Mohon maaf ya reader, baru bisa up lagi. Karena anak-anak author kemarin pada sakit😔 Insyaa Alloh diusahain up lagi. Mohon dukungannya ya 😊
Happy reading !!!
Farhan memarkirkan mobil Pertiwi di depan rumah. Pertiwi keluar dari dalam mobil diikuti Farhan yang hendak menyerahkan kunci mobil.
" Terima kasih ya, Han... Kamu sudah mau antar saya " ucap Pertiwi sambil menerima kunci mobil dari Farhan.
" Sama-sama, Dok. Saya permisi ! " pamit Farhan.
Bugh...
Satu pukulan mendarat di wajah Farhan, membuat sudut bibir Farhan mengeluarkan darah dan Farhan seketika mundur beberapa langkah.
" Astaga... Rio, kamu apa-apaan sih ? " bentak Pertiwi pada Mario yang tiba-tiba menyerang Farhan.
Pertiwi menghampiri Farhan, namun dengan segera tangannya dicekal oleh Mario.
" Kenapa kamu malah perhatiin dia... ?"
" Dia terluka karena kamu, dia harus diobati " jawab Pertiwi sengit.
" Itu balasan karena sudah berani mendekati kamu " sahut Mario.
" Apa maksud kamu ? " tanya Pertiwi heran.
" Sayang, kamu jangan tertipu. Dia baik sama kamu karena ada maunya " jawab Mario.
Pertiwi melepaskan tangan Mario.
" Oh, ya...? Lalu kamu, untuk apa kamu mendekatiku ? " selidik Pertiwi
" Karena aku mencintai kamu... " jawab Mario tegas.
" Cinta ? Bull **** " sahut Pertiwi.
" Kamu tidak percaya ? " tanya Mario menatap tajam pada Pertiwi.
" Aku lebih percaya pada apa yang sudah kulihat sendiri " jawab Pertiwi dengan memberikan tatapan yang tak kalah tajam.
Flash back
Pertiwi mengirimkan chat kepada Mario. Ia ingin mengajak tunangannya itu untuk pergi ke vila milik keluarga Zaid bersama keluarganya. Sayangnya, Mario tidak bisa ikut karena ada seminar yang harus ia ikuti.
Hingga akhirnya Pertiwi memutuskan untuk pergi sendiri. Namun saat akan bersiap pulang, dokter Tika meminta Pertiwi untuk menggantikannya jaga malam. Alhasil, mau tidak mau Pertiwi menggantikan dokter Tika jaga malam.
Beruntung, dokter Tito bersedia menggantikan Pertiwi. Hingga Pertiwi dapat menyusul keluarganya yang telah berangkat menuju vila.
Di jalan, ban mobil Pertiwi bocor sementara jalan yang dilaluinya jauh dari bengkel.Farhan menghampiri Pertiwi saat dilihatnya wanita cantik itu sedang bersusah payah mendongkrak mobil untuk mengganti ban. Farhan akhirnya menawarkan diri untuk membantu Pertiwi mengganti ban mobilnya.
" Sudah selesai, dok " ucap Farhan sambil membawa ban yang kempes ke dalam bagasi mobil Pertiwi.
" Terima kasih ya, Han ! Beruntung banget ketemu kamu disini " ucap Pertiwi senang sambil menutup bagasi mobilnya setelah Farhan menyimpan ban yang bocor serta dongkrak.
" Gak apa-apa, dok. Saya senang bisa bantuin dokter " jawab Farhan tulis.
Pertiwi melihat mobil Mario terparkir di restoran yang ada di ujung jalan.
" Kok kayak mobil Mario " gumam Pertiwi.
" Kenapa dok ? " tanya Farhan sambil ikut melihat ke arah tatapan mata Pertiwi.
" Ehh... Gak apa-apa kok. Terima kasih ya ! " ucap Pertiwi sambil berjalan menuju pintu samping kemudi.
" Nanti, kapan-kapan saya traktir kamu makan " tambah Pertiwi lagi sambil meraih handel pintu mobilnya.
Tiba-tiba Pertiwi, melihat sosok pria yang dicintainya keluar dari restoran bersama seorang wanita.
" Rio... " ucap Pertiwi lirih, ada gurat nada kecewa dan sedih dari suaranya.
Farhan yang sedari tadi memperhatikan dokter cantik itu seketika ikut terkejut melihat ke arah yang dilihat oleh Pertiwi.
" Itu, dokter Mario ? " tanya Farhan tak percaya karena melihat dokter Mario menggandeng mesra seorang wanita.
Pandangan mata Pertiwi terus memantau tunangannya itu hingga mereka masuk ke dalam mobil dan melaju dari restoran.
Pertiwi bergegas masuk ke dalam mobil. Ia merubah tujuannya yang semula berangkat ke vila, kini mengikuti mkbil Mario.
Tanpa Pertiwi sangka, Farhan ikut masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sampingnya.
" Ngapain kamu masuk ? " tanya Pertiwi heran.
" Saya hanya ingin memastikan, anda baik-baik saja. Tidak baik mengemudi dalam keadaan marah " jawab Farhan.
" Ck... Kamu terlalu berlebihan " ucap Pertiwi, namun ia segera memacu kendaraannya untuk mengikuti Mario.
Selama di perjalanan, tidak ada obrolan diantara Farhan dan Pertiwi. Pertiwi fokus menatap laju mobil Mario sementara Farhan sibuk berdoa karena tidak menyangka dengan kemampuan mengemudi Pertiwi yang bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Akhirnya, mobil Mario berhenti di lahan parkir apartemen tempat Mario tinggal. Pertiwi tahu itu, karena ia juga sering datang ke apartemen milik Mario. Dan kini, ternyata ia harus menerima kenyataan jika bukan hanya dirinya wanita yang dibawa Mario ke apartemennya.
Pertiwi membiarkan, Mario dan wanita itu masuk ke dalam gedung apartemen lebih dulu. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Pertiwi mencoba menghubungi tunangannya itu.
Pertiwi : Kamu dimana, sayang ?
Mario : Aku masih seminar. Kenapa ? Kamu kangen ya ?
Pertiwi : Kirain udah beres
Mario : Paling beresnya besok sayang. Nanti aku ke rumah kamu besok ya !
Pertiwi : Ya udah deh. Bye... !
Mario : Bye sayang. Love you, mmuah...
Masih seminar kamu bilang ? Kenapa kamu bohongin aku, Rio ?
Tangan Pertiwi mengepal setelah menutup ponselnya. Pertiwi menyandarkan kepalanya pada jok mobil sambil memejamkan mata, tak lama ia meninggalkan mobil dan segera masuk menuju apartemen Mario.
" Kamu disini aja, Han. Biar saya masuk sendiri " ucap Pertiwi sambil keluar dari mobil lalu masuk ke dalam gedung.
Farhan nampak menyusul Pertiwi setelah mengunci mobil. Pertiwi baru saja masuk ke dalam lift dan Farhan tentu saja segera ikut masuk.
" Kamu ngapain ? " tanya Pertiwi heran saat melihat Farhan tergesa masuk ke dalam lift.
" Saya hanya mau menjaga dokter " jawab Farhan.
" Saya baik-baik saja. Tidak perlu penjaga " sahut Pertiwi sedikit ketus.
" Saat ini anda mungkin baik-baik saja. Siapa yang bisa menjamin perasaan anda akan baik-baik saja setelah ini " ucap Farhan lagi.
Pertiwi bungkam mendengar ucapan Farhan.
Ya, saat ini mungkin dia baik-baik saja. Tapi, ia pun tak pernah tahu bagaimana perasaannya nanti jika melihat sang kekasih yang bahkan telah bertunangan dengannya itu tengah bersama wanita lain.
Pikiran-pikiran buruk berkelebat dalam kepala Pertiwi. Entahlah, ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa seandainya mendapati kenyataan pahit. Skenario apa yang harus ia siapkan nanti.
Pintu lift terbuka setelah sampai di lantai 19 gedung apartemen. Pertiwi keluar dari lift diikuti oleh Farhan yang setia mengikutinya.
Farhan sendiri tidak mengerti, mengapa ia sibuk mendampingi Pertiwi. Padahal awalnya ia hanya ingin mendekati Pertiwi untuk mengorek informasi tentang Mario dan dokter Harun, ayahnya dokter Mario. Mungkinkah karena ia hanya simpati ataukah ada hal lain yang sulit diartikan. Yang pasti, ia hanya ingin dokter cantik itu baik-baik saja.
Pertiwi sampai di depan pintu apartemen Mario. Ia lebih dulu mengatur nafasnya, mencoba menenangkan diri. Setelahnya, ia menekan kode akses apartemen Mario. Pintu terbuka, lalu Pertiwi beserta Farhan masuk ke dalamnya.
Tidak ada siapapun di ruang depan apartemen. Pertiwi berjalan menuju pintu kamar Mario karena ia mendengar suara berisik dari arah kamar.
Pertiwi membuka lebar pintu kamar yang sedikit terbuka dengan tangan yang bergetar. Pintu pun terbuka dan Pertiwi membelalakkan mata saat menyaksikan pemandangan di hadapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Erina Munir
tuhh kaan...mang dasar cowok klo mrasa udh mapan yaah gitu suka jdi takabur...
2023-12-31
1
Eman Sulaeman
waw
2023-02-13
3
neli nurullailah
ko jd mendetail cerita tiwi.
2022-12-01
2