Adinda duduk bersama Kirana dan juga kedua keponakannya yang lucu di bale-bale. Mereka menemani suami mereka yang sedang asyik memancing.
Sementara Ibu Sandra dan Bunda Lia lebih memilih berada di dalam vila ketimbang menemani anak dan menantunya di kolam ikan.
Mereka berdua kini sibuk mempersiapkan barang-barang bawaan mereka karena akan pulang setelah makan malam.
Adinda memerhatikan sang suami dan sang kakak yang tampak akur dan kompak.
" Kenapa, Din ? " tanya Kirana menegur Adinda.
" Gak apa-apa, mba... Cuma gak nyangka aja kalau Dinda bakalan nikah sama sahabatnya Bang Juna " ucap Adinda tersenyum simpul.
" Yang namanya jodoh, rejeki, umur... Gak ada yang tahu... " ucap Kirana menepuk bahu Adinda.
Adinda menatap wajah teduh kakak iparnya itu. Wanita cantik dan sholehah. Itulah penilaian Adinda pada Kirana. Dan Adinda begitu beruntung mendapatkan kakak ipar yang sangat mencintai keluarganya.
" Kok lihatin Mba kayak gitu sih ? Ada yang salah ya sama mba ? " tanya Kirana heran dengan tatapan Adinda pada dirinya.
Adinda memeluk Kirana yang tengah menggendong Laras, membuat bayi lucu itu mengerjap namun kembali tertidur setelah ditimang Kirana.
" Maaf ya mba " ucap Adinda nyengir.
" Dinda sayang sama Mba Kirana, Dinda bahagia karena Bang Juna gak salah pilih istri " tambah Adinda satu tangannya memeluk leher Kirana dan tangan lainnya mencubiti pipi Laras yang chubby.
" Hei... Istri sama anak abang jangan diapa-apain. Awas ya kalau kenapa-napa " teriak Arjuna dari sisi kolam.
" Biarin, mau Dinda culik biar abang kesepian " sahut Adinda cuek.
" Nih... Suami kamu aja yang diculik. Culik di dalam kamar, pasti betah dia " timpal Arjuna sambil tertawa.
Adinda memutar bola matanya dengan malas, sementara sang suami terlihat menyikut perut Arjuna.
" Kak Tiwi kenapa gak ikut, Mba ? Biasanya kalau mau healing suka ikutan nyusulin sama Kak Mario " tanya Adinda penasaran.
" Iya ya... Kemarin pas diajakin katanya mau nyusul nunggu Mario dulu. Tapi sampai sekarang kok gak sampai-sampai " jawab Kirana heran.
" Nanti malah kita keburu pulang deh " tambah Kirana lagi.
" Lho, memangnya Mba mau pulang sekarang ? " tanya Adinda.
" Iya, semuanya pulang nanti malam. Kecuali kamu sama Zaid " jawab Kirana.
" Ih, kok gitu sih. Kan baru datang kok mau pulang aja sih. Gak seru deh ! " Adinda mengerucutkan bibir.
" Kita semua gak mau ganggu kamu sama Zaid. Kemarin cuma mau mastiin aja kalau kalian baik-baik aja karena kemarin Zaid khawatir banget pas nyusulin kamu ke rumah. Terus Bu Sandra nawarin kita semua datang kesini sekalian ngecek kalau kalian baik-baik aja. Dan memang kalian baik-baik aja. Malah jauh lebih baik sih kelihatannya " jelas Kirana mengulum senyum.
Adinda tersipu mendengar ucapan sang kakak ipar.
" Mba masuk ke dalam ya, mau tidurin Laras " pamit Kirana.
" Dinda ikut deh Mba... Ngapain cuma lihatin orang mancing " ucap Adinda lalu mengekori Kirana sambil mengajak Adam untuk ikut masuk.
" Udah gak usah dilihatin terus si Dinda. Entar malem lo kekepin aja si Dinda sepuasnya, jangan kasih kendor ! " goda Arjuna saat Zaid memperhatikan Adinda masuk ke dalam vila.
" Apaan sih ? " elak Zaid dengan senyum samar.
" Tangan kamu udah mendingan ? " tanya Arjuna sambil melirik lengan kiri Zaid yang terluka.
" Ya, beruntung hanya luka gores... " jawab Zaid.
" Musibah membawa berkah itu namanya, Id " ucap Arjuna sambil menarik kail pancingnya dan ia berhasil medapatkan ikan.
" Maksudnya ? " tanya Zaid tak mengerti dengan ucapan Arjuna.
Arjuna melepaskan ikan tangkapannya ke dalam jaring lalu menaruh umpan pada mata kailnya dan melemparkan kail kembali ke tengah kolam.
" Kamu kena luka gores itu namanya musibah. Tapi lihat sisi lainnya kamu kan dapet berkah. Bisa pulang duluan, udah gitu bisa enak-enak sama adik gue " ceroscos Arjuna sambil tertawa.
Zaid hanya berdecak mendengar ucapan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
Bener juga sih si Juna... Semua pasti ada hikmahnya... !
Zaid tersenyum sendiri.
" Kenapa senyam senyum gitu, Id ? Lo Pengen lagi kan ? " tebak Arjuna menggoda Zaid kembali.
" Iya, pengen banget ninggalin kakak ipar yang mulutnya gak ada rem kayak lo " sungut Zaid.
" Eh... Jadi adik ipar tuh sopan dikit sama kakak ipar. Gue pisahin dari Adinda tahu rasa " ancam Arjuna sambil terkekeh.
" Coba aja kalau berani " sewot Zaid.
Tak lama mereka tertawa bersama. Kebersamaan mereka memang sudah ada sejak kecil sehingga membuat mereka tak segan dan canggung satu sama lain. Selain itu mereka selalu saling melindungi satu sama lain.
*
*
" Lho, Kak Tiwi baru datang " ucap Adinda saat membuka pintu.
" Iya nih, banyak kerjaan. Makanya baru bisa nyusul sekarang " jawab Pertiwi dengan wajah kusut dan lelah.
" Kalau begitu, saya permisi pulang, Dok " ucap pria yang datang bersama dengan Pertiwi.
Adinda mengamati pria dengan tubuh tinggi dan berwajah tampan tersebut. Pria yang baru kali ini dilihatnya bersama sang kakak.
" Iya, makasih ya Han udah mau anterin saya " jawab Pertiwi.
" Tunggu, kakak nya gak mau masuk dulu ? " tanya Adinda.
Pertiwi menatap Adinda dengan curiga. Ia tahu jika Adinda pasti akan menginterogasi pria yang datang bersamanya itu. Apalagi jika Arjuna datang, maka urusan akan semakin panjang.
" Saya langsung pulang saja, dek. Permisi ! " pamitnya lalu membalik badan.
" Eh, Han... Kamu bawa mobil saya aja. Besok mobilnya kamu bawa ke Rumah Sakit " seru Pertiwi sambil menyodorkan kunci mobil.
" Siapa, wi ? " tanya Bunda saat melihat Pertiwi memberikan kunci mobilnya.
" Temen, Bunda... Tadi Tiwi dianterin kesini sama Farhan. Makanya Tiwi suruh Farhan bawa mobil Tiwi. Kan tadi Farhan yang sopirin Tiwi. Kasian kalau Farhan harus naik kendaraan umum. Disini kan jauh... " jelas Tiwi.
" Suruh masuk dulu, temen kamu itu ! Kasihan baru datang sudah mau pulang. Dia sudah cape lho anterin kamu kesini " seru Bunda Lia.
" Tidak usah, Bu. Saya langsung pulang saja " tolak Farhan.
" Masuk, nak... Terima kasih sudah mau anterin Tiwi kesini. Lagi pula, kami juga mau pulang kok sebentar lagi. Jadi bisa sekalian pulang bareng Tiwi " ucap sang Bunda.
Tiwi menganggukan kepalanya, memberi tanda pada Farhan agar ia mengikuti kemauan ibunya.
Farhan duduk di sofa ditemani oleh Adinda dan Pertiwi
Farhan tampak tenang, walaupun Adinda bertanya macam-macam tentangnya.
" Kakak sudah lama kenal kak Tiwi ? " tanya Adinda sambil mengamati Farhan.
" Baru beberapa bulan, dek. Soalnya saya pegawai baru di Rumah Sakit " jawab Farhan lugas.
" Kakak kerja di bagian apa ? " selidik Adinda kemudian.
" Saya kebetulan bagian keamanan, dek " jawab Farhan tak ambil pusing.
" Kok bisa antar kak Tiwi, padahal kak Tiwi kemana-mana diantar kak Mario. Kakak tahu kan kalau Kak Tiwi itu tunangan dokter Mario ? " tanya Adinda kembali.
" Pertanyaan apa sih itu ? Ya jelaslah Farhan tahu. Di Rumah Sakit semua tahu " jawab Pertiwi.
Farhan melirik ke arah Pertiwi, tak lama ia menjawab pertanyaan yang diajukan Adinda.
" Saya tahu dokter Pertiwi adalah tunangan dokter Mario. Saat ini, dokter Mario sedang tidak ada di tempat. Saya mengantarkan dokter Tiwi karena sejak semalam dokter Tiwi merasa tidak enak badan karena itu saya berinisiatif untuk mengantarkan dokter Tiwi. Saya tahu batasan saya dalam menjaga hubungan dengan orang lain " jawab Farhan dengan cerdas.
Pertiwi mengembus nafas dengan lega, bersyukur karena Farhan tidak mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Erina Munir
wahh...jangan2 ada sesuatu nih sama mario n tiwi...
2023-12-31
1
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
ada ikan dibalik pancing kyknya
2023-10-22
3
dee_an
wah2 ada apa ini antar Mario + Farhan Dan Tiwi ??
Ada cinat segitiga kah. Ada yg Selingkuhkah si Marionya atau Tiwinya ?
2023-10-20
1