Adinda Persada Ayunindya, gadis cantik berusia 20 tahun. Dia adalah adik bungsu dari sahabatku Arjuna Satria Persada.
Pertama kali aku bertemu dengannya saat bertamu ke rumah Arjuna. Saat itu ia masih duduk di kelas 10. Gadis belia yang begitu jelita. Semua rekanku mengagumi kecantikannya bahkan ada yang langsung menggodanya.
Saat itu, kami berempat duduk di ruang tamu dan Adinda baru saja pulang sekolah. Ia mengucapkan salam kepada kami semua. Seorang rekanku menggodanya dengan menyuruh memilih salah satu diantara kami dan dia dengan entengnya memilihku, entah itu bergurau atau sekenanya saja tapi semenjak itu hatiku tertawan oleh pesonanya.
Adinda berkulit putih, hidungnya mancung, bibirnya tipis berwarna merah muda. Postur tubuhnya tinggi sekitar 165 cm. Usianya terpaut 12 tahun dengan Arjuna dan berarti beda usia kami pun 12 tahun.
Arjuna memiliki satu adik perempuan di atas Adinda. Pertiwi Putri Persada, usianya berbeda 6 tahun denganku dan saat ini telah bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit yang ada di kota. Pertiwi sudah bertunangan dengan rekannya sesama dokter dan akan segera menikah tahun depan.
Arjuna dan kedua adiknya memiliki wajah rupawan selain itu mereka memiliki attitude yang baik.
Aku menyukai Adinda namun aku tak bisa memastikan perasaanku sendiri. Lagi pula saat itu dia masih begitu belia dan aku harus mengabdikan diri dengan dikirim sebagai pasukan Garuda penjaga perdamaian ke Afrika.
4 tahun berlalu, namun aku tak bisa menghilangkan bayangan Adinda dari memoriku. Rasa yang ada bahkan semakin bertambah terlebih saat aku melihatnya kembali. Melihatnya beranjak dewasa dan semakin cantik membuatku semakin terpesona.
Masih ku ingat saat Arjuna meminta bantuanku untuk berpura-pura menjadi kekasih adiknya. Awalnya Arjuna lah yang akan berpura-pura, tapi karena Kirana istrinya akan melahirkan terpaksa aku yang menggantikannya.
Aku turun dari mobil tanpa membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungku. Dengan masih mengenakan seragam dinasku yang kututupi jaket aku berjalan menuju gerbang sekolah.
Aku mencari Adinda hingga aku menemukannya duduk di kursi taman dikelilingi oleh teman-temannya dengan seorang anak laki-laki sedang memegang tangan Adinda.
Aku tahu gadis itu merasa tak suka dengan sikap anak laki-laki tersebut, itu terlihat dengan sikapnya yang berusaha melepaskan tangan anak tersebut.
" Dinda... " ucapku saat sampai di tempat Adinda duduk.
Semua anak berseragam putih abu itu memandang ke arahku. Mereka nampak heran melihatku.
Adinda tersenyum lalu berjalan ke arahku setelah sebelumnya menepiskan tangan anak laki-laki itu.
Adinda menggandeng tanganku dan bergelayut manja.
" Nih, kenalin pacar gue. Namanya Zaid. Jadi kalian gak perlu tanya-tanya lagi siapa pacar gue. Apalagi kamu Edo, jangan lagi ganggu gue " ucap Dinda ketus.
" Gue gak percaya... Dia pasti kakak lo kan ? Lo sengaja bawa dia kesini supaya kita percaya kalau lo udah punya pacar " sahut Edo menolak pengakuan Dinda.
Adinda berdecak kesal, ia segera mengambil ponselnya lalu memperlihatkan wallpaper kepada mereka.
" Lihat baik-baik. Ini abang gue, Arjuna. Beda kan sama cowok gue ini " ucap Adinda sambil menunjukku.
Mereka sontak melihat ponsel Adinda, sebagian dari mereka percaya tapi tidak dengan Edo yang ku tebak menyukai Adinda.
" Ok, gue percaya. Tapi gue aneh aja, kenapa lo mau sama orang seumuran kakak lo ? " ucapnya setengah mengolok.
" Apa masalahnya kalau saya seumuran kakaknya Adinda ? " sahutku tak terima.
Adinda menepuk lenganku lalu menggelengkan kepala.
" Masalahnya apa buat lo ? Mau seumuran gue, kakak gue atau seumuran bokap gue ya suka-suka gue dong. Kalau gue suka terus sayang lo mau apa ? " skak Dinda.
Edo dan kawan-kawannya terdiam, sementara Adinda tersenyum kepadaku.
" Lo yakin sayang sama dia ? Kalo dia mau nikahin lo, emang lo mau Din nikah muda ? " sela Edo kesal dengan jawaban Dinda.
" Kalau gue mau nikah muda, lo mau apa ? Kalau dia mau nikahin gue, mau sekarang atau nanti juga sama aja toh dia ini calon suami gue " papar Adinda membungkam mulut mereka semua.
Aku tercengang dengan ucapan gadis kecil ini. Entah itu keluar dari lubuk hatinya atau hanya asal bicara saja, tapi aku berharap apa yang keluar dari mulutnya itu menjadi doa.
" Ayo, Kak... Gak usah ladenin mereka yang suka usil sama hubungan orang " ajak Dinda lalu menarik tanganku mengajakku menjauh.
" Saya harap kalian tidak mengganggu Adinda lagi, atau saya tidak akan mentolerir sikap kalian. Kalian harus tahu, saya biasa melakukan hal yang kalian tak bisa bayangkan " ancamku, lalu berlalu dengan menggenggam tangan Adinda.
Aku melepaskan genggaman tanganku saat berada di depan mobil. Entah kekuatan darimana hingga aku berani menggenggam tangan gadis yang sudah membuat detak jantungku berpacu begitu kencang.
Aku membuka pintu mobil membiarkannya masuk lalu aku masuk melalui pintu lain. Setelahnya, aku melajukan mobil menuju Rumah Sakit tempat istri Arjuna melahirkan.
" Makasih ya, Kak. Udah mau bantuin Dinda " ucapnya tulus.
" Hem... " jawabku singkat.
Aku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus mengendarai mobil.
" Edo tuh, emang ngeselin. Seenaknya aja maksa-maksa supaya mau jadi pacarnya. Padahal Dinda udah tolak berulang kali, tapi tetep aja keukeuh minta Dinda jadi pacarnya. Ih, biar kata dia cakep, keren, terus kaya... tapi Dinda mah ilfeel " ceroscos Dinda yang dengan cueknya menceritakan kekesalannya pada anak laki-laki tadi.
Aku hanya tersenyum simpul sambil menggaruk-garuk kepala mendengar penuturan Adinda.
Ya, ampun... Ini masih bocah aja yang naksir udah segitunya. Gimana kalo dia udah gedean ? Alamat saingan dimana-mana ini.
Aku membatin dalam hati.
20 menit perjalanan dari sekolah Adinda menuju Rumah Sakit. Sampai disana, Arjuna telah berada di ruang perawatan karena sang istri telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan.
Aku dan Adinda masuk ke dalam ruang rawat. Disana tengah berkumpul Pertiwi serta Bu Lia.
" Wah... Keponakan tante Dinda udah lahir " pekik Adinda berlari ke arah sang ibu yang sedang menggendong cucu pertamanya.
" Cuci tangan dulu, woi. Jangan maen cium-cium aja " ingat Pertiwi yang langsung dituruti Adinda dengan mencuci tangannya di wastafel.
" Selamat ya, Jun... Kamu sudah menjadi seorang ayah " ucapku sambil memeluk Arjuna.
" Thanks bro... Makasih juga karena udah mau bantuin ngurusin adik gue itu " sahut Arjuna melepas pelukannya.
" Terima kasih ya nak Zaid, sudah antar Dinda ke sini. Maaf ya jadi merepotkan " ucap Bu Lia padaku.
" Gak apa-apa Bu... Sekalian Zaid lihat anaknya Juna. Takutnya, nanti Zaid gak sempat nengokin " ucapku.
" Lho, Nak Zaid jadi berangkat ? " tanya Bu Lia lagi. Kali ini, diikuti oleh pandangan Adinda yang menatap ke arahku namun sesaat kemudian kembali menatap bayi tampan di gendongan sang ibu.
" Jadi, Bu... Kalau gak ada halangan, lusa Zaid berangkat " jawabku melirik Adinda yang asyik menatapi bayi Arjuna.
" Jaga diri disana ya, nak. Semoga kamu diberikan kesehatan dan keselamatan selama bertugas disana " ucap Bu Lia.
" Aamiin... Terima kasih, Bu doain Zaid ya " ucapku.
" Iya, ibu pasti doakan yang terbaik untuk nak Zaid. Semoga pulang dari sana, Nak Zaid juga bisa segera menyusul Arjuna, segera punya istri dan anak " ucap Bu Lia lagi.
" Aamiin... " ucapku sambil melirik ke arah Adinda yang begitu sumringah melihat keponakannya.
Jika aku boleh meminta, aku berharap kamulah jodohku, Adinda...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Olivia
Tenanglah Zaid, karena insyallah jika kalian benar-benar berjodoh maka pasti takdir akan benar-benar menyatukan kalian di waktu yang tepat nantinya😊😊😊
2024-12-05
1
Erina Munir
jodohin dong thor
2023-12-31
1
Mamah Kekey
waw keren nih...CLBK mas Zaid
2023-12-14
1