Arjuna dan Adinda segera berlari menuruni tangga. Di lantai bawah nampak Pertiwi juga Kirana tengah menunggu sang Bunda yang terbaring di sofa.
" Abang... Tolong bawa Bunda ke kamar " seru Pertiwi. Ia bergerak mengambil steteskop yang ada dalam tas praktiknya.
Arjuna membawa sang bunda ke kamar lalu membaringkan sang bunda di ranjangnya.
" Kenapa bisa begini ? " tanya Arjuna pada Kirana.
" Tadi, ibu mengeluh pusing Mas, tadinya bunda mau susulin mas Juna ke kamar Dinda tapi baru aja berdiri dari kursi, bunda langsung pingsan " jelas Kirana pada sang suami.
Pertiwi segera memeriksa sang Bunda.
" Tensinya tinggi, 170/100... Sepertinya bunda terlalu banyak pikiran, makanya hipertensinya kambuh " jelas Pertiwi melepas alat pemeriksa tekanan darah.
Adinda menatap sang Bunda yang terbaring lemah di atas ranjang dengan wajah yang sedikit pucat. Wajah cantik yang mulai menua termakan usia. Timbul rasa bersalah di hati Adinda. Apa yang terjadi pada sang bunda saat ini karena ia bersikeras menentang perjodohan ini. Adinda tidak ingin kehilangan orang tua lagi. Cukuplah ia kehilangan sang ayah saat masih anak-anak dulu.
Adinda tidak ingin sang Bunda meninggalkannya sebelum ia berbakti kepada satu-satunya orang tua yang tersisa.
" Bunda, bangun... Dinda minta maaf... " ucap Adinda duduk di samping sang Bunda lalu meraih tangan sang bunda dan menciuminya.
" Maafin Dinda, Bunda... " lirih Adinda lagi.
" Sudah, Dinda... Biar bunda istirahat dulu ya " ucap Kirana sambil menepuk bahu Adinda.
Bu Lia membuka matanya, membuat Adinda yang duduk di sampingnya bernafas lega.
" Bunda udah bangun ? Maafin Dinda ya Bunda... Dinda janji nurutin maunya Bunda. Dinda terima perjodohan dengan Kak Zaid. Asal Bunda jangan sakit lagi ya... Dinda gak mau Bunda tinggalin Dinda " ucap Adinda sambil memeluk tubuh sang Bunda.
" Memangnya siapa yang mau tinggalin Dinda, hem ? Bunda kan mau lihat Dinda sama Kak Tiwi nikah dulu " ucap sang Bunda sambil terkekeh.
" Ih, Bunda mah gitu ah... " sahut Adinda manyun sambil menatap wajah sang bunda.
Bu Lia berusaha untuk bersandar pada head board ranjang dibantu oleh Adinda. Sementara Pertiwi memberikan segelas air teh manis hangat agar segera diminum oleh bundanya.
" Bunda nanti harus diet dulu terus jangan banyak pikiran supaya tekanan darahnya turun " titah Pertiwi.
Bu Lia mengangguk tanda setuju.
" Mba... Seperti biasa ya, makanan buat bunda yang direbus-rebus aja. Terus kalau bisa dikurangi garamnya " tambah Pertiwi lagi.
" Iya, nanti mba siapin menu khusus buat bunda " jawab Kirana yang kemudian dirangkul oleh Arjuna.
" Maafin, Dinda ya bunda. Ini pasti gara-gara Dinda... " ucap Dinda lagi sambil memeluk sang bunda kembali.
Bu Lia membelai rambut Adinda.
" Maafin bunda juga udah maksa Dinda ya. Ayah, bunda, Bang Juna, Kak Tiwi, Mba Kirana dan semua sayang sama Dinda. Kami tidak pernah berpikiran mengorbankan kamu... " ucap Bunda lembut.
" Kalau Dinda gak mau, gak apa-apa. Nanti biar Bunda yang bilang sama Tante Sandra dan Zaid. Semoga Ayah disana mengerti dengan keadaan ini dan bisa tenang di alam sana " tambah sang bunda.
Dinda melepaskan pelukannya lalu menatap wajah sang bunda.
" Dinda terima perjodohan ini, bunda. Dinda mau jadi anak yang berbakti. Dinda mau bahagiain ayah sama bunda. Tapi bunda harus sembuh ya... Bunda gak boleh sakit-sakit lagi " ucap Adinda tulus.
" Betul yang kamu katakan ini, de ? " tanya Bu Lia.
Adinda mengangguk dengan yakin.
" Alhamdulillah... Bunda tenang kalau kamu sudah memutuskannya " ucap Bu Lia lalu merangkul Adinda.
...******...
Kedua keluarga tidak ingin menunda pernikahan, hingga akhirnya 2 bulan berselang Adinda dan Zaid melangsungkan pernikahannya.
Pernikahan diadakan dengan meriah. Adinda sengaja tidak mengundang teman-teman kuliahnya, ia ingin merahasiakan pernikahan mereka agar fokus menuntut ilmu. Dan Zaid menyetujuinya.
Adinda mengenakan kebaya berwarna putih dengan adat sunda. Rambutnya sudah disanggul, dihias dengan siger, kembang goyang serta ronce melati. Adinda terlihat sangat cantik bak seorang ratu di hari pernikahannya.
Seluruh keluarganya berkumpul di kamar Adinda sebelum mereka membawa masuk Adinda ke tempat dimana akad nikah dilangsungkan.
" Anak bunda yang cantik, hari ini hari pernikahanmu. Bunda harap kamu bahagia dalam pernikahan ini. Maafkan bunda jika bunda egois, memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini... " ucap Bu Lia dengan lelehan air mata di pipi.
Dinda menghapus air mata sang bunda.
" Ini bukti bakti Dinda kepada ayah dan bunda. Dinda ikhlas menjalaninya. Bunda doakan saja kebahagiaan selalu bersama Dinda " ucap Adinda sambil memeluk Bu Lia.
" Selamat ya de... Kak Tiwi harap kamu selalu bahagia... Nanti kasih tahu kakak cerita MP kamu ya biar kakak ada gambaran kalau nikah nanti " bisik Pertiwi yang dibalas delikan mata Adinda.
" Ih... Kak Tiwi nih... " ucap Adinda sebal dengan kakaknya yang satu ini.
" Tante Dinda cantik, sering-sering main ke sini ya. Adam sama ade Laras pasti kangen banget sama Tante Dinda. Tante Dinda sama Om Zaid cepet punya adik bayi ya, biar Laras ada temennya " ucap Adam polos diikuti kekehan tawa dari Arjuna.
Adinda mendelikkan mata kepada Arjuna, ia tahu pasti anak polos ini telah diracuni oleh sang ayah.
" Adam sayang... Tante Dinda pasti sering main kesini kok... Adam pinter banget ngomongnya diajarin siapa sih ? " tanya Adinda menatap wajah polos Adam.
" Papa yang ajarin " jawab Adam jujur, membuat Kirana tertawa melihat suaminya yang salah tingkah.
" Sebentar lagi kamu jadi seorang istri, kamu harus mulai bersikap dewasa. Harus menjaga diri dan nama baik suami. Mba Kirana yakin, Dinda pasti bisa jadi istri yang baik " ucap Kirana lalu memeluk Adinda.
Arjuna menyerahkan Laras dari gendongannya kepada Kirana, lalu mendekati Adinda. Ia tak mengira jika adik kesayangannya itu akan segera melapas masa lajangnya dan ia yang akan menjadi wali sang adik, menyerahkan tanggung jawab kepada sahabatnya untuk bertanggung jawab atas adiknya.
" Hari ini, tanggung jawab abang menjaga kamu akan beralih pada Zaid. Abang yakin ia akan membahagiakan kamu. Sebagai istri seorang prajurit, kamu harus kuat, berani dan tahan banting. Kamu harus tahu suamimu tidak hanya bertanggung jawab atas dirimu tapi ia juga mengemban tugas mengabdi pada negara. Ingat Dinda, kamu harus selalu mendukung suami kamu, karena suamimu tidak sepenuhnya menjadi milikmu " tutur Arjuna memeluk sang adik. Adik yang selama ini dijaganya sepenuh jiwa.
*
" Saudara Zaid Wira Prasetya, saya nikahkan dan kawinkan adik saya Adinda Persada Ayunindya binti Bhakti Persada dengan mas kawin 100 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar Tunai " ucap Arjuna sambil memegang tangan Zaid.
" Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Persada Ayunindya binti Bhakti Persada dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI " dengan lancar dan lantang Zaid melafalkan ijab kabul.
" Sah... " seluruh saksi menyatakan jika ijab kabul yang diucapkan sah dan mulai saat itu Zaid dan Adinda telah sah dan resmi menjadi suami istri.
Zaid memasangkan cincin di jari manis Adinda, dan kemudian diikuti Adinda yang juga memasangkan cincin di jari manis Zaid.
Adinda kemudian mengambil tangan Zaid lalu menciumnya dengan takzim sementara Zaid mencium kening Adinda dengan penuh cinta.
Setelahnya dilakukan prosesi pedang pora sebelum acara resepsi pernikahan.
Adinda, dimulai saat ini kita mengarungi bahtera hidup bersama. Aku berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakanmu. Aku akan menjadi suami yang selalu mencintaimu dan setia kepadamu. Mengabdikan diri kepada negara dan membahagiakanmu adalah tujuan hidupku. Dan Adinda perjalanan kita dimulai sejak saat ini.
...From this moment life has begun...
...From this moment you are the one...
...Right beside you is where I belong...
...From this moment on......
...From this moment I have been blessed...
...I live only for your happiness...
...And for your love I'd give my last breath...
...From this moment on......
...I give my hand to you with all my heart...
...I can't wait to love my life wit you...
...I can't wait to start...
...You and I will never be a part...
...My dreams came true because of you...
...From this moment as long as I live...
...I will love you I promise you this...
...There is nothing I wouldnt give...
...From this moment on......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Olivia
Alhamdulillah lega rasanya melihat mereka yang pada akhirnya benar-benar menikah, ya meskipun memang belum ada cinta di hati Dinda untuk Zaid, tapi ya nggak papa lah yang penting nikah dulu ya😊😊😊
2024-12-05
1
Mamah Kekey
samawa yah buat Zaid dan Dinda nya .. ❤️🎁
2023-12-14
1
Diena Aulia
kalo di jodohin dgn orang baik luar dalam, finansial mah semangat2 aja😆🤭
2023-11-09
5