Sakit hati

Hari ini Putri sudah mulai masuk sekolah, perutnya masih terasa mulas, dia tak mau izin terlalu lama takut ketinggalan ujian dan harus mengulang sendirian. Wajah Putri terlihat sangat pucat, karena banyak mengeluarkan darah tak seperti datang bulan biasa.

"Kamu pucat banget, Put," Bimo menegur Putri saat istirahat.

"Masa sih, Kak?" Putri melihat wajahnya di kaca.

"Iya, yakin kamu gak apa-apa, Put?" tanya Bimo cemas.

"Darahku keluar banyak banget Kak, mungkin itu yang bikin Putri pucat dan lemas." jawab Putri.

"Hmm minum apa bagusnya biar lo nggak kayak gitu?" Bimo cemas.

"Nanti aku tanya ibuku, Kak. Ibu pasti lebih pengalaman soal obat," sahut Putri

"Ya udah, kemarin Adrian curiga nggak sama aku?" tanya Bimo.

"Nggak tuh, cuek aja dia," kata Putri.

"Syukurlah, aku gak mau kalian ribut. Ya, sudah aku mau masuk kelas dulu, ya." Bimo melangkah masuk ke kelas.

Tanpa sepengetahuan Putri dan Bimo, Adrian memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Adrian mulai curiga, hanya saja dia tidak punya bukti kuat untuk cemburu pada Bimo.

Tengah asyik memperhatikan Putri dan Bimo, tiba-tiba Alyn lewat di depan Adrian. Adrian mengikuti Alyn mengajaknya bicara.

"Lyn, tunggu aku mau bicara sama kamu." Adrian mengejar Alyn yang mempercepat langkahnya.

"Apaan sih kamu?" Alyn mulai kesal.

"Beri aku kesempatan untuk bicara, Lyn!" Adrian memohon pada Alyn.

"Mau bicara apa lagi, sih, kamu?" bentak Alyn.

"Tidak bisakah kita berdamai, Lyn?" Adrian kembali memohon

"Maksud kamu apa?" tanya Alyn dengan wajah kesal.

"Ya kita tidak usah bermusuhan seperti ini, aku masih menyayangimu, Lyn," ucap Adrian.

"Nah, ini yang bikin gue ogah baikan sama elo, lo masih ngarep balikan sama gue." Alyn menghempaskan tangan Adrian yang memegang tangannya. Dia pergi meninggalkan Adrian.

Adrian meremas tangan menahan amarah di dada, giginya gemeretak, tatap matanya tajam memandang kepergian Alyn.

"Tunggu pembalasanku, Lyn. Kamu gak bakalan hidup tenang setelah ini!" Adrian mendengus kesal.

"Kakak lagi ngapain di sini?" Putri tiba-tiba sudah berada di dekat Adrian, membuyarkan lamunannya.

"Hah ... Putri! mmm aku tadi mau ke kantin tapi gak jadi, bentar lagi udah mau masuk. Kamu sendiri mau kemana?" Adrian terlihat gugup.

"Nggak ada, Putri mau nemuin Kakak aja, karena tadi lihat Kakak ada disini." ucap Putri.

Semoga dia tidak melihat aku bersama Alyn tadi, Adrian membatin.

"Kamu sudah sehat, Put?" Adrian mengalihkan pembicaraan.

"Udah Kak, kemarin sakit karena mau bulanan aja. Aku biasa seperti itu, kalau mau datang bulan," terang Putri.

"Syukurlah kalau gitu, kamu gak periksa, emang gak bahaya kalau tiap bulan sakit?" Adrian memandang perut Putri.

"Nggak Kak udah biasa kog. Ya, udah Kak aku masuk dulu ya, good luck, ujiannya." Putri melambaikan tangan kemudian pergi.

"Ok Bye ..." Adrian berjalan ke kelasnya.

Bel masuk sekolah berbunyi Adrian sengaja melewati kelas Alyn, dia melirik ke pintu melihat Alyn yang duduk di bangku paling depan. Melihat Adrian lewat, Alyn langsung melengos membuang muka.

...***...

Masih terngiang-ngiang dengan jelas ucapan Alyn, juga saat dia membuang muka kala bertemu dengannya. Hati Adrian sakit, dia sudah berusaha untuk berbaik hati. Namun gadis itu tetap saja angkuh padanya.

Rasa rindu dan cinta di hati Adrian, seketika berubah menjadi rasa benci, dia tak ingin melihat Alyn bahagia. Apa pun caranya, dia akan membuat hidup Alyn menderita.

"Tunggu saja balasanku, aku tak akan membuat hidupmu tenang!" Adrian meremas foto Alyn, matanya nanar penuh dendam dan sakit hati.

Saat ini Alyn sedang fokus belajar untuk menghadapi ujian besok. Dia sama sekali tidak menyadari, kalau sikapnya telah membuat Adrian sakit hati dan menaruh dendam.

Alyn merasa hubungannya dengan Adrian sudah selesai. Dia tidak mau mengingat atau mengenang Adrian.

...***...

"Bu, Putri haid banyak banget keluar darahnya, sampai pusing." Putri mengadu pada sang ibu.

"Oh, pantesan kamu kemarin sampai sakit, ada obat di kulkas warna merah, minum itu buat penambah darah."

"Ok Bu."

Putri mengambil obat di kulkas, dan langsung diminum agar pusingnya hilang. Setelah itu ia mengabari Bimo tentang keadaannya.

"Kak, aku udah minum obat kata ibu sih aku kurang darah jadi minum vitamin penambah darah aja." Putri mengadu pada Bimo.

"Gimana cara ngomong ke ibumu, apa ibumu gak curiga?" Bimo penasaran.

"Ya nggaklah, aku ngomongnya lagi pusing karena banyak darah yang keluar," terang Putri.

"Syukurlah kalau gitu." Bimo merasa lega.

"Kak, kalau lulus nanti, Kak Bimo mau lanjut ke mana?" tanya Putri.

"Kakak mau lanjut kuliah keluar kota. Kenapa?" Bimo balik bertanya.

"Kita pisah dong, Kak?" Putri mulai sedih.

"Ya, 'kan Kakak kuliah demi masa depan. Kamu juga masih kelas satu, memangnya kamu gak mau lanjut kuliah setelah lulus SMA?" tanya Bimo.

"Iya sih, apa kita masih bisa berbincang seperti ini, kalau Kakak sudah kuliah?" tanya Putri.

"Hmm, ya ampun Putri, apa fungsinya gadget kalau cuma terpisah kota aja takut gak bisa komunikasi," sahut Bimo.

"Tapi, apa Kakak masih sayang sama Putri seperti sekarang? Kakak pasti ketemu sama mahasiswi yang cantik-cantik di sana. Mana ingat lagi sama Putri." Putri tiba-tiba menangis.

"Rumahku di sini Put, gak mungkin aku gak pulang kalau liburan. Aku pasti akan main ke rumahmu. Ya, kalau kamu gak punya pacar sih, kalau kamu udah ada yang baru, bisa-bisa gue ditonjok sama pacar kamu." Bimo terkekeh.

"Ah Kakak, mana bisa Putri melupakan Kak Bimo, setelah apa yang kita lalui bersama." Putri merasa berat berpisah dengan Bimo.

"Udah gak usah mikir macem-macem. Kamu belajar yang rajin biar naik kelas. Ingat jangan berbuat macem-macem lagi, ya," pesan Bimo pada Putri.

"Baik Kak terimakasih. Aku mau tidur dulu Kak, mata Putri udah ngantuk habis minum obat," pamit Putri.

"Ok, sampai ketemu besok di sekolah ya, Sayang. Bye." Bimo mematikan sambungan telponnya.

Putri berbaring terbayang wajah Bimo dan Adrian. Dua pria yang mengisi relung hatinya secara bersamaan. Bimo pria yang sangat bergairah dan menyenangkan, bersamanya selalu penuh dengan tawa. Adrian pria pendiam yang selalu bikin penasaran, mendapatkannya adalah sebuah kebanggaan.

Perlahan mata Putri terpejam, rasa kantuk sudah tak tertahankan. Dia pun terlena dalam buaian malam yang panjang.

...***...

Terpopuler

Comments

Imar Fuah

Imar Fuah

haduh si putri nih sebenar nya mau kemana sih, bimo atau adrian, satu rute ga mungkin 2 angkot 😁🤦

2021-01-09

1

Siena

Siena

Semangat thor, kutinggalkan jejakku di sini...

2020-06-03

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!