Kelelahan mendera dua insan yang kini bermandikan peluh. Setelah peperangan panjang yang terjadi di atas ranjang, mereka terbaring dengan selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Adinda bahkan telah tertidur lelap, sementara sang suami masih asyik memandangi wajah cantik sang istri sambil membelai wajahnya dengan lembut.
Sungguh Zaid diliputi kebahagiaan tak terkira, akhirnya ia bisa memiliki seutuhnya wanita yang selalu diimpikannya. Hanya mencintai Adinda tanpa memilikinya saja sudah membuat Zaid bahagia. Apalagi saat ini mencintai, memiliki dan dicintai Adinda. Nikmat mana lagi yang kau dustakan ?
Drrt... Drrt... Ponsel milik Zaid bergetar.
Zaid begitu malas untuk menjawabnya, ia membiarkan saja ponselnya bergetar. Ia malah menciumi leher serta bahu sang istri yang begitu menggoda. Hanya menciumi leher serta bahu Adinda saja sudah membuat rudalnya siap tempur kembali.
Ponsel Zaid terus menerus bergetar, sementara Zaid semakin gencar melancarkan serangannya pada sang istri membuat Adinda menggelinjang.
" Mas... angkat dulu telponnya... Dari tadi getar terus " ucap Adinda masih dengan mata yang memejam.
Zaid tak menghiraukan, ia terus bermain dengan tubuh sang istri yang membuatnya candu.
" Mas... Ih, itu diangkat dulu. Kali penting.. Udahan dulu dong, dinda cape tahu ! " tambah Adinda lagi, kali ini ia mulai membuka mata dan menatapi sang suami.
" Siapa sih ? Gangguin aja " gerutu Zaid lalu menghentikan aktivitasnya dan segera mengangkat ponselnya.
" Apaan ? " tanya Zaid ketus begitu mengangkat telepon.
" Hah ? Yang bener ? " tanya Zaid kemudian bangkit dan duduk .
" Ok, sebentar lagi kita pulang " ucap Zaid lalu mengakhiri panggilan telepon.
" Siapa Mas ? " tanya Adinda penasaran saat melihat sang suami memakai boksernya.
" Juna, nyuruh kita pulang sekarang " jawab Zaid lalu bergegas menuju ke kamar mandi.
" Kok ngedadak sih, Mas ? " tanya Adinda setengah berteriak karena sang suami telah masuk ke dalam kamar mandi.
Zaid kembali keluar dari kamar mandi, tanpa ba bi bu, Zaid menggendong Adinda dan membawanya ke kamar mandi.
" Mas... Dinda bisa mandi sendiri " kesal Adinda saat Zaid membawanya masuk ke kamar mandi.
" Kalau sendiri-sendiri, gak bisa main bareng " jawab Zaid enteng lalu memasukkan tubuh sang istri ke dalam bath tube lalu ia pun menyusul masuk.
" Biar cepet selesai mandinya, sayang. Gak buang-buang waktu " ucap Zaid sambil menyeringai.
" Mandinya gak lama tapi yang lain-lainnya yang lama " cibir Adinda yang kemudian dihadiahi sebuah ciuman yang semakin lama semakin menuntut.
Dan akhirnya, pertempuran pun kembali terjadi di dalam kamar mandi.
...****************...
Adinda dan Zaid akhirnya sampai di kediaman Bunda Lia. Saat memasuki rumah, mereka sudah ditunggu oleh seluruh anggota keluarga juga Farhan.
Adinda duduk di samping Kirana, sementara Zaid memilih duduk di samping Arjuna. Pertiwi dan Farhan duduk berdampingan di hadapan Arjuna.
" Ini ada apa sih, Mba ? " bisik Adinda pada Kirana.
" Dinda... " Arjuna menatap tajam sang adik bungsu.
" Sebenarnya ada apa sih, Bang ? Kayak lagi di pengadilan aja " celetuk Adinda.
Kirana menyentuh tangan Adinda lalu memberi isyarat dengan gelengan kepala. Adinda seketika mengerti jika ada sesuatu yang sangat penting.
" Jadi kita semua berkumpul disini untuk bermusyawarah mengenai hubungan antara Pertiwi, Farhan dan Mario " ungkap Arjuna.
Adinda mengarahkan pandangan kepada sang kakak, Pertiwi serta pria tampan di sebelahnya yang nampak berantakan dengan luka lebam di wajahnya.
" Tiwi akan segera menikah dengan Farhan " tegas Arjuna.
Kedua mata Adinda membola dan tangannya langsung menutup mulutnya.
" Dan pernikahan mereka akan dilaksanakan satu minggu ke depan " tambah Arjuna lagi.
" Kenapa nikah sama Kak Farhan ? Terus Kak Mario gimana ? " tanya Adinda spontan karena tak mengetahui duduk permasalahannya.
" Tolong jelasin sama Dinda ? Kenapa semuanya mendadak " sela Adinda kemudian sambil melihat ke arah Arjuna dan Pertiwi.
" Dinda... Nanti Mba cerita " ucap Kirana pelan.
" Ini sebenarnya ada apa sih ? Dulu perjodohan Dinda mendadak, sekarang Kak Tiwi juga mendadak mau nikah sama Kak Farhan " oceh Adinda.
" Dinda, kalau kamu tidak bisa diam. Sebaiknya kamu masuk ke kamar ! " seru Arjuna membuat Adinda seketika bungkam.
Zaid hanya memperhatikan sang istri yang merengut karena tak mendapati penjelasan apa pun.
" Kalian berdua mengerti ? " sambung Arjuna mengajukan pertanyaan kepada Farhan dan Pertiwi.
Keduanya mengangguk lemah, mereka tak lagi bisa menolak kendati telah menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Arjuna, Kirana juga Bunda Lia.
" Baiklah, sekarang kamu obati memar calon suamimu itu. Jangan sampai di hari pernikahan kalian, masih terlihat memar di wajahnya " titah Arjuna pada Pertiwi.
" Tiwi ada satu syarat bang... Tiwi minta pernikahan ini hanya dihadiri oleh orang-orang dekat saja, tidak perlu ada perayaan apa pun. Hanya akad nikah " pinta Pertiwi.
" Kamu yakin ? Kamu tidak khawatir Mario berbuat macam-macam ? " tanya Arjuna.
Pertiwi mengangguk.
" Lalu kamu Farhan, apa kamu setuju dengan permintaan Pertiwi ? " tanya Arjuna pada pria yang berada di samping Pertiwi.
" I... Iya, bang... " jawab Farhan pasrah.
" Bunda ada yang mau disampaikan ? " tanya Arjuna pada Bunda Lia.
" Kalian sudah dewasa, sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jalani kehidupan pernikahan kalian nanti dengan baik, kendati mungkin jalannya harus seperti ini. Kalian harus ingat bahwa pernikahan itu bukanlah permainan. Pernikahan itu ikatan suci. Jadi kalian harus belajar saling menerima kelebihan dan kekurangan kalian. Bunda hanya berharap, ini jalan yang paling baik. Semoga kalian berdua selalu dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan " tutur sang bunda.
Pertiwi hanya menunduk, apa yang ada dalam pikirannya tidak ada yang tahu. Begitu pula Farhan yang kini sibuk memikirkan masa depannya yang benar-benar diluar ekspektasi.
Adinda dan Zaid masuk ke dalam kamar setelah pembicaraan selesai. Zaid membaringkan tubuhnya di atas kasur, sementara Adinda memilih untuk duduk di tepi ranjang.
" Kalau tahu, Kak Tiwi gak jadi nikah sama Kak Mario. Harusnya dulu kak Tiwi aja yang dijodohin bukan Dinda " gerutu Adinda.
Zaid yang mendengar gerutuan sang istri, seketika bangun dan mendekati Adinda.
" Jadi kamu menyesal menikah dengan Mas ? " tanya Zaid.
" Eh... Bukan gitu, maksudnya... Aduh, gimana ya ini jelasinnya ? " ucap Adinda bingung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Zaid melengos lalu kembali berbaring sambil memunggungi Adinda.
Waduh... Ngambek deh.. Dasar nih mulut gak bisa diajak kompromi
Adinda berbaring di samping Zaid, lalu memeluk punggung suaminya itu.
" Mas... maafin Dinda. Dinda gak menyesal menikah sama Mas Zaid. Tadi itu karena spontan aja. Mungkin dulu kalau Kak Tiwi gak tunangan sama Kak Mario. Mas Zaid bakalan dijodohin sama Kak Tiwi... "
" Mas... Jangan ngambek dong. Dinda bingung tahu kalau Mas Zaid marah. Maas... " ucap Adinda sambil mengecup-ngecupi punggung Zaid.
Zaid segera membalik tubuhnya lalu mencium bibir Adinda tanpa ampun, bahkan ia tak melepaskan tautan bibirnya seandainya Adinda tak memukul dadanya karena kehabisan oksigen.
" Jangan pernah bicara seperti itu lagi, karena bagiku, siapapun yang dijodohkan kepadaku akan selalu ku tolak. Karena aku hanya mau kamu, bukan yang lain ! Apa anda mengerti Nyonya Zaid ? " tanya Zaid sambil menatap dalam mata sang istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Erina Munir
dinda ga nyadar2 aneh nih bocah
2024-01-01
1
Mamah Kekey
nikmat mna yg kau dustakan mas Zaid...🤭☺️
2023-12-14
1
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
cinta pada pandangan pertama
2023-10-22
3