Zaid melirik istrinya yang tengah mengurut pelipisnya. Kemudian kembali melihat lelaki yang ada di samping mobilnya. Zaid berniat membuka pintu, namun Adinda dengan segera menahan tangan Zaid.
" Kita pulang aja, Kak " pinta Adinda tidak ingin menambah masalah. Cukuplah masalah cincin tadi pagi, ia tidak ingin Aldi bicara macam-macam dan membuat Zaid salah paham.
Zaid menatap Adinda kemudian melirik laki-laki yang bernama Aldi.
" Kamu bisa bicara disini, supaya semuanya jelas dan tidak ada yang disembunyikan " ucap Zaid tanpa mengalihkan pandangan dari wajah istrinya.
Aldi menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengatur nafasnya sebelum mengatakan sesuatu pada Zaid.
" Saya menyukai Adinda, saya meminta ijin pada kakak untuk membolehkan saya mendekati Adinda " ucap Aldi terus terang.
Mata Adinda membola seiring ucapan Aldi kepada Zaid. Sementara Zaid menyeringai. Rupanya laki-laki ini menganggapnya kakak dari Adinda.
Mau mendekati istriku ? Jangan mimpi kamu, anak muda !
Zaid memicingkan matanya,
" Kau menyukai Adinda ? Lalu apa Adinda juga menyukaimu ? " tanya Zaid mencoba bersikap tenang.
Aldi menatap gadis pujaannya yang hanya diam di samping Zaid.
" Saat ini, Adinda belum menyukai saya. Tapi saya akan berusaha membuatnya menyukai saya " ucap Aldi yakin.
Adinda memelototkan matanya pada Aldi.
Dasar Aldi... Ngapain sih harus ngomong itu sama Kak Zaid. Bakalan panjang nih urusannya...
keluh Adinda dalam hati.
" Aku akui keberanianmu. Tapi untuk urusan perasaan aku menyerahkan sepenuhnya pada Adinda. Biar dia sendiri yang memutuskan " ucap Zaid melirik istrinya yang terlihat menekuk wajah.
" Ada lagi yang ingin kamu sampaikan ? " tanya Zaid kembali.
Aldi menggeleng lalu menatap pada Adinda yang kini hanya menyenderkan kepalanya pada bantalan jok mobil tanpa melihat ke arahnya.
" Baiklah, kalau begitu ada yang ingin kamu sampaikan Dinda ? " tanya Zaid pada sang istri dengan tatapan yang tak bisa dimengerti.
Pertanyaan Zaid sontak membuat Adinda mengangkat kepalanya, lalu menggelengkan kepala.
" Terima kasih sudah berterus terang.Jika tidak ada lagi yang akan disampaikan kami permisi pulang " ucap Zaid lalu menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Aldi yang masih menatap kepergian Adinda.
Hening...
Tak ada satu kalimat pun yang lolos dari bibir Adinda. Begitu pula dengan Zaid, ia begitu kesal hingga malas membahas masalah Aldi dengan Adinda.
" Berhenti, Kak ! " seru Adinda saat Zaid melewati jalan yang sepi.
Zaid menepikan mobilnya, lalu menatap istrinya itu.
Adinda berusaha keluar, namun Zaid mengunci pintu.
" Bukain pintunya, kak " pinta Dinda menarik tuas pintu.
" Kalau aku buka, kamu mau apa ? Mau meminta bantuan temen kamu tadi ? " sinis Zaid.
" Aku sama Aldi gak ada hubungan apa-apa. Kak Zaid dengar sendiri dari mulut Aldi tadi " jelas Adinda.
" Belum Dinda, bukan berarti tidak akan ada apa-apa " sahut Zaid curiga.
" Jadi, Kak Zaid berharap aku sama Aldi ada hubungan, gitu kak ? "
" Sebelum aku menikah dengan Kak Zaid, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Aldi atau laki-laki mana pun. Apalagi setelah kita menikah, mana mungkin aku berhubungan dengan laki-laki lain " beber Adinda menumpahkan keluh kesah yang ditahannya sejak tadi.
" Kak Zaid pikir, Dinda perempuan macam apa ? Hanya karena tidak memakai cincin kawin, Kakak pikir Dinda tidak menganggap pernikahan kita ada ? " cecar Adinda.
Zaid terdiam mendengar perkataan Adinda. Rasa cemburu dan takut kehilangan Adinda telah membuatnya tak bisa berpikir jernih malah berpikir macam-macam.
" Maaf... " satu kata lolos dari bibir Zaid membuat Adinda terlonjak tak menyangka laki-laki di sampingnya ini bisa mengucapkan kata itu dalam waktu singkat.
" Maaf untuk apa kak ? "
" Maaf karena telah berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya... Hanya takut kamu berpaling, takut kamu akan lebih nyaman dengan yang lain. Dan takut kamu tak akan pernah bisa menerima pernikahan ini " ucap Zaid, sebisa mungkin menurunkan emosinya.
" Dinda yang harusnya minta maaf, Kak. Sebagai seorang istri Dinda belum bisa memenuhi kewajiban Dinda " lirih Adinda.
" Masalah cincin, tidak apa kalau kamu tidak ingin memakainya ke kampus " ucap Zaid berlapang dada.
Dinda menggelengkan kepalanya.
" Dinda gak akan lepas lagi cincinnya. Dinda janji akan selalu memakainya, ini bukti kalau Dinda menerima pernikahan kita " ucap Dinda tulus.
" Dan masalah Al... ? "
" Dinda sama Aldi gak ada hubungan apa-apa. Mungkin Aldi suka sama Dinda tapi Dinda cuma anggap Aldi temen sama kayak yang lain. Kalau Dinda ada hubungan sama dia, udah dari dulu aja Dinda jadian terus Dinda kabur aja waktu... "
Cup, sebuah kecupan singkat mendarat sempurna di bibir Adinda membuat si empunya langsung terdiam sembari memegang bibirnya.
" Itu hukuman karena kamu banyak bicara. Jangan pernah berpikir untuk lari dari sisiku Nyonya Zaid " ucap Zaid sambil merapikan anakan rambut istrinya dan menyematkannya ke belakang telinga sang istri.
Zaid menyandarkan tubuhnya pada jok mobil. Sejenak ia menenangkan debaran jantungnya yang berpacu cepat saat ia memberanikan diri mencium bibir sang istri saat ia sadar. Karena Zaid sering kali mencuri ciuman Adinda saat sedang tertidur.
Adinda masih terdiam, tubuhnya terasa kaku. Hentakan di dadanya terasa begitu kuat bertalu. Darahnya berdesir sementara nafasnya berhembus tak beraturan.
Zaid kembali menangkup wajah Adinda, menatap sang istri yang sepertinya masih shock dengan apa yang dilakukannya tadi.
Zaid tersenyum simpul,
" Jadi aku yang pertama ? " tanya Zaid menatap lembut Adinda.
" A... Apanya ? " Adinda balik bertanya, ia tengah berusaha menetralkan gejolak rasa di hatinya.
Zaid menyentuh bibir Adinda dengan jarinya.
" Ini... " ucap Zaid lalu kembali menyesap bibir Adinda dan sedikit menahan tengkuknya sehingga ia bisa menikmati bibir sang istri lebih lama.
Adinda tak menolak perlakuan Zaid padanya. Bahkan ia terkesan pasrah atas apa yang Zaid lakukan. Hingga kemudian Adinda mendorong dada Zaid hingga ci*man mereka terlepas.
" Jangan disini, Kak... Nanti ada yang lihat " ucap Adinda dengan wajah memerah menahan malu.
" Berarti di rumah boleh ? " goda Zaid dengan menaikkan sebelah alisnya.
" Eh, itu... "
" Aku akan selalu menunggumu siap melakukannya " potong Zaid sambil membelai pipi mulus Adinda.
" Kak Zaid udah gak marah ? " tanya Adinda hati-hati.
" Marah ? Sama kamu ? Mana mungkin aku bisa marah. Sudah ku katakan jika aku hanya takut kehilangan kamu " jawab Zaid serius.
" Kalau begitu, cobalah mempertahankan Dinda dengan segala yang Kak Zaid bisa... Dan Dinda akan selalu ada untuk Kak Zaid " ucap Adinda.
Zaid tersenyum mendengar ucapan Adinda. Lesung pipi menghiasi wajah tampannya. Ia semakin yakin bisa memenangkan hati sang istri. Bahkan Zaid merasa jika sang istri telah membuka hati untuknya.
Adinda memandangi wajah sang suami. Dalam hatinya ia bersyukur mendapatkan suami seperti Zaid. Walaupun terkadang kaku dan dingin tetapi ia dewasa serta pengertian. Terlebih lagi, Adinda bisa merasakan jika Zaid begitu mencintainya. Mungkin saat ini telah tumbuh benih-benih cinta di dalam hatinya. Hanya saja, Adinda belum menyadarinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Ara Dhani
itulah klu pernikahan di sembunyikan
2023-12-19
1
NpScr EH
namanya Zaid tapi aku bacanya zet🤣🤣🤣
2023-12-02
2
Raden Ajeng Safitri
Dinda yang dikecup,,jantung ku yg melompat2 DRA tempatnya,, haduh thoooor,,tanggung jawab y kamu thor
2023-11-20
2