Sebuah rasa

Selama orang tua Bimo belum pulang, hampir setiap hari Bimo dan Putri melakukan perbuatan terlarang di rumah Bimo, Putri selalu meminta Bimo menjemputnya. Dengan senang hati pemuda itu memenuhi keinginan Putri. Sementara Adrian tidak menyadari kalau Putri ada hubungan khusus dengan temannya.

Adrian sebenarnya tidak terlalu peduli dengan Putri, karena hadirnya Putri hanyalah sebagai pelariannya saja. Di hati Adrian masih sangat mencintai Alyn.

Alyn dan Putri sangat jauh berbeda, Alyn sangat sulit disentuh sementara Putri justru terlalu agresif, membuat Adrian kadang merasa takut, takut kebablasan dan membuat masa depan mereka hancur.

***

"Kak aku kangen." Putri mengirim pesan pada Adrian.

Adrian yang sedang mengerjakan tugas sekolah tak membalas pesan dari Putri. Lama menunggu jawaban Putri tak sabar akhirnya dia menelpon Adrian.

"Halo, ada apa Put?" tanya Adrian datar.

"Kakak kog gak balas pesanku sih?" suara Putri terdengar kesal.

"Aku lagi banyak tugas dari sekolah, jadi gak pegang hp maaf," terang Adrian.

"Oh kirain Putri, Kakak udah gak peduli lagi sama Putri," rengek gadis itu manja.

Kadang Adrian merasa kesal kalau terlalu di tekan seperti ini, Alyn dulu tidak manja seperti Putri, mungkin Alyn juga merasakan hal yang sama saat menjadi pacarnya, dia bosan dan memutuskannya Adrian membatin.

Adrian terlalu cinta hingga selalu mengontrol semua kegiatan Alyn. Sekarang ganti Putri yang membuatnya gerah, apakah terlalu mencintai itu membosankan. Adrian tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Putri masih terus berbicara namun tak satu pun ucapannya yang masuk di telinga Adrian, dia tenggelam dengan pikirannya sendiri.

"Kak! Kakak!" bentak Putri.

"Hah ... ada apa Put ...," Adrian tergagap.

"Ih males ah!"

Putri kesal menutup panggilannya. Adrian benar-benar sangat menyebalkan Putri kesal. Dia dingin seperti kulkas harus Putri yang memulai duluan. Beda banget sama Bimo yang selalu membuat Putri terbang ke awang-awang.

Adrian menghela napas lega setelah Putri menutup telpon, dia merasa suara Putri bak radio rusak yang memekakkan telinga. Bagaimana dia bisa mencintai cewek itu, sikapnya selalu membuat Adrian lelah. Dulu Putri terlihat lucu tapi setelah bersamanya malah cepat membosankan. Kalau saja kemarin dia tidak khilaf sebenarnya Adrian ogah berpacaran dengan Putri. Sesal memang selalu hadir belakangan.

Adrian ingin mengakhiri tapi dia butuh alasan yang tepat, dia takut Putri menuntutnya karena perbuatannya kemarin. Jalan satu-satunya adalah menunggu Putri bosan dengannya dan dia yang memutuskan lebih dulu.

"Alyn aku masih mencintaimu," desah Adrian dalam pelan.

***

"Kak Fredy udah punya pacar?" tanya Alyn pada Fredy, mereka tengah berjalan-jalan, menikmati malam.

"Mmm kenapa kamu nanya itu, 'kan kamu yang bilang Kakak pacaran sama kamu," goda Fredy.

"Ih serius lah Alyn 'kan nanya, siapa cewek beruntung yang memikat hati Kak Fredy?" tanya Alyn lagi.

"Ada tapi dianya gak suka sama gue."

"Ah masa sih, ada wanita kayak gitu?" Alyn heran, Fredy lumayan tampan masa ada cewek gak suka sama dia.

"Ya ada, buktinya aku ngalamin," balas Fredy.

"Kakak udah bilang gak sama cewek itu?" tanya Alyn penasaran.

"Belum, Kakak takut ditolak."

"Lah belum ngomong kog takut ditolak sih, cemen ah jadi cowok." Alyn jadi geram sama sepupunya itu.

"Harusnya Kakak nembak aja langsung, kalau mau syukur kalau gak mau ya berarti belum rejeki." Alyn memberi saran pada sepupunya

"Mmm ah sudahlah, mungkin nanti saat Kakak sudah punya kerja Kakak maunya langsung lamar dia gak pakai pacaran," jawab Fredy.

"Ih so sweet banget Kakakku ini, jadi mau ta'aruf gitu yak? Hmm jadi penasaran sama cewek itu kayak apa sih tampangnya hingga bikin Kakakku kayak gini."

Fredy menatap Alyn, tatapan matanya tidak biasa ada sesuatu di sana yang Alyn tak tahu itu apa. Alyn membalas tatapan Fredy wajah Kakaknya itu memang sangat tampan.

"Kog lo malah ngliatin Kakak kayak gitu?" Fredy jadi risih karena Alyn memandanginya.

"Alyn baru nyadar kalau Kakak ganteng." Alyn tergelak sendiri.

"Ah dasar kamu, Kakak sendiri digombalin!" Gurat bahagia di hati Fredy mendengar pujian Alyn.

Mereka pulang ke rumah sebelum hari semakin malam. Fredy juga merasa segan dengan Om Johan kalau pulang larut malam.

"Terimakasih Kak udah ajak Alyn jalan hari ini, Alyn mau tidur dulu ya," pamit Alyn sebelum masuk ke kamarnya.

Sementara Fredy bergabung dengan orang tua Alyn di ruang keluarga mereka berbincang tentang Farida ibunya Fredy sampai malam larut.

***

"Lyn Kakak pulang dulu ya, terimakasih sudah temanin Kakak jalan-jalan selama di sini," pamit Fredy pada Alyn.

"Mmmm gak terasa waktu cepat berlalu, kalau libur main kesini lagi ya Kak," pinta Alyn.

"Tentu. Tante, Om, Fredy pamit dulu,"

"Sampaikan salam Tante pada ibumu ya," mama Alyn menyalami Fredy.

"Hati-hati di jalan!" Om Johan juga menyalami Fredy.

Fredy berangkat ke bandara dengan taksi, tiba-tiba Alyn merasa kehilangan biasanya ada sosok seorang Kakak yang menemani setiap hari sekarang sudah tidak ada lagi.

***

Terpopuler

Comments

Enda Vica

Enda Vica

aku mampir dsni kak

2020-05-15

1

Aan Anisa Hasanah

Aan Anisa Hasanah

seru lanjut dong

2020-05-14

1

Yuka Yuni Kabul

Yuka Yuni Kabul

lnjut

2020-05-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!