Ujian sudah selesai tinggal menunggu pengumuman. Alyn juga mulai mencari universitas yang akan dia pilih untuk melanjutkan studinya, dia tak sabar ingin meninggalkan kota ini. Merasakan pengalaman baru menjadi seorang mahasiswi, dan menjadi anak kos.
Adrian pergi ke sebuah desa yang letaknya sangat terpencil, dia mendapatkan alamat itu dari salah satu temannya. Waktu itu dia curhat pada Dodi usai latihan karate.
"Lu, kenapa latihan gak fokus?" tanya Dodi.
"Lagi banyak pikiran, gue sakit hati Dod," sahut Adrian.
"Sakit hati sama siapa, cewek? masa cowok sekeren elo bisa sakit hati. Bukannya cewek yang ngantri sama lo banyak," ujar Dodi menepuk pundak Adrian.
"Gua hanya suka sama satu orang, tapi dia malah menghina gua habis-habisan, padahal gua udah ngemis-ngemis sama dia, sakit banget hati gua." Adrian mendengus kesal.
"Lo, kerjain aja cewek itu, biar dia kapok." Dodi terkekeh.
"Bokapnya polisi gila lu, gua bisa masuk penjara kalau macem-macem." Adrian semakin kalut.
"Gak bisa kasar, ya pakai cara halus dong. Di kampung gua, cewek sombong dikit aja bisa kagak laku kawin dia, biarpun cantiknya kayak artis," seru Dodi.
"Kog bisa gitu Dod, emang diapain?" Adrian heran.
"Ya dibikin biar gak laku. Kalau pun ada yang deketin kagak bakal jadi kawin dia." Dodi tertawa.
"Iya, itu diapain biar begitu?" Adrian semakin penasaran.
"Dikunci sama orang pintar, di daerahku sana banyak orang pintar, lu mau nyoba?" tawar Dodi.
"Hah ... dukun maksud lo?" Adrian menggaruk kepalanya.
"Ya iyalah, mau nggak?" desak Dodi.
"Tapi ..." Adrian ragu-ragu.
"Ya, terserah lu dah, kalau mau ni gua kasih alamatnya. Cari yang namanya Mbah Kliwon, di desa itu semua orang tahu nama dukun ini."
Dodi menuliskan alamat di sebuah kertas, kemudian diserahkan pada Adrian. Adrian mengamati tulisan di kertas itu, dia ragu mau mengambil jalan itu atau tidak.
***
Sakit hati Adrian yang membara, akhirnya membuatnya pergi ke desa yang di tunjukkan oleh Dodi. Sebelum mereka lulus, Adrian ingin mengerjai Alyn, setelah ini mereka pasti tidak akan bertemu lagi, karena mereka kuliah di tempat yang berbeda.
"Aku akan memberimu kenang-kenangan Alyn, kamu sudah menantangku berbuat jahat kepadamu," sungut Adrian penuh dendam.
Adrian sudah sampai di desa yang di tuju, untuk ke rumah Mbah Kliwon, dia masih harus naik ojek. Jalan desa yang berliku, dan terjal hanya itulah satu-satunya transportasi yang bisa digunakan.
"Mau kemana, Mas?" tanya salah satu tukang ojek di pangkalan.
"Abang tau rumah ini?" Adrian menunjukkan kertas di tangannya. Setelah membaca kertas tukang ojek itu manggut-manggut, tanda dia tahu alamat itu.
"Ini rumah kakek saya, yuk Abang antar ke sana." tawar Bang Ojek.
"Oh, syukurlah. Terimakasih, Bang."
Adrian naik ke boncengan motor. Perjalanan ke rumah Mbah Kliwon ternyata masih jauh, melewati sawah yang berliku, hingga akhirnya sampailah di rumah yang letaknya jauh dari pemukiman rumah warga lainnya.
"Ini rumah kakek saya Mas, masuk saja ada di dalam Mbahnya."
Adrian mengikuti langkah Bang Ojek masuk ke rumah mbah Kliwon, suasana begitu sepi dan terasa damai. Seorang gadis keluar dari dalam rumah.
"Eh, Bapak, sama siapa?" sapa gadis itu pada Bang Ojek.
"Tamunya Mbah, buatin minum dulu tamunya. Yuk masuk, Mas," ajak Bang Ojek pada Adrian.
"Terimakasih Bang, nyaman sekali suasana di sini sepi, dan tenang," kata Adrian mengagumi indahnya nuansa pedesaan.
"Ya, tapi di sini apa-apa susah, Mas. Nggak kayak di kota," jawab Bang Ojek.
Gadis muda tadi datang membawa nampan berisi dua gelas teh manis. Senyumnya begitu ramah, ia meletakkan kedua gelas teh di meja.
"Di minum dulu, Mas. Si Mbah masih cari rumput belum pulang," ucap gadis itu.
"Mmm terimakasih." sahut Adrian.
"Ini Menik anak saya Mas, karena Mbah Kliwon sendirian, jadi menik saya suruh menemani, kalau rumah saya di ujung sana tuh." Bang Ojek menunjukkan rumah yang letaknya jauh di ujung sawah.
"Saya Adrian, Bang." Adrian memperkenalkan diri.
"Kalau saya, panggil saja Senin, Mas. Karena hari sudah sore, Mas Adrian balik ke kota besok pagi saja ya, nanti juga kemalaman jalannya susah. Besok pagi, Bang Senin jemput kesini lagi," tawar Bang Senin.
"Jadi saya nginap di sini, Bang?" Adrian ragu.
"Ya iyalah, mau tidur di mana lagi, tenang saja di sini aman kog. Abang pulang dulu ya, Mas di sini nunggu Mbah Kliwon datang."
Bang Senin meninggalkan Adrian, Menik hanya tersenyum, dia kembali melanjutkan pekerjaannya menyapu, menyirami tanaman di halaman.
Adrian memandang hamparan sawah yang menghijau di sekeliling rumah Mbah Kliwon, tanpa dia sadari kakek tua itu sudah berada di belakangnya.
"Ehem ... Cah Bagus, dari mana asalnya?" tanya kakek tua itu, Adrian terkejut tak menyangka ada orang di belakangnya.
"Hah! Mbah Kli-won?" Adrian terbata.
"Saya Kliwon."
"Duh, maaf Mbah, saya kaget."
Adrian masuk ke dalam rumah, duduk berhadapan dengan Mbah Kliwon. Dia mulai mengutarakan maksud kedatangannya untuk mengerjai Alyn mantan pacarnya.
"Hmm bisa, tapi kamu siap dengan segala akibatnya? bisa berbalik padamu lo Cah Bagus,"
"Saya tidak peduli Mbah, saya mau Alyn tidak bisa hidup tenang," sungut Adrian kesal.
Mbah Kliwon manggut-manggut, dia masuk ke kamar ritualnya membawa foto Alyn yang sudah Adrian persiapkan. Lama Mbah Kliwon di dalam kamarnya, Adrian menunggu dengan cemas di ruang tamu.
"Mas, ini ada ubi bakar monggo dimakan." Menik datang membawakan ubi bakar.
"Terimakasih Menik, duduklah di sini kita makan sama-sama," ajak Adrian.
Malu-malu gadis itu duduk di depan Adrian, sambil memakan ubi bakar buatannya.
"Kamu kelas berapa, Menik?" Adrian membuka percakapan.
"Menik nggak sekolah, Mas, cuma lulus SD. Harusnya sekarang kelas tiga SMP," sahut Menik.
"Loh, kenapa gak sekolah?" Adrian menatap Menik.
"Jauh Mas, lagian gak ada biaya," jawab Menik dengan polos.
"Hmm gitu ya, sayang sekali,"
"Mas, nanti kalau mau ke kamar mandi lewat dapur ya, tidurnya di sana saja, gak ada kamar lagi. Mbah Kliwon besok pagi baru keluar dari kamar," ucap Menik.
"Hah, yang bener, Besok pagi baru keluar?" Adrian tak percaya.
"Iya, besok pagi Mbah baru keluar, 'kan lagi tirakat di dalam. Ya udah Mas, Menik mau ke belakang dulu, Mas Adrian istirahat saja ya."
Adrian mengangguk, dia ke balai yang ditunjukkan Menik, ranjang bambu beralas tikar. Adrian meletakkan tas ransel bawaannya, ia gunakan sebagai bantal. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya, tapi kecewa karena di tempat itu sama sekali tak ada sinyal. Dia memilih tidur karena merasa lelah.
Bunyi ayam berkokok saling bersautan, Adrian terbangun dari tidur. Di meja sudah tersaji segelas teh, nasi dengan lauk tempe, dan sayur pecel.
"Udah bangun Mas? mandi dulu sana baru sarapan," sapa Menik.
Adrian menurut mengikuti Menik yang mengantarnya ke kamar mandi, setelah mandi Adrian kembali ke ruang tamu menyantap sarapan yang sudah Menik siapkan, makanan sederhana ini terasa begitu nikmat. Mbah Kliwon muncul membawa bungkusan dari kamar ritualnya.
"Sudah sarapan, Cah Bagus?" sapa mbah Kliwon.
"Oh Mbah, maaf saya sarapan duluan." Adrian tersipu malu.
"Tidak apa-apa, ini terimalah nanti sebarkan di depan rumah gadis itu,"
Mbah Kliwon menyerahkan bungkusan itu pada Adrian. Adrian langsung memasukkan bungkusan itu ke dalam ranselnya, dia menyodorkan amplop sebagai mahar pada mbah Kliwon.
"Sebentar lagi, Senin akan datang menjemputmu. Mbah harus ke sawah, jadi Mbah pergi dulu, ya."
Mbah Kliwon mengambil cangkul kemudian berjalan menyusuri persawahan, hingga bayangannya menghilang. Tak berapa lama akhirnya Bang Senin datang menjemput.
Adrian berpamitan pada Menik sebelum pergi kembali ke kota. Senyum jahat tersungging sepanjang jalan, malam ini sesampainya di rumah, dia akan langsung ke rumah Alyn melakukan perintah Mbah Kliwon.
"Rasakan pembalasanku Alyn!!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Dewi Hajrah
jahat bingit..cinta ditolak,dukun bertindak😐
2021-04-21
0
Yuni Suryandari
seremmmmmm
2020-12-29
0
WK
Assalamualaikum
Dear teman-teman semua, trimakasih buat yang selalu setia membaca karya saya.
Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin semua 🙏🤗😊😊
2020-05-23
0