ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
----- back to Story :
Praktis, senyum King D terkembang saat bertemu dengan Souta.
Mereka bicara dalam bahasa Jepang. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Paman!" panggil King D langsung berlari dan memeluknya.
Souta balas memeluk lalu menatap King D lekat seraya memegang dua lengannya erat.
"Aku hampir lupa dengan sosokmu hingga aku melihat si botak itu. Hem, dia mengingatkanku pada ayahnya. Eko-san," ucap Souta lalu membungkuk memberikan hormat pada Obama Otong.
Obama balas membungkuk dengan senyum merekah.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Wah ... apakah King D bicara bahasa Jepang? Berapa banyak bahasa yang dia kuasai?" tanya Chen terkesima.
"Tujuh. Indonesia, Inggris, Rusia, Arab, Jepang, Perancis, dan Mandarin," jawab Obama mantab terlihat bangga akan kemampuan bosnya.
"Sebagai sesama manusia. Aku iri," sahut Marco dan diangguki para lelaki di sekitarnya.
"Wajib dan kudu iri. Kalo gak, kalian semua gak normal," sahut Obama mantap lalu meninggalkan sekumpulan pria itu untuk menyalami Souta.
"Aku berhutang banyak pada ayahmu, Otong. Eko-san mengajariku bahasa dari negaramu. Termasuk menggunakan persenjataan buatan Vesper Industries dan cara bertarung. Aku ... turut berduka atas kematiannya," ucap Souta sedih dan Obama mengangguk dengan senyum tipis.
Semua orang terlihat serius menyimak penuturan pria asal Jepang itu.
"Kalian bertiga. Kenapa bisa bangun? Ini bukan waktu yang tepat," tanya Souta heran menunjuk King D, Irina dan Obama Otong yang menatapnya lekat.
"Darurat, Paman. Nanti Otong dongengin. Ngomong-ngomong, kok paman ada si sini? Bukannya di Kastil Borka jagain jasad oma?" tanya Obama bingung.
"Ada satu orang yang ikut terbangun di sana dan dia sekarang menjaga Kastil Borka. Aku diminta olehnya untuk memeriksa keadaan seluruh markas," jawab Souta tenang.
"Lalu ... siapa yang terbangun dan menjaga kastil Borka?" tanya Irina penasaran.
"Dominic. Namun, sepertinya ada yang salah. Paman Dominic terlihat sakit. Akan tetapi, dia meyakinkan jika dirinya akan baik-baik saja karena tim Yusuke Tendo dalam perjalanan ke Kastil Borka usai dia mengirimkan kabar jika Rusia aman," jawab Souta yang membuat tim Marco-Polo gembira.
"Ah, syukurlah. Aku sempat cemas saat berpisah dengan mereka di Inggris. Jadi ... mereka kini berada di Kastil Borka dan berkumpul dengan orang-orangmu? Begitu maksudmu, Paman?" tanya Polo, dan Souta mengangguk membenarkan.
"Jadi, aku kemari untuk memastikan apakah ada yang bernasib sama seperti kami atau tidak. Namun, yang kutemukan adalah dua tabung milik Javier dan Lysa lenyap. Aku sudah mencoba menyelidikinya, tapi orang itu seperti tahu seluk beluk markas Sarang Semut begitupula tentang tabung generasi pertama. Tabung milik orang tuamu hilang tak berjejak," jawab Souta serius.
"Apakah paman sudah mendatangi Camp Militer?" tanya Irina lagi.
"Ya, dan ternyata, ada yang ikut bangun di sana," jawab Souta yang mengejutkan tim King D.
"Siapa yang bangun di Camp Militer?" tanya Obama penasaran.
"Orang terkuat dalam jajaran kita," jawab Souta tersenyum tipis.
"Paman Drake," ucap Irina, King D dan Otong serempak. Souta mengangguk membenarkan.
"Wow! Terkuat?" sahut Ritz yang ternyata ikut menguping.
"Sebenarnya ada satu lagi, namanya Seif. Namun, dia berada di Jeju. Aku menjaga tempat ini karena kuyakin, jika pencuri tabung itu akan kembali lagi mengingat masih ada Verda dan One di sini," imbuh Souta tenang.
"Jangan bilang paman mencurigai kita yang nyolong," tanya Obama penuh selidik.
"Hem, tadinya," sahut Souta yang membuat Obama memonyongkan bibir, tapi dengan sigap, bibir seperti bebek itu dicubit oleh Souta.
Praktis, semua orang terkekeh akan kegesitan pria asal Jepang itu.
"Paman. Bagaimana kau bisa bangun? Seingatku ... kau seharusnya bangkit bersama para senior," tanya King D heran.
"Entahlah. Sepertinya, orang yang menjaga tabungku melalaikan tugasnya. Tabungku terbuka dan beruntung, aku tak mengalami cacat organ setelah kuperiksa kesehatanku secara menyeluruh. Aku pernah ditidurkan sebelumnya, jadi aku tahu prosedur kebangkitan," tegasnya tenang.
"Maksudmu ... orang yang melalaikan tugasnya adalah profesor Jeremy?" tanya Bruno menebak, dan Souta tampak kaget dengan hal itu karena keningnya berkerut.
"Kau mengenalnya? Apa kau telah bertemu dengannya?" tanya Souta heran.
Tim Marco-Polo saling melirik.
"Maaf, hanya saja ... saat itu ... kami tak sengaja membangunkan profesor. Namun sepertinya ... prosedur yang kami terapkan salah. Profesor mengalami cacat otak hingga akhirnya ... ia tewas karena melindungi kami saat pergi ke markas tempat tabung Obama Otong disimpan," jawab Polo yang membuat mata Souta melebar.
"Paman Jeremy tewas?!" pekik King D sampai melotot.
Tim Marco dan Polo tersentak karena King D berteriak lantang hingga warna matanya berubah menjadi kuning seperti hewan predator.
Semua orang langsung menjaga jarak, tapi Irina dengan cepat menenangkan kekasihnya.
"D," panggil Irina langsung menghadapkan wajahnya ke paras tampan sang kekasih.
Seketika, King D langsung memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napas panjang. Ia berusaha mengendalikan emosinya.
Perlahan, warna matanya kembali berubah menjadi biru dan merah. Souta menatap perubahan mata King D dalam diam.
"Kami ... belum menjelajah Kastil Borka karena serangan monster yang datang tiba-tiba. Kami kira, serangan besar di kastil megah itu adalah yang terakhir, tapi ternyata ... kami salah. Monster masih banyak di luar sana," ucap Hugo sedih.
"Paman. Kami butuh bantuan dan sangat berharap kaubisa bergabung dalam misi kami," pinta King D yang membuat kening Souta berkerut.
Di dalam markas Sarang Semut, Grey House, China.
"Aku turut berduka cita atas kematian kedua orang tua kalian, Marco, Polo," ucap Souta sedih.
Dua pria kembar itu mengangguk pelan dengan wajah sendu.
"Sangat disayangkan orang-orang seperti mereka tewas dengan cara yang tragis. Meski aku tak mengenal siapa Galina, P-807, Bykov dan lainnya, tapi mendengar perjuangan mereka saat menyelamatkan tim kalian, aku merasa seperti pengecut," ungkap salah satu anggota geng motor berambut cepak yang bisa berbahasa Inggris.
"Tak pernah ada yang menginginkan kematian kecuali, orang itu sudah bosan hidup. Seperti nenekku. Vesper," sahut King D tertunduk sedih.
Suasana hening seketika di ruang makan berkapasitas 500 orang itu.
"Jadi ... banyak yang sudah tewas dalam jajaran kita karena serangan monster dan kerusakan organ dalam. Begitu maksud kalian?" tanya Souta usai mendengar penjelasan dari tim Marco-Polo.
"Namun, paman Maksim memberikan sebuah ide gila pada kami. Darah monster, bisa membuat mereka tak menyerang kita. Saat kejadian di Seward, paman Maksim melumuri dirinya dengan darah manusia sakit itu. Ternyata, strateginya berhasil. Para monster tak menyerangnya karena berpikir jika paman Maksim sejenis dengan mereka," jawab Marco semangat.
Souta, lima lelaki Rusia dan tim King D yang baru mengetahui hal itu mendengarkan dengan serius.
"Mungkin kita bisa menggunakan ide gila itu untuk menyelamatkan diri dari serangan monster," sahut salah satu anggota geng motor berambut punk semangat.
"Hem, ide bagus. Sayangnya, banyak markas yang tak menerima panggilan dari kami. Dari sekian banyak yang sudah kaujelajahi, adakah tempat yang tak menjawab panggilan?" tanya King D menatap Souta lekat.
"Ya. Aku juga ingin memeriksanya. Jadi, jika tak merepotkan, bolehkah aku bergabung dengan tim kalian untuk menjalankan misi? Jujur, meski dunia kacau, tapi aku kesepian dan bosan," pintanya yang membuat mata King D berbinar seketika.
"Tentu saja, Paman. Tanpa kauminta, itulah keinginan yang aku harapkan saat kaumuncul di hadapanku," timpal King D yang membuat Souta terkekeh pelan.
"Hanya saja, bagaimana dengan Verda dan One? Bisakah kita membangunkan mereka?" tanya Irina yang masih mengharapkan dua senior itu bangkit.
"Dari database yang kulihat, hanya tangan dari Kim Arjuna, putera mereka Gibson, kesembilan anggota Barracuda, dan Jason Boleslav yang bisa membuka tabung tersebut. Sayangnya, orang-orang itu belum kuketahui keberadaannya. Termasuk panggilanku ke markas penyimpanan tabung mereka juga tak merespon. Sepertinya, kita tunda dulu untuk membangunkan mereka," jawab Souta serius.
"Kalau begitu, mari sambangi markas-markas yang menyimpan tabung bukan dari generasi pertama, tapi berisi para senior," sahut Lucas berpendapat.
"Aku rasa itu ide yang bagus. Paman Souta tahu cara membangkitkan orang-orang dalam tabung dengan cara yang benar. Aku yakin jika kita bisa mengembalikan kedamaian Bumi tanpa para monster," timpal Fabio semangat.
Souta menatap sekumpulan orang-orang yang duduk melingkar di sekitarnya dengan tatapan penuh harap. Perlahan, senyum pria Jepang itu terbit.
"Baiklah. Mari bangunkan para senior. Kita membutuhkan pengalaman mereka dalam situasi gawat ini," ucap Souta yang membuat senyum semua orang terkembang.
"Jadi ... ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Ritz penasaran.
"India. Kita akan membangunkan tuan Jamal," tegas King D.
Semua orang tampak tak sabar dengan perjalanan ke negara tersebut yang akan dilakukan esok hari.
Tabung Verda dan One terpaksa ditinggalkan karena mereka tak memiliki akses untuk membukanya.
Namun, mencari dua tabung orang tua King D yang hilang, ikut menjadi prioritas.
Mereka nantinya juga akan berkunjung ke Perancis, New York dan Rusia untuk melacak keberadaan tabung di seluruh dunia melalui GIGA.
Orang-orang yang belum mengetahui kemampuan GIGA, terlihat antusias untuk segera melihat secara langsung kecanggihan teknologi tersebut.
Di atas geladak kapal perang peninggalan Vesper.
"D ... mungkinkah kita selamat dari tragedi ini? Orang-orang menaruh harapan besar pada kita berdua. Aku takut mengecewakan mereka," ucap Irina sedih seraya menatap langit malam yang tampak indah dengan taburan bintang di musim semi.
"Oleh karena itu, kita harus berjuang, Irina. Aku ingin sekali membangunkan yang lainnya, tapi saat kondisi sudah kembali stabil. Aku tak ingin Fara melihat dunia yang kacau ini saat ia terbangun nanti," jawab King D sedih seraya mengelus lengan kekasihnya lembut.
"Eh! Fara? Tahun berapa sekarang?" tanya Irina berwajah tegang seketika. Praktis mata King D melebar.
"Otong!" teriak King D langsung berdiri saat ia merebahkan diri di atas geladak dengan Irina ikut berbaring dalam pelukannya.
"Kenapa, Bos?" jawab Otong santai yang sedang asyik memancing dari atas kapal selam wisata milik Ahmed dulu bersama teman botaknya yang lain—Bruno.
"Fara! Fara seharusnya bangun di tahun ini!" teriak King D yang membuat Souta ikut melebarkan mata saat ia dan tim Marco-Polo membakar ikan di pantai.
"Woia! Alah, Otong kelupaan!" sahut pria Jawa itu panik dan malah membuang pancingnya begitu saja. Bruno bingung dalam bersikap.
"Hubungi Oman! Seharusnya ada penjaga yang melindunginya!" titah King D.
Souta dengan sigap berlari kembali masuk ke dalam markas. Orang-orang yang tak tahu siapa Fara hanya saling memandang terlihat bingung.
***
masih eps bonus dari tips berlimpah dua hari yang lalu😁 ditunggu tips dari LAP lainnya. lele padamu❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Maryani Ani
Fara pasti cantik banget ini
2022-09-09
0
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
si otong apoen dah mirip bnguett kek bpk ya😂
2022-05-29
2
Ĺęø ♌️
bUkAnnya dArAh mOnstEr itu bErAcUn mAcAm dArAh vEspEr,..jd pEn mUntAh pAs ingEt vEspEr LudAhin miLes 🤣
2022-05-25
2