Area dewasa, bocil di skip aja ya !!
Happy reading
💖💖💖💖💖💖
Zaid masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Adinda, duduk di ranjang berukuran King Size itu. Tak ada kalimat yang terucap dari mulut Zaid saat mereka masuk ke dalam kamar. Bahkan Zaid menepis tangan Adinda saat ia memegang tangan Zaid.
Adinda masih duduk mematung di tepi ranjang. Ia merasa sedih dengan perubahan sikap Zaid. Kini suaminya itu begitu dingin padahal tadi begitu mesra saat bertemu. Sungguh, Adinda merindukan suaminya yang hangat.
Zaid keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Adinda melihat perban di lengan kanan Zaid.
" Tangan kakak kenapa ? " tanya Adinda berjalan mendekati Zaid.
" Bukan apa-apa " jawab Zaid sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
" Kak Zaid marah sama Dinda ? Kalau kak Zaid marah ngomong kak... Jangan diemin Dinda kayak gini " ucap Adinda menatap sang suami.
Zaid tak bergeming.
" Kalau Kak Zaid marah, mending Dinda pergi aja. Buat apa Dinda disini... " rajuk Adinda berjalan menuju pintu.
Belum berhasil meraih handle pintu, dengan cepat Zaid memeluk sang istri.
" Maaf... Aku hanya emosi... Aku cemburu melihat kamu bersama Aldi. Aku cemburu melihat perhatiannya pada kamu " lirih Zaid tanpa melepaskan pelukannya.
" Aldi bukan siapa-siapa Kak... Kenapa Kak Zaid gak percaya sama Dinda ? " tanya Adinda dengan suara tertahan.
" Maaf... Aku terlalu mencintai kamu. Aku takut, kamu berpaling " lirih Zaid.
Adinda melepas pelukan Zaid, lalu menghadap sang suami. Adinda meraih wajah Zaid, menangkupnya lalu memberi kecupan singkat di bibir Zaid.
" Dinda gak semudah itu berpaling, Kak... "
Zaid menempelkan keningnya di kening Adinda.
" Kak Zaid gak percaya ? Dinda siap menjadi istri seutuhnya untuk Kak Zaid " ucap Adinda pasti.
" Kamu yakin dengan ucapanmu itu ? Kamu sudah siap ? " tanya Zaid meminta kepastian.
" Hem... Lahir batin, Dinda siap kak " jawab Adinda yakin.
Zaid meraih bibir mungil sang istri dengan lembut ia memberikan sentuhan dengan bibirnya hingga bibir keduanya saling mengecap, mel*mat satu sama lain. Membangkitkan gairah keduanya.
Zaid membawa Adinda menuju ranjang kemudian membaringkan sang istri, membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuh Adinda. Dan akhirnya terpampanglah pahatan indah ciptaan Sang Maha Pencipta di hadapannya.
Zaid memberikan ciuman kembali mulai dari kening, mata, hidung hingga kembali meny*sap benda tipis kenyal yang begitu menggoda.
Keduanya berkabut gairah, sentuhan Zaid memberikan gelanyar tak biasa yang membuat Adinda semakin mend*sah. Terlebih saat ciuman Zaid turun ke leher dan berhenti di gundukan yang menantang untuk didaki.
Zaid membuka tali pembungkus dan akhirnya ia bisa melihat dengan jelas gundukan padat dan kenyal milik Adinda dengan puncak berwarna merah muda. Zaid semakin berhasrat, ia meraih kedua gundukan kembar itu lalu memainkannya.
Tubuh Adinda menegang saat Zaid bermain dengan buah pribadinya. Leng*han dan d*sahan lolos begitu saja dari bibirnya.
Zaid membuka celana jeans milik Adinda serta membuka penutup inti yang senantiasa dijaga dengan sepenuh jiwa oleh sang pemilik raga. Sementara handuk Zaid entah sejak kapan terlepas dari pinggangnya menampakkan rudalnya yang siap bertempur mengobrak-abrik bunker Adinda.
" Kamu seksi, sayang " bisik Zaid membuat Adinda semakin merona.
" Kamu siap sayang ? " tanya Zaid sekali lagi sambil menatap wajah sang istri tercinta. Ia ingin memastikan jika Adinda memang ingin melakukannya.
" I... Iya, Kak... " ucap Adinda sambil menatap yakin pada Zaid.
Zaid bersiap menembakkan r*dalnya pada b*nker milik Adinda.
" Kak... "
" Kenapa ? " tanya Zaid dengan suara parau menahan deburan gairah.
" Pelan-pelan ya, Kak " ucap Adinda malu-malu mau.
Zaid tersenyum, lalu mengangguk.
Zaid menghentakkan r*dal miliknya ke dalam b*nker Adinda.
Adinda meringis menahan sakit saat kepala r*dal milik Zaid mulai memasukinya, bahkan terus menekan membuat pertahanannya runtuh dan r*dal Zaid telah sepenuhnya berada di dalam b*nker.
Zaid menghentikan gerakannya saat sang istri menitikkan air mata.
" Sakit ya ? " tanya Zaid dan dijawab dengan anggukkan oleh Adinda.
Zaid menyapu air mata di sudut mata sang istri dengan penuh rasa sayang. Lalu mencium kening sang istri dengan lembut.
" Kita terusin lagi ya sayang... Nanggung " ucap Zaid sambil mencium bibir sang istri membuat Adinda merasa rileks dan kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat terjeda.
Rasa sakit yang dirasakan Adinda kini berangsur menjadi rasa nikmat yang tiada duanya. Zaid semakin bersemangat saat Adinda mend*s*h seksi di bawah kungkungan tubuhnya.
" Kak... Dinda mau... " ucapan Dinda tersengal.
" Jangan ditahan, Dinda... Kita keluarin bareng " seru Zaid dengan nafas yang memburu.
Hingga tak lama, rudal Zaid pun meledak di dalam bunker Adinda. Membuat keduanya terbang dalam rasa nikmat yang tak pernah mereka kira, meraup bersama indahnya surga dunia.
Zaid ambruk di atas tubuh sang istri, kemudian bergeser ke samping lantas memeluk tubuh Adinda yang bermandikan peluh sama seperti dirinya.
Ternyata perang di ranjang itu melelahkan tapi juga menyenangkan.
Zaid menciumi pucuk kepala Adinda,
" Terima kasih sayang... sudah memberikan yang paling berharga yang kau miliki. Aku mencintaimu " ucap Zaid dengan lembut.
Adinda hanya mengangguk tak mengucapkan apa pun. Tubuhnya terasa remuk walaupun ia tak menampik jika apa yang mereka lakukan tadi begitu nikmat.
" Kak... " panggil Adinda sambil menghadapkan wajahnya melihat wajah Zaid.
" Hem... Kenapa mau lagi ? " goda Zaid.
" Ish... Kak Zaid ini " Adinda mengerucutkan bibirnya sambil memukul pelan dada bidang Zaid.
Zaid terkekeh melihat sikap sang istri lalu menyambar bibir Adinda dan mengecupnya membuat Adinda membalik badan memunggungi Zaid serta menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Dinda... " ucap Zaid.
" Hem... "
" Dinda... Bisa gak kamu jangan memanggilku kakak " ucap Zaid sambil membelai surau hitam milik Adinda.
" Emang kenapa kak ? " tanya Adinda mengernyit heran.
" Rasanya, seperti punya seorang adik bukan seorang istri. Lagipula, aku tidak mau orang-orang di luar sana mengira aku adalah kakakmu bukan suamimu " jawab Zaid.
" Kak Zaid kan seumur bang Juna. Jadi wajarlah mereka mikir kalau Kakak itu... " Adinda menghentikan ucapannya saat raut wajah Zaid berubah dingin.
" Terus maunya dipanggil apa ? " tanya Adinda sambil menyentuh pipi Zaid, berusaha agar sang suami tidak marah.
Zaid tak merespon sang istri. Adinda menghela nafas.
Repot nih kalau dibiarin terus... Dasar kolokan !
Cup
Satu ciuman mendarat sempurna di bibir Zaid.
" Jangan marah lagi, Mas Zaid sayang ! " rayu Dinda.
Zaid menatap Adinda dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
" Kenapa ? Gak suka ya kalau Dinda panggil Mas... Ya udah kalau gitu... "
Zaid balik menyambar bibir Adinda lalu mengecupnya sekilas.
" Mas... "
" Iya, sayang. Sebut lagi ! " seru Zaid.
" Mas Zaid, sayang... Suamiku tercinta " ucap Adinda lantang.
" Iya, istriku sayang... Ayo kita perang lagi " jawab Zaid yang tak ayal membuat Adinda membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Zaid mengecupi wajah Adinda lalu memulai kembali perang dengan sang istri karena rudalnya kini telah siap kembali untuk memborbardir bunker milik Adinda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Erina Munir
mantaab brooo
2023-12-31
1
Mamah Kekey
baru Nemu buas bener mas Zaid..🤭☺️
2023-12-14
1
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
rudal api bisa menghanguskan yg besar jdi kecil. tapi klu rudal air bisa menggembangkan yg kecil jd besar
2023-10-22
2