ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
----- back to Story :
Tangan King D ditangkap oleh Hugo dan Lucas yang membantunya naik ke atas. King D kembali berkumpul bersama timnya. Di mana kali ini, mereka menjadi satu helikopter dengan banyak muatan.
Terpaksa helikopter tim Marco-Polo ditinggalkan. King D memilih agar semua anak buahnya berkumpul dalam satu kendaraan agar aman.
King D mulai merasa, jika orang-orang baru yang ditemuinya sangat bisa diandalkan dan akan menjadi tim solid.
Perlahan, fajar mulai menyingsing. Cahaya baru dari kehidupan manusia di Bumi yang dipenuhi dengan bencana wabah monster, tak membuat orang-orang itu seperti merasakan kedamaian.
Tim Marco-Polo bicara dalam bahasa Inggris. Geng Motor bicara dalam bahasa Rusia. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Bos, King! Kita gak bisa nambah manusia lagi. Kayaknya, usulan geng motor diterima aja. Mereka nanti kita taruh di Rusia buat ngurangi muatan. Kalau tuan Jamal beneran ikut, bisa overload!" seru Obama Otong yang suaranya terdengar di tiap sambungan komunikasi kelompok besar itu.
"Aku mengerti," tegas King D seraya melihat Ritz yang sedang diobati lukanya.
"Oke! Tiga puluh menit lagi sampai di rumah mbah Jamal. Siap-siap!" seru Obama Otong memberikan informasi dari bangku kemudi.
Semua orang mengangguk siap. Tim Marco-Polo kembali menyiagakan senjata termasuk para pria dari geng motor. King D kembali ke kursinya dan langsung mendapatkan pelukan dari sang kekasih.
"Kenapa kau selalu membuatku cemas?!" ucap Irina kesal, tapi lelaki tampan itu hanya tersenyum.
"Itulah yang membuatmu selalu merindukanku," jawab King D menggoda, tapi kali ini Irina enggan menanggapi.
Wanita cantik itu memalingkan wajah dan memilih menghadap jendela ketimbang wajah rupawan sang kekasih.
"Hempf, aku lelah," ucap King D seraya memejamkan mata dan menyenderkan kepala di bahu kiri wanita yang dicintainya. Seketika, senyum Irina terbit.
"Sabar, sabar. Kata bapak, gak usah ngiri liat orang pacaran. Tar juga ketemu jodohnya, tapi ... mengingat jumlah manusia yang makin menipis, siapa jodoh Otong nanti? Ya Allah, kali ini Otong berdoa pada-Mu. Berikan jodoh yang uhuy buat diriku yang fana ini. Amin," ucapnya penuh harap seraya menatap langit.
King D dan Irina yang mendengar penuturan Obama hanya menahan senyum, termasuk para awak helikopter.
"Dia meratapi nasibnya," kekeh Hugo dan diangguki semua orang.
Kediaman Jamal, New Delhi, India.
"Woah! Aku baru pertama kali ke India. Ini hebat!" seru Hugo yang hari itu banyak bicara tak seperti biasanya.
Orang-orang yang senasib dengannya mengangguk sependapat.
Sayangnya, India sudah jauh berbeda. Kota itu sama mengerikannya dengan kota-kota dari negara lainnya.
Rusak dan masih banyak bau monster tercium dari indera Marco. Orang-orang merasa tidak aman berada di negara tersebut berlama-lama.
"Jujur, aku takut berada di negara ini. Jumlah populasi India masuk peringkat dua dari keseluruhan negara di dunia sebelum wabah monster terjadi," ucap Polo terlihat serius, tapi ucapannya membuat semua orang menelan ludah.
"Polo. Jangan membuat luka di tubuhku semakin menjalar. Aku sudah cukup menderita dengan lecet di kakiku. Jangan ditambah dengan informasi mengerikan darimu itu," keluh Ritz yang membuat Polo meringis tak enak hati.
"Oh, D. Aku tak suka di sini. Aku bisa merasakan jumlah mereka banyak sekali," ucap Irina sampai keningnya berkerut dan kulit di tangannya merinding.
King D menatap kekasihnya lekat yang seperti mengatur napasnya.
"Aku mengerti. Tetaplah di sini," pinta King D dan Irina mengangguk cepat terlihat gugup.
King D bergegas mendatangi timnya yang berkumpul di kabin. Semua mata kini tertuju pada King D yang terlihat serius akan sesuatu.
"Bersiaplah. Aku minta hanya kelompok Marco-Polo yang turun. Ritz, kau terluka. Jadi, tetap di helikopter dan siaga bersama geng motor," tegas D menatap pilot helikopter tim Marco-Polo tajam. Ritz mengangguk, berikut para pria Rusia itu. "Kita akan bergerak cepat memasuki kediaman tuan Jamal. Jika dirasa keadaan di sana mencekam, langsung tinggalkan lokasi dan kembali ke helikopter. Kalian paham?" tegas King D, dan para pria itu mengangguk cepat.
"Bos D! 10 menit sebelum mendarat!" seru Obama dan semua orang langsung bersiaga.
Pintu helikopter mulai dibuka. Obama melihat helipad di atas kediaman Jamal. King D dan Marco langsung memposisikan diri untuk melihat sekitar.
"Baunya sangat kuat," bisik Marco, dan King D mengangguk sepemahaman.
Saat King D terlihat seperti ragu dengan keputusannya, tiba-tiba saja ....
"Hei!" teriak seseorang yang membuat semua manusia sehat dalam helikopter menoleh ke asal suara.
"Oh! Itu ... tuan Jamal!" teriak King D lantang saat melihat pria tua itu mengendarai sebuah sepeda dengan susah payah.
Polo langsung berdiri di samping King D seperti ingin memastikan sesuatu.
"Dia dikejar monster!" serunya yang membuat semua orang panik seketika.
"Turunkan tali!" titah King D, dan Hugo dengan sigap melakukan yang diperintahkan olehnya.
Saat helikopter akan turun ke jalanan aspal tempat Jamal sedang berusaha dengan susah payah meloloskan diri, lagi-lagi ....
"Naik! Naik!" teriak Edward panik saat melihat para monster muncul dari atap gedung seperti akan melompat ke arah helikopter mereka.
"Waaaa!" teriak para pria dari geng motor karena orang-orang sakit itu seperti ingin menggapai helikopter mereka.
"Hei! Jangan tinggalkan aku!" teriak Jamal dengan keringat bercucuran di wajahnya.
Praktis, King D dibuat panik karena bingung untuk mengendalikan situasi di mana tiba-tiba saja dikepung oleh puluhan atau bahkan mungkin ratusan monster yang mendekat ke arah mereka.
"Dia tak mungkin selamat!" seru pria bernama Forest pesimis.
"Bisa! Kalian, bersiap!" jawab King D mengaitkan pinggangnya lagi dengan tali seperti yang digunakan untuk menolongnya tadi.
"King D!" teriak Fabio sampai matanya melebar saat King D nekat melompat, tapi kali ini, sebuah pedang dengan laser warna biru menyala terang dalam genggaman tangannya.
Mata Jamal melebar dan senyumnya terkembang seketika. Namun, Jamal yang terlalu gembira karena berpikir dirinya diselamatkan, kehilangan fokus.
"HARGHHH!"
BRAKKK!
"AAAAA!" teriak Jamal saat seorang monster melompat ke arahnya dari lantai dua bangunan dan membuat dirinya jatuh bergulung-gulung di atas aspal. "Agggg! Help!" teriak Jamal saat dia kini harus berjuang hidup karena seorang monster berusaha mencabik wajahnya dengan tangan kotor.
Jamal berusaha keras menahan tubuh monster itu yang ingin memangsanya.
"Tuan Jamal, berlindung!" titah King D yang tubuhnya masih melayang di atas permukaan tanah karena Obama berusaha agar para monster tak bisa menggapai benda terbangnya.
"Arghhh! Aku tak mau mati hari ini!"
DUAKK!! BRUKK!!
Jamal berhasil mendorong tubuh monster itu hingga bergulung-gulung di atas aspal. Jamal nekat melompat ke dalam tong sampah besi dan menutupnya saat ia melihat King D melemparkan sesuatu dari atas.
KLANG! PIPIPIPIPI! DODODODOOR!!
"Woah! Itu ...," kejut Lucas sampai matanya melebar ketika melihat sebuah tabung berwarna silver dari besi terbuka layaknya bunga dan menggelontorkan ratusan peluru yang mengenai tubuh para monster hingga mereka berjatuhan satu per satu.
"Otong!" seru King D terlihat siap melakukan sesuatu karena memegangi pengait pada pinggangnya.
"Nih, Otong kasih bingkisan kematian lagi," ucapnya dengan wajah bengis.
KLIK! SWOSH! BLUARR!!
"Rainbow gas!" teriak Marco langsung melebarkan mata ketika gas hitam kembali menyeruak hingga para monster yang belum terkena peluru tajam itu kini menggelepar karena mata mereka buta seketika.
King D mengambil sesuatu dari balik pinggang seperti sebuah wadah mirip korek gas, tapi bagian atasnya bisa dibuka dan ditutup.
Tabung itu berwarna bening dengan banyak kapsul cair berwarna-warni di dalamnya. Pria itu mengambil kapsul warna hitam dan langsung mengunyahnya.
"Apakah itu serum penawar?" tanya Chen menduga, dan semua orang di kabin menggeleng tidak tahu.
"Ya, akan menyusahkan jika harus disuntik. Akan lebih cepat jika langsung di makan," jawab Irina yang kini ikut berdiri dan membuat semua orang kaget karena tak menyadari kedatangannya.
KLANG!
"Oh! King D melepaskan pengait! Lindungi dia!" seru Polo saat menyadari King D nekat melompat ke dalam kepulan asap hitam dan sosoknya langsung tak terlihat karena pekat.
Anak buah Marco-Polo dengan sigap mengarahkan moncong senapan ke para monster yang belum berhasil dijatuhkan.
"Jangan biarkan mereka menangkap King D dan tuan Jamal!" seru Irina dan orang-orang itu mengangguk siap.
Napas Irina memburu saat ia tak bisa melihat keberadaan kekasihnya. Namun, para monster yang baru datang dan tak terkena dampak, seperti tahu di mana keberadaan dua manusia hidup itu.
"Tembak!" titah Polo lantang.
DODODODOOR!!
Dua pintu helikopter terbuka dan kini dua sisi memberondong para monster dari atas benda terbang itu.
Para pria dari geng motor tampak pucat saat melihat puluhan monster berusaha menggapai kendaraan terbang mereka, tapi tim Marco-Polo tak mengizinkan hal tersebut.
Obama Otong fokus mengemudi dan mencari keberadaan King D dari sensor yang terpasang pelacak pada pakaian tempurnya.
"Eh?!" pekik Otong langsung melotot saat melihat King D malah naik sepeda dengan Jamal membonceng di belakang. Praktis, pria Jawa itu langsung menepuk jidat.
***
uhuy makasih tipsnya❤️ lele padamu💋 jangan lupa play dan like audio book Vesper ya. udah nambah lagi epsnya buat nambah tips koin bagi kalian yg belum bisa sedekah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Maryani Ani
🤣🤣D malah mau kejar kejaran naik sepeda di kira syuting film india
2022-09-09
0
alena
ngebayangin king D naek sepeda tp yg di bonceng aku 😍
2022-06-12
2
Ĺęø ♌️
pUnyA Laki mAcAm Eko atw si otOng sEru kaLi yeeeee,..jd kEpO sApa jOdOh si otOng
2022-06-01
2