidak mengizinkan dia pergi.

"Apa lagi, aku udah izin sama tantemu tadi," Rei memainkan alis matanya, Alyn menatap geli.

"Emang tadi Kak Rei, udah pamit sama tanteku?" Alyn masih tak percaya.

"Sana tanyain kalau gak percaya," ucap Reinhard.

"Tunggu bentar, ya," Alyn masuk menemui Farida, ternyata mengizinkannya pergi dengan Reinhard. Rupanya Farida kenal dengan mamanya Reinhard.

Alyn masuk ke kamar, mengambil tas dan memakai parfum, lalu kembali menemui Farida berpamitan.

"Alyn jalan dulu ya, Tan," pamit Alyn, menyalami dan mencium tangan Farida.

Alyn kembali menemui Rei yang sudah menunggunya di depan, Farida ikut keluar menemani Alyn. Melihat Alyn datang, Rei langsung berdiri menyambutnya.

"Tan, Rei jalan dulu, ya," pamit Rei pada Farida.

"Hati-hati, ya, salam sama mama kamu ya, Rei," jawab Farida ramah.

"Ok, Tante." Rei tersenyum sebelum melangkah keluar.

Alyn masuk ke mobil, Rei membawanya ke kampus. Sebenarnya dia heran, ngapain ke kampus, orang belum tahu dia diterima apa tidak.

"Ngapain sih Kak, ke kampus?" tanya Alyn.

"Lihat pengumuman, kamu keterima apa tidak. Aku mau kenalin kamu sama teman-temanku, biar saat OSPEK nanti, kamu gak digangguin sama mereka," ujar Reinhard.

"Ya biarin aja, 'kan itu seninya masuk kuliah, waktu di OSPEK," jawab Alyn.

"Nggak lah, mereka itu sadis-sadis. Aku paling gak suka yang kayak gitu," jawab Reinhard sambil memperhatikan jalan.

"Kakak, gak lagi OSPEK aja sadis," Alyn mencoba mencairkan suasana.

"Emang aku sadis?" Reinhard menatap sekilas pada Alyn.

"Nggak sadar diri," jawab Alyn ketus.

"Aku sadis sama orang tertentu saja, buktinya sama kamu baik 'kan?" Rei mengerling nakal.

"Idih, mana ada orang baik suka maksa-maksa ngajak jalan," balas Alyn.

"Ya karena kamu kalau gak dipaksa gak mau ikut," Rei tertawa geli.

"Aku gak suka kayak gitu Kak, Alyn trauma," suara Alyn terdengar parau.

Rei terdiam, dia melirik Alyn yang berubah murung. Rei jadi nggak enak hati telah membuat Alyn seperti ini.

"Maafin aku ya, Lyn, aku janji gak gini lagi sama kamu, asal kamu mau jalan sama aku," ucap Rei.

"Hmm, sama aja bohong Kak," Alyn kembali sewot, Rei malah tertawa senang.

Entah kenapa Rei sangat senang dengan Alyn, anaknya lugu dan menggemaskan. Rei tidak ingin Alyn jadi incaran mahasiswa lain, dia sengaja menunjukkan kalau Alyn itu miliknya, walaupun belum resmi memacari Alyn.

***

Terpopuler

Comments

.SiapaAku.

.SiapaAku.

mantap kak...
semangat...

salam hangat...JAGASKAPAR...

2020-06-19

1

Isrha 😊

Isrha 😊

Uwwuu.. Ceritamu makin seru thor..

ditunggu UPnya
aku juga Udah Up lohhh
jangan lupa mampir yaa ditunggu kehadirannya.
SMGT TERUS

2020-06-16

1

Nurul Imamah

Nurul Imamah

aku suka ceritanyaa thx ya thor jgn lama² up nya. aku selalu menunggu thor up

2020-06-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!