Mata Pertiwi membelalak saat melihat pemandangan menjijikan di depannya. Mario tengah berg*mul dengan seorang wanita yang tak lain adalah dokter Tika, rekan kerjanya sendiri.
Tanpa berbicara apa pun, Pertiwi segera keluar dari kamar Mario. Farhan yang sedari tadi berdiri di luar kamar, mengikuti langkah Pertiwi yang kini berjalan tergesa menuju pintu.
Mario mengejar Pertiwi dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja.
" Tiwi... Sayang... Dengerin aku dulu " ucap Mario meraih lengan Pertiwi.
Pertiwi menepis tangan Mario dengan kasar.
" Sayang, ini gak seperti yang kamu bayangin... " jelas Mario.
Pertiwi tersenyum sinis, ia mencoba menahan amarah yang berkecamuk di dalam hatinya.
" Lalu seperti apa ? " tanya Pertiwi sambil membalik badannya menatap Mario yang nampak berantakan.
" Sayang... " Mario mencoba memeluk Pertiwi namun Pertiwi melangkah mundur menjauhi Mario.
" Berhenti, dokter Mario yang terhormat. Maaf saya sudah mengganggu waktu seminar anda yang sangat penting. Saya permisi ! " ucap Pertiwi dengan jijik lalu memilih mengangkat kakinya segera.
" Permisi, dokter... " pamit Farhan yang sedari tadi hanya memperhatikan pasangan ini.
" Tunggu... Kamu yang membawa Pertiwi kemari ? Kamu sengaja membongkar hubungan saya dengan Tika ? Kamu ingin merebut Pertiwi kan ? " tuding Mario sambil mencengkram kerah kemeja Farhan.
" Maaf dokter... Anda salah sangka. Saya mungkin mengetahui ada sesuatu diantara anda dan juga dokter Tika. Tapi saya tidak pernah memberitahu yang lain. Bagaimana pun juga sepandai apapun bangkai ditutupi baunya akan selalu tercium pada akhirnya " ucap Farhan santai lalu melepaskan cengkraman Mario dan segera keluar dari apartemen milik Mario.
Farhan duduk di kursi kemudi, sementara Pertiwi duduk di sampingnya. Hari sudah berganti malam, wanita cantik itu membisu dengan tatapan mata kosong. Sesekali, ia menghapus buliran air mata yang mengalir di pipinya.
Farhan hanya bisa memperhatikan Pertiwi tanpa tahu harus berbuat apa. Ia tahu betul, rasa sakit yang dialami oleh wanita itu. Dikianati oleh pria yang dicintai juga oleh rekan kerjanya sendiri. Entah apa yang membuat Pertiwi kuat menahannya hingga ia tidak sesegukan menangis.
" Maaf dok, kita mau kemana ini ? Pulang ke rumah dokter atau ? " Farhan menjeda ucapannya saat melirik Pertiwi yang memejamkan mata.
" Kemana aja, Han. Asal gak pulang... " jawab Pertiwi tanpa membuka matanya.
" Bukannya dokter mau ke vila keluarga dokter ? " tanya Farhan lagi.
" Hem... Besok aja, Han... Saya gak mau mereka khawatir melihat keadaan saya " ucap Pertiwi sambil membuka mata tanpa melihat Farhan.
Farhan hanya mengangguk, lalu kembali melajukan mobil yang entah kemana arah tujuannya. Farhan membawa mobil berkeliling hingga ia mendapatkan ide lalu membawa ke pantai.
" Dok... Kita keluar dulu " ucap Farhan sambil menepuk bahu Pertiwi.
" Ini dimana, Han ? " tanya Pertiwi sambil menatap lurus ke depan.
" Di pantai, dok " jawab Farhan singkat.
" Ngapain kita kesini ? " tanya Pertiwi lagi.
Farhan tersenyum samar mendengar pertanyaan Pertiwi.
" Tadi kan dokter bilang kemana aja asal gak pulang. Makanya saya ajak dokter kemari. Ayo dok, sambil nunggu sunset " jawab Farhan lalu keluar dari mobil.
Tanpa banyak bicara, Pertiwi mengikuti Farhan. Farhan duduk di pinggiran pantai sambil menatap lautan lepas. Pertiwi duduk di samping Farhan dengan menatapi lautan. Sesekali terdengar deburan ombak yang memecah karang.
Hembusan angin, membuat rambut Pertiwi yang terurai melambai-lambai, sebagaimana daun-daun pohon kelapa yang juga ikut melambai tertiup angin.
Pertiwi menggosok gosok tangannya, berupaya menghangatkan diri karena tak mengenakan baju hangat.
Melihat hal tersebut, Farhan melepas jaketnya lalu memakaikannya pada pundak Pertiwi.
" Makasih ya, Han... " jawab Pertiwi memaksakan diri untuk tersenyum.
" Dokter pasti kuat menghadapi ini semua. Saya percaya orang baik pasti akan menemukan orang yang baik pula sebagai pasangannya. Dan saya yakin, dokter akan menemukan lelaki yang baik bahkan lebih baik dari dokter Mario "
Pertiwi tidak mengatakan apapun. Matanya memandang kosong ke arah laut yang gelap tanpa ada cahaya.
Rasanya seperti hatinya yang kini gelap, tak tahu harus berbuat apa. Tak pernah ia duga, hubungan yang telah terjalin selama 5 tahun dan akan segera melangkah ke jenjang selanjutnya kini harus diakhiri karena sang kekasih mengkhianatinya.
Bagaimana Pertiwi harus menjelaskan kepada keluarganya tentang masalah ini.
" Hah... " Pratiwi mendesah kesal lalu bangkit dan berjalan menuju bibir pantai.
Farhan hanya mengamati Pertiwi dari tempatnya duduk. Ia begitu yakin jika wanita cantik itu tidak akan berbuat nekat.
Pertiwi memainkan air dengan kakinya saat gelombang datang dan pergi. Sesekali ia berteriak, mengeluarkan gemuruh asa dalam hatinya yang bergejolak.
" Aaahhh... Kamu jahat, Mario... Kamu jahat... " teriak Pertiwi sekencang-kencangnya.
Sesaat kemudian tubuhnya ambruk, terduduk di pantai dengan air mata mengalir di pipinya.
" Aku benci kamu... Aku benci kamu, Rio... " isak Pertiwi berurai air mata.
Farhan menghampiri Pertiwi, pria tampan itu berjongkok di samping Pertiwi lalu merangkul wanita cantik yang kini menangis pilu.
" Kalau dengan menangis bisa mengurangi kesedihan dokter, maka menangislah... Tapi ingatlah, air mata anda terlalu berharga untuk menangisi laki-laki yang tak tahu diri itu " ucap Farhan menatapi wanita yang kini menangis dalam pelukannya.
Entah berapa lama Pertiwi menangis di dalam pelukan Farhan. Sampai sinar matahari muncul di balik ufuk. Menampakkan keindahannya yang mempesona mata.
Pertiwi mengangkat kepalanya, lalu mengalihkan pandangan menikmati keindahan sunrise di tepi pantai. Seharusnya ia menikmati indahnya sun rise bersama orang tercinta, tapi ia justru menikmati sun rise setelah dikhianati orang tercinta. Sungguh miris...
" Anda harus yakin,anda akan menemukan kebahagiaan lagi. Seperti halnya mentari yang akan selalu terbit setelah sebelumnya terbenam. Dan itu akan jauh lebih indah... " ucap Farhan sambil menatap wajah cantik yang nampak asyik menikmati keindahan sun rise.
Pertiwi mengangguk menyetujui ucapan Farhan tanpa melihat pria yang sedari tadi memandanginya.
Ya, apapun yang terjadi. Ia harus tetap melangkah, sesakit apapun itu ia pasti bisa melewati semuanya. Justru seharusnya ia bersyukur, karena Tuhan begitu baik dengan menunjukkan wajah asli sang kekasih sebelum mereka melangsungkan pernikahan.
Farhan tersenyum, dalam hatinya ia merasa bahagia karena Pertiwi bisa mengetahui sendiri kelakuan Mario. Farhan sangat tahu jika Mario sering membawa wanita lain untuk bermain di ranjang. Bahkan ia pernah memergoki Mario bermain dengan seorang perawat di ruangannya hanya untuk mendapatkan kepuasan. Tentu saja, tiada yang bisa menolak pesona seorang Mario. Seorang dokter tampan juga mapan. Tidak sedikit wanita yang dengan suka rela menjadi lawan main Mario di ranjang, termasuk dokter Tika.
Walaupun begitu, Farhan pun mengetahui jika Mario memang sangat mencintai dan menjaga Pertiwi. Karena itu, Mario tidak pernah berbuat macam-macam kepada Pertiwi. Ia benar-benar ingin menjadikan Pertiwi sebagai istrinya. Namun, rencana Mario harus pupus karena Pertiwi ternyata lebih dahulu menemukan wajah aslinya, sehingga kemungkinan pernikahan mereka pun batal dilangsungkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Erina Munir
menfingan ketauan sekarang2 dripda nnti klo udh nikah ketauannya...mubazir buang2 duit....ttrus bubaran ya kan thor
2024-01-01
1
Mamah Kekey
untung ketahuan duluan sebelum menikah..Mario punya kelainan seksual..
2023-12-14
1
Dini Apriliani
astagfirullah mario
2023-12-12
1