Masih Mengharap

Adrian terus berusaha mendekati Alyn, tapi gadis itu tetap tidak mau berbicara dengannya. Sudah cukup buat Alyn memberinya kesempatan, apa pun usaha pemuda itu tidak akan ia terima lagi.

"Lyn,dengar dulu." Adrian mencoba untuk berbicara dengan Alyn.

Alyn menepis tangan Adrian meninggalkannya begitu saja. Adrian memandang kepergian Alyn, hatinya mulai kesal. Dia tak percaya sikap Alyn berubah kasar padanya. *Apa dia sudah punya pacar lag*i? pikir Adrian.

"Jangan coba-coba meninggalkanku Lyn." Adrian mengepalkan tangan, menahan amarah di hati. Dia merasa Alyn sudah menghianatinya.

...***...

Alyn dan Dyah saling bercanda di kelas, sikapnya berubah, dia terlihat lebih santai dan ceria.

"Kamu udah putus beneran sama Adrian?" tanya Dyah penasaran.

"Aku udah putusin, tapi dia masih aja gak ngerti. Heran gue diapain biar dia menjauh dari hidup gue," dengus Alyn kesal.

"Dia cinta mati ma elu," ledek Dyah sambil terkekeh.

"Kalau dia nggak seperti itu mungkin aku bertahan, tapi sifatnya bikin gue gak panjang umur," gerutu Alyn.

"Dulu kog kamu bisa jadian sama dia sih Lyn?" tanya Dyah heran.

"Dulu dia baik, manis, pengertian lama-lama cemburuan parah. Mulai ngatur-ngatur, aku harus temenan sama siapa, 'kan gila." Alyn mencurahkan kekesalannya, kalau membicarakan Adrian bawaannya emosi.

"Iya juga sih, mungkin saking takut kehilangan sama kamu dia jadi begitu," sambung Dyah.

"Tau gak sih lo? gara-gara ini gue jadi takut mau pacaran lagi. Trauma gue." Alyn menyandarkan punggungnya di kursi, matanya menerawang jauh.

"Mmm emang kamu mau jadi jomlo sampai tua?" ledek Dyah sambil tertawa.

"Entahlah, aku mau sendiri dulu menikmati masa kebebasan gue. Entah nanti kalau udah kuliah baru mikir cowok lagi," desah Alyn pelan.

...***...

Sejak tak bisa bersama Alyn lagi, Adrian sama sekali tidak konsentrasi dengan pelajaran. Pikirannya hanya tertuju pada Alyn. Sikap kekasihnya itu membuatnya gelisah.

"Adrian! Adrian!" Pangilan guru membuyarkan lamunan Adrian.

"Mmmm iya Pak?" jawab Adrian gugup.

"Coba kamu terangkan yang sudah Bapak bahas tadi!" suara guru itu meninggi.

"Mmmmm ...." Adrian menggaruk kepalanya.

Adrian tak tahu apa yang diminta oleh gurunya, karena sedari tadi pikirannya sedang berkelana.

"Kalau kamu tidak menyimak pelajaran saya, silahkan keluar!" bentak guru itu kesal.

Adrian menunduk tak berani menatap wajah gurunya.

"Keluar sekarang, tidak usah ikut pelajaran saya!" usir sang guru murka.

Adrian berdiri dengan lemah melangkahkan kakinya keluar dari kelas.

"Huuuuu! lagi patah hati dia pak!" teman-teman Adrian malah menyorakinya.

"Sudah-sudah ayo kita belajar lagi." Guru pun melanjutkan pelajaran.

Adrian melangkahkan kaki ke kantin, di sana sambil menunggu hingga pelajaran usai. Ada beberapa siswa yang juga sedang berada di kantin saat itu.

"Cabut dari kelas juga?" tegur Bimo pada Adrian.

"Biasa diusir gara-gara gak fokus." Adrian tertawa pelan.

"Tumben lo gak fokus, biasanya kamu anak paling rajin." Bimo heran, mereka pernah satu kelas saat kelas satu dia tahu Adrian bukan tipe murid nakal.

"Biasa Bray, lagi banyak pikiran," jawab Adrian ngeles.

"Lu masih sama Alyn, awet banget ya kalian?" Bimo duduk di sebelah Adrian.

"Karena itu gua diusir dari kelas." Adrian mendesah.

"Soal Alyn bikin kamu gak fokus belajar?" Bimo menertawakan Adrian.

"Iya, dia mutusin gue," jawab Adrian lirih.

"Ya elah Bro, kamu 'kan lumayan ganteng bisa nyari yang lebih dari Alyn. Hilang satu tumbuh seribu Bro!" Bimo menepuk pundak Adrian.

"Gak semudah itu Bim, gue sama dia hampir tiga tahun. Cewek selain dia gue gak tertarik," balas Adrian.

"Noh lihat anak kelas satu cakep-cakep masih polos lagi, kalau lu tembak salah satu dari mereka udah pasti klepek-klepek," bujuk Bimo.

"Hmmm dasar lo." Adrian tersenyum getir.

Mereka memesan minum dan makanan kecil, sambil menunggu jam pelajaran usai Adrian menghabiskan waktu berbincang bersama Bimo.

...***...

Bel istirahat berbunyi, Alyn dan Dyah bergegas ke kantin, sesampainya di kantin mereka bertemu dengan Adrian dan Bimo. Adrian mau mendekati Alyn tapi dicegah oleh Bimo.

"Ngapain? dia udah mutusin, lo masih aja mau datangin. Jaim dikit ngapa jadi cowok!" Sergah Bimo.

Adrian mengurungkan niatnya dia hanya memandang Alyn dari jauh. Sementara Alyn yang melihat ada Adrian cepat-cepat mengajak pergi Dyah, dia malas bertemu dengan Adrian.

"Tumben dia gak deketin kamu Lyn?" bisik Dyah.

"Sstt, sudah biarin. Aku malah senang dia begitu. Ayok cepetan kita pergi, beli di sana saja tempat Pak Dhe," ajak Alyn. Adrian ingin mengejar tapi lagi-lagi Bimo melarangnya.

"Please Adrian kamu jangan seperti itu," larang Bimo.

"Tapi Bim," Adrian mendengus kesal.

"Eh Putri!" panggil Bimo pada salah satu siswi yang sedang belanja di kantin.

"Iya Kak," Siswi yang bernama Putri mendekat.

"Kamu mau makan? sini duduk sama kami," Bimo menyuruh Putri duduk di sebelah Adrian.

Putri melihat sekeliling, semua tempat duduk sudah penuh, akhirnya Putri duduk di samping Adrian. Adrian melengos tak begitu peduli dengan kedatangan Putri.

"Kamu kelas satu apa?" tanya Bimo basa-basi.

"Saya satu C, Kak," jawab Putri malu-malu. Putri melirik Adrian yang dari tadi terlihat cuek.

Bagi siswi kelas satu Adrian tergolong cowok idaman, wajah ganteng dan cuek membuat daya pikat tersendiri. Adrian sering jadi bahan omongan para siswi kelas satu.

"Wah sama dong kami dulu juga kelas satu C, iya 'kan Adrian?" Bimo mengajak Adrian bicara.

"Hmm iya," jawab Adrian singkat.

"Kakak udah makan? saya makan dulu ya," pamit Putri.

"Kami udah dari tadi, kami dihukum gak boleh ikut pelajaran jadi kami nongkrong di sini," jawab Bimo terkekeh.

"Kak Adrian makan yuk," tawar Putri.

"Aku udah makan, kamu makan aja," jawab Adrian sambil meminum tehnya yang tinggal sedikit.

"Kak Adrian ikut eskul apa?" Putri semakin tertarik berbincang dengan Adrian.

Bimo senang melihat putri mengajak Adrian bicara, setidaknya Adrian tidak terus-terusan mengingat Alyn.

"Aku, ikut karate," jawab Adrian datar.

"Wah hebat, aku mau ikut karate juga lah," seru Putri.

"Hmm boleh saja asal kamu tahan sakit," sahut Adrian datar.

"Tidak apa-apa, asal Kak Adrian yang ngajarin," Putri mulai berani menggoda Adrian.

Bel tanda masuk berbunyi, Adrian bangkit dari duduknya membayar makanan yang mereka pesan termasuk pesanan Putri. Gadis itu semakin senang, dan mengagumi Adrian.

"Terimakasih ya, Kak," ucap Putri.

"Hmmm ok," balas Adrian tanpa melihat Putri.

Bimo tersenyum melihat Putri, mata gadis itu berbinar tanda dia menyukai Adrian. Adrian dan Bimo masuk ke kelas masing-masing demikian juga dengan Putri.

Hari ini hari yang sangat indah buat Putri bisa ngobrol dengan Adrian, pasti teman-temannya akan iri. Semua cewek kelas satu mengidolakan sosok Adrian. Putri berharap bisa semakin dekat dengannya. Dia akan ikut eskul karate agar bisa bertemu dengan Adrian lagi. Demi Adrian dia rela menahan sakit latihan karate.

...***...

note:

Hai trimakasih sudah mampir dinovelku, mohon kritik dan sarannya biar lebih semangat nulis dan memperbaiki cara penulisan. Trimakasih untuk like dan votenya tanpa kalian apa artinya diriku.

Terpopuler

Comments

Roswati Wati

Roswati Wati

jaman sekarang udah langkah dapt cowo yg cinta mati apalagi ganteng cwonya. klo aku jadi cwe nya psti sgt bersukur

2021-05-18

0

Edi Arianto

Edi Arianto

mampir thor sambil nunggu update jin penghuni telaga..novel ini juga bagus...

2020-08-01

1

Edi Arianto

Edi Arianto

mampir thor sambil nunggu update jin penghuni telaga..novel ini juga bagus...

2020-08-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!