Khawatir

"Put, bangun Nak, kamu gak sekolah bukannya hari ini masih ujian?"

Ibu Putri membangunkan anaknya yang masih tidur, wanita itu memegang badan Putri, dia terkejut badan Putri sangat panas.

"Nak, kamu sakit ya?"

"Bu Putri gak sekolah ya hari ini, badan Putri gak enak banget sakit semua." Putri sangat lemas.

"Ya sudah Ibu buatkan surat izin kalau gitu, kog gak bilang sama Ibu kalau sakit." Ibu Putri terlihat cemas.

"Baru tadi pagi sakitnya Bu." Putri berbohong.

"Makan dulu ya, terus kamu minum obat."

Wanita itu bergegas mengambilkan makan dan juga obat penurun panas buat Putri.

"Putri belum bangun, Bu?" tanya ayah Putri yang sedang sarapan.

"Badannya demam tinggi Yah, Ayah makan aja dulu. Ibu buatin surat izin." Ibu Putri kembali ke kamar membawakan sarapan dan obat.

"Makan dulu, Ibu tadi bikin sup ayam."

"Putri cuci muka dulu, Bu."

Putri mencoba bangun, dia terhuyung saat mencoba berdiri, dengan sigap ditangkap oleh ibunya.

"Sudah, gak usah cuci muka. Kamu langsung makan aja."

Wanita itu menyuapi anaknya, Putri hanya makan beberapa suap mulutnya terasa pahit.

"Kita ke dokter ya," rayu ibu Putri.

"Enggak usah Bu, palingan nanti juga baikan habis minum obat."

Putri kembali berbaring setelah minum obat, sang ibu keluar menemui suaminya.

"Jangan lupa surat izinnya, Yah?"

"Sudah, nanti Ayah antar sambil berangkat kerja," sahut sang ayah.

"Ibu juga sudah kirim WA pada wali kelasnya, hari ini Ibu gak kerja takut Putri kenapa-kenapa sendirian di rumah,"

"Ya sudah Bu, Ayah berangkat ya. Kalau ada apa-apa kabarin Ayah. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Putri merasa perutnya seperti terbakar dan melilit, tulang-tulangnya serasa copot. Dia juga cemas takut terjadi apa-apa pada dirinya, sakit ini karena efek minum obat dari Bimo.

Tidak melihat Putri di sekolah Bimo semakin cemas, dia juga takut ada apa-apa dengan Putri. Dia menelpon Putri saat jam istirahat.

"Put, kamu kenapa gak masuk?" tanya Bimo.

"Ini ibunya Putri, Putri lagi tidur Nak, lagi kurang enak badan. Nanti kalau bangun Ibu bilangin ya."

Jantung Bimo serasa mau copot mendengar suara ibu Putri, baru kali ini dia berbicara dengan wanita itu. Selama ini mereka tidak pernah bertemu.

"Oh iya Bu, ini Bimo teman sekolah Putri." Bimo mengakhiri panggilan telponnya, berharap Putri baik-baik saja.

Putri terbangun, dia ingin buang air kecil, daerah kewanitaannya terasa sangat panas. Perlahan dia bangun, berjalan berpegangan pada dinding kamar agar tidak tumbang, kepalanya masih terasa sangat berat.

Dia berhasil ke kamar mandi, langsung terduduk di closet untuk buang air kecil. Darah hitam menggumpal ikut keluar, antara takut dan bingung tidak biasanya haid seperti itu.

Dia mengambil pembalut, perutnya terasa lega tak sesakit pagi tadi, tapi badannya masih lemah, perlahan dia kembali berbaring di ranjang.

"Udah bangun?" Ibu Putri tiba-tiba masuk ke kamar mengecek keadaannya.

"Putri lagi datang bulan Bu, rupanya sakitnya karena itu."

"Syukurlah kalau begitu, tadi temanmu Bimo nelpon waktu kamu tidur. Nih hpnya, sengaja Ibu ambil biar kamu gak terganggu."

"Terimakasih, Bu." Putri mengambil ponsel dari tangan ibunya.

"Pacarmu ya?" goda ibunya.

"Bukan, teman saja."

"Lah kirain pacar kamu, kayaknya kamu sering telponan sama dia."

"Pacar Putri namanya Adrian." Putri tersipu malu.

"Oh ya sudah, mau makan lagi Nak biar ibu ambilkan?" tawar sang ibu, Putri mengangguk setuju.

"Putri kamu gak masuk ya?" Sebuah pesan masuk dari Adrian.

Putri jengkel punya gak peka, masa pacarnya gak masuk sekolah dia gak tahu. Dia enggan membalas pesan Adrian, dan malah mengirim pesan pada Bimo.

"Kak Bimo, obatnya sukses." isi pesan Putri.

"Syukurlah aku jantungan nunggu kabar ini, jadi kamu gak kenapa-kenapa kan?" balas Bimo.

"Cuma demam sama sakit perut, Putri udah lega sekarang. Terimakasih ya Kak." balas Putri.

"Pulang sekolah aku ke rumahmu ya?"

"Boleh Kak, bawain buah ya." pinta Putri manja.

"Aman Bos. Ok aku mau masuk kelas. Ini aku lagi izin ke toilet."

Bimo kembali masuk ke kelas dengan hati lega. Sementara Adrian merasa cemas, tumben Putri gak secerewet biasanya, sudah beberapa hari ini dia tidak mengirim pesan dan menelponnya.

Pulang sekolah Bimo langsung ke rumah Putri membawakan buah. Mereka berbincang di ruang tamu.

"Aku bawain apel sama anggur, aku gak tahu apa buah kesukaanmu jadi asal beli aja tadi."

"Terimakasih, Kak." Putri sangat senang, Bimo begitu peduli padanya.

"Besok kamu saudah bisa sekolah?" tanya Bimo.

"Aku pinginnya masuk sih Kak, soalnya males kalau ujian sendirian, tapi lihat besok kalau belum sehat aku gak masuk lagi."

"Assalamualaikum."

Tiba-tiba Adrian sudah di depan pintu. Putri dan Bimo sama-sama terkejut melihat kedatangan Adrian.

"Waalaikumsalam, Kak Adrian!!" Putri gugup.

"Hai Put, aku pikir kamu sakit jadi aku mampir kesini. Bim kamu ada di sini?" Adrian sama kagetnya melihat Bimo ada di sana.

"Hai, Adrian." Bimo merasa canggung bertemu Adrian.

"Duduk Kak, aku ambil minum dulu." Putri mencoba memecah kecanggungan di antara mereka.

Dia berlalu kebelakang mengambil minum untuk Bimo dan Adrian, serta menata hatinya yang masih tak karuan.

"Udah dari tadi?" tanya Adrian pada Bimo, dia mulai curiga.

"Baru datang, tadi aku ke rumah tanteku yang di ujung sana, jadi gue mampir." Bimo mencari alasan agar Adrian tidak curiga padanya.

Adrian terlihat ragu mendengar penjelasan Bimo. Putri kembali datang membawa minuman.

"Kamu lagi sakit ngapain sih repot-repot," ucap Bimo.

"Nggak apa-apa, ini udah baikan kog Kak."

"Aku tadi kirim pesan, kamu gak balas makanya aku ke mari." Adrian angkat bicara.

"Tadi Putri tidur Kak, mau balas lupa," jawab Putri asal.

"Kamu sakit kenapa?" tanya Adrian.

"Biasa Kak, penyakit wanita, sakit bulanan."

"Put aku pulang duluan ya, ini nyokap udah nyariin." Bimo berpamitan, dia tak mau berlama-lama di tempat Putri.

"Loh kamu pulang Bim?" tanya Adrian.

"Iya ini lupa tadi janji ma nyokap mau ngantar ke dokter, aku duluan ya, Sob." Bimo beralasan.

"Ok." balas Adrian.

Bimo cepat-cepat meninggalkan rumah Putri, sementara Adrian masih melanjutkan berbincang dengan Putri. Terbesit rasa curiga tapi hanya ia simpan dalam hati, dulu yang mengenalkan dia dengan Putri juga Bimo, tentu Bimo mengenal Putri lebih dulu.

***

Terpopuler

Comments

NaNa Vero

NaNa Vero

nah lo... hampir aja

2020-10-21

0

Yuka Yuni Kabul

Yuka Yuni Kabul

up

2020-05-17

1

Enda Vica

Enda Vica

hai kak, aku sudah ngasih like sampai sini, 😉😉😉

feedback ya 😊😙🤗

2020-05-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!