ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
---- back to Story :
Tiba-tiba, Jamal berdiri. Ia meminta semua orang ikut dengannya. Tentu saja hal itu membuat semua orang bingung, tapi merasa ada hal misterius tersembunyi yang akan terkuak.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Geng motor bicara dalam bahasa Rusia. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Bagaimana kau menemukan kami?" tanya Ritz penasaran saat orang-orang itu berjalan mengikuti Jamal memasuki hangar.
"Aku melihat helikopter kalian terbang menjauh. Menurut pengamatan tuan Jamal, kalian pasti mendarat di sebuah hangar milik adiknya dulu, Rahul," jawab King D santai, tapi orang-orang itu terlihat kagum.
"Ternyata, tebakanku tepat bukan?" sahut Jamal bangga saat ia meminta semua orang ikut dengannya memasuki sebuah bangkai pesawat.
"Waspada dan siaga," tegas Polo yang kembali mengangkat senapannya dan diikuti oleh lainnya.
"Marco," panggil Chen terlihat gugup.
"Aman. Tak ada bau monster di sini," jawabnya seraya mengendus sekitar.
Irina dan King D saling berpandangan. Keduanya seperti satu pemikiran jika orang-orang bentukan Marco-Polo sangat bisa diandalkan seperti sudah terlatih untuk situasi buruk seperti ini.
Tiba-tiba, Jamal berdiri di belakang dudukkan pilot pesawat. Ia menarik tuas pada kokpit dan KLEK! NGEK ....
"Wow!" pekik Hugo terkejut dan langsung menggeser kakinya karena lantai yang dipijaknya seperti bergeser.
"Aku ingin ada yang berjaga di permukaan. Tiga orang saja. Untuk antisipasi," tegasnya.
"Aku saja. Dan dua orang Rusia, kau dan kau," sahut Ritz dan dua pria dari geng motor itu mengangguk gugup.
Jamal menuruni tangga diikuti yang lain. Obama memberikan kode agar Ritz selalu menghubunginya. Pilot tim Marco-Polo mengangguk paham.
Jamal menuruni tangga yang terbuat dari besi sampai ke dasar di mana tempat itu gelap dan hanya cahaya senter yang menerangi.
"Marco?" panggil Polo di mana tempat seperti ini adalah keahlian saudara kembarnya.
"Wow! Matamu ...," pekik Jamal terkejut saat melihat mata Marco menyala. "Oh! Kau juga!" kejutnya lagi saat melihat mata King D menyala merah hanya di satu sisi.
"Tempat ini ...," ucap King D yang membuat semua orang terdiam.
King D melangkah perlahan menuju ke suatu tempat. Jamal meminta kepada Marco untuk mencari saklar. Pria itu berjalan di sekitar dan KLIK!
"Woah! Ada banyak!" pekik Lucas saat ruangan itu bercahaya terang, tapi ia langsung membungkam mulut karena suaranya menggema dalam ruangan seperti bunker itu.
"Di sinikah, Anda menyimpan semua tabung?" tanya Irina menduga, dan Jamal mengangguk.
"Semuanya 100 tabung. Dua sudah terbuka, milikku dan isteriku yang telah tiada. Masih ada 98 tabung yang tersisa. Jadi, bisa kau bayangkan, betapa kayanya Jeremy dan orang-orangnya saat kumemesan benda-benda ini untuk keluargaku?" ucap Jamal yang membuat Irina dan Obama mengangguk dengan gugup.
"Anda pasti sangat kaya," ucap Fabio memuji, dan Jamal tampak bangga karenanya.
"Oh! Rohan, Nandra dan Ryan keturunan Giamoco juga ada di sini?" tanya King D terkejut saat mengenali sosok dari tiga orang itu.
"Hem, kau jeli, D. Awalnya tabung mereka berada di Swiss, tapi aku minta dipindahkan karena ingin keluarga besarku berkumpul," tegasnya menjelaskan.
Orang-orang tak berani menyentuh tabung karena sistem keamanan yang melindungi benda tersebut.
"Ada anak kecil, orang dewasa, bahkan orang tua," ucap Edward mengintip dari kaca bagian atas di mana wajah orang-orang itu terlihat.
"Tunggu sebentar, Tuan. Jika Swiss dikosongkan, itu berarti ... tak ada pos penjaga di sana? Bukankah tujuan kita tersebar di beberapa wilayah untuk mengamankan tiap sektor dan tak terpusat pada satu tempat demi keamanan?" tanya Souta berkerut kening.
"Masih ada yang menjaga Swiss. Yuki, Torin dan puteri mereka," jawab Jamal santai.
King D, Irina dan Obama tampak lega mendengar hal tersebut.
"Jadi ... jumlah kalian sebenarnya ada berapa?" tanya pria berambut punk dari anggota geng motor Rusia.
"Ribuan. Oleh karena itu, jika para monster lenyap, kalian tak perlu takut manusia punah. Mereka yang berada dalam tabung bisa mengembalikan keadaan. Hanya saja, mereka bangun secara estafet tak serempak. Semua sudah diatur dalam jadwal. Entah kenapa, ide Sandara dan Jordan sangat tepat dengan situasi yang terjadi saat ini. Mereka seperti peramal. Kadang aku takut dengan dua anak itu," ucap Jamal bergidik ngeri.
"Siapa Sandara dan Jordan?" tanya pria Rusia bertato.
"Mereka keturunan Vesper dan Boleslav. Dua orang kuat pada masanya. Sedang pencipta tabung-tabung generasi pertama yang hanya 35 unit adalah ayah Sandara Liu, tapi ... beliau sudah tiada. Keluarga Boleslav menyokong pembuatan tabung saat harus diproduksi masal karena banyaknya permintaan. Vesper Industries tak bisa mengerjakan semua, jadi ... mereka membantu," jawab Jamal menjelaskan.
Orang-orang yang belum mengetahui hal itu mengangguk pelan dan mulai mengerti dengan sejarah tersebut.
"Oh! Lalu ... soal sinyal D yang hilang. Itu karena kami memasuki wilayah Pemancar Fatamorgana. Aku sengaja menyalakannya karena rekaman CamGun terakhir, ada drone melintas dan kuyakin itu bukan dari kelompok kami, 13 Demon Heads. Bisa saja masih ada manusia lain yang selamat. Namun, aku tak melihat pergerakan manusia hidup usai wabah itu menyebar. Mungkin ... mereka semua sudah terjangkit. Oleh karena itu, jumlah monster sangat banyak," ucap Jamal dengan dua tangan masuk dalam saku celananya.
"Namun, serum monster tak menular. Jika terkena darah monster, orang itu malah akan mati," sahut Irina heran.
"Soal itu ... entahlah. Aku khawatir jika para monster berevolusi, seperti King D, dan si kembar itu," jawab Jamal yang membuat suasana tegang seketika.
"Kapan drone itu melintas terakhir kali, Mbah? Kita wajib dan kudu mencurigainya," tanya Obama serius.
Saat Jamal mengajak orang-orang itu untuk kembali ke atas, tiba-tiba saja ....
"Hei! Gawat! Para monster menuju kemari!" panggil pria berambut gimbal dari Rusia lantang di tangga.
Seketika, mata hijau Irina menyala. Orang-orang itu panik dan bergegas keluar. Namun ....
"Tuan Jamal! Apa yang Anda lakukan?!" tanya King D memekik karena Jamal malah berhenti di sebuah tabung dan menempelkan telapak tangannya.
Ia lalu menekan beberapa tombol dari papan kaca yang muncul di sisi tabung dengan tergesa.
"D! Monster datang! Ini aneh sumpah karena mak bedunduk!" teriak Obama yang kepalanya muncul dengan posisi terbalik dari pintu tangga.
"Tuan Jamal!" panggil King D lagi seraya berlari mendekat. "Apa yang Anda lakukan? Kenapa membangunkan Rohan?" tanya King D melotot lebar karena Rohan memulai prosedur pembangkitan.
Jamal memakaikan jam tangan khusus ke pergelangan tangan King D dan menekan layarnya. King D seperti paham apa yang Jamal inginkan darinya.
"Heh, kau mengerti rupanya. Kau memang cerdas, D," ucap Jamal memuji saat King D menekan telunjuk kanannya di papan kaca jam tangan itu. "Bawa tabung Rohan pergi. Kalian bergegaslah. Aku bisa mengatasi para monster itu. Cepat!" titahnya yang membuat mata King D melebar.
"What?! Jangan gila, Tuan! Anda bisa tewas!" pekik King D menolak dan memegang tangan Jamal erat.
"Aku sudah tua dan berumur 70 tahun lebih. Apa yang kalian harapkan dariku? Pergilah. Kasihan isteriku, dia kesepian. Pastikan jika aku mati, aku tak dimakan mereka. Buat kematianku cepat. Berjanjilah, D," pinta Jamal menjabat tangan King D erat, tapi pria tampan itu seperti shock dengan permintaan tersebut. "Berjanjilah, D!" teriak Jamal lantang hingga matanya melotot.
"Saya berjanji, Tuan Jamal," jawab King D pada akhirnya.
"Pergilah. Ada pintu lain langsung menuju helikopter. Amankan Rohan sampai kebangkitannya. Aku akan menutup bunker untuk mengamankan keluargaku," tegasnya, dan King D mengangguk.
Obama Otong kembali masuk karena tuannya belum juga keluar. Jamal menunjukkan pintu rahasia lainnya di mana tabung berisi Rohan mengikuti sensor dari jam tangan yang dikenakan King D.
"Loh? Mbah Jamal kok ditinggal?" tanya Obama bingung karena Jamal masih berada dalam ruangan itu.
"Lindungi dia, Otong! Seperti ayahmu yang melindungi Vesper!" teriak Jamal lalu pergi menuju ke tangga besi.
Mata Obama melebar. Ia melihat King D lekat. Pemuda campuran Timur Tengah itu tampak sedih, tapi kembali berlari. Obama melihat pintu bunker ditutup dari luar dan ia segera menyusul King D dengan tergesa.
"King D!" teriak Irina panik saat melihat sang kekasih akhirnya muncul dari sisi lain.
Praktis, mata King D melebar saat melihat sekumpulan monster berlari ke arahnya.
"Pergi cepat!" teriak Jamal yang kembali menaiki sepeda.
"No! Tuan Jamal!" panggil King D saat Jamal mengayuh sepedanya dengan seluruh tenaga seperti sengaja mengalihkan pergerakan para monster.
Siapa sangka, rencananya berhasil. Sebagian monster mengejar Jamal, tapi sisanya yang melihat pergerakan di sekitar helikopter mulai datang dengan buas.
"Otong!" panggil Ritz panik karena hanya Obama yang bisa mengemudikan kendaraan terbang itu.
Irina melihat jika kekasihnya tak akan sampai tiba tepat waktu ke helikopter. Wanita cantik itu nekat keluar dan berjalan dengan langkah mantap ke para monster yang mendatangi mereka dengan cepat.
"Irina, no! Mereka terlalu banyak!" teriak King D melotot lebar di mana ia sengaja tak berlari kencang karena sensor tabung tak bisa menangkap gerakan kilatnya itu.
"Polo!" teriak Hugo panik karena Irina seperti menumbalkan dirinya.
"Marco! Bersiap!" teriak Polo yang ikut keluar dari helikopter.
Pria itu mengangkat tangan kanannya ke atas dan menggerakkan jarinya membentuk angka 7 lalu huruf V.
Seketika, DODODODODOR!!
Tujuh anggota dari tim Marco-Polo melepaskan peluru-peluru tajam mereka dalam formasi V. Polo berada di ujung terdepan dan diapit oleh 3 orang di sisi kiri kanannya.
King D bergegas memasukkan tabung ke dalam helikopter berikut Obama yang langsung duduk ke bangku kemudi.
Mata Souta melebar saat ia berdiri di atas helikopter untuk memantau sekitar.
"Kita harus membantu tuan Jamal! Para monster akan menangkapnya!" teriak Souta panik.
Satu per satu, para monster yang akan menyerang helikopter berjatuhan. Irina menghentikan langkah dan mengarahkan dua tangannya ke depan seperti ingin menghalau.
"Masuk! Masuk!" panggil pria Rusia berambut gondrong dengan wajah pucat pasi karena para monster terus berdatangan tak ada habisnya.
"Marco! Sekarang!" teriak Polo saat ia dan timnya masuk ke helikopter dengan terburu-buru usai kehabisan amunisi.
"Ahh!" rintih Irina saat Marco mendekap tubuhnya dari belakang lalu menariknya kuat.
Irina melihat Marco membopongnya dan membawanya lari masuk ke helikopter.
"Hah, hah, hampir saja," ucap Marco karena 1 meter lagi, Irina tertangkap oleh tangan-tangan kotor para monster.
Saat helikopter akan lepas landas, "Di mana King D?!" tanya Chen memekik karena tak mendapati pria tersebut dalam helikopter.
Praktis, semua orang panik seketika.
***
Oia, bagi yang belom tahu. Aktor yg jadi mbah Jamal ini udah meninggal sejak 29 April 2020. Namun, karena sejarah perfileman dan actingnya yang bikin lele kesengsem, dia masih lele pertahanin. Namun, karena yg bersangkutan sudah tiada, cukup sudah kisahnya di novel ini. Selamat jalan, Pakde Irrfan Khan. Semoga tenang di alam sana bersama Yang Maha Kuasa. Amin.
uhuy makasih tipsnya😍 lele padamu jeng bee💋 yg lainnya ditunggu sedekah koinnya. kwkw😆
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
Ria Kurnia
Tim marco polo bagus nya di kasih nama tim babank tamvan Lee...
2022-08-12
1
👑_𝕢𝕖𝕖𝕡𝕦𝕥_💣
permisi pen maraton baca dolo🏃🏃
2022-07-16
0
Ĺęø ♌️
kNp biAng kErOk sErUm mOnsty ini bLm tErkUak??
2022-06-02
2