Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Apakah kita sudah berada di Oman? Di rumah baba?" tanya King D terdengar panik usai mendengar laporan dari anggota timnya tentang keadaan terbaru mereka.
"Ya, D. Kita udah di Oman, tapi masih jauh sampai ke rumah baba. Hanya saja, ada cewek di bawah sono dan sekarang, gedung tempat dia berada dikerubungi sama monster!" jawab Obama panik dan sedang berusaha untuk menyelamatkan gadis berambut panjang yang masih melambaikan tangan terlihat santai, seolah ancaman monster bukan hal berarti untuknya.
"Aku akan gunakan cara seperti King D!" seru Marco saat memasangkan pengait di pinggulnya.
"Aku akan melindungimu, Brother!" seru Polo.
Marco terlihat siap menggunakan pedang Silent Gold dengan laser siap dinyalakan. Polo meminta anak buahnya bersiap di pintu helikopter untuk mengamankan wilayah mereka.
Obama Otong dengan sigap mengaktifkan persenjataan di helikopter untuk membantu. Sedang Irina, menggunakan CD bersama Ritz untuk menghalau para monster yang mendatangi gedung agar tak semakin banyak demi menyelamatkan seorang gadis yang wajahnya tak terlihat karena gelapnya malam.
"Now!" seru Obama saat membuat helikopter kargonya terbang melayang di ketinggian 6 meter.
Marco dengan sigap melompat dan menyalakan laser pedangnya. Seketika, gadis itu menarik tangannya dan terlihat kaget akan silau dari pedang seorang pria bermanik merah.
Obama sengaja terbang tak terlalu rendah karena banyaknya atap yang tingginya sejajar dengan gedung tempat gadis itu berada.
Para monster berhasil naik sampai ke atap gedung yang berdekatan dengan keberadaan gadis itu. Praktis, keadaan semakin mencekam.
"Mereka datang dari segala penjuru!" seru Irina yang melihat dari beberapa persimpangan jalan di mana para monster mulai berlari ke arah mereka.
Saat Marco siap untuk menangkap gadis berambut ikal itu, tiba-tiba saja, "Hei! Hei!" teriak Marco terkejut karena gadis itu malah berlari menghindar darinya.
Marco kebingungan dan langsung mendongak ke atas di mana kawan-kawannya sedang sibuk menembaki para monster yang berusaha melompat ke gedung tempat gadis itu berada.
"Marco! Apa yang kaulakukan?! Kenapa diam saja?!" teriak Polo kesal karena mereka sudah kerepotan untuk melindunginya, tapi Marco malah diam dalam posisi menggantung dan membiarkan gadis itu melompati tiap atap bangunan.
"Bu-bukan begitu, di-dia ... agh, sial!" gerutu Marco karena disalahkan. Tiba-tiba, KLEK!
"Marco! Dia mulai lagi!" pekik Polo geram karena saudara kembarnya malah melepaskan pengait dan mengejar gadis yang ingin diselamatkan.
Marco berlari kencang seraya melompati atap-atap bangunan. Namun, para monster yang berhasil sampai ke lantai teratas itu mulai mengejar Marco dengan beringas.
"Hei, stop! Kami datang untuk menolongmu! Jangan lari!" teriak Marco yang kesulitan untuk melompat karena atap bangunan yang tidak rata. Namun, gadis itu terlihat lincah saat melompati satu per satu bangunan seperti bermain lompat zig-zag. "Hehe, kau tak bisa lari lagi," kekeh Marco.
Pria itu melihat bangunan terakhir di depan jaraknya kurang lebih 100 meter untuk melompat ke bangunan di seberangnya.
Namun, "What?!" pekiknya langsung menghentikan langkah ketika gadis itu bisa melompat dengan jarak yang cukup jauh dan mampu mendarat dengan sempurna tanpa terluka. "Ba-barusan itu apa?" tanya Marco gugup dan bingung dalam waktu bersamaan.
"Marco!" teriak Polo yang mengejutkan pria bermanik merah itu.
Marco menoleh dan mendapati belasan monster berlari dengan buas ke arahnya. Praktis, mata pria itu melebar seketika.
"Argh, sial!" pekiknya kesal karena dirinya kini yang terperangkap.
Obama dengan sigap mengarahkan helikopter ke tempat Marco berada agar pria itu bisa menggapai tali pengait untuk membantunya lolos dari kepungan monster, tapi sekumpulan orang-orang sakit itu bergerak lebih cepat dari helikopter kargo.
"Arrghh!" erang Marco yang terpaksa melawan para monster dengan pedang Silent Gold dalam genggaman.
Marco menyabetkan pedang laser ke tubuh para monster hingga orang-orang sakit itu mengerang kesakitan, tapi tetap bernapsu untuk membunuhnya.
"Dia bisa mati!" teriak Hugo panik karena mereka tak bisa membantu Marco akibat kedatangan para monster yang tak ada habisnya.
DODODODODOR!!
"Jatuhkan mereka semua, Ritz!" seru Irina yang mencoba menolong Marco dengan menembaki para monster di sekelilingnya.
Ritz terlihat fokus menggelontorkan seluruh amunisi CD dari dua benda terbang itu, tapi ....
"Harghh!"
"Oh! CD-ku diserang para monster itu, Irina! Mereka menangkapnya!" teriak Ritz panik saat melihat wajah para manusia sakit itu di kamera benda terbangnya.
Semua orang terkejut dan melihat dari layar televisi saat CD milik Ritz seperti dirusak oleh manusia-manusia sakit itu.
Ritz kehilangan kendali dan memilih untuk merelakan benda itu direnggut darinya.
"Tekan tanda merah itu!" titah Irina yang masih bertahan dengan dua CD dalam kendalinya.
Ritz melihat tombol dari dua pengendali dalam genggaman tangan. Pria itu dengan mantap menekannya, dan seketika, BLUARR!! BLUARR!!
"Oh! Benda itu meledak!" teriak Ritz terkejut karena benda terbang tersebut seperti sebuah bom.
Ledakan itu berhasil mengenai para monster dan membuat mereka terbakar, meski masih bernyawa.
BRUKK!!
"Hah, hah," engah Marco saat dirinya lemas usai menebas seluruh monster yang berusaha untuk memangsanya.
Marco seperti kehilangan energinya hingga keringat di tubuhnya membasahi pakaian tempur itu.
"Marco!" teriak Polo dari sambungan komunikasi yang membuat lelaki itu menoleh ke pergerakan besar dari seberang gedung menuju ke arahnya.
"Oh, shitt," umpatnya dengan lirih, tapi ia sungguh tak sanggup untuk bertarung, apalagi berlari untuk meloloskan diri.
Tubuh Marco sampai membungkuk dan pedang lasernya tak lagi menyala. Mata pria itu sayu seperti akan pingsan.
"Marco! Tangkap talinya!" teriak Obama saat berhasil mendekatkan tali pengait itu ke samping tubuh Marco.
Namun, pria itu tampak linglung. Saat Marco yang berada di tepian atap gedung ingin menggapainya, tiba-tiba ....
"MARCO!" teriak Chen hingga matanya melotot karena tangan Marco lolos dan malah menjatuhkan tubuhnya dari ketinggian seperti orang hilang kesadaran.
Praktis, mata semua orang melebar karena Marco bisa tewas dari ketinggian gedung yang mencapai 30 meter.
Pria itu bahkan tak berteriak atau berusaha untuk menggapai tepian. Marco jatuh begitu saja seperti kehilangan tenaganya.
Saat jantung semua orang seperti berhenti berdetak karena Marco tak bisa mereka selamatkan, tiba-tiba, "Hap!"
"Oh!" pekik Irina saat drone miliknya berusaha mengejar Marco yang jatuh dari atas.
Semua orang langsung menoleh ke arah layar di mana gadis yang ingin ditolong oleh Marco tadi menangkapnya.
Mata semua orang menyipit saat melihat gadis itu memakai sepatu hampir mirip dengan milik King D, tapi untuk perempuan.
"Eh?!" pekik Obama saat menyadari siapa gadis tersebut.
"Fara!" teriak Irina yang mengejutkan King D serta lainnya. "Itu Fara!" teriak Irina lagi yang akhirnya bisa melihat dengan jelas sosok gadis cantik berambut panjang itu dari kamera CD.
Gadis yang diyakini bernama Fara menangkap tubuh Marco dan membopongnya. Seolah, pria itu tak berat.
Fara menyusup ke sebuah bangunan tanpa jendela dan membuat sosok keduanya tak terlihat.
"Ke mana dia?!" tanya Fabio memekik karena kini, mata orang-orang dalam helikopter terfokus pada layar untuk mengetahui keadaan Marco.
Namun, "Hargghh!"
"AAAA!" teriak Lucas ketika mendapati seorang monster berhasil memanjat ke helikopter menggunakan tali pengait yang seharusnya ditujukan untuk Marco. Praktis, semua orang dalam helikopter panik seketika.
KRAUK!!
"Arrghh!" erang Edward karena tangannya tergigit kuat oleh manusia sakit itu.
Mata Robin melebar dan DOR! DOR! DOR!
"ARGHH! Lepaskan gigitannya!" teriak Edward mengerang kesakitan saat monster tersebut berhasil dibunuh Robin dengan tiga peluru bersangkar di kepala.
Semua orang tegang dan pucat. Bruno dengan sigap membuka rahang monster tersebut dengan dua tangannya lalu melempar mayat monster dari ketinggian.
Namun ternyata, "Mereka memanjat!" seru Bruno sampai matanya melebar ketika melihat para monster menaiki tali tersebut agar bisa sampai ke atas helikopter.
KRAS!!
"HARRGH!" erang para monster ketika Robin dengan sigap memotong tali itu menggunakan belati dalam genggaman.
Para monster jatuh dari ketinggian dan gagal menggapai helikopter tersebut.
"Kita harus segera pergi dari sini!" seru Chen karena para monster masih berdatangan seperti keluar dari tempat persembunyian.
"Bagaimana dengan Marco?!" tanya Polo panik.
"Drone-ku sedang mencarinya. Jangan khawatir, Marco akan baik-baik saja. Ia bersama Fara," ucap Irina meyakinkan.
"Kita pergi ke rumah baba. Mungkin Fara membawa Marco ke sana," ucap King D yang membuat suasana panik itu menjadi tenang seketika.
"Siap, Bos!" jawab Obama mantap dan segera mengarahkan helikopternya ke kediaman ayah King D yang berada di Oman.
****
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy makasih tipsnya😍 Lele padamu❤️ Besok lagi ya. Kwkwkw🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Maryani Ani
neng Fara jodohnya Marco kah
2022-09-09
0
Maryani Ani
wewww cantiknya perpaduan Toby Ama lysa 💕💕💕💕
2022-09-09
0
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
huwaaa neng fara😍😍
2022-07-16
0