Adinda dan Zaid memasuki rumah. Terlihat sang bunda yang menyambut mereka. Zaid dan Adinda mencium tangan sang bunda lalu mereka duduk di sofa, sementara sang bunda meminta Bik Asih untuk menyiapkan minuman untuk anak dan menantunya ke dapur.
Adam berlari kecil menuju ruang tamu, bocah tampan itu terlihat amat bahagia melihat sang tante datang berkunjung.
" Tante Dinda " teriak Adam sambil merangkul Adinda.
Adinda menciumi Adam dengan gemas. Ia sangat merindukan keponakannya yang satu ini.
" Salim dulu sama Om Zaid " seru Bu Lia pada Adam yang segera dituruti oleh bocah tampan itu.
" Adek Laras mana ? " tanya Adinda pada Adam.
" Di kamar, lagi mimi susu " jawab Adam
Tak lama, Arjuna datang...
" Pantesan pada ngumpul disini. Juna datang ga ada yang nyambut " ucap Arjuna.
" Dari tadi, bro ? " tanya Arjuna pada Zaid sambil memeluk Zaid.
" Baru datang " jawab Zaid.
" Lusa jadi berangkat ? " tanya Arjuna lagi.
Zaid mengangguk mengiyakan.
" Berangkat kemana ? " tanya Adinda setelah mendengar ucapan Arjuna.
" Berangkat kemana, bang ? " tanya Adinda lagi menatap sang kakak.
" Emangnya Zaid belum cerita ? " Arjuna balik bertanya.
Adinda menggelengkan kepala, lalu menatap sang suami mengharapkan penjelasan.
" Nanti aku ceritain di rumah " jawab Zaid sambil tersenyum kepada sang istri.
Adinda mengangguk mengerti, lalu ia mengajak Adam menuju ke kamar sang kakak untuk melihat Laras.
Adam, Bu Lia, dan Adinda menuju lantai 2 untuk melihat bayi cantik kesayangannya. Sementara Zaid dan Arjuna pindah ke halaman belakang. Mereka berdua duduk di depan kolam ikan sambil mengobrol santai.
" Kamu sengaja cuti ? " tanya Arjuna.
" Iya, hari ini sama besok. Aku mau nemenin Adinda. Supaya gak kangen kalau nanti berangkat " jawab Zaid.
" Yakin si Dinda bakalan kangen ? Ada juga kamu kali yang kangen " sela Arjuna terkekeh pelan.
" Si*lan lo... Aku yakin dia bakalan kangen juga " jawab Zaid percaya diri.
" Gimana ? Udah berhasil ? " tanya Arjuna.
" Berhasil apa⁸ ? " tanya Zaid bingung.
" Ya elah, MP... Malam pertama " jawab Arjuna menaik turunkan alisnya.
Zaid terbatuk mendengar jawaban Arjuna.
" Gak usah bahas gituan " elak Zaid sambil meminum minuman yang sudah disiapkan Bik Asih di meja.
" Kamu masih nunggu Dinda siap ? " tanya Arjuna seperti dapat membaca pikiran Zaid.
Zaid menghela nafas lalu menghembuskannya.
" Aku hanya tidak ingin Dinda terpaksa. Aku tahu ia terpaksa menerima pernikahan ini. Aku berharap, ketika kami melakukannya kami sama- sama saling mencintai " jawab Zaid.
Arjuna menepuk pundak sahabatnya itu. Ia tahu perasaan Zaid kepada adiknya itu. Karena itu, ia merestui Zaid untuk menikahi Adinda. Ia tahu Zaid akan selalu menjaga Adinda, bertanggung jawab dan mencintai adik bungsunya yang manja.
" Sabar ya, Id... Aku tahu, cepat lambat Adinda akan mencintai kamu... " ucap Arjuna menenangkan sahabatnya.
" Berapa lama kamu disana ? " tanya Arjuna lagi.
" Sepertinya satu minggu. Dan setelahnya, aku akan cuti dan mengajak Adinda berbulan madu " jawab Zaid.
" Ok, ide bagus. Aku doain kamu berhasil cetak gol " kekeh Arjuna.
...******...
Zaid fokus mengendarai mobil, sementara Adinda terlelap tidur di samping Zaid. Setelah tadi asyik bermain dengan Adam dan Laras, Adinda nampak bahagia.
Zaid yakin jika Adinda akan menjadi ibu yang baik untuk anak mereka nanti. Zaid pun semakin yakin jika Adinda akan segera siap menjadi istri seutuhnya untuknya, setelah mendengar jawaban Adinda pada Adam.
Bocah tampan itu bertanya kapan Adinda akan segera memberikan adik kecil untuk teman bermain Laras, dan Adinda menjawab secepatnya.
Jawaban yang menurut Zaid menunjukkan jika Adinda akan segera siap untuk menjadi ibu dari anak-anak mereka.
Mobil Zaid telah masuk ke dalam halaman rumah setelah pagar dibuka oleh Pak Yusuf, security penjaga rumah keluarga Zaid.
Zaid melepaskan seat belt yang di tubuhnya lalu melepaskan seat belt Adinda. Zaid membuka pintu lalu menggendong Adinda menuju ke dalam rumah. Ia tak ingin membangunkan sang istri yang telah terlelap.
Zaid membaringkan Adinda di ranjang yang ada di kamar mereka. Ia membuka sepatu Adinda, lalu menyelimuti sang istri yang semakin lelap. Tak lupa ia mencium kening sang istri sebelum membersihkan diri dan berakhir dengan menyusul Adinda ke alam mimpi.
Adinda mengerjapkan matanya, tangannya meraih tangan Zaid yang melingkar di perutnya.
Adinda membalik badannya hingga berhadapan dengan Zaid.
Adinda mengamati wajah sang suami lalu menyentuh pipinya. Sejurus kemudian Zaid membuka matanya dan dengan segera Adinda menarik tangannya dari pipi Zaid.
" Pagi, sayang... " ucap Zaid sambil mencium pipi Adinda.
" Pa... Pagi... " ucap Adinda dengan wajah yang bersemu merah. Walaupun setiap pagi Zaid mencium pipinya namun tetap saja Adinda merasa malu sendiri.
" Tadi malam, Kak Zaid pasti gendong Dinda sampai sini ya " ucap Adinda lagi, berusaha untuk bangun.
Zaid menarik tubuh sang istri yang mulai menjauh hingga jatuh ke pelukannya.
" Aku mau peluk kamu dulu, jangan nolak " seru Zaid membuat Adinda diam dalam pelukan Zaid.
Adinda bisa mendengar degup jantung Zaid yang berdetak kencang. Sama halnya dengan jantungnya yang selalu bertalu-talu akan sikap Zaid yang begitu hangat dan manis.
" Kak... Sholat dulu, habis itu mandi. Kakak kan harus kerja " ingat Adinda.
" Hem... Hari ini aku mau temenin kamu, aku cuti " ungkap Zaid.
" Maksudnya gimana ? Kakak cuti mau temenin Dinda ? " tanya Adinda tak mengerti.
" Iya,,, Kamu gak mau aku temenin ? " tanya Zaid menatap mata Adinda.
" Hari ini, Dinda gak ada kuliah. Dosennya sakit jadi cuma dikasih tugas aja. Jadi Dinda gak pergi ke mana-mana " jelas Adinda.
" Kalau gitu, kita jalan-jalan aja. Pergi kencan berdua... " inisiatif Zaid.
" Kamu mau kan ? Sejak awal kita menikah, kita belum pernah kencan... " ucap Zaid lagi.
" Siap Kapten " jawab Adinda sambil menghormat pada Zaid.
Adinda dan Zaid berjalan-jalan di mall. Hari ini Zaid ingin memanjakan Adinda dengan mengajaknya jalan-jalan, berbelanja, nonton film dan berakhir dengan makan malam romantis.
" Dinda... Aku harus memberi tahu sesuatu " ucap Zaid setelah mereka selesai makan
" Apa kak ? Yang kemarin Bang Juna bilang itu ya ? " tebak Adinda.
" Hem... " jawab Zaid meraih jemari tangan sang istri lalu menciumnya seolah tak ingin melewatkan satu pun.
" Aku ada tugas mendadak... " ucap Zaid menjeda ucapannya.
" Kemana ? " tanya Adinda.
" Ke Bali, ada pertemuan pemimpin negara-negara dan aku salah satu yang mewakili untuk menjaga keamanan acara tersebut " jawab Zaid.
Adinda menatap wajah sang suami. Ia tahu jika Zaid berat meninggalkannya. Dinda meraih tangan sang suami lalu menggenggam erat jemari Zaid.
" Dinda tahu itu tugas penting. Dinda gak akan menghalangi pekerjaan kakak. Dinda paham, itu sudah tugas Kak Zaid. Dinda harap Kak Zaid bertugas dengan baik, selamat sampai nanti Kak Zaid kembali pulang. Dinda akan berdoa untuk keselamatan kakak dan akan selalu menunggu Kak Zaid kembali " ucap Adinda menenangkan hati Zaid.
" Terima kasih, kamu sudah mau mengerti dan mendukungku. Aku akan segera pulang sehat dan selamat " ucap Zaid semakin merekatkan tautan jemari mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Raden Ajeng Safitri
dimana2 bik asih selalu muncul ,,selalu dan selalu jadi art 😆😆😆
2023-11-20
4
Nasriati Bakri
kpn2 buat novel putra samudra thor
2023-09-21
1
Wiwik Widyaningsih
cieee... disangoni yo sblm berangkat
2023-04-08
1