Suara ketukan pintu membuat Zaid bangkit dari tempat tidur. Ia mengenakan celana boksernya yang tergeletak di lantai. Dilihatnya Adinda yang masih lelap dalam tidurnya. Bagaimana tidak terlelap, setelah berperang sejak malam ditambah Zaid yang masih mengajaknya bertempur setelah subuh. Alhasil Adinda tertidur karena kelelahan melayani hasrat sang suami.
Zaid menutupi tubuh sang istri sampai ke leher dengan selimut hingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Zaid tersenyum bangga saat melihat hasil karyanya di tubuh mulus sang istri. Bercak merah keunguan yang nampak jelas di dada, bahu, serta leher Adinda.
Tok... Tok... Tok... Tok...
Suara pintu kamar terdengar diketuk dengan kencang.
Zaid membuka pintu kamar dengan malas. Suguhan di hadapannya sungguh membuatnya ingin segera menutup kembali pintu.
Arjuna menyeringai saat Zaid membuka pintu. Ia berniat masuk, namun Zaid menahannya di muara pintu.
" Apa sih pagi-pagi gangguin aja " kesal Zaid.
" Pagi ? Woy, ini udah jam 11 " ingat Arjuna sambil menggeleng-gelengkan kepala.
" Mana adik gue ? " tanya Arjuna kemudian sambil berusaha mengintip ke dalam kamar mencari keberadaan sang adik.
" Masih tidur, mau ngapain sih ? " Zaid menghalangi pandangan Arjuna.
" Ya, ampun... Pasti diapa-apain nih, sampai jam segini masih tidur " ucap Arjuna menggeleng-geleng kepala kembali.
" Ya, iyalah. Kalau gak diapa-apain ngapain dinikahin " jawab Zaid asal.
" Jadi udah berhasil nih ceritanya... Gimana ? " tanya Arjuna sambil menaik turunkan alisnya.
" Gimana apanya ? " Zaid mengangkat sebelah alisnya.
" Berhasil meraih kemenangan kan ? " tanya Arjuna lagi begitu antusias.
" RA HA SI A " jawab Zaid sambil menutup pintu meninggalkan Arjuna yang tersenyum-senyum sendiri.
" Id... Disuruh ibu sama bunda sarapan dulu ! " teriak Arjuna dari balik pintu.
Sayang, sang empu kamar tak mendengar sama sekali.
" Gini deh kalau baru ngerasain, lupa sama yang lain. Termasuk isi perut " gumam Arjuna terkekeh sendiri melihat pintu kamar yang tertutup rapat.
Zaid kembali ke peraduannya dan memeluk tubuh Adinda kembali.
" Siapa Mas ? Kok mirip suara Bang Juna ? " tanya Adinda masih berat untuk membuka kelopak matanya.
" Iya, bukan cuma Juna. Tapi semuanya juga ada disini" jawab Zaid sambil mencium bahu Adinda.
Seketika Adinda membuka matanya, memaksakan diri untuk bangun.
" Hah ? Ada disini ? Sejak kapan, Mas ? " tanya Adinda kaget.
" Dari malam kayaknya, kenapa kok kaget gitu ? " selidik Zaid merasa aneh dengan sikap Adinda yang menurutnya berlebihan.
" Kalau mereka dengar suara kita tadi malam, gimana Mas ? " tanya Adinda malu bercampur kalut.
Zaid menarik sudut bibirnya mendengar pertanyaan sang istri.
" Gak apa-apa lah, sayang... Pasti mereka maklum kok " kilah Zaid.
" Iih... Dinda kan malu, Mas... " ucap Adinda mengusel-usel wajahnya di dada Zaid.
Zaid tersenyum geli melihat sang istri lalu mengusap rambut Adinda dengan lembut juga merapikannya.
" Gak ada yang dengar sayang... Kamar ini kedap suara. Mau coba lagi ! " jelas Zaid menggoda dengan kerlingan mata.
Adinda mendorong dada Zaid kemudian beranjak. Kaki jenjangnya turun ke lantai, sementara tangannya menahan selimut agar tidak lepas dari tubuhnya.
" Kenapa selimutnya dibawa ? " tanya Zaid heran.
Wajah Adinda memerah, ia malu jika harus memperhatikan tubuhnya yang polos pada Zaid.
" Malu ? Aku udah lihat semuanya kok. Ngapain ditutupin " ucap Zaid sambil menarik selimut yang dipegang Adinda sehingga selimut itu terjatuh ke lantai.
" Mas... " mata Adinda melotot pada Zaid terlebih saat Zaid malah mendekatinya.
" Mau ngapain lagi, Mas ? " tanya Adinda siap siaga khawatir sang suami menyerang kembali.
Di luar dugaan, Zaid menggendong Adinda lalu membawanya ke kamar mandi.
" Kita mandi bareng " bisik Zaid terdengar begitu menggoda di telinga Adinda.
Adinda menyembunyikan wajah pada dada Zaid, ia terlalu malu jika melihat wajah sang suami. Teringat dengan apa yang mereka telah lakukan semalam.
Zaid menurunkan Adinda di bath tube setelah sebelumnya mengisinya dengan air hangat dan minyak esensial dengan aroma therapy. Dan kemudian Zaid ikut masuk ke dalamnya.
Zaid menyabuni tubuh Adinda, memijat kaki dan tubuh sang istri agar rileks. Tetapi itu tak berlangsung lama karena Zaid kembali melancarkan serangan setelah sebelumnya melakukan gencatan senjata.
Bibir Adinda mengerucut saat Zaid keluar dari kamar mandi. Ia tak habis pikir dengan suaminya itu, mengapa selalu saja mengajaknya berperang.
Adinda mengenakan dress yang bisa menutupi lehernya. Ia kesal sendiri dengan karya seni yang khusus dibuat sang suami di tubuhnya.
" Kalau manyun gitu, jadi gak tahan pengen nyerang lagi " gurau Zaid sambil memakai pakaian yang telah Adinda siapkan.
" Ish... Gara-gara Mas nih, Dinda harus pake baju kayak gini. Kalau yang lain lihat pasti Dinda habis diledekin apalagi Bang Juna sama Kak Tiwi " Adinda merajuk.
Zaid menghampiri Adinda,
" Kalau udah begini komplen, tapi kalau lagi enak nahan-nahan sampe merem melek " goda Zaid
" Mas... ! " Adinda mengerucutkan bibirnya.
Cup...
Zaid mengecup bibir Adinda membuat Adinda menggigit bibir bawahnya.
" Kamu jangan godain aku lagi, Yang " ucap Zaid sambil mencubit hidung Adinda.
" Huft... " Adinda menghembus nafasnya kasar.
Kenapa kalau dia mesum, aku jadi kalah sih ??
" Ayo kita turun ke bawah, kita sarapan dulu " ucap Zaid mengulurkan tangannya meraih jemari Adinda.
Adinda menggenggam erat jemari Zaid, lalu keluar kamar bersama sang suami.
Di ruang makan, semua orang telah menunggu kehadiran dua insan yang tengah dimabuk cinta.
Ibu dan Bunda tersenyum melihat Adinda dan Zaid yang datang dengan bergandengan tangan.
" Nah, yang ditungguin dari pagi baru nongol... " celetuk Arjuna sambil melihat Adinda dan Zaid.
Adinda menatap tajam pada Arjuna, sementara Arjuna tertawa melihat tatapan membunuh dari sang adik.
" Abang... " pekik Adinda sambil memberi tinju dari tempatnya berdiri.
" Kalian gak lapar ? Sarapannya disatuin sama makan siang " tanya Bunda seolah tak tahu apa pun.
Adinda hanya tersenyum simpul, sedangkan Zaid menggaruk tengkuknya. Keduanya lalu duduk di meja makan bergabung bersama yang lainnya.
" Gak berasa lapar kalau udah sarapan yang lain. Iya kan Id ? " celetuk Arjuna menyeringai.
" Astaga, abang... Kondisikan mulutnya itu " sahut Adinda gemas pada sang kakak.
" Tante sama Om udah selesai buat adik bayinya ? " celetuk Adam dengan polosnya.
Zaid yang tengah makan sampai tersedak mendengar pertanyaan dari Adam. Segera Adinda memberikan segelas air minum kepada Zaid.
" Adam sayang, gak baik ngomong begitu. Siapa yang ajarin Adam ? " tanya Kirana pada sang anak.
" Tadi papa bilang sama Adam kalau Tante Dinda sama Om Zaid lagi bikin adik bayi " jawab Adam jujur.
Arjuna seketika diam terlebih lagi saat Adinda dan Kirana menatapnya tajam.
Alamak... Bakalan dikeroyok nih !!
" Mas, kalau ngomong sama anak kecil itu disaring " ucap Kirana pelan sambil mencubit paha Arjuna.
" Aw... Sakit sayang " ringis Arjuna sambil mengusap-usap pahanya yang terasa perih dan panas.
" Rasain... Udah Mba, jangan dikasih jatah Bang Juna. Biar tahu rasa ! " seru Adinda mengompori Kirana.
" Kayaknya emang betul nih, Din. Biar bisa ambil pelajaran " ucap Kirana sambil mendelik pada sang suami.
" Eits... Jangan dong, sayang... Iya, iya... Mas janji gak akan ajarin Adam ngomong yang engga engga... Maafin Mas Junamu yang bersalah namun ganteng ini " ucap Arjuna sambil menciumi tangan Kirana membuat sang istri menahan tawa dengan tingkah konyol Arjuna.
" Jangan tergoda, Mba... Modus itu mah... Baca Ta'awuz dulu biar terlindung dari godaan setan, Mba " imbuh Adinda dengan juluran lidah meledek Arjuna.
Dasar adik nyebelin, dikira setan kali gue !!
batin Arjuna sambil menatap kesal pada Adinda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
🍾⃝ Mᴀᴋ sͩᴜᷞɴͧᴅᷡᴜͣɴɢ
om dan tante udah selesai ngadon adek bayi lgi tunggu proses cetak dan panggang aja
2023-10-22
3
Wiwik Widyaningsih
keluarga harmonis
2023-04-08
1
💕Leyka Gallardiev 💕
kenapa ganggu in penganten baru yang baru belah duren sih keluarganya Juna gax asik ah .
2023-01-17
2