Adinda dan Zaid masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan. Hal ini membuat Bu Sandra begitu bahagia. Ia memang tidak salah memilihkan Adinda untuk menjadi pendamping sang anak.
" Kalian sudah pulang ? " tanya Bu Sandra menghampiri Adinda dan Zaid.
Keduanya meraih tangan Bu Sandra lalu menciumnya dengan takzim.
" Iya, Bu... Sengaja Zaid pulang siang mau jemput Adinda soalnya " jelas Zaid.
" Jemput atau mata-matain ? " ucap sang ibu menggoda Zaid.
" Jemput bu " jawab Zaid
" Betul Dinda ? " tanya sang lbu menatapi Adinda.
" Betul bu, jemput... " jawab Adinda.
" Sambil mata-matain juga " sambung Adinda lagi lalu menutup mulut, selanjutnya gelakan tawa yang terdengar dari sang ibu mertua.
" Ibu kenapa ketawa begitu ? " tanya Zaid, matanya mendelik, ia mengetahui jika sang ibu menertawakan sikapnya.
" Gini nih, Dinda... Udah kelamaan jomblo. Giliran punya pasangan posesifnya bukan main " Sang ibu mengomentari sikap Zaid yang kini mulai hangat semenjak kedatangan Adinda.
Tentu saja, Adinda membawa angin segar dalam hidup Zaid. Lelaki yang biasanya jarang tersenyum itu, kini sudah mulai banyak tertawa. Sikap dingin dan kakunya berubah cair jika bersama Adinda. Sungguh, Bu Sandra mengakui jika bersama dengan Adinda hidup Zaid menjadi berwarna, tidak lagi datar dan tanpa tujuan.
" Ya, sudah kalian istirahat dulu saja " ingat Bu Sandra.
Zaid dan Adinda pun segera masuk ke kamar.
Adinda duduk di sofa sambil menonton televisi sedangkan sang suami tengah berganti pakaian. Setelah selesai, Zaid duduk di samping Adinda kemudian menempatkan kepalanya di atas paha Adinda lalu memejamkan matanya.
" Kak... Kalau ngantuk tidurnya di kasur " ucap Adinda.
" Aku maunya disini, biar deketan sama kamu... " ucap Zaid tanpa membuka kelopak matanya yang terpejam.
" Ih, pegel nih kak " rajuk Adinda tapi Zaid tetap di posisinya tak beranjak sedikit pun.
" Kak... Kak... " panggil Adinda namun Zaid tak memedulikan panggilan Adinda, ia sudah merasa nyaman saat ini.
" Idih, cepet amat tidurnya... ***** banget, nempel molor " gumam Adinda sambil mencoba menurunkan kepala Zaid dari atas pangkuannya.
Bukannya berhasil menurunkan kepala Zaid, alhasil Zaid malah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Adinda lalu mengeratkan pelukannya.
Ck... Modus ini mah...
" Kak... Tidurnya pindah ke kasur, Dinda pegel nih" Adinda merengut karena tak ada tanda-tanda jika Zaid akan membuka kelopak matanya.
" Kak... Kak... Iiih... " kesal Adinda sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Zaid lalu menepuk pipi Zaid.
Cup...
Zaid tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan segera ia menyambar bibir Adinda membuat Adinda membelalakkan matanya.
" Ih... Kak Zaid nih, curi kesempatan terus " gerutu Adinda sambil bangkit dari duduknya membuat Zaid terjengkang ke lantai.
" Aw... " pekik Zaid saat tubuhnya menyentuh lantai.
" Syukurin... Modus melulu sih " Adinda terkekeh tanpa rasa bersalah melihat Zaid terjatuh.
" Ih, dosa lho ngetawain suami, bukannya nolongin " cibir Zaid sambil mengangkat tubuhnya ke sofa.
Adinda mendekati Zaid lalu duduk kembali di samping sang suami.
" Uh... Sakit ya ? Mana coba yang sakit ? " ucap Adinda berbicara seperti pada Adam, keponakannya.
" Ini " ucap Zaid manja menunjuk punggung dan bokongnya.
" Sini, Dinda obatin biar sembuh " ucap Adinda sambil mengusap-usap punggung Zaid.
Zaid tersenyum samar, ia begitu bahagia dengan perhatian sang istri walaupun ia harus sedikit lebay untuk mendapat perhatian Adinda.
" Udah ah... Di medan perang berani, jatuh begini aja sakit. Lebay banget sih " ucap Adinda menghentikan gerakannya mengusap punggung Zaid.
" Ada satu perang yang belum berani aku hadapi "
Zaid memegang tangan Adinda yang tadi mengelus punggungnya.
Adinda mengerutkan kening.
" Apa kak ? " tanya Adinda penasaran.
" Perang di ranjang ngelawan kamu " bisik Zaid tertawa menyeringai.
Mendengar ucapan Zaid sontak Adinda membulatkan mata lalu menghadiahi pukulan di dada Zaid.
" Dasar kapten mesum " umpat Adinda sambil berjalan meninggalkan Zaid.
...******...
Satu bulan sudah Zaid dan Adinda resmi menjadi suami istri, mereka sudah lebih dekat dari sebelumnya. Adinda mulai terbiasa dengan kehadiran Zaid terlebih lagi Zaid selalu membuatnya nyaman terlepas dari sikap dinginnya di luar sana.
Walaupun sudah satu bulan berlalu sejak hari pernikahan, tetapi mereka belum juga melakukan ritual suami istri. Zaid begitu mendamba sang istri namun ia tak bisa memaksa. Ia ingin ketika mereka melakukannya, Adinda benar-benar siap seutuhnya menjadi istrinya. Bahkan Zaid sangat berharap jika Adinda bisa mencintainya.
Siang itu, Zaid sengaja menunggu sang istri di depan kampus. Tanpa seragam dinas, Zaid memakai celana panjang santai dengan kaos dan jaket membalut tubuhnya. Tak lupa ia mengenakan sneaker membuatnya terlihat atletis dan nampak lebih muda dari usianya. Senyuman menghiasi wajahnya dengan lesung pipi semakin menambah ketampanan seorang Zaid.
Zaid tersenyum saat melihat sang istri keluar dari kampus bersama dua orang temannya. Sang istri asyik tertawa bersama kedua temannya itu. Hingga akhirnya Adinda melihat ke arah Zaid, lalu melambaikan tangannya-
Adinda menghampiri Zaid, diikuti Caca dan Mayang yang terlihat terpesona melihat ketampanan makhluk ciptaan Tuhan di hadapan mereka. Wajahnya mirip Kapten Ri, salah satu tokoh utama di drakor favorit mereka.
Zaid mengelus rambut Adinda, menatap sang istri dengan mesra. Sejenak ia lupa, jika sang istri datang bersama 2 temannya.
" Kak, kenalin ini Caca sama Mayang. Temennya Dinda " ucap Adinda sambil menunjuk Caca dan Mayang.
" Hai, Kak... " sapa Caca dan Mayang melambaikan tangan.
Zaid hanya mengangguk, menanggapi dengan sikap dingin tentunya. Bagi Zaid sikap hangat hanya untuk sang istri tercinta.
" Jadi kalian temennya Dinda. Saya harap kalian bisa menjadi teman yang baik untuk Dinda. Saya percaya teman yang dipilih Dinda adalah teman yang baik " ucap Zaid datar dan kaku.
" Ca... Kakaknya Dinda kaku banget sih. Ganteng sih tapi nyeremin " bisik Mayang polos sambil bergidik.
" Iya, kok beda sifatnya ya sama Dinda " ucap Caca menanggapi ucapan Mayang.
Dinda tersenyum simpul mendengar bisik-bisik Mayang dan Caca.
" Ayo kita pulang. Kita ke rumah bunda " ucap Zaid meraih jemari Adinda.
" Beneran nih, Kak ? Kita mau ke rumah Bunda ? " tanya Adinda antusias.
" Iya, ayo... ! " seru Zaid hangat lalu menggandeng Adinda tanpa memedulikan kehadiran Caca dan Mayang.
" Gue balik duluan ya... Bye " pekik Adinda sambil melambaikan tangan kepada kedua temannya.
Caca dan Mayang saling berpandangan.
" Lo ngerasa aneh gak sih ? Kakaknya Dinda kok mesra banget ya sama Dinda. Cara dia mandang Dinda tuh beda " celetuk Caca heran.
" Masa sih ? Emang kayak gitu kali. Lo gak inget kalo Dinda pernah cerita kakaknya itu sayang banget sama dia " sahut Mayang cuek.
" Iya, kali ya... Ya udahlah kalo gitu kita pulang aja ! " timpal Caca.
" Tumben ngajak pulang cepet, biasanya nongkrong dulu nungguin si Rian " oceh Mayang.
" Rian ada rapat dulu sama anak-anak BEM " ucap Caca.
" Ya udah, ayo... Tapi makan dulu ya, laper nih " ucap Mayang sambil menunjuk perutnya.
" Dasar kentung, perasaan lapar mulu. Gimana mau kurus coba " ledek Caca.
" Yah, body shaming nih... " sahut Mayang mengerucutkan bibirnya.
" Sorry... Sorry... Gue traktir deh, jangan ambekan gitu dong. Entar cantiknya hilang lho "
" Bodo amat " timpal Mayang kesal sambil melangkahkan kaki menjauh dari Caca.
" Ya udah, kalo ngambek... Gue beli steaknya sendiri aja lah... " rayu Caca sambil menyusul Mayang.
Mayang menghentikan langkahnya lalu membalik badan.
" Oke gue maafin, tapi lo harus beliin gue steak, burger, milkshake sama boba " ucap Mayang.
" Itu ganti rugi apa kelaparan sih " oceh Caca lagi.
" Ini namanya curi kesempatan " sahut Mayang terkekeh.
" Iya, kesempatan dalam kesempitan " ucap Caca sewot.
Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan kampus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Pipit Msi Bancar
😂😂😂😂
2023-11-26
3
Lina ciello
wohhhh kapten ri 😎
2023-11-05
1
Wiwik Widyaningsih
ah kapten Rin... bunda Nova suka drakor juga nikh
2023-04-08
1