ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
------- back to Story :
Duka mendalam dirasakan oleh semua orang atas kematian senior mereka, Jamal. Lagi-lagi, dampak dari wabah monster membuat para manusia yang selamat harus kehilangan nyawa.
Helikopter terbang meninggalkan India menuju Oman seperti pada jadwal.
Sayangnya, mereka harus mengisi bahan bakar untuk perjalanan jauh itu. Obama terpaksa kembali ke hangar sebelumnya, tempat helikopter tim Marco-Polo ditinggalkan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Kita lakukan dengan cepat. Marco, Polo, kami mengandalkan kemampuan kalian dalam hal ini," tegas King D tetap berusaha memimpin meski harus duduk dengan mata terpejam dan terbalut kain karena masih terluka.
"Yes, Capt!" jawab keduanya mengangguk siap.
Irina beranjak dari samping King D dan membuka sebuah peti berisi persenjataan Vesper Industries yang dibawa dari persediaan Markas Rusia tempat tabung disimpan.
"Oh! Inikah ... critical drone itu?" tanya Ritz kagum.
"Ya. Kau terluka. Sebaiknya tetap di helikopter bersamaku dan Obama. Kita akan menjaga kawan-kawan dengan senjata terbang ini agar mereka fokus pada pengisian bahan bakar. Monster bisa mencium bau darah hingga 1 kilometer, dan itu berbahaya," tegas Irina.
Ritz mengangguk paham dan membantu wanita cantik itu mengeluarkan 4 buah CD dari peti berikut pengendalinya. Tim Marco-Polo yang turun terlihat siap usai mengisi penuh amunisi mereka.
Pintu helikopter kembali dibuka dari dua sisi saat siap mendarat. Marco dengan sigap berdiri di pintu dan mengendus. Ia mengangguk pelan di mana kali ini, bau monster tak pekat seperti sebelumnya.
"Bagaimana? Kaupaham teknis penggunaannya?" tanya Irina saat ia dan Ritz duduk bersebelahan di bangku dekat pintu.
Anggota tim siap terjun menunggu aba-aba. Ritz mengangguk paham, dan KLIK!
"Wow! Ini keren," ucap Ritz saat kacamata virtual yang dikenakannya melihat dengan jelas pergerakan dari dua CD yang dikendalikannya.
Ia seperti sedang bermain video games dengan sepasang kendali yang terpasang di pergelangan tangan layaknya gelang, tapi memiliki papan panjang di bawah pergelangan tangan sampai ke genggaman dilengkapi tombol senjata.
Dua orang itu duduk dengan tegak dan tampak fokus dengan pergerakan CD yang keluar dari pintu helikopter.
Mata Polo melihat CD yang diterbangkan Irina bergerak ke sisi Timur, sedang Ritz sisi Barat. Obama masih menstabilkan helikopter dengan terbang melayang sebelum mendarat.
CD-CD tersebut terbang memasuki beberapa sudut wilayah untuk memastikan lokasi tersebut aman sebelum timnya memasuki tempat.
PIP!
"Hei, lihat!" seru Edward saat televisi yang tertempel pada dinding helikopter dekat pintu menuju kokpit menyala.
Mata semua orang terfokus pada pergerakan empat CD yang sedang terbang menjelajah. Obama sengaja menyiarkannya agar tim Marco-Polo bisa melihatnya.
"Itu drum yang kutemukan! Bisakah kau pastikan tempat itu aman? Sebelumnya, aku diserang seorang monster di sana," pinta Fabio cemas.
"Oke!" jawab Irina mantap.
Seketika, "Harghh!"
"Monster! Mereka bersembunyi di dalam ruangan gelap itu!" teriak Fabio yang mengejutkan semua orang.
Praktis, anggota tim langsung menyiagakan senapan laras panjang. Namun, Irina dengan sigap menekan tombol senjata. KLIK!
DODODODODOOR!!
"HARGHHH!"
Sekumpulan orang sakit itu mengerang ketika peluru-peluru tajam menembus tubuh mereka. Irina terlihat marah dan tak memberikan ampun pada mereka saat ingin meraih benda terbang yang melayang di bawah atap sebuah gudang.
"Sial, jika begini kita tak bisa mengisi bahan bakar. Kenapa mereka masih banyak sekali?!" pekik Lucas pucat dan merasa beruntung karena tak turun ke lokasi tersebut.
"Namun sepertinya, hanya mereka yang tersisa. Lihat, CD milik Ritz tak mendapati pergerakan dari para monster padahal suara tembakan itu cukup berisik," tegas Polo menilai yang berdiri di samping pintu helikopter seraya melihat sekitar.
Irina mengerahkan dua CD miliknya untuk membasmi monster yang tersisa. King D terlihat tegang, tapi kali ini ia hanya bisa menyimak hal yang sedang dibicarakan karena tak bisa melihat.
"Otong. Pastikan mereka baik-baik saja," pinta King D sangat.
"Aman, D. Mereka pejantan tangguh kok, gak cemen," jawab Obama santai seraya melihat sekitar dari dudukkan pilot.
"Wohooo! Kau hebat, Irina!" seru para anggota tim memuji dengan sorakan kegembiraan.
Irina tersenyum dan mengirim kembali CD yang telah habis amunisi kembali ke helikopter usai melenyapkan para monster yang tersisa.
Ritz meyakinkan jika tak ada monster hidup di wilayah tersebut termasuk tempat pembantaian yang dilakukan Irina.
Helikopter akhirnya mendarat ke dekat benda terbang milik tim Marco-Polo yang terpaksa ditinggal karena pengendalinya dirusak King D demi membebaskan Ritz.
"Cepat! Cepat!" titah Polo.
CD yang dikendalikan Ritz masih memantau sekitar untuk mengamankan kawan-kawannya saat pengisian.
Obama turun dan membantu kawan-kawan prianya. Irina segera mengisi ulang amunisi pada CD miliknya sebelum ditugaskan kembali.
"Kau hebat, Sayang, meski aku tak melihatnya," puji King D dan Irina tersipu malu.
Wanita cantik itu mendatangi King D dan duduk di pangkuannya dengan manja.
"Kau akan kembali sembuh. Aku yakin itu," ucapnya. King D mengangguk dengan senyuman.
Irina menatap kekasihnya lekat dan mencium bibir King D lembut. Pria tampan itu terkejut, tapi tersenyum setelahnya. Irina tersipu seraya merangkul leher sang kekasih.
DOK! DOK! DOK!
Irina dan King D terkejut. Irina melihat Obama Otong tersenyum tengil dari balik jendela yang ternyata memergoki aksinya. Irina segera beranjak dan pergi dari kokpit dengan gugup.
"Kalau baba liat, suruh nikah kalian. Sengaja pasti, mentang-mentang gak ada ibu bapak. Tak laporin loh," ancam Obama.
"Aku mendengarmu, Otong," ucap King D yang membuat orang-orang terkekeh karena sambungan komunikasi di telinga mereka masih terhubung.
"Hanya ada dua drum? Semoga cukup sampai ke Oman," ucap Hugo usai melepaskan selang pengisi bahan bakar.
"Gak cukup jalan kaki. Repot amat," sahut Otong santai seraya menutup tangki bahan bakar helikopternya.
Hugo memasang wajah masam karena lelaki gundul itu terlihat santai dalam bersikap seperti tak takut mati.
"Eh, apa tuh?" tanya Obama saat melihat Polo, Edward dan Chen memasukkan beberapa peti ukuran kecil ke dalam helikopter kargonya.
"Ini adalah barang-barang milik kami. Untung masih bisa diselamatkan," sahut Chen seraya meletakkan peti-peti itu berjejer dengan peti sebelumnya.
Obama hanya mengangguk pelan lalu meminta semua orang segera masuk karena hari sebentar lagi gelap.
Polo dan lainnya segera meninggalkan lokasi berikut CD yang diterbangkan Ritz untuk kembali disimpan.
Helikopter berhasil lepas landas. Terlihat, orang-orang itu kelelahan dan satu per satu, tertidur di bangku masing-masing.
Penerbangan yang diperkirakan memakan waktu 6 jam itu, membuat Obama dan Irina tetap terjaga saat yang lain mengistirahatkan diri dalam gelapnya malam.
"Sunyi sekali," ucap King D lirih yang membuat Irina dan Obama langsung menoleh ke arahnya.
"Ya, sunyi dan gelap. Tak ada cahaya lampu sepanjang kita melintasi permukaan, D. Tak terlihat juga manusia di daratan. Apakah ... mereka sungguh musnah?" jawab Irina terlihat sedih.
"Di laut juga gak keliatan ada kapal berlayar. Namun, Otong yakin kalau masih banyak yang bertahan hidup. Mungkin mereka sembunyi. Ibarat kerja part time, para manusia tukeran jadwal sama para monster gitu," sahut Obama santai, tapi membuat kening pasangan muda itu berkerut.
"Apa maksudmu?" tanya Irina bingung.
"Gini loh, Jeng. Manusia muncul pas musim dingin seperti yang dikata mbah Jamal. Lalu pas musim panas, gantian para monster yang muncul. Apesnya, kita bangun pas para monster berburu setelah hibernasi lama gak makan selama musim dingin. Mungkin karena itu mereka beringas akibat lapar," jawab Obama mengutarakan pemikirannya.
"Ibuku pernah mengurung mereka dalam ruangan ber-AC dan diberikan gas halusinasi. Hal itu berhasil membuat mereka tenang," sahut Marco dari sambungan komunikasi yang mengejutkan tiga orang itu.
"Nyonya Lopez maksudmu?" tanya Irina memastikan.
"Yes."
"Selain itu, kami berhasil menenangkan para monster dengan narkobaa dan mengaburkan pandangan mereka menggunakan cet. Jadi, para monster tak terlalu agresif saat menyerang, tapi efeknya, usai narkobaa itu kehilangan dampak, mereka kembali agresif lagi," sahut Polo.
"Oh, tunggu sebentar," sahut Irina. Semua orang langsung terdiam. "Mungkin masih ada peluang untuk menyembuhkan mereka,"
"Itu sepertinya tidak mungkin. Darah mereka beracun, organ mereka rusak, tapi masih bisa berfungsi layaknya orang kecanduan narkoba. Sekarat, tapi hidup. Secara medis, mereka seharusnya akan mati dengan sendirinya, tapi bisa bertahan karena mengkonsumsi makanan. Mungkin ada faktor lainnya yang membuat mereka bisa bertahan hingga sejauh ini dan belum kami ketahui," sahut Chen yang pernah bersekolah ilmu kedokteran, tapi belum lulus kuliah karena wabah monster menyebar.
"Sekarat, tapi hidup? Aku rasa itu benar. Oma saat itu sudah sekarat, tapi masih hidup dengan serum penunjang. Saat serum itu tak lagi dikonsumsi oleh tubuhnya, dia mengalami penurunan drastis pada kesehatan, tapi masih bisa bertahan hingga akhirnya meninggal. Mungkinkah ... para monster akan bernasib sama seperti oma?" tanya King D menduga.
"Kaulupa, D? Oma bukan meninggal karena serum monster, melainkan gas syaraf. Malah, bibi Sandara pernah mengatakan padaku. Hal yang membuat oma bisa bertahan dari gas syaraf karena serum monster di tubuhnya. Dua senyawa itu seperti saling berperang dalam tubuhnya. Serum monster membentuk kekebalan sendiri, sehingga saat racun gas syaraf menggerogoti organ dalamnya, serum monster masih bisa mempertahankannya," tegas Irina yang membuat semua orang terkejut karena baru mengetahui hal tersebut.
"Bener juga loh, D. Dalam sejarah jajaran kita yang pernah kena serum monster, gak ada yang mati. Sandara, Jordan, terus Irina, siapa lagi ya? Oh itu, dua bodyguard oma juga pernah. Katanya, selama bisa ngontrol emosi, zat dari serum monster gak mencuat dan ambil alih. Intinya, jangan tersulut emosi," sahut Obama menambahkan.
Semua orang diam sejenak mencoba menelaah dan mencari solusi dari kejadian ini.
"Selain itu, ada yang aneh dari pengamatanku," sahut Bruno. Ternyata, satu per satu anggota tim Marco-Polo terbangun.
"Apa tu, Bro?" tanya Obama tampak serius mendengarkan dari bangku kemudi.
"Serum monster tak menular. Namun, kenapa bisa banyak orang terjangkit? Apakah orang-orang itu sengaja disuntik atau ada semacam penyebaran gas ke sekumpulan manusia sehat sehingga mereka menjadi monster? Jika ya, itu sungguh kejam," tegas pria berkulit hitam itu.
"Dari cerita yang pernah disampaikan Yusuke, Venelope dan Lucy, pria bernama Kim Arjuna sudah membunuh dalangnya yang bernama Hendrik, mantan orang pemerintah. Namun katanya, anak buah Hendrik masih meneruskan usaha Hendrik untuk membalas dendam kepada orang-orang dengan wabah serum monster. Kami sudah sangat yakin telah membunuh pengkhianat yang tersisa, dan berpikir, kejadian di Rusia adalah akhir dari bencana. Namun sepertinya, kami salah menduga," jawabnya lesu.
Saat semua orang sedang dirundung kebingungan, tiba-tiba saja, "Oh! Ada seseorang di atap gedung itu!" seru Marco ketika melihat seorang gadis dari pintu helikopter yang sengaja dibuka satu.
"Benarkah?!" sahut Edward langsung melongok karena penasaran.
"Gadis itu melambai dan tersenyum!" seru Robin yang melihat dari teropong ketika gadis berambut panjang tersebut mendongak ke arah helikopter mereka.
Saat Obama ingin mendaratkan helikopternya ke tempat lapang, tiba-tiba ....
"Monster!" teriak Marco ketika mendapati belasan monster berlari mendatangi gedung tempat gadis itu berada.
***
uhuy makasih tipsnya. lele padamu❤️ yg pernah nonton filmnya Karate Kid, nah tokoh yg dulu masih piyik sekarang udah jadi hot. kwkwkw
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
siapa kah gadis itu🙄
2022-07-16
0
Manda Siregar Manda
guys...hendrik tu siapa y
2022-06-09
0
Wati_esha
Wuihhhh ternyata sarang monster ya.
2022-06-04
0