Pandangan matanya tak berkedip saat melihat dokter cantik yang berdiri di hadapannya itu.
" Hai, apa kamu tidak mendengar ? " tanya sang dokter sambil menatap pria yang berdiri mematung di hadapannya.
Satu tepukan di bahu menyadarkan sang pria.
" Maaf dok, rekan saya ini baru mulai kerja hari ini. Jadi masih bingung " salah satu rekannya menjelaskan.
" Oh begitu, ya sudah. Tolong bawakan ke mobil saya, ya " pinta sang dokter sopan sambil memberikan satu box obat-obatan kepada salah satu security.
" Baik, dok ! " ucapnya sopan.
Dokter cantik itu kemudian berlalu diikuti oleh salah seorang security yang berjaga di depan pintu masuk IGD.
Selang beberapa menit, nampak security tadi kembali dengan membawa beberapa bungkus makanan.
" Nih, jatah kamu dikasih dokter Tiwi " ucapnya sambil memberikan sebungkus makanan yang dibawanya, sementara makanan yang lainnya dia taruh di atas meja.
" Dokter Tiwi ? " tanya Farhan, security yang baru saja bekerja.
" Iya, yang tadi bikin kamu terpesona itu namanya Dokter Pertiwi " jawab Didit, rekannya.
Farhan manggut-manggut.
" Cantik ya, baik lagi. Sayangnya dia udah ada yang punya " ucap Didit tersenyum kecut.
" Dokter cantik begitu, gak mungkin nganggur kali Bang " celetuk Farhan.
" Iya, bener Han. Yang naksir sama dia mah banyak. Tapi yang beruntung ya Dokter Mario, anaknya Dokter Harun, Direktur Rumah Sakit ini. Denger-denger sih mereka udah mau nikah tahun depan. Jadi, kamu jangan berharap lebih lah. Ya, meskipun muka kamu lebih ganteng sedikit dari tunangannya Dokter Tiwi, tapi sadar diri aja. Level kita mah gak sebanding sama dia " ucap Didit terkekeh.
Farhan mengulum senyum.
Sepertinya, aku harus mendekatinya untuk menyelidiki semuanya.
...****************...
Marko Farhandika Adijaya, atau orang-orang lebih mengenalnya sebagai Farhan, security baru di Rumah Sakit tempat Pertiwi bekerja.
Semua orang mengenalnya sebagai seorang security, tapi sebenarnya ia adalah seorang pengusaha muda yang sukses dalam bisnis.
Ia adalah anak dari Tuan Esa Adijaya, pemilik Rumah Sakit tempat Pertiwi bekerja. Farhan dibesarkan di Singapura, karena sang ayah memilih negara tersebut untuk memperluas usaha dan meninggalkan Indonesia.
Farhan kembali ke Indonesia, karena ia membuka cabang perusahaannya di Indonesia. Selain itu, ia juga ingin mempertahankan Rumah Sakit milik sang ayah agar tidak dimiliki oleh pihak lain.
Ia tahu jika Rumah Sakit ini, kini tengah diincar oleh Dokter Harun, orang kepercayaan sang ayah sendiri. Dokter Harun ingin membeli 20% saham dari 60% saham milik sang ayah. Awalnya sang ayah berniat menjualnya karena berdasarkan laporan keuangan Rumah Sakit tersebut tidak profit. Namun Farhan berhasil membujuk sang ayah agar tidak menjualnya.
Karena itu, Farhan membuka cabang perusahaannya di Indonesia dan bersedia menyamar sebagai security di Rumah Sakit untuk mengetahui kebusukan dari Dokter Harun.
Farhan tahu jika orang kepercayaan sang ayah itu menyelewengkan dana Rumah Sakit. Ia kini berusaha mencari bukti kuat untuk membuka mata sang ayah agar tidak memercayakan Rumah Sakit kepada Dokter Harun.
Dan ia tahu harus memulai darimana. Di mulai dari mendekati Pertiwi. Sebagai tunangan dari anak Direktur Rumah Sakit, tentunya akan banyak informasi yang bisa diambil.
Tidaklah sulit bagi Farhan untuk mendekati Pertiwi, kendati ada batasan yang ia jaga. Ia sepenuhnya tahu jika ia tak bisa merusak kebahagiaan orang lain kendati tak bisa dipungkiri jika ia tertarik terhadap Pertiwi. Dokter cantik yang ramah dan juga baik hati.
Farhan menjadi lebih dekat dengan Pertiwi, dimulai saat mereka terjebak di dalam lift yang macet. Saat itu, Pertiwi sedang dinas malam dan ia visit dari ruangan rawat pasien. Saat itu pukul 01 dini hari, perawat di ruangan memanggilnya yang saat itu tengah bertugas sebagai dokter jaga. Ada seorang pasien yang mengalami sesak nafas setelah sebelumnya mengeluh sakit di bagian dada sebelah kiri.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan penanganan pasien, Pertiwi kembali ke ruang IGD. Pertiwi menekan tombol lift untuk kembali ke lantai 1, pintu lift terbuka kemudian Pertiwi masuk ke dalam. Saat pintu lift akan tertutup, ada yang menahan lift dan segera masuk ke dalam lift. Orang tersebut adalah Farhan.
" Dokter habis visit ? " tanya Farhan sopan saat melihat Pertiwi di dalam lift.
" Iya, tadi dipanggil suster, ada yang butuh penanganan " jawab Pertiwi apa adanya.
" Kamu dari mana ? " tanya Pertiwi karena biasanya Farhan bertugas di IGD.
" Habis keliling, Dok. Giliran " jawab Farhan.
Tiba-tiba lampu di dalam lift berkedip dan tak lama kemudian lampu mati begitu juga dengan lift yang berhenti bergerak. Farhan segera menyalakan senter yang ia bawa agar ada penerangan. Farhan dapat melihat raut wajah Pertiwi yang memucat.
" Tenang, Dok... Saya akan meminta bantuan " ucap Farhan sambil mendekat ke tombol lift dan menekan tombol darurat.
Pertiwi hanya menganggukkan kepala. Entah mengapa rasanya begitu sesak dan ia merasakan kedinginan padahal ac di dalam lift tidak menyala karenan lift mati.
" Dokter baik-baik saja ? " tanya Farhan. Ia merasa khawatir dengan keadaan Pertiwi.
Pertiwi meraih lengan Farhan lalu memegangnya dengan erat.
Menyadari wanita di sampingnya itu ketakutan, Farhan memberanikan diri mengelus tangan Pertiwi yang dingin dan berkeringat.
" Kita akan baik-baik saja, dokter... Percaya sama saya " Farhan menenangkan Pertiwi.
" Percaya sama Tuhan, bukan kamu " sahut Pertiwi mencoba melawan rasa takutnya.
Farhan tertawa mendengar jawaban Pertiwi.
" Ish, kamu malah ketawa sih " decak Pertiwi.
" Habis, dokter itu lucu. Saya kan cuma mau nenangin dokter aja... " sahut Farhan.
Farhan mengajak Pertiwi untuk duduk di lantai lift. Ia juga meminta Pertiwi mengatur nafasnya.
Lift sedikit begerak namun sesaat kemudian berhenti kembali.
Pertiwi mengeratkan pegangannya di lengan Farhan.
" Gimana kalau liftnya jatuh " lirih Pertiwi.
" Paling jatuh ke bawah, dok " canda Farhan.
" Kamu tuh, keadaan kayak gini masih bisa bercanda " sahut Pertiwi.
" Dari pada stress, dok... " timpal Farhan asal.
" Lagian saya seneng, Dok. Karena kalau pun jatuh, saya jatuh berdua sama dokter " ucap Farhan cuek.
Pertiwi mencubit lengan Farhan lalu melepaskan pegangannya.
" Percuma jatuh berdua kalau akhirnya mati " timpal Pertiwi kesal.
Farhan menahan tawa, tak lama lampu lift akhirnya menyala. Saking gembiranya, Pertiwi memeluk Farhan.
" Eh... Maaf ya, Han " ucap Pertiwi lalu melepaskan pelukannya dari Farhan.
Dasar bodoh... Maen peluk-peluk aja !
Pertiwi merutuki kebodohannya.
Farhan hanya tersenyum simpul dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dalam hati ia merasa beruntung karena bisa dekat dengan Pertiwi. Entah karena merasa rencananya selangkah lebih maju atau karena ada perasaan lain yang ia rasakan kepada Pertiwi, si dokter cantik.
Tiing...
Lift berhenti di lantai 1. Setelah pintu lift terbuka, keduanya segera keluar dari lift. Pertiwi kembalinke ruangannya, begitu juga dengan Farhan yang kembali ke posisinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Erina Munir
bner juga kan ada sesuatu....bahaya nih klo dri ortunya udh ketauan ga jujur takut efeknya k anaknya....bisa ikut2 ga jujur...semuanyakan dri sebab akibat ....bner ga thor...
2023-12-31
1
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
kan benar bukan org smbarangan
2023-10-22
3
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
dr mn hoyang haya dan gedongan
2023-10-22
1