Mobil Reinhard memasuki halaman kampus, dia memarkirkan mobil, kemudian mengajak Alyn turun, beberapa mata memandang mereka berdua, teman Rei langsung menggoda saat melihatnya bersama anak baru.
"Yu huu! gebetan baru lagi nih, asyik!!" seru salah satu teman Rei.
Rei hanya menanggapi dengan senyum, sambil menggandeng tangan Alyn yang berjalan canggung di sampingnya, beberapa mata memandang sinis, dan cemburu.
"Kamu gak usah pedulikan mereka, selama sama aku kamu pasti aman," bisik Rei, Alyn mengangguk mengikuti langkah kaki Rei bak anak itik mengikuti induknya kemana pun pergi.
Rei mengajak Alyn ke aula melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru, Alyn mengecek di komputer yang tersedia di aula, khusus digunakan mahasiswa dan calon mahasiswa.
"Tahu caranya?" tanya Rei, melihat Alyn kebingungan mencari informasi untuk mahasiswa baru.
"Alyn masih bingung, biasa pakai pengumuman yang ditempel di mading, sekarang harus pakai komputer," Alyn merasa malu.
"Sini aku bantuin," Rei membantu, Alyn memperhatikan agar nanti bisa sendiri tanpa bantuan Rei lagi.
"Nanti kalau kamu sudah jadi mahasiswi, bisa diakses pakai ID mahasiswa kamu. Karena kamu belum resmi kamu pilih yang untuk tamu, cari namamu di sini, sudah ada apa belum?" Rei menyerahkan mouse pada Alyn.
Akhirnya ketemu juga namanya, Alyn melonjak senang sampai tak sadar memeluk Rei saking senangnya.
"Yeee!, eh, maaf Kak," Alyn melepaskan pelukan saat sadar siapa yang dia peluk.
"Selamat, sudah resmi menjadi mahasiswi di sini ya," ucap Rei.
"Terus Kak, habis ini aku ngapain?" tanya Alyn bingung.
"Kamu tinggal bayar, terus kasih bukti bayarnya serahkan sama kasir BAK. Sudah deh, kamu nanti dapat pemberitahuan lewat telpon atau email, biasanya gitu," terang Reinhard.
"Terimakasih Kak, untung tadi bareng Kak Rei." Alyn tersenyum manis.
"Sekarang baru kamu sadar keuntungan dekat denganku 'kan, yuk jalan atau kamu mau selesaikan pembayaran sekalian, biar kubantu transfer dulu kalau mau sekalian bayar," tawar Reinhard.
"Aku ada kog Kak, udah ku siapin. Sekalian saja aku urus ini dari pada nanti bolak-balik lagi,"
Alyn mengeluarkan ponsel kemudian melakukan pembayaran melalui mobile banking, setelah itu dia menuju ruang BAK untuk menunjukkan bukti bayar uang kuliahnya.
"Kak, Alyn mau jalan-jalan dulu boleh, pengin lihat-lihat kampus dulu, biar nanti saat masuk aku nggak bingung lagi," pamit Alyn pada Reinhard.
"Ayo ku antar," tawar Reinhard.
"Nggak usah Kak, kayak apa aja, nanti kita ketemuan lagi di aula, ya," ucap Alyn, cepat-cepat berlalu.
Alyn berjalan mengelilingi kampus, rasa bangga menyeruak di hati, sudah tak sabar menunggu hari pertama masuk kuliah.
"Heh! kamu apanya Reinhard sih?" Tiba-tiba ada mahasiswi menanyai Alyn dengan ketus.
"Mmm, aku?" Alyn bingung mau menjawab apa.
"Lyn ayo pulang, Tante udah nelpon!" Reinhard tiba-tiba muncul, dia menatap tajam pada mahasiswi yang mendekati Alyn.
"Iya Kak, permisi Kak," pamit Alyn pada mahasiswi yang menegurnya, dengan langkah cepat Alyn mendekati Reinhard.
"Yuk pulang, ngapain dia sama kamu?" tanya Reinhard sembari berjalan ke luar kampus.
"Ng, tadi dia nanya Alyn ini apanya Kakak," jawab Alyn mengikuti langkah kaki Reinhard.
"Terus, kamu jawab apa sama dia?" Reinhard penasaran.
"Belum jawab, udah keduluan Kakak datang," jawab Alyn.
"Bilang aja kamu saudaraku, biar mereka gak usil sama kamu," Reinhard membuka pintu dan masuk ke mobil diikuti Alyn.
"Itu bukannya cewek yang pernah ngejar kita dulu, saat pertama kali kita bertemu?" Alyn teringat siapa cewek tadi.
"Iya," jawab Reinhard sambil menghidupkan mobilnya. Mobil melaju ke luar dari halaman kampus.
"Pacar Kakak?" tanya Alyn penasaran.
"*Wha*t? kamu kira seleraku cewek model begitu!" Rei kesal.
"Hmm, ya 'kan Alyn cuma nanya Kak." Alyn tak berani membahas masalah pribadi Reinhard.
Wanita itu bernama Sisca, anak dari salah satu relasi papanya Reinhard, sejak dikenalkan dengan Reinhard, cewek itu terus mengejarnya. Lama-lama Reinhard bosan.
Setelah bertemu dengan Alyn, Reinhard punya alasan untuk menghindari Sisca. Rei lebih baik bersama Alyn dari pada Sisca. Sisca selalu nempel kayak poster dengan Reinhard, tidak punya rasa malu. Reinhard kadang merasa risih dengan sikapnya.
"Kamu udah punya pacar, Lyn?" tanya Rei tiba-tiba.
"Pacar? enggak ada Kak. Alyn belum mau pacaran dulu," jawab Alyn sambil memperhatikan ruas jalan di depan.
"Jadi kamu belum pernah pacaran sama sekali?" Rei penasaran.
"Pernah sih, dulu waktu SMA terus putus," terang Alyn.
"Kenapa kalian bisa putus?" Rei semakin penasaran.
"Dia terlalu over protektif, cemburuan, suka ngatur, Alyn gak tahan, ya sudah aku putusin saja," terang Alyn.
"Hmm," Reinhard manggut-manggut.
Reinhard mengantarkan Alyn pulang, setelah Alyn turun dia langsung memacu mobilnya pulang.
Alyn menemui Farida menceritakan kalau dia sudah diterima di kampus, Farida ikut senang mendengarnya.
"Jangan lupa kabarin papa mamamu, biar mereka ikut senang mendengar kabar ini," ucap Farida.
"Iya Tante."
Alyn masuk ke kamar mengabari orang tuanya kabar bahagia ini.
***
Malam hari sebelum tidur, Alyn datang ke kamar Fredy, dia meminta Fredy menemaninya. Dia takut kalau tidur sendirian.
"Kak, temenin Alyn tidur, takuutt," rengek Alyn.
"Coba Alyn salat dulu sebelum tidur, biar nggak diganggu setan," ucap Fredy.
"Iya, tapi temani. Alyn takut, Kak," rengek Alyn lagi, akhirnya Fredy tak tega. Ia menunggui Alyn salat, sampai dia tertidur.
Setelah Alyn tidur Fredy keluar, dia berpapasan dengan Farida yang mengecek rumah sebelum tidur.
"Kamu dari kamar Alyn lagi, Fred?" tanya Farida.
"Iya Bu, dia masih ketakutan. Coba Ibu lihat, dia tidurnya gelisah," ucap Fredy.
"Hmm, kenapa anak itu, Ibu juga heran," gumam Farida.
Farida masuk ke kamar Alyn, memperhatikan ponakannya yang sedang tidur, benar saja Alyn sangat gelisah, kadang mengigau.
"Kamu temani adikmu, kasihan kalau tengah malam bangun terus sendirian. Bawa kasur lipat tidur di bawah," perintah Farida pada putranya.
"Iya, Bu," Fredy mengambil kasur lipat.
Farida masuk ke kamar, sebelum tidur dia menceritakan pada suaminya, apa yang Alyn alami.
"Yah, coba Ayah cari tau kenapa Alyn tiap malam ketakutan kayak gitu, dia gak berani tidur sendiri tiap malam,"
"Apa separah itu, Bu?" tanya Hamid.
"Buktinya, tadi Ibu lihat memang tidurnya gelisah Yah, aku jadi kasihan,"
"Ya sudah, nanti hari libur, Ayah bawa ustad ke sini, mana tahu memang ada yang jahil sama Alyn. Yuk tidur, Ayah sudah capek,"
Hamid berbaring memejamkan mata, Farida mematikan lampu dan berbaring di sisi Hamid.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Aiko Amara
Ketemu lagiiiiiiii...... Thor yg ini g kalah seru ama karyamu lain😊😊jgn lama2 up nya y thor.... Maklum dah tua kalo kelamaan g baca takut lupa 🤣🤣
2020-07-20
0
Mamah Nabilla
reinhard Sinaga???
2020-06-18
2
Kustinah
pa ustad nya jgn lama2 y thor
2020-06-17
2