Sejak bertemu dengan Adrian, Putri selalu terbayang wajah pemuda itu. Kadang dia senyum-senyum sendirian membayangkan ketampanan Adrian. Kalau dia bisa memacari Adrian, pasti teman-temannya pada heboh. Hal paling keren kalau bisa pacaran sama anak kelas tiga.
Putri bertekad mengikuti kegiatan eskul karate agar bisa bertemu dengan Adrian. Selama ini dia tidak pernah membayangkan akan ikut eskul yang ekstrim. Demi mendekati Adrian gak apa-apa walau harus sakit-sakit dulu pikirnya.
Putri mendekati Bimo yang sedang duduk sendirian. Dia ingin menanyakan tentang Adrian padanya.
"Kak, mana Kak Adrian?" tanya Putri malu-malu.
"Aku gak ketemu dia hari ini, mungkin dia di kelasnya. Ada apa?" tanya Bimo penuh selidik.
"Kak Adrian bukannya sudah punya pacar ya, sama kak Alyn kalau gak salah?" Putri mencoba mengorek tentang Adrian.
"Iya, Adrian emang pacaran sama Alyn dari kelas satu malahan," terang Bimo.
Putri langsung kecewa mendengar cerita Bimo. Pemuda itu menyadari raut kecewa di wajah Putri.
"Kamu suka sama Adrian?" goda Bimo.
"Mmm, kalau saingannya Kak Alyn, Putri mundur deh. Kak Alyn 'kan cantik orangnya," jawab Putri pelan.
"Eits tenang dulu, Alyn udah mutusin Adrian kog. Mereka lagi marahan, kamu pepet aja terus si Adrian, nanti Kak Bimo bantuin," bujuk Bimo.
"Hah, beneran Kak?" Putri tak percaya ucapan Bimo. Hatinya berubah bahagia karena masih ada harapan untuk mendekati idolanya.
"Iya bener, Adrian sendiri yang bilang sama Kakak kemarin," terang Bimo.
"Kak, boleh nggak minta nomer hp Kak Adrian? please," Putri memohon.
"Boleh, tapi gak gratis," jawab Bimo sambil mengerlingkan mata.
"Hah, bayar ya?" Putri merengut kecewa.
"Ya iyalah, gak ada yang gratis di dunia ini Sayang," Bimo menyeringai penuh misteri.
"Jadi bayar berapa dong, jangan mahal-mahal uang sakuku gak banyak," ucap Putri memelas.
"Tenang, gak bayar pakai duit kog," Bimo mengedipkan matanya.
"Jadi pakai apa?" Putri bingung dengan jawaban Bimo.
"Ya kenalin dong gue sama temen lo yang cantik, biar kita bisa jalan bareng kalau lagi ngedate," pinta Bimo.
"Oh cuma itu, ya nanti Putri kenalin sama temen Putri." Putri senang mendengar permintaan Bimo yang menurutnya tidak sulit.
"Mana hp lo?" pinta Bimo.
Putri menyerahkan hpnya pada Bimo, Bimo meraihnya dan membuat panggilan ke nomor miliknya.
"Kog miss call nomor Kak Bimo sih?" Putri cemberut dia kecewa merasa dipermainkan.
"Ya bentar lah, 'kan aku juga perlu tahu nomor kamu. Masa nomor Adrian saja yang kamu minta. Ok pulang sekolah temuin Kakak di belakang ruang lab ya." Bimo berlalu sambil membawa hp Putri.
Putri bengong melihat Bimo pergi begitu saja sambil membawa hp miliknya.
"Kaaak!" Putri memanggil Bimo yang berlalu pergi.
"Pulang sekolah jangan lupa." Bimo terus berjalan tanpa menoleh lagi.
Putri kesal dengan kelakuan Bimo, dia menyesal mendatangi pria itu untuk minta nomer hp Adrian. Bimo tersenyum penuh kemenangan, dia sedang memikirkan apa lagi yang akan dia minta sama Putri saat pulang sekolah nanti. Matanya berbinar penuh kelicikan.
...***...
Bel pulang sekolah telah berbunyi, para siswa dan siswi berhamburan keluar kelas. Putri bergegas ke belakang ruang laboratorium untuk mengambil hp yang dibawa oleh Bimo.
Tidak ada siapa pun di sana, Putri mendengus kesal merasa dipermainkan oleh Bimo. Setelah menunggu beberapa saat Putri memutuskan untuk pulang karena takut sendirian. Bimo datang dengan senyum kemenangan, Putri memandangnya dengan kesal.
"Dari mana sih? aku takut tau di tempat sepi begini, mana gak ada orang lagi. Mana hpku!" bentak Putri.
"Duh jangan marah, kelas Kakak baru saja bubar. Nih hpnya sewot aja lu." Bimo menyerahkan hp Putri.
Putri mau mengambil hp, Bimo malah mengangkat tangannya ke atas, gadis itu tidak bisa meraih tangan Bimo yang tubuhnya lebih tinggi darinya.
"Ih Kakak jangan main-main, aku mau pulang nih," sungut Putri kesal.
"Masih ada satu syarat lagi," ucap Bimo.
"Ap ...." suara Putri tertahan.
Belum selesai Putri bertanya Bimo sudah mendorong badan Putri ke dinding, mencium bibir putri dengan ganas. Putri tidak menyangka Bimo akan melakukan hal itu. Dia berusaha melawan, tapi tenaga Bimo terlalu kuat. Akhirnya Putri memilih diam tidak melakukan perlawanan, ciuman Bimo begitu liar sampai bibir Putri terasa panas.
"Bibirmu manis sekali Putri, bikin aku ketagihan," Bimo mengulang lagi, kali ini lebih lembut karena Putri tidak memberikan perlawanan.
Gadis itu menikmati ciuman Bimo, dan membalasnya. Bimo senang mendapat balasan dia mulai meraba tubuh Putri yang mulai pasrah.
"Hmmm terimakasih ya, nih hpnya." Bimo menyudahi aksinya.
Putri terhenyak menerima hpnya dengan napas masih tersengal. Bimo menepuk lembut pipi Putri, mengecup pelan lalu meninggalkan gadis itu begitu saja.
Gadis itu termangu beberapa saat. Seumur-umur dia belum pernah dicium oleh cowok. Tadinya Putri ingin marah tapi setelah mengecek ada nomor hp Adrian di ponselnya dia langsung bergembira.
Tak apalah bayar dengan ciuman, toh Bimo juga termasuk cowok keren di sekolah. Bekas ciuman Bimo masih terasa panas di bibirnya, dia pulang dengan senyum mengembang.
Sesampainya di rumah Putri berdiam di dalam kamar. Berdiri di depan kaca memandangi bibir yang bekas dicium oleh Bimo, tiba-tiba hatinya terasa hangat.
Dering suara ponsel membuyarkan lamunannya. Panggilan dari nomor tak dikenal, Putri penasaran kemudian mengangkatnya.
"Hai Put, sudah kamu hubungi si Adrian?" suara Bimo menyapa di ujung sana.
"Ng, Kak Bimo?" tanya Putri.
"Iya ini gue, kenapa? kamu masih terbayang ciuman gue tadi ya, gimana enak nggak," Bimo menggoda Putri. Wajah Putri memerah antara malu dan senang.
"Ah Kakak jahat!" Putri pura-pura marah.
"Sorry Sayang, habis bibirmu gemesin. Gue gak tahan lihatnya, tapi lo suka 'kan? buktinya tadi lo balas cium gue," Bimo terkekeh.
"Is Kakak ...!" Putri semakin malu dibuatnya.
"Kalau kamu mau lagi, aku bisa cium kamu lagi kapan-kapan," ucap Bimo bangga.
Putri tersenyum mendengar rayuan Bimo, padahal dia ngejar Adrian tapi malah Bimo yang nyosor duluan.
"Tapi Kakak mau bantuin Putri dapetin Kak Adrian 'kan?" tanya putri.
"Tenang saja, aku akan bantuin kamu dapetin Adrian. Aku siap jadi ban serep, kalau Adrian nolak kamu, ada aku yang siap menerimamu." Bimo terkekeh.
"Ah Kak Bimo nakal." Putri semakin berbunga.
"Bener. Apa aku kurang ganteng dari Adrian? kamu pasti akan lebih bahagia denganku dari pada sama dia," sambung Bimo kali ini dia lebih serius.
"Mmm Kakak ganteng juga sih, tapi Putri naksir sama Kak Adrian," jawab Putri bimbang.
"Iya deh kamu kejar aja Adrian itu, nanti kamu bandingkan enak mana sama dia apa sama aku," jawab Bimo.
Putri terdiam dia bimbang. Bimo orangnya spontan, kalau Adrian dia cuek dan bikin penasaran susah ditaklukkan, tapi Bimo juga sangat menyenangkan.
"Ok Put, good luck ya selamat berjuang. Bye." Bimo mengakhiri sambungan telponnya
Putri duduk termangu memandangi wajahnya di kaca. Dia mulai ragu pilih Bimo yang sudah pasti akan menerimanya, sedang Adrian dia harus berjuang dulu untuk mendapatkannya.
...***...
note :
Hai... trimakasih sudah membaca tulisan ini, selamat berpuasa bagi yang sedang menjalankan. Trimakasih juga sudah like dan vote tulisan ini. semoga sehat selalu murah rejeki💗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
NaNa Vero
wah si putri...
2020-10-18
0
Ra Izumi
Bimo gatelan kik kik kik
2020-10-05
0
Mey Melly Catlover
putri jgn sama Bimo ya... blm jd pacar aza bimo udah nyosor kayak bebek... gmm klu udh jd pacar... segelmu bisa rusak sblm waktunya 🤔
2020-08-09
1