Zaid duduk di sofa sambil menggendong Laras, bayi cantik yang sepintas mirip dengan Adinda. Tentu saja mirip, karena Arjuna dan Adinda pun begitu mirip.
Tak lama, Adinda datang dan duduk di samping Zaid
" Sini, Kak... Biar Dinda yang gendong Laras. Emangnya kak Zaid bisa ? " tanya Adinda terkesan meremehkan kemampuan Zaid.
" Bisa dong, memangnya kamu gak lihat ini lagi apa " jawab Zaid sambil menggerakkan bibirnya seolah mengajak bicara bayi cantik itu.
" Ya udah deh, kalau gitu titip Laras ya Dinda mau makan dulu " ucap Adinda sambil beranjak.
Baru saja Adinda bangkit, bayi cantik itu terlihat menangis membuat Zaid kebingungan dan memanggil Adinda.
" Dinda... Tunggu, ini Larasnya nangis " Zaid terlihat panik.
" Idih, katanya bisa. Bisa bikin nangis ya ? " oceh Dinda sambil meraih Laras dari tangan Zaid.
Ajaib, hanya dengan menyentuh bayi cantik itu, ia menghentikan tangisnya membuat Zaid takjub.
" Memang kalau udah ketemu pawangnya langsung diem " ucap Zaid asal, membuat Dinda mencebikkan bibirnya.
" Pawang apaan ? " tanya Dinda kesal.
Pawang hati aku...
" Apaan ? Jawab ? " paksa Dinda.
" Pawangnya Laras lah. Iya kan Laras sayang " jawab Zaid sambil berdiri di samping Adinda dan mencolek pipi gembul Laras.
Laras tertawa melihat wajah lucu yang dibuat Zaid.
" Dih, Laras ketawa. Seneng ya lihat Om ganteng disini " ucap Zaid percaya diri.
" Ih, kepedean... " cibir Adinda sambil menimang-nimang Laras.
" Emang ganteng kok, buktinya banyak yang antri jadi istri " sahut Zaid santai.
Dinda menengok ke kanan dan ke kiri.
" Mana yang ngantrinya ? " tanya Dinda dengan nada meledek.
" Emang Om Zaid nih paling bisa ya Laras cantik " sambung Dinda sambil mengajak Laras berbicara .
" Bisa apa ? " tanya Zaid penasaran.
" Bisa banget ngehalu... Ha...ha..." ledek Dinda diiringi gelak tawa.
" Ish, dasar ... Untung aku suka " gerutu Zaid sambil melihat ke arah lain.
" Untung apa Kak ? " tanya Adinda karena tak sepenuhnya mendengar ucapan Zaid.
" Untung kamu, adiknya Arjuna. Kalau bukan... " Zaid menahan kata yang akan diucapkannya.
" Kalau bukan kenapa ? " tantang Adinda menatap wajah Zaid.
Zaid memalingkan wajahnya, ia tak tahan jika harus bersitatap dengan Adinda. Rasanya jantungnya melompat-lompat dengan aliran darahnya berdesir hebat.
" Gak kenapa-kenapa sih " jawab Zaid sambil menggaruk kepalanya.
" Idih, masa Kapten cetek " remeh Adinda sambil mencebikkan bibirnya.
Ah, ingin rasanya aku menempelkan bibir ini dengan bibirmu itu, Dinda...
Zaid segera menormalkan pikirannya. Ia sadar tak seharusnya ia hanyut dalam lamunan. Hingga ia segera mengalihkan mata dan otaknya pada bayi cantik dalam gendongan Adinda.
Zaid dan Adinda begitu lepas bermain dengan Laras hingga mereka tak curiga jika interaksi mereka diperhatikan oleh kedua ibu mereka.
" Zaid, kayaknya udah pantes punya anak mba " ucap Bu Lia.
" Iya, sepertinya begitu. Dan rasanya saya sudah menemukan calon yang cocok buat Zaid " sahut Bu Sandra sambil tersenyum melihat kedekatan antara Adinda dan Zaid.
" Mba sudah punya calon toh... Semoga cocok dengan Zaid ya mba " ucap Bu Lia tanpa curiga.
" Oh iya de, ada yang harus saya bicarakan berdua sama ade. Tapi jangan disini, disini kayaknya terlalu ramai "
" Masalah apa ya ? Penting mba ? " tanya Bu Lia penasaran, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bu Sandra.
" Hm... Dimana ya mba ? Paling kalau mau agak sepi di lantai atas sih mba " ucap Bu Lia menunjuk ke lantai 2 rumahnya.
" Ya udah, de. Kita bicara di atas saja. Ayo de ! " ajak Bu Sandra sambil berdiri.
Bu Lia akhirnya membawa Bu Sandra menuju lantai 2 rumahnya, lalu mereka duduk di ruang keluarga yang ada di sana.
Mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruangan keluarga.
" Ada masalah apa mba ? Saya jadi penasaran ini" tanya Bu Lia.
" De, ade masih inget kan kalau dulu suami kita pernah ingin berbesan malah mereka sudah berjanji untuk menjodohkan anak-anak kita " jawab Bu Sandra.
" Iya, mba... Tapi itu kan dulu, lain lagi ceritanya karena kan anak kita pas lahir sama-sama laki-laki . Saya melahirkan Arjuna dan Mba Sandra melahirkan Zaid " sahut Bu Lia mengenang masa saat melahirkan Arjuna.
" Betul, tapi kan ade akhirnya melahirkan Pertiwi juga Adinda. Jadi sepertinya kita bisa melanjutkan perjodohan anak-anak kita " ucap Bu Sandra lagi.
" Waduh mba... Pertiwi kan sudah tunangan, jadi gak mungkinlah dijodohkan sama Zaid " sahut Bu Lia.
" Bukan Pertiwi, de. Tapi Adinda " sambung Bu Sandra.
Kening Bu Lia berkerut, ia tak menyangka jika Bu Sandra akan meminta perjodohan dengan anak bungsunya.
" Maaf mba... Tapi sepertinya Adinda belum cukup dewasa untuk menikah " tolak Bu Lia.
" Tolong de... Saya takutnya karena janji yang dibuat oleh suami kita, jadinya Zaid susah dapat jodoh. Lagi pula memangnya ade gak takut kalau suami kita jadi tidak tenang karena punya janji yang belum ditepati. Janji itu kan hutang de, kalau suami kita tidak bisa membayarnya berarti itu jadi kewajiban yang masih hidup kan untuk melunasinya " jelas Bu Sandra.
" Saya... Saya bisa saja memutuskannya sendiri tapi ini bukan masalah kecil mba jadi saya harus membicarakannya dulu sama anak-anak " ucap Bu Lia.
" Ya sudah, de. Dibicarakan saja dulu sama anak-anak. Saya cuma mau membicarakan itu saja. Mudah-mudahan secepatnya ada keputusan ya dan kami akan segera melamar Adinda " sahut Bu Sandra.
" Apa Zaid sudah setuju dengan rencana ini, mba ? " tanya Bu Lia.
" Zaid bahkan belum mengetahui rencana ini. Saya baru akan memberi tahu Zaid nanti " jawab Bu Sandra.
" Lalu bagaimana jika Zaid menolak perjodohan ini ? " tanya Bu Lia khawatir.
Bu Sandra mengulum senyum,
" Saya yakin Zaid tidak akan menolaknya. Justru saya khawatir penolakan datang dari Adinda. Saya berharap ade bisa membujuk Adinda agar menerima perjodohan ini " harap Bu Sandra.
" Mengapa mba begitu ingin menjodohkan Zaid dengan Adinda padahal bisa saja Zaid sudah mempunyai calon pendamping hidup " ucap Bu Lia.
Bu Sandra menghela nafas, lalu menatap Bu Lia.
" Sebagai seorang ibu, saya bisa merasakan jika Adinda adalah wanita yang tepat untuk Zaid. Adinda bisa membuat hidup Zaid lebih berwarna. Walaupun hanya sekilas, tapi saya bisa melihat kekakuan dalam diri Zaid hilang ketika bersama dengan Adinda. Itu yang membuat saya yakin jika Adinda adalah wanita yang cocok untuk Zaid " papar Bu Sandra.
Bu Lia terdiam, jujur ia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ia amat tahu jika Zaid merupakan anak yang baik. Karirnya bagus serta bertanggung jawab. Ia yakin jika Zaid bisa menjadi suami yang baik untuk anak bungsunya yang manja.
Hanya saja, ia tak tahu bagaimana mengemukakan rencana ini kepada Adinda. Anak bungsunya itu pasti akan menolak. Adinda meskipun dikenal ramah, polos dan manja tetapi juga keras kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Olivia
Alhamdulillah senang sih kalau pada akhirnya mereka benar-benar dijodohkan semoga saja lewat perjodohan ini bisa menjadi kemajuan untuk hubungan Adinda dan Zaid kedepannya nanti, agar bisa benar-benar menyatu dan ikatan suci pernikahan dan bukan atas nama perjodohan tapi atas nama Cinta, ya semoga saja hubungan dekat langgeng terus kedepannya, ya meskipun aku tahu pasti Adinda akan menolak perjodohan ini, tapi jika Zaid benar-benar mencintai Adinda maka Zaid harus benar-benar memperjuangkannya kan🥺🥺🥺
2024-12-05
1
Hajja Uni Haerunnisang
semakin seruu
2023-10-29
3
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
s3makin menarik dan kepo lanjutannya
2023-10-22
1