Aku menangis dengan kepala ku tutupi bantal, dadaku sesak oleh kenyataan bahwa sebentar lagi, harapan hidupku untuk bersanding dengan Mas Haris akan musnah.
" Mama sudah tua, dek.Keinginannya tak muluk-muluk, dia hanya ingin melihat kita berkumpul kembali seperti dulu. Kamu tentu tak ingin di sisa hidup mama dipenuhi dengan ratapan dan kesedihan, kan! " kata Kak Darre sambil menyibak bantal yang kupakai untuk menutup wajahku yang menangis.
Kak Darre duduk di sampingku. " Mama mungkin belum bicara banyak padamu, tapi tahukah kamu, dek. Disetiap sujudnya tak lupa lantunan doanya untukmu tak peduli di manapun kamu berada, kebahagiaan dan keselamatan untukmu. Tanpa dia katakan, dari sorot matanya saja kami semua tahu bahwa dia bahagia dengan kepulangan mu. Lalu, apa kamu tega memusnahkan binar bahagia itu dari matanya? "
Aku terdiam oleh kata - kata yang keluar dari mulut kak Darre. Apa iya, mama sebahagia itu dengan kembalinya aku?
" Tapi kak, aku sangat membenci Syafrie." lirihku.
" Dia banyak berubah, dek. Waktu telah mendewasakan seseorang, bukan? " Aku mengangkat bahu tak tertarik. "Kehadiran Fadil menjadikan titik balik bagi Syafrie. Sekali - kali kau harus melihat kedekatan ayah dan anak itu, dek. Mereka sangat manis sekali."
Aku mendengus mendengar Kak Darre memuji kedua orang yang selalu membuat dadaku sesak. Sungguh menjijikkan.
Kak Darre membetulkan posisi jilbabnya. Aku masih diam, enggan menanggapi ucapan Kak Darre
"Bagaimana pendapatmu mengenai Syafrie?" tanyanya.
" Menjijikkan.! " jawabku asal.
" Bukan itu maksudku, dek. Dan tolong, berhentilah menambahkan kata menjijikkan pada dirinya. Dia bukan hewan melata. .! " Kak Darre memarahiku ketika aku mengucapkan kata "menjijikkan' pada Syafrie. Aku membuang wajah muak.
" Dek, kamu tahukan? Sebelumnya Syafrie bersama Marina. Tidaklah kamu penasaran, di mana sekarang wanita itu dan mengapa kami semua meminta kamu rujuk kembali dengan Syafrie? " tanya Kak Darre.
Aku mengendikkan bahu. Males banget rasanya mencari jejak keberadaan orang yang sudah menghancurkan hidupku dulu.
" Apakah dengan aku mengetahui keberadaannya dan mengetahui alasan kalian, aku bisa bebas pergi dari sini?" Aku tersenyum kecut. Wanita itu yang membuat pernikahanku hancur. Mendengar seseorang menyebutkan namanya saja sudah cukup membuat aku merasa seperti disiram air es.
" Bukan itu maksud kakak, dek. Maaf jika kata - kata kakak tadi membuatmu kembali terluka. " Kak Darre meraih jemariku dan menggenggamnya.
" Bisakah kita berhenti membicarakan tentang Syafrie, putranya, dan juga istrinya itu. Aku pulang ke desa ini bukan untuk mendengar kemalangan hidup mereka. Ada hal lain yang menjadi tujuanku kemari. Tapi semua itu kini tak penting lagi. Karena apapun itu yang menyangkut kebahagiaanku, bukanlah prioritas utama kalian lagi." kataku mengasihani diri sendiri.
" Kau salah, dek. Justru yang kami lakukan semua demi kebaikanmu."
" Yang kalian lakukan bukanlah kebaikan bagiku. " sentakku kesal.
" Kalian hanya belum banyak bicara.. ! " kak Darre mempererat genggaman tangannya.
" Kalau tujuan kakak kemari hanya untuk merayuku, maka bisakah kakak meninggalkan aku sendiri saja? " Aku memijit kepalaku yang terasa pusing.
" Dek..! "
" Tinggalkan aku sendiri, kak! " pintaku memelas.
" Baiklah, maaf, kakak tak bisa membantumu, dek!" Kak Darre mengelus kepalaku sebelum berlalu pergi keluar kamar.
...------...
Suara azan terdengar dari surau yang tak jauh dari rumah mama. Ini sudah waktu maghrib, Namun sampai detik ini tak ada tanda - tanda akan kemunculan mas Haris.
Sejak tadi aku juga sudah menghubungi ponselnya namun sudah lebih dia jam, aku lihat whatsappnya tak juga aktif. Puluhan panggilan dan chatku, semuanya tak direspon. Kemana Mas Haris. Jika setelah menerima telponku tadi Mas Haris sudah berangkat kemari, sudah sejak tadi batang hidungnya nongol disini. Apa yang telah terjadi dengan Mas Haris. Bahkan aku juga tadi sudah menghubungi teman teman sekantorku untuk menanyakan kabar mengenai Mas Haris, namun justru jawaban mereka membuat hatiku kesal dan bertanya - tanya. Mereka mengatakan bahwa Mas Haris sudah keluar dari sejak jam Dua siang tadi. Kemana Mas Haris...?
Azan magrib telah selesai. Matilah aku..! Syafrie memang benar. Aku menciptakan neraka yang kubuat sendiri.
" Kamu sudah siap, Asma? " tanya wanita berbaju gamis coklat susu membuka pintu dan berjalan mendekat. Tidak... aku tidak siap. Rasanya aku ingin kembali menangis lagi.
" Sini, kakak bantu dandan, ya! " aku menggelengkan kepala. Tidak, aku tidak mau di sentuh oleh siapapun. Aku masih menunggu dan berharap Mas Haris datang dan menyelamatkan diriku.
" Ayo, Asma. Sebentar lagi mereka akan pulang dari mesjid. Kamu sudah solat ? " Aku kembali menggeleng. Bahkan, rasanya aku juga masih enggan untuk beranjak. " Ya, udah... kamu solat dulu, dek. Entar kakak kembali lagi kesini."
Suasana kembali sepi. Saat aku melangkahkan kaki untuk mengambil wudu ke kamar mandi, aku melihat tak ada satupun ibu - ibu yang tadi ramai memasak makanan. Mereka semua sedang solat maghrib berjama'ah di ruang tamu.
Sepi... tak ada seorang pun di sini. Terlintas di pikiranku untuk kabur dari rumah mama. Aku memang tak punya pilihan lain selain kabur. Keluargaku semuanya telah sepakat untuk menikahkan aku dengan laki - laki itu. Maka jangan salahkan aku jika aku melakukan hal ini.
Urung untuk mengambil wudhu, aku kembali ke kamar secepatnya dan mengepak semua pakaianku, namun sebuah suara membuat jantungku berhamburan.
" Asma..!" Aku menoleh gugup. " Ya.. Allah, benarkah itu kamu Asma adek kakak? " serunya gembira seraya menubruk tubuhku. " Asma, sini kakak kenalin sama istri kakak. " Dia kembali menyeret seorang wanita dan seorang anak kecil ke arahku. " Ini istri kakak, Yeni dan anak kami Yessi. " katanya tanpa memberi kesempatan padaku untuk berbicara.
" Yeni, ini adek bungsu Abang yang pernah Abang ceritakan. Yang lama pergi merantau dan tak pulang - pulang! " kedipnya menyindir aku. Wanita yang bernama Yeni itu tersenyum ramah padaku.
" Kak Adit" seruku tertahan.
" Yap.. siapa lagi? Dek, kemana saja kamu pergi. Kakak rindu sekali padamu. " katanya senang.
" Bang, magriban dulu entar keburu habis waktunya..! " ingat istri kak Adit padanya.
" Eh, iya. Dek, kamu sudah magriban, belum..? Berwudu sana, dek. Solat magrib bareng kakak! " Aku mengangguk lemas. Gagal sudah rencanaku untuk kabur.
Mengapa Allah tidak mengabulkan keinginanku. Permintaanku pada pemilik takdir ini hanyalah agar Mas Haris muncul di hadapanku.
Namun sampai para lelaki itu pulang dari surau, Mas Haris tak jua muncul menampakkan batang hidungnya.
Ijab qabul sebentar lagi akan dimulai. Kak Darre yang datang ke kamar yang ku tempati selama aku disini, datang memberitahuku.
Aku juga telah selesai didandani. Bukan dandanan mewah seperti kala dulu saat perkawinan Syafrie dengan wanita itu. Hanya sapuan make up tipis yang entah sudah berapa kali kuhapus, yang di poleskan oleh Kak Darre di wajahku. Air mataku sejak tadi tak mau berhenti keluar. Hanya ada aku di sini yang di temani oleh kak Darre dan istri kak Adit.
Sementara di luar sana, para tamu pria terlibat obrolan satu sama lain. Sesekali kudengar suara kak Mansyah yang tertawa terbahak-bahak. Sialan, kakakku itu telah menjebak adiknya sendiri dengan pernikahan yang dipaksa.
" Asma, kamu gugup? " tanya istri kak Adit. Pertanyaan apa itu. Dibandingkan dengan gugup aku lebih cenderung marah. Aku marah pada seluruh keluargaku. Di bandingkan suara Syafrie dan anak pengkhianat itu, suaraku tak ada harganya sama sekali.
Leherku rasanya sekarat serasa disembelih, saat sayup terdengar suara Syafrie menyambut ucapan penghulu di depannya. " Saya Terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang disebutkan di atas. Dan saya rela dengan hal itu. Dan semoga Allah memberikan Anugrah. " Suara Syafrie lantang terdengar menusuk telingaku hingga tembus ke jantung. Luruh seluruh ragaku. Aku terkulai lemas serasa tak bernyawa.
Hilang sudah harapanku untuk bersanding dengan lelaki bermata teduh yang menjadi impianku siang dan malam.
Kemana Mas Haris pergi. Lelaki itu yang kuharapkan datang untuk menyelamatkan hidupku, tak pernah muncul batang hidungnya. Bagaimana sudah dengan nasibku?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mr.VANO
asma perempuan bodoh,,sama kyk kakkny yg bodoh,,,kenapa tdk berontak,,,ini tentang ke hidup rmh tangga,,tak bisa org ikut campur kalau kita tak bahagia,,,perempuan bodoh yg mau di jodokan,,
2023-08-28
0
Kecanduan Baca Novel
next thor....
ceritanya makin seru, ...penasaran sama Harris, kemana ya kira2..
ato jangan2 udah tau asma mau nikah sama syafri...
2022-05-31
0
yuliachandra
lanjut, semangat nulis y thor
2022-05-31
0