Penerbangan dari Rusia menuju ke China memakan waktu hingga 5 jam, tapi tak membuat orang-orang itu lelah, malah waspada. Tak seperti zaman ketika semua hal harus memiliki izin mulai dari paspor, dan surat-surat legal lainnya. Negara-negara yang telah rusak seperti membiarkan siapa pun masuk ke wilayahnya agar bisa bertahan hidup dari serangan monster.
Mereka bicara dalam bahasa Rusia. Terjemahan.
Ketika dua benda terbang tersebut memasuki wilayah yang akan dituju, pemandangan sedikit berbeda karena kota-kota ditumbuhi oleh beberapa tumbuhan.
King D melepaskan borgol yang membelenggu pergerakan mereka selama di helikopter. Orang-orang itu senang. Terlebih, Irina juga memberikan makanan kepada mereka berupa roti.
Praktis, makanan itu langsung ludes dalam hitungan detik seperti tak dikunyah ketika orang-orang itu memakannya. Irina dan King D saling melirik dalam diam.
"Terima kasih, Tuan," ucap pria berambut gimbal seraya memberikan botol minum yang ikut diberikan Irina untuk mereka agar diminum secara bergantian.
"Panggil aku King D," tegas pria yang memiliki dua warna mata berbeda itu.
"Ah, King D. Nama yang keren," ucap pria berambut gondrong sebahu tampak kagum.
"Gunakan ini," ucap King D seraya memberikan alat translator kepada lima orang Rusia yang ikut bersama mereka.
"Apa ini? Kami melihat orang-orangmu juga menggunakan benda ini di telinga mereka," tanya pria bertato seraya memasang di salah satu lubang telinganya.
King D tak menjawab dan malah menunjukkan wajah dingin. Lima orang itu langsung diam dan memasangnya.
King D berbicara dalam bahasa Indonesia.
"Kita akan mendarat di China sebentar lagi. Selama di sana, jangan melakukan tindakan bodoh. Jangan keluar dari rombongan dan tetap siagakan senjata. Kami berikan kalian pistol untuk masing-masing orang. Jangan menembak jika tak diperintahkan. Jangan berlari jika tak disuruh. Kalian paham?"
"Woah! Kaubicara apa tadi? Kau menggunakan bahasa apa?" tanya pria berambut cepak terkejut.
"Indonesia," jawab King D tenang.
Orang-orang itu mengangguk pelan dan terlihat kagum akan sosok King D serta alat yang mereka gunakan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Bos! Siap mendarat!" ucap Obama Otong dari bangku pilot.
King D dan Irina kembali ke dudukkan depan. Mereka tampak terkejut karena tempat yang akan dikunjungi sepi seperti tak ada penghuninya.
King D yang bisa merasakan aroma monster turun lebih dahulu untuk mengamankan situasi.
Mata hijau Irina kembali meredup. Ia seperti manusia normal saat tak menggunakan kekuatannya.
Namun, berbeda dengan King D yang tetap terlihat seperti memiliki kemampuan karena warna matanya yang mencolok.
"Hem, aman," ucap King D saat indera penciumannya tak mendapati keberadaan monster di sana.
"Agh, senangnya. Pegel sumpah!" keluh Otong begitu turun dan langsung merenggangkan tubuh.
"Wow! Ini ... di mana? Aku belum pernah ke China sebelumnya," tanya Hugo penasaran seraya melihat sekitar.
"Salah satu markas milik 13 Demon Heads. Grey House. Kalian belum kemari?" tanya King D memandangi anak buah Marco-Polo.
Para pria itu menggeleng. King D memimpin di depan dan Irina mengikutinya di belakang. Ritz dan Edward diminta untuk mengamankan kendaraan terbang mereka dan dua orang itu mengangguk siap.
Sedang lima orang Rusia dari geng motor, diminta untuk berjaga di sekitar tempat. King D melarang untuk keluar dari benteng dan orang-orang itu mengangguk paham.
"Ke mana orang-orang? Apakah mereka juga telah tiada?" tanya Fabio karena merasa tempat itu sepi seperti ditinggalkan.
"Kita akan mencari tahu," jawab King D saat ia meletakkan telapak tangan pada sebuah papan pemindai dari kaca.
PIP! KLEK!
"Oh! Sidik jarimu terdeteksi," ucap Chen karena tak menyangka hal itu.
King D tak menjawab dan mengajak orang-orang itu masuk.
Seketika, sebuah pengalaman baru kembali terjadi.
"Selamat datang di Markas Sarang Semut. Ini salah satu peninggalan Vesper atas gempuran militer yang merusak struktur bangunan di atasnya. Terima kasih," ucap King D memperkenalkan, tapi sekaligus menyindir Bruno dan Robin karena dua orang itu dari militer AS.
Bruno dan Robin langsung memasang wajah malas, sedang yang lainnya meringis canggung karena King D masih terlihat kesal atas perlakuan militer pada kelompok mafianya.
"Hati-hati, jangan sampai kepisah. Nanti kalian nyasar malah ilang," ucap Obama Otong seraya menyalakan rokok dan menghisapnya.
"Obama," panggil Irina seraya menatap pria Jawa itu.
"He? Apa? Oh! Iya, lupa. Maap," ucap Otong langsung mematikan bara rokoknya.
"Kenapa?" tanya Lucas heran.
"Irina gak suka asap rokok. Makanya, liat noh King D. Idaman wanita sehat. Gak ngrokok, gak mabokan, gak tatoan. Padahal mafia, keren kan?" bisik Otong dan para pria dari tim Marco-Polo mengangguk paham.
PIP! KLEK!
"Diam di tempat. Hanya aku, Obama dan Irina yang bisa masuk karena dikenali. Kalian tetap di luar sampai kumatikan sistem persenjataan otomatis," tegas King D saat sebuah pintu besi terbuka dan dalam ruangan itu gelap.
"Oke!" jawab Marco mantap meski ia bisa melihat dalam ruangan itu karena kemampuan warna mata merahnya.
"Apa yang di dalam sana, Marco?" tanya Polo berbisik saat Otong, Irina dan King D masuk ke dalam hingga sosok mereka tak terlihat.
"Seperti pusat kendali. Ruang komunikasi. Yah, semacam itulah," jawabnya dari hasil pindaian matanya.
Namun tiba-tiba, "Di mana tabung-tabung itu?!" teriak King D yang suaranya sampai menggelegar dan menggema dalam ruangan tersebut.
Praktis, semua anggota tim Marco-Polo tersentak karena kaget. Mereka langsung menyiagakan senjata. Terlebih, saat King D keluar dari ruangan dengan napas memburu.
"A-ada apa?" tanya Hugo bingung.
"Tabung bapak sama emaknya King D raib!" jawab Obama Otong ikut panik.
"Ba-bagaimana bisa? Mungkinkah ... ada orang lain yang memiliki akses untuk masuk ke ruangan ini selain kalian bertiga? Tak bisakah kalian melacaknya?" tanya Polo memberikan pendapat.
King D yang awalnya marah, langsung diam. Ia kembali masuk ke dalam dan seketika, semua lampu dalam ruangan itu menyala terang. Irina mempersilakan tim Marco-Polo untuk masuk ke dalam.
"Woah! Banyak sekali tabungnya!" seru Fabio sampai melotot, begitupula kawan-kawannya karena tak menyangka hal tersebut.
"Kenapa tak membangunkan mereka saja?" tanya Bruno heran.
"Tidak bisa. Ingat, kita hanya membangunkan para senior. Selain itu, lihat penunjuk waktunya. Belum waktunya bagi mereka untuk bangkit," tegas Irina seraya menunjuk sebuah tabung di mana terdapat seseorang yang tidur di sana.
"Woah, masih lama. 2075. Lima tahun lagi dari sekarang," ucap Robin terkesima, dan Irina mengangguk membenarkan atas pengamatan pria berkulit hitam itu.
"Hanya tabung ayah ibumu? Atau ada tabung lain yang menghilang?" tanya Polo yang bisa melihat kecemasan dalam diri King D.
"Ya, hanya tabung milik orang tuaku saja yang tak ada. Milik kakek O— eh?" jawab King D serius hingga keningnya berkerut saat ia melihat sebuah tabung.
"Kita bisa membangunkan mereka berdua, D," ucap Irina yang sepertinya satu pemikiran dengan sang kekasih.
"Hehe, semoga simbah One dan Verda gak ngamuk," kekeh Obama yang membuat King D seperti ragu dengan keputusannya.
"Mereka siapa?" tanya Marco penasaran.
"Dua orang kuat sejak zaman kepemimpinan nenekku. Verda, dia pemimpin pasukan wanita tangguh bernama SYLPH asal Timur Tengah. Ia dan timnya pernah memburu nenekku yang dijuluki Frankenstein karena kekejamannya. Namun, ia malah menjadi anak buah nenekku dan mengabdi padanya hingga akhir hayat," ucap King D berkisah.
Anggota tim Marco-Polo mengangguk-anggukan kepala karena baru tahu cerita itu.
"Lalu dia, One. Dia saudara tiri nenekku. Entah kharisma dan pengaruh apa yang nenekku miliki, dia bisa mengubah cara pikir seseorang yang dulunya musuh menjadi kawan. Dia ... sebuah legenda," ucap King D menatap One sendu.
"Mereka sepertinya akan menolong kita menyelesaikan konflik ini. Bangunkan mereka, D," pinta Chen dan King D mengangguk pelan.
Obama Otong dengan sigap menuju ke papan kendali. Namun, saat ia akan menjalankan fungsi pembangkitan, wajah pria itu malah berkerut seperti kesal akan sesuatu.
"Ada apa?" tanya King D heran.
"Lupa Otong. One dan Verda pakai tabung generasi pertama buatan simbah Kai. Alah hiyung, kita bisa wasalam kalau maksa buka, D!" seru Otong frustasi dan menggaruk kepalanya.
King D dan Irina tampak bingung.
"Memang kenapa jika tabung generasi pertama? Kuno dan sulit dibuka atau bagaimana?" tanya Fabio heran.
"Pegang aja tabungnya. Setelah itu, Otong akan kuburin kamu di pantai," jawabnya dengan wajah malas, tapi membuat mata Fabio melebar seketika.
"Jangan dekati dua tabung ini. Berbahaya. Jangan menyentuhnya, atau kalian akan mati," tegas King D, dan para pria itu pucat seketika.
Saat orang-orang itu dilanda kebingungan, tiba-tiba ....
"King D! Polo! Kemari segera!" seru Edward dari sambungan radio yang suaranya santer terdengar.
Praktis, orang-orang itu terkejut. Polo dan lainnya bergegas keluar dengan Obama Otong sebagai pemimpin jalan.
Saat mereka sudah di luar, betapa terkejutnya ketika mendapati seorang pria berwajah Asia dengan rambut kuncir kuda seperti menunggu kedatangan orang-orang dari ruang bawah tanah.
"Pa-Paman Souta?!" panggil King D dengan mata melebar.
"Hai, D," jawab Souta dengan senyum tipis seraya menyenderkan punggungnya di dinding Big Glass.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Siapa hayo yang jadi Souta. Kalo udah nonton film Samurai X pasti tau dong. Yup, si abang adalah visual Souta yang sengaja lele simpen gak ditongolin di 4YM karena mau muncul di King D. Udah gak kepo lagi. Nantikan aksi bang Souta bareng King D cs. masih bonus eps dari tips kemarin. Ditunggu tips koin lainnya. Lele padamu❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Maryani Ani
👍keren
2022-09-09
0
YuriQu
hmm jadi kangen sama oma vesper ☹️
2022-07-12
2
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
weih babang souta udah ada rambut ya🤭
2022-05-29
1