ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
------ back to Story :
Praktis, semua orang segera mendatangi pusat kendali di markas Sarang Semut. Obama Otong mencoba untuk menghubungi markas di Oman, tapi tak ada jawaban. Tentu saja, hal itu membuat orang-orang dalam kelompok King D dilanda kecemasan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Bos, Otong laper sumpah. Makan dulu baru pergi ya," pinta Otong memelas dan King D memaklumi hal itu.
Segera, para pria itu menyelesaikan makan mereka. Kapal perang dan kapal selam kembali diamankan agar tak dicuri oleh pihak-pihak yang memanfaatkan keadaan.
Sedang Souta, mengamankan markas Sarang Semut sebelum ia tinggalkan di mana rencana tak terduga untuk berkunjung ke Oman sebenarnya tidak ada dalam jadwal.
Menjelang dini hari, usai semua persiapan selesai, dua helikopter terbang meninggalkan Grey House.
Penerbangan kurang lebih menempuh waktu 8 jam, dimanfaatkan oleh Souta dan King D untuk menghubungi markas dari jajaran 13 Demon Heads dan The Circle untuk mencari tahu kabar dari mereka yang mungkin sudah terbangun.
"Bagaimana?" tanya King D karena sambungannya ke Oman dan India tak mendapat respon.
"Kastil Borka aman. Yusuke dan timnya telah tiba. Lalu ... informasi dari tim Marco-Polo tentang kelompok kita yang selamat di Seward benar. Mereka masih bertahan, tapi kemungkinan besar akan migrasi ke Kastil Borka, sebab tempat di pesisir pantai itu sedikit tidak aman karena terlalu terbuka," jawab Souta yang membuat senyum King D dan Irina merekah.
"Bagus. Kabarkan pada paman Dominic jika bibi Sakura dan kelompoknya akan berkunjung ke Kastil Borka. Minta mereka amankan rute dan gunakan cara paman Maksim untuk melindungi wilayah menggunakan darah bangkai monster," tegas King D.
Souta mengangguk paham. Ia kembali menghubungi pusat kendali di Kastil Borka, Rusia.
"Mulai ada titik terang dari bencana ini, King D. Aku lega," ucap Irina terlihat senang dan King D mengangguk pelan.
"Hanya saja, pusat komando tempat GIGA beroperasi masih tak bisa dihubungi. Apartemen Theresia di New York tak merespon, begitupula Perancis kediaman Darwin Flame, serta Kastil Boleslav di Rusia. Kita tak bisa melacak tabung-tabung yang terkoneksi dengan GIGA untuk saat ini. Satu-satunya cara, dengan mendatangi markas mereka," imbuh Souta.
"Aku mengerti. Kita selesaikan satu-satu, Paman. Pekerjaan kita sangat banyak dan menumpuk," sahut King D.
Tiba-tiba, pria berambut gimbal yang ikut satu helikopter dengan tim King D mengangkat tangan terlihat gugup. King D balas menatapnya lekat.
Mereka bicara dalam bahasa Rusia. Terjemahan.
"Bos. Bisakah ... kami diturunkan ke tempat yang bernama Kastil Borka? Maksudnya ... biarkan kami berkumpul dengan para pengungsi yang selamat. Jujur, kami sepertinya tak sanggup jika harus bertemu dengan para monster. Mereka ... sudah merenggut orang-orang yang kami kasihi. Kami ... tak mampu melihat kematian lagi," pinta pria tersebut tampak murung.
King D diam terlihat serius.
"Baiklah, usai dari Oman dan India, kami akan turunkan kalian ke Kastil Borka," jawab King D tenang dan orang-orang itu terlihat lega mendengar keputusan dari pemimpin kelompok itu.
"D!" panggil Ritz dari sambungan komunikasi.
"Yes?"
"Kami harus mengisi bahan bakar. Persediaan kami menipis. Jika kau melihat tempat pengisian di bandara, segera hubungi kami. Sepertinya, helikopter kami hanya bisa sampai ke India," jawab Ritz menginformasikan.
"Kalau begitu, kita ke India dulu saja. Kita melewati negara itu sebelum ke Oman. Akan lebih efektif dan hemat bahan bakar," ucap Irina berpendapat.
King D yang gelisah karena teringat akan nasib adiknya, mengangguk setuju. Obama Otong segera menginformasikan kepada tim Polo jika mereka akan mendarat di bandara negara India.
"Oke! Otong udah memetakan tempat. Ada tiga lokasi. Kalian coba hubungi hangar tersebut untuk izin mendarat. Kalau gak ada respon, nekat!" seru Obama Otong, dan Ritz menyatakan siap.
Akhirnya, penerbangan penuh kecemasan karena bahan bakar yang mulai menipis berakhir. Kurang lebih 4 jam perjalanan dari China ke India berhasil tak terkendala.
Marco dengan sigap melongok dari pintu helikopter untuk melihat keadaan dalam kegelapan.
"Bagaimana, Marco?" tanya Lucas siaga dengan senapan laras panjang dalam genggaman.
"Ada bau monster, tapi ... aku tak tahu mereka bersembunyi di mana. Sepertinya sedikit berbahaya. Bisakah kita ke hangar yang lain?" jawab Marco cemas dari analisisnya.
"Sayangnya tidak bisa. Aku tak mau ambil risiko helikopter kita jatuh atau mengalami kerusakan mesin. Kita pasti bisa mengamankan situasi seperti sebelum-sebelumnya," jawab Edward tampak ragu, tapi kondisi mereka terdesak.
"Kami akan melindungi kalian. Bergegaslah," jawab King D dari sambungan radio.
"Oke! Semua bersiap!" seru Polo memerintahkan anak buahnya untuk menyiagakan senjata, berikut melakukan pengisian cepat sebelum para monster menyadari keberadaan mereka.
Helikopter mendarat dengan mulus, tapi jantung semua orang berdebar kencang tak karuan.
Helikopter King D ikut mendarat. Irina tetap berada dalam benda terbang tersebut, tapi King D memilih turun.
"D ... jangan," pinta Irina cemas.
"Aku tak apa, Sayang," jawab pria itu dengan senyum terkembang dan melepaskan genggaman kekasihnya di pergelangan.
Irina tampak tak rela, tapi ia pasrah. King D keluar dari atap pelindung pada dudukkan depan dan berdiri di atasnya menggunakan sepatu magnet.
Baling-baling pada kendaraan kargonya berada di samping kanan kiri dan punggung, sehingga keberadaan D masih aman dari besi berputar tersebut.
King D melihat anak buah Polo berlari kencang menuju ke tempat pengisian bahan bakar untuk mencari drum-drum bahan bakar Avtur.
King D yang penasaran dengan kemampuan matanya, mencoba untuk mencari tahu fungsi-fungsinya.
"Aku mendapatkannya! Satu tong penuh!" seru Fabio gembira menunjuk sebuah drum yang berhasil ia temukan.
Praktis, senyum semua orang terkembang. Saat Fabio akan mengambil selang, tiba-tiba saja ....
"Fabio!" teriak Lucas yang membuat pria itu langsung menoleh ke belakang seketika.
"HARGHH!!"
"AAAA!" teriaknya panik dan segera berlari.
DOR! DOR! DOR!
Dengan sigap, Hugo menembak mati seorang monster yang muncul tiba-tiba dari dalam hangar masih mengenakan seragam layaknya petugas bandara.
Napas Fabio tersengal dan wajahnya pucat pasi. Saat pria asal Italia itu berhasil ditenangkan, lagi-lagi ....
"Mereka datang!" teriak Marco yang membuat mata semua orang melebar.
Segerombolan monster muncul dari dalam hangar yang gelap. Anak buah Polo langsung berlari menghindar karena bagi mereka percuma untuk melawan.
"Agh! Sial!" gerutu Ritz karena mesin helikopternya tak mau menyala.
"Otong, buka!" titah King D karena melihat situasi gawat di luar.
Praktis, para pria Rusia yang berhasil diselamatkan panik karena pintu helikopter terbuka lebar dan terlihat, puluhan monster berlari mengejar anggota tim Marco-Polo.
"Apa yang kaulakukan?! Tutup pintunya dan segera pergi dari sini!" seru pria berambut gondrong.
Irina yang mendengar hal tersebut tampak marah. Ia mendatangi pria gondrong itu dan BRUKK!!
"Agh!"
"Forest!" teriak salah satu anggota geng motor karena Irina mendorong pria itu hingga jatuh tersungkur keluar dari helikopter.
"Egois," ucapnya kesal dan mata hijaunya menyala seketika.
"Cepat masuk! Tinggalkan helikopter kalian!" seru King D yang melihat begitu banyak monster bermunculan dari tempat penyimpanan kendaraan terbang tersebut.
King D menduga, hal itu karena suara kencang yang mereka buat saat tiba di tempat tersebut.
"Ritz! Ayo!" ajak Edward sembari membuka pintu pilot helikopter, tapi Ritz seperti terjepit.
"Sial! Tali sepatuku tersangkut!" teriaknya marah dan panik.
"Lepaskan! Cepat!" seru Edward siap membidik monster yang berlari buas ke arahnya. "Argh!"
DOR! DOR! DOR!
"Jangan tembak! Hal itu membuat mereka semakin agresif!" seru Irina saat satu per satu anak buah Polo berhasil masuk ke dalam helikopter kargo milik King D.
"Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan mereka memakan kami?!" teriak Edward kesal bukan main.
"Irina! Lakukan sesuatu!" desak Polo yang kini berdiri di samping pintu helikopter menunggu dua kawannya.
"Agh, tidak bisa. Aku ... tidak bisa," jawabnya yang terlihat kesulitan untuk mengeluarkan kemampuannya.
"Apa maksudmu tidak bisa?" tanya Bruno bingung menatap Irina lekat.
"Aku ... aku, agh!" erangnya kesal dan menjauh dari kumpulan para lelaki itu.
Irina kembali ke bangkunya dan memalingkan wajah. Semua orang kebingungan di mana kemampuan Irina yang bisa mengendalikan para monster seperti tak bisa digunakan.
Otong yang merasa keadaan gawat, segera lepas landas. Benda terbang itu melayang di ketinggian 5 meter agar para monster tak bisa menggapai mereka.
"Apa yang kaulakukan? Edward dan Ritz masih berada di luar!" teriak Chen panik yang berdiri di pintu helikopter.
"Diem! Otong lagi berusaha!" jawab pria Jawa itu kesal karena disalahkan. "Jangan karena kami mafia terus gak punya hati nurani," imbuhnya sebal.
"Marco! Polo!" teriak Edward panik karena Ritz masih berusaha melepaskan sepatunya dengan tergesa.
Akan tetapi, para monster yang gagal menggapai helikopter Obama, beralih untuk mengerubungi helikopter tim Marco-Polo.
"Otong! Sekarang!" seru King D lantang yang kini berjongkok di atas helikopter seperti siap melakukan sesuatu.
"Hem, rasakan," ucap Obama dengan wajah bengisnya.
KLIK! SWOOSH! BLUARRR!!
"WOW!" seru Edward sampai memejamkan mata saat sebuah misil meluncur dari helikopter kargo itu dan meledak hebat.
Namun anehnya, ledakan itu mengeluarkan asap berwarna hitam.
"Itu Rainbow Gas!" seru Polo yang ternyata menyadari jenis gas tersebut.
"Eh, kok tau?" sahut Otong bingung.
King D dengan sigap melompat dari ketinggian 5 meter dan tak mengalami cidera di kaki. Bahkan, dia bisa langsung berlari kencang.
"Dia sepertiku," ucap Marco yang teringat jika King D memiliki kemampuan berlari kencang sepertinya. Polo dan orang-orangnya mengangguk membenarkan.
"Menyingkir!" teriak King D mendatangi helikopter tim Marco-Polo. Edward menghindar dan GRAB!
"Oh!"
SRING! KLANG! BRUKK!
"Aggg!" erang Ritz saat dirinya ditarik oleh King D dan dilempar begitu saja hingga bergulung-gulung di landasan aspal.
Edward segera menolongnya, tapi Ritz jadi pincang. Mata semua orang menyipit saat melihat King D menggunakan sebuah belati yang menyalakan sinar terang dari senjata yang hampir mirip dengan temuan mereka kala itu.
"Seperti ... Silent Gold," guman Marco.
"Weh! Kok tau lagi?" sahut Otong kaget dengan tebakan orang-orang tim Marco-Polo.
"Agg, sial! Kakiku sakit! King D melepaskannya paksa," rintih Ritz karena sepatunya sampai lepas dan terlihat luka lecet di punggung kaki.
"Itu lebih baik dari pada ia memotong kakimu, Sobat," ucap Edward seraya memapah kawannya itu.
Namun, lagi-lagi, "AAAA!"
BRUKK!
"Kwkwkw, bos edian. Dikira itu manusia karung gandum apa ya? Main lempar-lempar aja," kekeh Otong saat melihat King D menangkap tubuh Edward lalu melemparkannya hingga masuk ke helikopter, begitupula dengan Ritz.
"D!" seru Hugo seraya melemparkan tali pengait ke bawah.
King D dengan sigap menangkapnya dan mengikat pinggangnya dengan pengait tersebut.
Tubuh King D tergantung seraya melihat ke bawah di mana para monster mulai mengejang karena mata mereka buta akibat terkena dampak dari Rainbow Gas.
King D mengembuskan napas pelan, dan seketika, SWING! DUK! BLUARRR!
"Oh! Dia ... membunuh mereka semua," ucap lelaki berambut punk saat melihat King D melemparkan beberapa benda seperti granat dalam kumpulan para monster yang mengerang kesakitan itu.
"Mereka ... tak bisa diselamatkan," ucap King D terlihat sedih.
Semua orang diam karena merasa ucapan King D benar. Akhirnya, helikopter kargo King D meninggalkan bandara kecil tersebut dengan tujuan kediaman Jamal, salah satu mantan anggota dewan 13 Demon Heads.
***
uhuy makasih tipsnya❤️ lele padamu💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Maryani Ani
gila ini mah warna baru sumpah bacanya 💕💕💕💕kemarin vesper aja keren ini tambah lagi
2022-09-09
0
alena
👣
2022-06-12
1
alena
😍
2022-06-12
1