ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
------ back to Story :
Helikopter kargo segera meninggalkan lokasi meski mereka khawatir jika para monster masih mengejar.
Irina meminta agar anggota tim Marco-Polo menjatuhkan Rainbow Gas selama penerbangan agar tak dikejar para monster.
Satu per satu, ledakan demi ledakan ke kumpulan para monster terdengar. Kepulan gas berwarna-warni seperti sebuah festival kematian mulai menyeruak di seluruh penjuru kota tempat mereka menemukan Fara tadi.
Suara erangan kematian terdengar bersahut-sahutan karena banyaknya monster yang muncul di wilayah itu.
Meski demikian, orang-orang itu tetap merasa sedih karena semakin sedikitnya manusia yang selamat dari wabah monster.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Kita pasti bisa mengembalikan populasi Bumi. Mungkin ... ini memang kehendak Tuhan karena ciptaannya rakus. Dia memilih orang-orang terpilih untuk membangun kembali peradaban setelah menyisihkan yang berdosa," ucap Ritz terdengar seperti pemuka agama.
"Aku tak mau berkomentar tentang hal itu," sahut Fabio, dan semua orang mengangguk setuju.
Irina tetap fokus mengejar Fara yang membawa Marco. Hingga matahari mulai bersinar, jejak gadis cantik itu belum ditemukan.
Tentu saja, hal ini membuat cemas semua orang terlebih Polo karena menganggap saudara kembarnya diculik.
Selain itu, ia tak mengenal sosok Fara meski ia hanya tahu jika gadis berambut panjang ikal tersebut adalah adik King D.
Namun, hal aneh terjadi saat drone yang diterbangkan oleh Irina mendapati kediaman sultan Javier seperti dibangun barikade entah sejak kapan.
"Mm ... Obama?" panggil Irina tampak ragu akan sesuatu.
"Ya, Otong juga liat. Sumpah, Otong gak inget ini kapan dibuatnya," jawab lelaki gundul itu ikut tercengang.
"Wow! Baru kali ini aku melihat dinding besar seperti benteng seumur hidupku," ucap Edward seraya menahan sakit saat tangannya sedang diobati oleh Chen karena gigitan monster.
"Yakin ini rumah sultan?" tanya Irina heran dan mengarahkan drone-nya untuk mengelilingi sekitar.
"Koordinatnya benar sih, Jeng," jawab Obama seperti ikut bingung.
"Apa mungkin, Fara yang melakukannya? Seingatku ... Fara ditidurkan ketika dia berumur ... mm, sekitar 20. Oman memang dijaga oleh banyak Black Armys dan pasukan Jihad sebelum akhirnya mimi serta baba ditidurkan hingga dipindah ke Grey House," ucap King D angkat bicara.
"Maksudmu ... Fara meminta semua orang-orang itu untuk membuat benteng? Demi melindungi rumah? Bukankah ... semua markas dan kediaman pribadi dipersenjatai? Aku rasa, membuat benteng sedikit berlebihan," tegas Irina berpendapat.
Saat semua orang terdiam, tiba-tiba saja muncul sosok yang menghalangi cahaya matahari ketika akan bersinar.
Mata semua orang menyipit saat melihat dari layar televisi di mana helikopter kargo belum tiba di lokasi tersebut.
Drone Irina melayang dan diam terfokus melihat sosok yang diyakini adalah seorang wanita karena lekuk tubuhnya.
Hingga tiba-tiba, sambungan komunikasi mereka seperti diretas dan terdengar panggilan di earphone masing-masing.
"King D? Kaukah itu?" tanya seorang gadis yang membuat King D langsung menegakkan dudukkan.
"Ya, ini aku, Fara! Maaf, aku tak bisa melihatmu, mataku ... aku ... terkena Rainbow Gas Hitam," jawabnya gugup.
"Hemm, aku mengerti. Hanya saja, kautahu 'kan. Hanya orang-orang sudah terpindai yang bisa memasuki rumah. Kawan-kawanmu itu belum. Mereka bisa mati jika nekat masuk. Namun, temanmu si mata merah dikenali oleh database. Dia putera dari Lopez dan Brian? Apakah ... saudaranya juga ikut bersamamu?" tanya Fara dengan suara sedikit manja.
Semua orang diam mendengarkan. "Ya, namanya Polo. Dia bersamaku. Namun, kawan-kawan dari tim Marco-Polo sudah menjadi satu kelompok denganku. Berikan mereka akses agar bisa masuk," pinta King D terlihat gugup.
"Mm, bagaimana ya? Fara gak kenal sama mereka. Kata baba, jangan biarkan orang asing masuk. Bisa jadi mereka mata-mata atau lebih buruknya lagi ... musuh dalam selimut," jawabnya berkesan menolak dan masih berdiri di atas benteng.
Anggota tim Marco-Polo tampak pucat. Terlebih, saat kamera CD melihat banyaknya persenjataan yang siaga di luar dinding seperti sengaja dipasang untuk menjatuhkan mental lawan yang ingin menyerang.
"Oh! Pakai detektor kebohongan aja! Biar alat itu yang ngetes mereka dan buktiin, orang-orang itu ancaman apa gak? Mereka ganteng-ganteng loh, Fara. Masa kamu gak kepincut?" sahut Obama yang membuat kening para lelaki itu berkerut.
"Ganteng ya? Hem, boleh deh kalau gitu," jawabnya manja. Namun, hal itu malah membuat Irina serta lainnya terheran-heran. Sedang Obama, terkekeh karena usahanya berhasil. "Kak Otong lihat cahaya merah di sisi Timur? Nah, daratkan helikopter di sana. Nanti, tes akan dilakukan di tempat itu. Sampai ketemu!" ucap Fara riang dan sosoknya langsung menghilang dari atas benteng karena semua orang fokus melihat ke arah cahaya yang dimaksud gadis cantik itu.
"Entah kenapa perasaanku tak enak dengan tes aneh itu," sahut Lucas dan diangguki kawan-kawan lainnya.
Obama mendaratkan helikopter ke helipad yang telah tersedia. Tak ada satu pun orang di sana. Namun, Irina meminta semua orang agar jangan melakukan hal mencurigakan karena ia merasa, sikap Fara sedikit lain tak seperti yang ia kenal.
Hingga akhirnya, sebuah pintu besi terbuka dan muncul sosok gadis cantik itu mengembangkan senyum manisnya.
Para pria anggota tim Marco-Polo tersipu malu karena Fara, ternyata lebih cantik saat dilihat langsung.
"Ah, ya. Kalian tampan. Aku suka lelaki tampan," ucap Fara saat mengamati satu per satu para pria itu yang berdiri berjejer siap untuk melakukan tes.
"Terima kasih," ucap Chen tersipu malu, termasuk yang lain.
"Baiklah. Kalian lihat pintu tempatku masuk tadi?" tanya Fara, dan kesembilan lelaki itu mengangguk. "Alat detektor terpasang di bingkai pintu itu. Kalian akan berdiri di sana dan akan ada sistem yang akan mengajukan pertanyaan. Aku sudah menginputkan beberapa hal jadi kalian cukup menjawabnya. Hanya saja, khusus Polo, karena database mengenalimu, kau tak perlu tes. Jadi, ayo ikut denganku," ajak Fara seraya memberikan tangannya.
Polo kaget, tapi menerima gandengan itu. Praktis, semua orang melongo karena pria bermata biru itu mendapatkan akses mudah untuk masuk tanpa tes.
"King D," panggil Irina yang merasa janggal dengan sikap Fara.
"Ya, aku bisa merasakannya. Kita ikuti saja alurnya. Ayo," ajak King D yang dipapah oleh Irina dan Otong saat mereka sudah berdiri di luar helikopter.
Tiga orang itu masuk lebih dulu dengan tabung Rohan ikut bersama mereka. Irina dan lainnya terpaksa meninggalkan delapan pria di luar untuk melakukan tes.
Terlihat, Irina, Obama dan Polo mengamati dari sebuah jendela seukuran mata untuk memastikan kawan-kawan mereka baik-baik saja.
Satu per satu, delapan lelaki itu melangkah maju mendekati pintu. Mereka lalu berbaris seperti mengantri untuk memulai tes.
Bruno menarik napas dalam dan berdiri di bingkai pintu besi tersebut dengan jantung berdebar.
"Identifikasi dirimu," pinta sistem dengan suara berat seorang lelaki.
"Aku ... akrab dipanggil Bruno. Aku dulunya salah satu anggota pasukan militer Amerika Serikat yang ditugaskan untuk menghalau serangan monster serta melakukan evakuasi kepada para warga yang berada di Oklahoma. Namun ... serangan monster terjadi begitu dahsyat di negara itu dan menewaskan beberapa orang serta anggota militer. Aku terpaksa keluar dari pasukan karena Oklahoma jatuh dan militer kalah. Aku berkelana dan bertemu dengan beberapa manusia selamat hingga memutuskan untuk bergabung dengan tim Marco-Polo," jawab Bruno gugup, tapi tetap berdiri tegap.
PIP!
"Identifikasi dinyatakan benar. Silakan masuk, Bruno, dan selamat datang di Istana Sultan Javier, Oman. Kami akan melindungimu," ucap sistem yang membuat Bruno langsung tersenyum lebar.
"Woah! Dia berhasil! Sepertinya mudah," sahut Hugo yang tak lagi tegang usai melihat kawannya lolos tes dan kini memasuki gerbang.
"Oke. Aku selanjutnya," sahut Robin langsung melangkah mantap dan berdiri tegap.
"Identifikasi dirimu," ucap sistem dengan pertanyaan yang sama.
"Hai, aku Robin. Aku sama seperti Bruno hanya beda penempatan. Aku salah satu anggota pasukan darat Amerika Serikat yang ditugaskan di Alabama. Kasus serupa juga terjadi di negara itu. Penyebaran wabah monster begitu cepat di mana awalnya kami berpikir jika gigitan mereka menular, tapi ternyata tidak demikian. Aku bersama beberapa orang berhasil meninggalkan negara bagian tersebut hingga ke Kentucky dengan tujuan Washington. Saat itu, panggilan radio menyatakan jika Washington masih mampu bertahan. Sayangnya, satu per satu dari kami berguguran ketika mendapat serangan monster yang terjadi tiba-tiba seperti sebuah penyergapan. Lalu ... aku bertemu dengan Marco-Polo ketika mereka datang menyelamatkanku. Mereka memberikanku harapan dan pada akhirnya, aku ikut bergabung hingga hari ini," jawab Robin dengan senyuman.
Semua kawan-kawan Marco-Polo tersenyum karena merasakan hal yang sama.
"Identifikasi dinyatakan benar. Silakan masuk, Robin, dan selamat datang di Istana Sultan Javier, Oman. Kami akan melindungimu," ucap sistem yang ikut mengizinkan pria berkulit hitam itu untuk masuk.
Tentu saja, semua orang tampak gembira. Satu per satu para pria itu menjalani tes agar bisa masuk.
Perasaan lega bagi semua orang karena anggota tim Marco-Polo berhasil memasuki gerbang dengan sukses.
"Huff, sungguh menegangkan! Aku penasaran, jika tak lolos tes, apa yang akan terjadi?" tanya Chen penasaran.
"Kalian akan mati tersengat. Lalu, mayat kalian akan kulemparkan dari atas benteng di mana sudah ada besi-besi tajam di bawah sana siap untuk menusuk kalian bagaikan sate. Seru bukan?" jawab Fara dengan senyum lebar.
Namun, informasi darinya langsung membuat wajah orang-orang itu tegang seketika.
"Nah, bau darah kalian, akan mengundang para monster untuk mendekat. Saat itulah, senjata-senjataku akan membunuh mereka. Bisa dibilang, yang gagal tes akan menjadi umpan bagi para monster menuju kematiannya," imbuh Fara dengan wajah berbinar, tapi membuat semua orang diam seketika.
"Mm, Fara. Kau tinggal dengan siapa di sini? Apakah petugas medis ada?" tanya Irina mengalihkan pembicaraan seraya merangkul calon adik iparnya itu.
"Hem, saat aku bangun, ada satu penjaga. Dia Hakim. Sekarang, dia sedang mengawasi teman kalian Marco di ruang tahanan," jawab Fara santai, tapi membuat mata semua orang melebar.
"Kau memasukkan saudaraku ke dalam sel?" tanya Polo kaget.
"Ya, matanya seram menyala merah. Aku takut, tapi penasaran. Jadi, dia aku simpan. Memangnya, kenapa mata saudaramu bisa berwarna merah seperti itu?" tanya Fara lugu, tapi membuat orang-orang yang sudah tahu hal tersebut jadi bingung menjelaskan, terlebih King D jika adiknya tahu tentang dirinya.
"Fara. Apa kau merasa dirimu sedikit berbeda? Maksudku ... kulihat warna matamu juga berubah. Apa yang terjadi?" tanya Irina menatap Fara lekat.
"Hem, entahlah. Aku hanya merasa bersemangat dan riang sepanjang hari. Aku tak mau masuk tabung lagi. Aku ingin berpetualang. Saat aku sedang berpatroli, aku malah melihat helikopter kalian. Hanya saja, aku bingung, kenapa kalian malah menjadi agresif termasuk lelaki bermata merah itu? Kenal saja tidak, dia sudah mau memelukku. Tentu saja aku lari," jawabnya cemberut.
Obama langsung menepuk jidatnya, tapi Fara hanya menatapnya dengan bingung.
"Gak ada yang niat ganjen sama kamu, Nduk. Tadinya, kita kira kamu mau minta tolong wong sendirian, malem-malem, di atas gedung pula. Udah gitu, banyak monster di luar. Marco sampai nekat terjun buat nolongin kamu. Lah yang ditolongin malah kabur," keluh Obama tampak bersabar menghadapi adik King D.
"Oh, gitu ya? Hahaha! Fara gak tau. Bilang dong," jawabnya santai dan malah tertawa. "Ya udah, yuk masuk. Kita ngobrolnya di dalam saja. Fara lapar. Kak Irina masak dong," pintanya manja seraya merangkul lengan kekasih kakaknya.
"Oke!" jawab Irina dengan senyuman dan berjalan berdampingan dengan Fara yang melompat-lompat kecil terlihat riang.
Sedang para pria yang melihat sikap Fara, memilih diam enggan berkomentar. Tabung Rohan mengikuti King D yang ikut diamankan dalam benteng.
***
uhuy makasih tipsnya❤️ lele padamu💋besok lagi ya. kwkwkw😆 Oia, Red Lips season 1 udah tamat jadi bisa dibaca ya cuma lele gak kasih label tamat karena season 2 nanti akan lanjut di novel yang sama cuma setelah Monster Hunter tamat. Itu aja infonya^^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
◤✧ 𝕯𝖊𝖜𝖎𝖖 𝕹𝖔𝖚𝖗𝖆 ✧◥
anjirrr psikopatnya kayak toby 🤣🤣🤣
2023-02-28
1
◤✧ 𝕯𝖊𝖜𝖎𝖖 𝕹𝖔𝖚𝖗𝖆 ✧◥
aku juga suka banget cogan 🤣🤣🤣
2023-02-28
1
◤✧ 𝕯𝖊𝖜𝖎𝖖 𝕹𝖔𝖚𝖗𝖆 ✧◥
toby versi cewek nih tengilnya 🤭🤭🤭
2023-02-28
0