Hari sudah berganti malam. Pasangan suami istri baru itu kini telah berada di kamar. Adinda membersihkan diri lebih dulu, sementara Zaid masuk ke kamar setelah sebelumnya bercengkrama bersama Arjuna dan keluarga yang lain.
Zaid melihat sekeliling kamar Adinda yang telah dihias menjadi kamar pengantin untuk mereka. Sudut bibirnya terangkat saat melihat foto sang istri terpampang di dinding kamar. Dari fotonya saja istrinya itu sudah terlihat cantik dan aslinya tentu saja jauh lebih cantik.
Zaid membuka pakaiannya hingga menyisakan celana boksernya saja membuat tubuhnya yang atletis terekspos. Zaid mencari handuk ke sekeliling kamar namun tak jua menemukannya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur.
Pintu kamar mandi terbuka, Adinda keluar dari sana dengan hanya mengenakan handuk yang dililit menutupi dada hingga paha.
Zaid menelan salivanya dengan susah payah melihat kemolekan tubuh istrinya itu. Sementara Adinda masih belum menyadari jika Zaid kini tengah asyik memandangi sang istri yang sibuk membuka lemari, mencari pakaian untuk ia kenakan.
Adinda baru menyadari jika ada manusia lain di kamarnya setelah Zaid berdehem dan melihatnya dari pantulan cermin di lemarinya.
" Aaah... " teriak Adinda yang reflek menutupi bagian dadanya dengan tangannya.
" Kak... Kak Zaid mau ngapain disini ? " tanya Adinda menahan malu saat melihat Zaid tanpa pakaian lengkap.
" Mandi " jawab Zaid singkat kemudian mengalihkan pandangannya dari siaran langsung di depannya.
" Kalau mau mandi, sana cepetan masuk " seru Dinda dengan menunjuk ke arah kamar mandi tanpa melihat Zaid.
" Aku cari handuk, tapi gak nemu " sahut Zaid beranjak menuju kamar mandi.
" Nanti, Dinda bawain handuknya " timpal Adinda masih menundukkan wajahnya.
Zaid segera masuk ke dalam kamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang. Hanya melihat Adinda mengenakan handuk saja sudah membuatnya ngos ngosan seperti berlari sprint. Apalagi jika nanti melihat tubuh polos Adinda. Entah akan berdetak seperti apa.
Zaid segera mengguyur tubuhnya dengan air dari shower, berharap dinginnya air bisa mendinginkan otak dan hasratnya yang mulai panas karena bertraveling saat melihat sang istri tanpa busana lengkap.
" Kak, handuknya disimpan di depan pintu ya ! " teriak Adinda dari balik pintu.
Adinda telah memakai dress piyama selutut dan kini ia telah berbaring di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Pikiran mesum mulai menjangkiti otak Adinda setelah tadi melihat tubuh sang suami yang nampak sexy itu. Tubuh yang begitu atletis dengan perut six pack yang diyakininya terbentuk karena latihan keras.
" Ya, ampun... Mikirin apa sih aku ini ? Engga... Engga... Aku belum siap melakukan itu. Aku harus cari cara supaya bisa lolos malam ini. Ah, mendingan aku langsung tidur aja. Pasti Kak Zaid gak akan gangguin aku kalau udah tidur " Dinda berbicara dengan dirinya sendiri sambil memukul-mukul pelan kepalanya.
Ceklek... Pintu kamar mandi terbuka.
Adinda segera menutup matanya, berpura-pura tertidur dengan membalik badan.
Zaid berjalan santai mengambil koper berisi pakaian miliknya, kemudian mengambil kaos oblong dan memakainya.
Zaid menatap Adinda yang telah berbaring dengan memiringkan tubuhnya. Zaid menahan senyum, ia tahu jika istrinya itu belumlah tertidur.
Zaid segera merebahkan diri di samping Adinda. Kemudian memiringkan tubuhnya menghadap sang istri dengan menopangkan kepalanya pada salah satu tangannya.
" Aku tahu kamu belum tidur " ucap Zaid dengan seringai di wajah tampannya.
Ck, Kok bisa tahu sih ? gerutu Adinda dalam hati.
Adinda membalikkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Adinda mendongakkan kepala melihat wajah Zaid yang tengah menatapnya.
" Te... Terus Kak Zaid mau ngapain ? " tanya Adinda salah tingkah.
" Kalau mau kamu, gimana ? " balas Zaid santai sambil menatap lekat wajah cantik sang istri yang kini merona.
Debaran jantung yang berdegup kencang tak hanya dirasakan oleh Zaid. Adinda pun merasakan hal yang sama saat matanya beradu pandang dengan Zaid.
" Ng... itu, Ng... anu... " Adinda bingung harus mengucapkan apa. Adinda hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya untuk menutupi kegugupannya.
Zaid semakin gemas saat melihat sikap Adinda, ingin sekali Zaid segera menyentuh bibir milik Adinda lalu ********** menuntaskan hasrat.
Zaid memutus pandangannya dengan menatap ke lain arah. Bisa-bisa khilaf dan bablas jika ia terus memandangi wajah Adinda.
" Aku tidak akan memaksamu menyerahkannya sekarang. Aku tahu kamu perlu waktu dan aku akan menunggu sampai kamu menyerahkannya sendiri padaku " tutur Zaid.
" Beneran, Kak ? " tanya Adinda senang.
" Hem... Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan memegang ucapanku untuk tak menyentuhmu sampai kau siap " jawab Zaid.
" Yey... Makasih Kak... Udah mau kasih waktu buat Dinda " sorak Adinda lalu reflek memeluk Zaid, membuat kedua benda kenyal itu menyentuh dada bidang Zaid.
Astaga... Kalau begini, aku belum tentu kuat menunggu kamu siap, Dinda... Tuhan, ku mohon kuatkan aku menghadapi semua ini. Jangan biarkan aku khilaf sebelum waktunya.
" Ma... Maaf, kak... " ucap Dinda lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Zaid dan segera membalik badannya menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Ish... Sial, Kenapa jadi grogi sih. Pake salting segala lagi !!
Adinda merutuki sikapnya sendiri. Sementara Zaid tengah menatapi punggung sang istri sambil tersenyum.
Aku berani bertaruh jika kamu akan segera menjadi milikku seutuhnya !! Adinda, aku akan selalu menunggumu hingga kau siap menyerahkan jiwa dan ragamu.
Malam telah berganti pagi. Pasangan suami istri itu hanya melalui malam pertama mereka dengan tidur saling memunggungi. Tak ada cumbuan kemesraan layaknya pasangan yang baru saja menikah pada umumnya.
Keduanya memilih larut dalam pikirannya sendiri. Disaat salah satunya menyiapkan diri untuk memberi dan yang lainnya dengan sabar menanti hingga nanti saling menyerahkan diri.
Karena sejatinya pernikahan itu saling menerima juga saling memberi bukan memaksakan hasrat untuk memiliki.
Adinda membuka matanya, kemudian melihat piyama yang masih melekat sempurna di tubuhnya.
Adinda menghembuskan nafas, merasa lega karena ternyata Zaid memegang ucapannya dengan tak menyentuhnya.
Adinda melirik ke arah Zaid yang masih lelap dalam tidurnya. Adinda berniat beranjak namun ia membatalkannya saat melihat wajah tampan milik Zaid yang begitu tenang tertidur.
" Apa aku bisa mencintaimu, Kak ? Apa kita akan menjadi suami istri yang saling mencintai ? " gumam Adinda, tak sadar tangannya terulur menyentuh wajah Zaid namun segera ia menarik tangannya dan bangkit menuju kamar mandi.
Sepeninggal Adinda, Zaid membuka kelopak matanya. Rupanya sejak tadi ia sudah bangun dan memperhatikan istrinya. Ia berpura-pura tertidur saat mata Adinda mengerjap.
Senyum mengembang di bibirnya saat teringat sikap Adinda tadi. Ia begitu bahagia karena merasakan sentuhan Adinda walaupun sang istri dengan segera menarik tangannya kembali.
" Aku akan setia menunggu kamu, Dinda. Aku yakin kita akan menjadi suami istri yang saling mencintai. Aku bersumpah akan mewujudkan semua itu ! "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Mamah Kekey
tambah seruu kk lanjut 🙏
2023-12-14
1
Surianti Sofyan
mau ngasih hadiah tapi nggak tau bgaimm cara,y🤔🤔🤔,,,
2023-05-29
4
Erah R Zaelani
sy jg ksh bunga dl vote besok...cerita nya bgus lnjuut
2023-04-30
1