Tempat Baru

Malam pertama tidur di rumah Fredy, Alyn kerasan dan betah di rumah ini. Sambutan hangat keluarga Fredy, membuat Alyn seperti berada di rumah sendiri. Setelah mempersiapkan semua berkas untuk daftar kuliah, Alyn berbaring di ranjang, dalam sekejap dia langsung terlelap.

Alyn meronta, kaki dan tangannya terikat pada sebuah kursi. Adrian tersenyum sinis tak mau menolongnya.

"Adriaann! kog kamu diam saja, lihat aku begini. Bantuin lepasin dong!" Alyn berteriak, tapi Adrian malah pergi meninggalkannya.

Alyn terus meronta, tak seorangpun datang menolong. Dia menangis kesal sendirian.

"Lyn, Lyn!" Seseorang menepuk pipi Alyn, Alyn tersadar dari mimpi.

Alyn langsung memeluk Fredy yang membangunkannya, dia ketakutan dengan mimpi yang baru dia alami.

"Kamu kenapa? Kakak tadi mau ngecek kamu udah tidur apa belum, malah kamu nangis," tanya Fredy sambil membelai punggung Alyn, jantungnya berdebar dipeluk seperti ini.

"Aku mimpi buruk Kak, Alyn takut." Alyn tak melepaskan pelukan.

"Ya sudah, Kakak temanin kamu, tidurlah, Kakak ada disini." Fredy menyuruh Alyn tidur lagi.

Alyn memeluk guling membelakangi Fredy, yang duduk di ranjang menungguinya. Fredy berbaring di sebelah Alyn , mereka tidur saling memunggungi.

Alyn tidur dengan gelisah, Fredy kasihan kemudian dia memeluk dari belakang. Hati Fredy berdetak tak karuan, untung Alyn tidur tidak menyadari kegelisahannya.

Adzan subuh berkumandang, Fredy bangun langsung mandi lanjut salat subuh. Selesai salat Fredy membangunkan Alyn, agar mandi dan salat subuh.

"Ngantuk Kak," rengek Alyn saat Fredy membangunkannya.

"Eh, ayok salat." Fredy terus mengganggu Alyn agar bangun, akhirnya dia bangun dan pergi mandi sambil menggerutu.

Fredy memandang adiknya sambil tersenyum, walau sudah mau menjadi mahasiswi, sifatnya masih kaya anak kecil.

"Salat subuh, ya," ucap Fredy, saat Alyn selesai mandi.

"Iya bawel!!" Alyn bersungut-sungut, mengambil mukena untuk salat.

Fredy keluar dari kamar Alyn menuju dapur, membantu ibunya masak.

"Adikmu sudah kamu bangunin, Nak?" tanya Farida.

"Udah Bu, dia lagi salat," ucap Fredy sembari mengupas bawang di piring.

Setiap pagi Fredy membantu di dapur, dia tak mau melihat ibunya capek, sebisa mungkin dia akan membantu. Fredy sangat menyayangi ibunya, karena tinggal dialah orang tua satu-satunya, Fredy takut kehilangan ibunya, dia sudah kehilangan bapaknya.

Usa selesai salat Alyn keluar dari kamar, dia melihat Tante Farida bersama Fredy memasak di dapur. Alyn mencari sapu, membantu membersihkan rumah.

"Udah, nanti biar Kakak yang sapu lantainya." Fredy langsung melarang.

Alyn terus menyapu tak menghiraukan larangan Fredy, Fredy cepat-cepat mengambil sapu di tangan Alyn menggantikannya. Alyn mendengus kesal, kemudian mendekati tantenya.

"Terus Alyn ngapain, Tan?" tanya Alyn pada Farida.

"Kamu duduk saja bagian icip-icip," jawab Farida sambil tersenyum.

Alyn akhirnya membuat susu untuk dirinya sendiri, mau bantuin masak gak dibolehin. Dia jadi segan, di rumah ini semua dilayani seperti putri.

Setelah semuanya siap, keluarga Fredy berkumpul untuk sarapan bersama. Selesai sarapan Alyn bersiap berangkat bersama dengan Fredy mengurus pendaftaran kuliah, sekalian Fredy berangkat bekerja.

"Alyn berangkat dulu ya, Tante, Om." Alyn menyalami Farida dan suaminya sebelum berangkat.

"Fredy jalan dulu ya, Bu, Pak." Fredy juga menyalami orang tuanya.

"Hati-hati di jalan," ucap ibu Fredy.

Alyn naik di boncengan motor Fredy setelah memakai helm, tangannya berpegangan pada pinggang Fredy. Fredy segera melajukan motornya dengan pelan.

"Ayah jalan juga ya, Bu." Hamid berpamitan setelah Fredy dan Alyn hilang dari pandangan.

"Hati-hati, Yah." Farida menyalami suaminya dibalas dengan kecupan di kening.

***

Alyn melangkah menuju ruang pendaftaran, setelah bertanya-tanya dia menyerahkan berkas persyaratan calon mahasiswa. Setelah selesai dia berjalan melihat-lihat suasana kampus yang akan jadi tempatnya menempuh pendidikan.

Brukk!!

"Eh maaf, saya nggak lihat." Alyn memunguti buku milik orang yang baru saja ia tabrak, dan menyerahkan pada pemiliknya.

Pria itu menerima sambil tersenyum ramah, Alyn menunduk malu atas kecerobohan yang baru dia lakukan.

"Mahasiswa baru?" tanya pria itu.

"Baru mau daftar." Alyn menunduk.

"Reinhard, nanti kita ketemu kalau kamu sudah jadi mahasiswi di sini." Pria itu mengulurkan tangan, Alyn membalas uluran tangan Reinhard.

"Alyn," jawab Alyn.

"Udah mendaftar?" tanya Reinhard.

"Sudah Kak, ini sudah mau pulang, cuma saya pingin lihat-lihat dulu," jawab Alyn polos.

"Kamu ngekos, atau memang orang sini?" tanya Reinhard lagi.

"Saya tinggal di rumah tante, Kak, ada keluarga di sini. Permisi," Alyn mengakhiri percakapan, dia pergi meninggalkan Reinhard.

"Tunggu!!" panggil Reinhard, Alyn menghentikan langkahnya.

"Kamu tinggal di mana, yuk ku antar!" tawar Reinhard, mereka berjalan beriringan.

"Nggak usah, Kak. Terimakasih." tolak Alyn, tak mungkin pulang dengan orang yang baru dikenal, walaupun mereka satu kampus.

"Nggak apa-apa, tinggal di mana sih?" tanya Reinhard memaksa.

"Saya di Maharani, Kak," jawab Alyn.

"Lah deket sama rumahku, aku di Puri Selebritisnya, tiga perumahan dari perumahanmu, ya udah ayok bareng." Reinhard menarik tangan Alyn, menggandengnya ke parkiran.

"Reii! kamu mau kemana?" Suara wanita memanggil di belakang mereka.

"Pulang!!" jawab Reinhard tanpa menoleh.

Alyn tak berani menoleh ke belakang, dia mengikuti Reinhard yang tak melepaskan tangannya. Sesampainya di parkiran Reinhard membuka pintu mobil, menyuruh Alyn masuk, sementara wanita yang memanggil Reinhard juga sudah tiba di sana.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya ketus, sambil melirik sinis pada Alyn yang duduk di dalam mobil.

"Gue bilang mau pulang, kamu gak dengar!" Reinhard menjawab dengan nada kesal, dia masuk ke dalam mobil. Wanita itu mendekati pintu mobil tepat di samping Reinhard.

"Aku nanti pulang sama siapa?" tanya wanita itu , sambil memandang Alyn dengan tajam.

"Ya elah, lu 'kan biasa pulang pergi sendiri, terserahlah kamu mau naik apa," jawab Reinhard sambil menghidupkan mesin mobil.

"Tapi..." Wanita itu berusaha mencegah Reinhard pergi.

"Apalagi, kamu gak punya uang? nih buat ongkos naik taksi!" Reinhard mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya menyerahkan pada wanita itu.

Dengan wajah kesal, wanita itu mengambil uang dari tangan Reinhard membiarkannya pergi bersama Alyn.

"Sia*an kamu Rei, mentang-mentang ada anak baru. Awas saja kamu!" dengus wanita itu sambil kembali ke kampus.

***

Reinhard membawa mobilnya ke sebuah rumah makan, Alyn yang tadinya diam memberanikan diri untuk bicara.

"Kog kita ke sini, Kak?" tanya Alyn, saat mobil Reinhard berhenti.

"Aku lapar dari pagi belum sarapan, kita makan dulu." Reinhard ke luar dari mobil.

Alyn dengan terpaksa mengikuti langkah Reinhard dari belakang, dia mengutuki dirinya sendiri, kenapa bisa pergi dengan Reinhard, kalau Fredy melihat ini, dia pasti kena marah.

Reinhard langsung memesan makan untuk mereka berdua tanpa bertanya pada Alyn dia ingin makan apa, sepertinya dia ini sudah terbiasa bertindak semaunya. Alyn memandangi makanan yang terhidang di depannya.

"Ayo makan, kog diam saja, kamu gak suka?" tanya Reinhard yang sudah mulai menyuapi mulutnya.

Alyn menelan ludah, dia terpaksa memakan makanan yang sudah dipesan Reinhard. Alyn tidak suka makanan yang disiram kuah, dia lebih suka makan yang kering, melihat nasi basah dengan kuah membuat Alyn langsung merasa kenyang.

Selesai makan, Reinhard memandang Alyn yang berusaha menghabiskan makanan di depannya.

"Kamu gak suka, ya?" tanya Reinhard.

"Mmm Alyn kenyang, Kak." Alyn segan mengatakan yang sebenarnya.

"Ya udah, kalau gak habis, gak usah dipaksain," ucap Reinhard.

Alyn menghentikan makannya, dan meminum teh hangat di depannya.

"Bagi nomer hp mu!!" pinta Reinhard tanpa basa-basi.

"Buat apa, Kak?" tanya Alyn heran, cowok ini kalau mau apa pun harus dituruti, padahal dia baru kenal dengan Alyn.

"Ya, buat nelpon kamu lah, buat apa lagi. Lyn kamu harus terus sama aku, ya," ucap Reinhard lagi.

"Hah!" Alyn terkejut dengan ucapan Reinhard.

"Aku anggota BEM, kalau kamu sama aku nanti saat perploncoan mereka gak ada gangguin kamu. Kamu mau dikerjain mereka?" ucap Reinhard lagi.

"Oh gitu," Alyn masih tak memahami maksud Reinhard.

"Yuk pulang." Reinhard berjalan ke kasir, setelah itu keluar menuju mobilnya. Alyn mengikuti bagai anak ayam mengikuti induknya.

Ponsel Alyn berdering, rupanya Fredy menghubunginya. Alyn menerima panggilan dari Fredy.

"Udah selesai? Kakak jemput ya, sekalian makan siang," ucap Fredy di ujung sana.

"Alyn udah jalan pulang, Kak," jawab Alyn ragu.

"Oh, sama siapa?" tanya Fredy.

"Sama teman dari kampus," jawab Alyn lagi.

"Wah udah dapat temen kamu, ok hati-hati ya. Nanti sore kita jalan-jalan ya," Fredy mengakhiri panggilannya.

Alyn mau menyimpan ponselnya, tapi Reinhard mengambil dari tangannya, menggunakan ponsel itu menelpon ponselnya sendiri, lalu mengembalikan pada Alyn setelah berdering.

Alyn menatap kesal pria di sebelahnya, pria ini sangat nyebelin gak seperti Fredy yang selalu lemah lembut padanya.

Reinhard kemudian mengantar Alyn pulang ke rumah, setelah itu dia pun pulang. Alyn berjalan gontai memasuki rumah, Farida sedang menonton tv di ruang keluarga, dia langsung bergabung bersama Farida.

***

Terpopuler

Comments

Nona Mawar

Nona Mawar

Lanjut kaka...semangat

salam dari
*Hasan Alfatar
*Impian Kehidupan 😊

2020-06-13

1

Noe larassati

Noe larassati

ceritanya seru kak, menarik😇
udah aku like rate 5. ditunggu feedback nya ya😇😇😇

2020-06-12

1

Lynn💚

Lynn💚

Cemunguutt thorr😊😘

2020-06-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!