1 minggu setelah menikah, Adinda kini tinggal di rumah Zaid. Dan hari ini, Adinda akan kembali memulai kuliahnya setelah liburan semester.
Adinda telah siap berangkat dengan mengenakan kemeja dan celana jeans yang melekat di tubuhnya.
" Bu, Dinda berangkat ya " pamit Adinda sambil mencium tangan Bu Sandra.
" Hati-hati, ya sayang " ucap Bu Sandra pada menantu kesayangannya.
" Oh, iya... Kamu berangkat sama siapa ? " tanya Bu Sandra.
" Sama Zaid, Bu " jawab Zaid sambil mencium tangan sang ibu.
" Gak usah, Kak. Dinda pergi sendiri aja. Arah kampus sama kantor kak Zaid kan beda arah. Nanti malah terlambat datang ke kantor " kilah Adinda.
" Gak apa-apa. Ayo berangkat ! " ajak Zaid sambil berjalan mendahului Adinda.
Mau tidak mau Adinda mengikuti langkah sang suami menuju mobil.
Tidak ada obrolan yang tercipta dalam perjalanan mereka. Zaid fokus melajukan kendaraan, sedangkan Adinda sibuk memikirkan cara untuk menyembunyikan pernikahannya dari teman-temannya.
Mereka berdua kini telah sampai di depan kampus Adinda. Adinda melepas seat belt dan segera membuka pintu mobil. Tapi tangannya ditahan oleh Zaid.
Zaid meraih jari manis Adinda, lalu memasukkan cincin pernikahan mereka disana.
Adinda terlonjak kaget karena cincinnya ada di tangan Zaid, padahal jelas-jelas ia tadi menyimpannya di kotak perhiasan.
Zaid menatapnya dingin.
" Kamu hanya boleh melepasnya, saat nanti kita tak lagi bersama " ucap Zaid.
" Maaf, Kak... Dinda cuma..."
" Aku tahu, kamu tidak ingin pernikahan kita mengganggu kuliahmu. Karena itu, aku tidak melarang kamu melanjutkan kuliah. Aku hanya ingin, setidaknya kamu menghormati pernikahan ini walaupun kamu tidak pernah menginginkannya " ucap Zaid yang langsung menusuk hati Adinda.
" Bukan gitu, Kak... Dinda akui Dinda salah. Dinda sengaja lepas cincin itu. Bukannya Dinda gak menghormati pernikahan kita. Dinda cuma belum siap "
Zaid mengangkat tangannya meminta Dinda berhenti lalu membuka pintu mobilnya.
" Sudah siang, kita berdua bisa terlambat. Sebaiknya kamu cepat masuk ! " titah Zaid.
Adinda turun dari mobil dengan terpaksa dan setelahnya Zaid menutup pintu lalu melajukan mobilnya.
Adinda hanya menatap mobil yang dikendarai Zaid dengan kecepatan tinggi berlalu. Ada rasa bersalah di hatinya karena telah melukai perasaan sang suami.
Sementara Zaid melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas normal. Entah mengapa ia merasa kesal sendiri, terlebih saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Adinda sengaja menyimpan cincin kawin mereka ke dalam kotak perhiasannya bahkan tadi sang istri sempat menolak ia antar.
" Kenapa Dinda ? Kenapa kamu tidak ingin pernikahan kita diketahui teman-teman kamu ? " gumam Zaid.
Pikiran-pikiran buruk bersliweran di dalam kepala Zaid. Ia takut jika sang istri ternyata memiliki kekasih di kampus hingga tak ingin mempublikasikan pernikahan mereka kepada teman-temannya.
" S**t... " teriak Zaid memukul kemudi mobilnya lalu menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
Zaid mengusap kasar wajahnya, ia mengatur nafasnya yang menderu. Sungguh, ia tak bisa membayangkan jika apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan.
Zaid melajukan kembali mobilnya setelah menenangkan gemuruh rasa di hatinya. Ia akan kembali menjemput Adinda nanti siang. Bagaimana pun Zaid tak ingin kecolongan, ia tak akan membiarkan lelaki manapun mendekati Adinda apalagi merebutnya.
Adinda dan teman-temannya berkumpul di kantin kampus selepas mata kuliah mereka selesai. Nampak Adinda, Mayang dan Caca sedang duduk menikmati minuman boba sambil bersenda gurau.
Tak lama datang Rian dan Aldi bergabung bersama mereka.
" Hai cantik... " sapa Rian sambil duduk di samping Caca, kekasihnya.
Sementara Aldi duduk di samping Adinda. Adinda menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Aldi. Ia menjaga dirinya sebagai seorang istri agar tidak terlalu dekat dengan laki-laki lain.
" Ya ampun, Din... Gue samperin malah ngejauhin. Patah hati nih gue " celetuk Aldi, laki-laki tampan yang paling digandrungi mahasiswi di kampus.
" Ga usah deket-deket, entar wudhu gue batal " elak Dinda.
" Ya elah, belum juga adzan udah wudhu aja " sambar Rian.
" Bagus dong, kalau bisa jagain wudhu bisa masuk surganya duluan " sahut Dinda.
" Kalian ngapain sih kesini ? Gangguin kita tahu " celetuk Mayang.
" Dih, kangen yayang lah. Sirik amat lo. Makanya cari cowok sana " oceh Rian sambil mencolek pipi Caca.
" Habis liburan, tambah cantik aja sih Din " puji Aldi sambil menatap Adinda.
" Masa sih ? Gue mah dari orok juga udah cantik. Lo aja baru ngeh. Mau dikasih apaan sampai muji-muji gitu ? " ceroscos Dinda.
" Kalau gue minta hati lo, dikasih ga ? " tembak Aldi membuat mata Adinda membola.
" Terima " jawab Caca dan Mayang kompak.
" Engga " jawab Dinda yakin.
Caca dan Mayang langsung menatap Adinda tak percaya. Bahkan Caca langsung menepuk jidat saat mendengar jawaban Adinda.
Caca dan Mayang mengajak Adinda menjauh dari Aldi dan Rian.
" Ya ampun, Dinda... Kok ditolak sih...? " tanya Caca tak percaya.
" Orang gue gak suka " jawab Adinda enteng.
" Aduh, Din... Sadar woy... Yang lo tolak itu cowok paling keren di kampus, udah cakep, pinter, tajir... Terus suka banget sama lo. Sayang kalau ditolak tahu ! " omel Mayang sambil menepuk pipi Adinda berusaha menyadarkan sahabatnya.
" Kalau gue gak mau, masa harus maksa ? Udah ah, gue cuma anggap dia temen aja. Dari dulu gitu, gak lebih... " jawab Dinda santai.
" Kalau gue yang ditembak, gak bakalan nolak gue. Asli... " sahut Mayang heboh.
" Ya udah kalau gitu, buat lo aja Yang si Aldi " timpal Adinda tanpa beban.
" Kalau lo mah di tembak Din. Kalau gue mah ditolak " kilah Mayang terkekeh sendiri.
" Udah, ah. Gue pulang duluan ya ! " ucap Adinda menyudahi percakapan dengan dua temannya.
" Barengan aja, Din. Rumah kita kan searah, gue anterin " tawar Mayang.
" Gak usah, Yang. Lagian gue gak pulang ke rumah Bunda kok " ucap Adinda.
" Kalau gak pulang ke rumah bunda terus lo pulang kemana, Din ? " tanya Mayang lagi.
" Ke rumah su... " Dinda menghentikan ucapannya.
" Maksud gue pulang ke rumah saudara gue... " ucap Adinda sambil memperhatikan deretan gigi putihnya.
" Gue duluan ya, bye... " pamit Dinda lalu bergegas pergi.
Dinda sudah berada di depan kampus, tak lama sebuah mobil berhenti di depannya dan Aldi membuka pintu.
" Ayo, Din... Gue anterin ! " seru Aldi menghampiri Adinda.
" Gak usah, Al... Gue bisa pulang sendiri kok. Lagian udah pesan ojek on line " tolak Dinda.
" Udah cancel aja. Ayo gue anterin, lo mau ke mana ? " tanya Aldi lagi.
" Ehem... Dinda, ayo kita pulang " suara bariton terdengar dari arah samping.
Seketika Adinda menengok dan melihat jika sang suami kini berada tepat di sampingnya.
" Kak... " ucap Adinda kaget.
Aldi mengernyitkan keningnya saat melihat pria berpostur tegap dan mengenakan seragam dinas berdiri di samping Adinda sambil meraih tangan gadis pujaan hatinya.
" Sorry ya, Al. Gue balik sama Kak Zaid aja " ucap Adinda lalu berjalan dengan menarik tangan Zaid.
Adinda melepaskan tangan Zaid saat telah sampai di depan mobil Zaid.
" Ngapain kakak ke sini ? Memangnya udah jam pulang kantor ? " tanya Adinda heran.
" Memastikan kalau istriku tidak macam-macam " jawab Zaid menatap tajam Adinda membuat Adinda menelan salivanya susah payah.
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba kaca jendela mobil mereka diketuk dari luar. Zaid membuka kaca mobilnya dan nampaklah Aldi berdiri di samping mobil.
" Maaf kak... Ada yang ingin saya bicarakan dengan kakak. Bisa minta waktunya sebentar ? " tanya Aldi sopan.
Ya Tuhan... Cobaan apa lagi ini ??
Adinda mengurut pelipisnya, sementara Zaid menatap lelaki muda di hadapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Erina Munir
udh terus terang aja zaid...biar tau semua akhirnya
2023-12-31
1
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
dinda udah jd bini org aldi. wlupun msh bersegel
2023-10-22
3
Surianti Sofyan
harus,y dinda jg berterus terang aj sama teman teman,y takut,y nnt ada fitnah
2023-05-29
1