Praktis, mata King D melebar. Ia bisa merasakan kebangkitan sang kekasih—Irina Tolya—dalam tabungnya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Otong! Irina!" seru King D mengabaikan keselamatannya karena ia bisa merasakan kepanikan Irina dalam tabung yang ingin keluar, tapi tak bisa.
"Ha?" tanya Otong yang tak bisa mendengar dengan jelas karena suara baling-baling helikopter.
"Dia mengatakan Irina!" teriak Robin—salah satu anggota tim Marco—Polo mantan anggota militer AS.
King D yang panik dan kebingungan karena dikepung, tak bisa berkutik. Namun, ia melihat peluang.
"You! Kembali ke markas dan bebaskan Irina, cepat!" seru King D memerintahkan Marco yang ikut kebingungan untuk menolongnya.
Marco tertegun, tapi ia melihat King D melotot tajam padanya. Marco mengangguk dan segera berlari kembali ke markas untuk melakukan perintah King D.
Benar saja, "Bunuh mereka semua! Jangan sisakan! Bos D harus hidup!" perintah Otong karena melihat para manusia beringas itu dengan cepat bergerak ke arah pemuda tampan itu.
"Fabio! Now!" titah Polo dari bangku kemudi saat ia nekat mendekatkan helikopter karena King D tak bisa menggapainya.
Seketika, DODODODOR!!
"Harrghhh!"
Suara peluru-peluru yang digelontorkan dari senapan laras panjang mulai menembaki para monster yang mencoba untuk menyerang D.
Erangan dari teriakan mematikan para manusia yang terjangkit bersahut-sahutan. Para monster mulai roboh satu per satu dan seperti pasrah ketika kematian merenggut nyawa mereka.
King D berjongkok karena tubuhnya tak berperisai. Polo berusaha menstabilkan posisi helikopternya yang melintang saat Fabio—salah satu anggota tim Marco-Polo asal Italia—memberondong orang-orang buas itu.
Hugo—salah satu anggota tim Marco-Polo asal Perancis—ikut menembaki para monster di sisi kiri King D.
Suara memekakkan telinga tersebut, ternyata membuat para monster yang selama ini bersembunyi dalam reruntuhan menampakkan diri.
"Gila! Mereka sangat banyak!" seru Polo saat matanya mampu menangkap pergerakan besar-besaran yang bergerak dengan cepat ke arah helikopter mereka berada.
"Edian! Edian tenan! Otong terpaksa nekat demi bos D!" seru Obama Otong yang tiba-tiba saja pindah ke bangku belakang dan turun dengan cepat menggunakan tangga tali.
"Hei! Dasar botak tak waras!" seru Chen karena Obama nekat turun padahal puluhan manusia yang terkena dampak serum monster mendatangi mereka.
Edward—salah satu anggota tim Marco-Polo selaku co-pilot dalam mengoperasikan kendaraan terbang—dengan sigap duduk menggantikan tugas Obama Otong.
"King D! Woi!" panggil Otong yang masih bergelantungan di tangga tali, siap untuk menggapai tangan tuannya jika ia mampu menangkapnya.
King D yang merasa terhimpit, dan trauma hebat di masa lalu, membuatnya malah terpaku dalam ingatan lamanya. Otong meneriakkan namanya berulang kali, tapi King D seolah tuli.
Polo dan anggota timnya panik padahal mereka sudah bersusah payah dan menghabiskan amunisi terakhir demi menyelamatkan King D.
Hingga tiba-tiba, KLANG! KLANG! BUZZ!!
Kepulan asap warna merah muda menyeruak di tempat pembantaian tersebut. Semua orang dalam benda terbang itu terkejut karena sosok King D tertutupi.
Sekejap, kepanikan menyelimuti hati semua orang dalam helikopter. Namun, Polo bisa melihat jika ada seseorang yang datang di balik kepulan asap itu.
"Itu Marco!" seru Lucas—salah satu anggota tim Polo asal Australia—menunjuk ke tempat pria bermanik merah itu berada.
Namun, saudara kembar Polo hanya berdiri mematung di kejauhan seperti ingin memastikan sesuatu.
"Apa yang terjadi?" tanya Lucas bingung di mana kali ini ia bertugas untuk memastikan tali tangga yang digunakan oleh Otong tetap aman dan siap ditarik jika Monster mendekat.
Tiba-tiba saja, para monster yang tadinya agresif itu melambat. Mereka seperti menjaga jarak akan sesuatu di balik kepulan asap merah muda yang dilemparkan oleh Marco saat ia datang.
Aksi tembak pun dihentikan. Bahkan, orang-orang dalam helikopter tampak terkejut ketika King D digendong pada punggung seorang wanita yang basah kuyup dan bertubuh ramping, tapi seolah beban pria itu tak seberapa baginya.
King D terlihat lesu dan berkeringat. Otong nekat melompat dari ketinggian 2 meter dan beruntung, ia tak terluka.
Pria gundul itu berlari kencang mendekati King D yang dibawa oleh sosok wanita misterius.
"Eh?!" pekik Obama Otong saat ia mengenali siapa wanita tersebut.
Namun, kening pria Jawa itu berkerut saat melihat manik warna hijau itu berkilau bagaikan permata.
Irina Tolya diam saja memasang wajah datar saat berjalan melewati reruntuhan dan meninggalkan para monster yang terdiam di tempat mereka berada.
Otong dan Marco saling memandang. Keduanya terlihat bingung saat melihat para manusia yang terkena dampak serum monster tak lagi menyerang.
Otong menggerakkan tangannya dan meminta kepada tim Polo di helikopter untuk kembali ke landasan yang selanjutnya bertemu di markas.
Polo mengangguk mengerti dan segera meninggalkan kawasan itu penuh tanda tanya.
Namun, tiba-tiba, BRUKK!
"Irina!" panggil Otong panik karena wanita cantik itu tiba-tiba saja ambruk bersama D yang ia gendong.
Marco dengan sigap mendatangi keduanya. Beruntung, King D sudah sadar, tapi Irina terlihat lemah karena wajahnya pucat begitupula kulit di tubuhnya.
"D! Jangan pingsan! Sumpah, kamu pingsan di sini, Otong tinggal!" ancam Otong seraya menepuk-nepuk pipi tuannya itu.
"Hah, Irina," panggil King D berusaha memiringkan tubuhnya dan memegang wajah kekasihnya lekat yang tampak pucat. Marco diam saja karena bingung dengan situasi ini.
Irina tersenyum tipis dan memeluk kepala kekasihnya dengan mata terpejam. King D menarik napas dalam dan tiba-tiba saja bangun seraya menggendong wanita berambut panjang itu.
Obama Otong dan Marco kembali dibuat kaget akan perilaku dua insan yang bagi mereka sedikit tidak masuk akal.
Marco saja sudah menganggap dirinya tidak waras, tapi ternyata ada yang lebih gila darinya.
Saat King D akan membuka pintu markas, keningnya berkerut. Pintu itu tak bisa dibuka. Marco melebarkan mata dan ikut panik saat ia menyadari jika mereka tak bisa masuk.
"A-aku minta maaf. Tadi ... karena tak bisa membuka pintunya, jadi ... aku menghancurkan panel pengunci dari dalam," jawabnya gugup.
PLAK!!
"Agh!" erang Marco saat kepalanya dipukul oleh Obama Otong dengan wajah bengis.
"Gak liat di luar monster berliur jumlahnya ada puluhan? Kamu mau jadi makan malam mereka 'kah? Kok guobloknya gak ketulungan ya?" gerutu Otong bertolak pinggang.
Marco merasa bersalah dan menahan amarahnya karena dianggap bodoh oleh pria berkepala gundul tersebut. King D melihat sekitar dan merasa jika di luar tak aman.
"Kita ke menara. Kita harus ke tempat yang lebih tinggi. Otong, cari cara membuka pintu markas," pinta King D tenang dan Otong mengangguk paham.
"Eh, kamu! Bantu Otong cari jalan lain masuk markas. Ada pintunya, tapi lupa sebelah mana. Kamu harus tanggungjawab!" seru Otong siap memukul kepala pria bermanik merah itu.
Marco menghela napas pasrah, tapi mengangguk menyanggupi. Otong dan Marco menyusuri tepian markas dengan penuh kewaspadaan.
King D membawa Irina ke menara tempat ia tadi mengamati keadaan di luar markas.
Polo melihat keberadaan King D di kejauhan. Ia meminta kepada Ritz dan Edward untuk tetap berjaga di helikopter jika sewaktu-waktu mereka harus pergi dari tempat itu.
Dua orang itu mengangguk siap. Sedang sisanya, mengikuti Polo menuju ke menara untuk bertemu dengan King D.
"Kilau hijau matamu meredup, Sayang," ucap King D yang memangku tubuh kekasihnya seraya menatap mata indah itu tajam.
"Mereka akan datang lagi. Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi, D," ucap Irina lesu, dan King D menyadari hal tersebut.
"Aku sangat merindukanmu," ucap King D memeluk Irina erat.
Wanita cantik itu tersenyum seraya menyentuh tubuh sang kekasih yang terasa hangat untuknya.
"Jangan takut. Itu sudah berlalu. Aku akan menjagamu," ucap Irina saat ia bisa merasakan ketakutan dalam diri King D ketika menyentuh tubuhnya.
King D tertegun dan menatap kekasihnya lekat. Irina balas menatap pria itu saksama seperti ingin memastikan sesuatu.
"Hal aneh terjadi pada kita," ucap Irina, dan King D mengangguk pelan membenarkan hal tersebut.
"Hei, kalian tak apa?" tanya Polo saat ia berhasil naik ke atas menara bersama anggota timnya.
Kening Irina berkerut dan mengamati satu per satu para lelaki yang menatapnya tajam.
"Singkirkan mereka, D. Aku tak suka," pinta Irina langsung menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang kekasih.
Polo dan lainnya bingung, termasuk King D. Namun, lelaki berwajah campuran Timur Tengah-Indonesia itu melirik tajam orang-orang yang memandanginya.
Polo mengangguk mengerti dan meminta kawan-kawannya untuk pergi dari tempat itu.
"Seriously? Kita baru saja tiba dan kau meminta kami turun? Kau tak lihat berapa banyak anak tangga yang harus kami daki? Benar-benar keterlaluan!" keluh Hugo, tapi Polo tetap memaksa.
King D masih memeluk sang kekasih erat yang tampak tak ingin diusik oleh orang-orang yang baru ditemuinya.
Perlahan, Irina bangun dan berdiri di balik dinding menara untuk melihat keadaan di luar. King D segera mendekati sang kekasih dan berdiri di belakangnya.
"Mereka masih ada. Tugas pria bermata biru dan merah itu belum selesai, Sayang. Kita harus pergi dari sini," ucap Irina terlihat gugup akan sesuatu.
"Apa yang kaurasakan? Katakan padaku," tanya King D yang kini berdiri di samping kekasihnya dan menatapnya lekat.
"Mereka tahu kita masih hidup. Mereka mengincar kita. Tak mungkin bersembunyi lagi. Satu-satunya jalan dengan melawan," jawab Irina balas memandangi kekasihnya.
"Aku mengerti. Jadi ... apa yang harus kita lakukan?" tanya King D seraya menyingkirkan rambut Irina yang menutup paras cantiknya.
"Bangunkan yang lain. Kita membutuhkan bantuan mereka. Aku tahu, siapa saja yang bisa menolong kita," jawab Irina pelan.
King D diam sejenak dan pada akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah. Kita lakukan bersama-sama. Aku ingin semuanya cepat berakhir, Irina, dan kita mewujudkan pernikahan yang sudah lama kita impikan. Kau ... masih mencintaiku 'kan?" tanya King D sendu, dan Irina membalasnya dengan senyum terkembang.
Polo dan kawan-kawannya yang masih duduk di tangga mendengar pembicaraan itu. Mereka saling memandang dan terlihat bingung akan sesuatu.
"Kaupaham yang mereka katakan?" tanya Hugo, dan kawan-kawannya mengangkat pundak seperti menjawab jika tak tahu.
"Sepertinya, kita akan berkunjung ke beberapa tempat dan membangunkan orang-orang dalam tabung," jawab Polo.
Praktis, para pria itu terkejut, tapi mengangguk pelan.
Saat semua orang dirundung kecemasan, tiba-tiba, "Hoi! Pintunya ketemu! Masuk cepetan!" panggil Obama Otong dari bawah menara dengan wajah gembira. Sedang Marco, memasang wajah masam.
Namun lagi-lagi, "Oh! Kalian mengejutkanku!" pekik Lucas saat melihat King D dan Irina berdiri berdampingan di tangga.
"Kalian menguping," ucap King D dengan wajah garang.
Orang-orang Polo terdiam. Mereka langsung bergegas turun karena tak ingin mencari masalah dengan pria yang bagi mereka aneh itu, termasuk pacarnya.
Irina merangkul lengan King D tampak takut akan sesuatu, tapi King D menenangkan dengan merangkul pundak Irina penuh kasih.
"Biarkan saja. Kauingat kisah Sandara dan Jordan? Orang-orang menganggap mereka aneh, tapi lihatlah yang mereka lakukan. Dua orang itu menciptakan hal hebat yang tak pernah diduga oleh semua orang," ucap King D pelan.
"Ya. Tentu saja. Aku ... merasa panas, D. Hal ini tidak baik," ucap Irina seraya melihat kedua tangannya dengan napas tersengal yang mulai memerah.
"Kau harus didinginkan. Ayo," ajak King D dan Irina mengangguk cepat.
Keduanya bergegas turun ke bawah dan segera masuk melalui pintu yang berhasil Otong temukan.
Irina berjalan tergesa dengan napas memburu menuju ke sebuah tempat di mana ia tadi dibangunkan oleh Marco.
"Oh! Apa yang terjadi?" tanya Marco heran karena Irina malah masuk kembali ke tabung cairan hijau tersebut.
"Irina bisa merasakan dampak serum monster mulai menyeruak dalam dirinya lagi. Sepertinya, kondisinya belum stabil. Satu-satunya jalan, dengan memastikan tubuhnya selalu dingin. Jangan membuatnya marah, atau hal buruk akan terjadi. Ingat itu baik-baik," jawab King D menatap para lelaki itu tajam.
Para pria itu saling melirik, tapi mengangguk paham. Tiba-tiba, Marco mengangkat tangan. King D menatapnya lekat hingga membuat pria bermanik merah itu menurunkan tangannya lagi.
"Em, maaf sebelumnya. Kami pernah mendengar rumor tentang Irina Tolya. Hanya saja, jika dia masih berada dalam tabung, lalu ... bagaimana bisa kabar itu berada di luar sana? Jujur, keberadaan Irina Tolya memberikan harapan besar bagi para manusia yang masih hidup," tanya Marco gugup.
"Oh. Itu karena Irina memang pernah mengendalikan monster sebelumnya dan berhasil. Sayangnya, saat aksi terakhirnya, ia nyaris tewas dan hampir mati karena kehabisan darah. Beruntung bos D ada di sana waktu itu. Darah King D cocok dengan Irina. D ini, pendonor darah utama bagi Irina Tolya. Mungkin karena itu, mereka punya ikatan batin yang kuat," sahut Obama Otong seraya menggantungkan beberapa baju dengan hanger dari dalam koper yang berhasil ia temukan.
"Kau mengingatkanku, Otong. Pastikan kau mengambil darahku sebagai stokan untuk antisipasi jika Irina membutuhkan darahku lagi. Sial, hal ini mengingatkanku akan oma yang terus-terusan mendapatkan transfusi darah," keluh King D terlihat kesal akan sesuatu.
"Oma?" tanya Bruno mengulang.
"Grandma. Simbah. Nenek. Eyang. Kalau gak tau ya udah," sahut Obama Otong malah seperti perancang busana karena mensejajarkan banyak pakaian dan kini menggantungnya pada kabel yang melintang di bawah atap. "Nah, beres. Mau pilih baju yang mana bebas, Bos D!" ucap Otong terlihat bangga akan pekerjaan dadakannya.
"Oh! Itu baju kesayanganku. Masih muat tidak ya? Aku merasa gendut seperti pipi, hehe," kekehnya yang kali ini bisa bercanda.
Irina yang masuk ke dalam tabung dalam kondisi sadar ikut tersenyum karena mendengar pembicaraan itu meski mulut dan hidungnya tertutup.
Polo dan kawan-kawannya melihat sosok Irina yang tampak memukau bagaikan puteri duyung meski tak berekor.
Irina menyadari jika ditatap, tapi seketika, mata hijaunya kembali menyala. Praktis, Polo dan kawan-kawannya melangkah mundur karena kaget.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
masih bonus eps dari tips melimpah sebelumnya❤️kwkwkw yg masih shock dengan alur ceritanya, sabar ya saudara-saudara.
lele emang sengaja bikin yg agak beda karena kalo genre action model nyata udh banyak mulai dari Vesper, Secret Missions, A Dangerous Woman, Red Lips bahkan dua buku, 4 YM juga 2 buku, Love Is Henry, dan Yes! I'm Casanova. Jadi lele mau naik level ke genre fantasi action biar ilmunya juga nambah gak ngiter disitu mulu. makasih lele padamu💋
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Yuki💃🌻
ngakak banget, si Otong dibilang botak tak waras🤣🤣🤣, jadi inget si Eko🤣🤣🤣
2022-10-31
1
Maryani Ani
🤭😂kagen pak Eko liat Oting ajalah ..💕💕💕 Kristen Stewart
2022-09-08
1
Adelia Lindaarifin
Irina tolya kie anak e sopo ya.kok lali aq
2022-07-29
2