Bab. 19

Bocah itu kemudian berlalu meninggalkan kami berdua yang kemudian saling hening, tak ada pembicaraan lagi.

" Kau memberinya harapan, Asma. " ucapan Syafrie kemudian membuka percakapan setelah keheningan itu tercipta lama di antara kami.

Aku tersenyum sinis dan setengah mengejek ke arah Syafrie. " Dia beruntung, Kita lihat saja. Aku alih-alih memberinya harapan, lalu... trak, mematahkan hati anakmu. " ejekku pada Syafrie si pria pengkhianat itu. Syafrie menatap mataku dan berjalan mendekat ke arahku. Setelah dekat denganku, dia mencengkam lenganku dengan kuat.

" Apa! " bentakku sambil mendelik menahan sakit. " Lepasin, kamu menyakitiku! " Aku menepis tanganya dari lenganku dengan jijik.

" Sumpah, apa yang kamu lakukan itu akan meremukkan hati anakku, Asma! " Aku tertawa tertahan dengan bola mata memutar, bosan.

" Santai aja kalee, putramu yang cengeng itu tak akan semenderita aku yang tersakiti oleh kau dan ibunya itu." senyumku penuh ejekan. " Ah, kau jangan berpikiran bahwa aku akan membalas dirimu dan wanita itu melalui putramu. Ternyata pikiranmu picik sekali, Syafrie..!"

kataku seraya menepuk bahu Syafrie lalu berjalan menjauh.

Dapat kulihat kemarahan di mata Syafrie melalui kilatan di matanya. Ia tahu dengan pasti, diriku sedang mengejeknya. " Kamu--- Apa maumu?"

tanya Syafrie sambil mendorong tubuhku. " Jadi kamu ingin membalasku melalui putraku, hah? " tanyanya dengan ekspresi marah. Dia mengangguk - angguk sendiri. Bodohnya dia.... dia mengambil kesimpulan sendiri tentang semuanya. Tapi masa bodoh. Mungkin saja memang benar, aku akan membalas semua dendamku melalui putranya dengan wanita itu.

Syafrie kembali menatapku. Ku tantang tatapannya dengan sorot mata yang tak kalah tajamnya. " Apa? " bentakku kemudian. Tangan Syafrie sudah terkepal menahan geram akan sikapku. Namun berbanding terbalik dengan hatiku yang girang melihat kekesalan di wajahnya.

" Tawaranku padamu untuk melupakan segalanya dan juga cerita masa lalu kita rupanya menyentil egomu, asma. Baik... aku terima tantanganmu... Mari kita ke neraka yang kau buat, bersama..! " setelah berkata demikian, Syafrie melangkah meninggalkan aku dengan di iringi bunyi pintu yang berdebam kerena di banting oleh Syafrie. Lucu sekali... dia marah besar.. padahal aku merasa tidak melakukan kesalahan apa pun padanya.

Bau aroma makanan menusuk hidungku. Aromanya yang tajam membuat aku merasa lapar. Namun rasa malasku karena kesal membuatku menahan diri dengan tetap berada di dalam kamar.

Aku hanya bisa menahan perih di ulu hatiku karena asam lambungku mendadak kumat. Baru kuingat sedari tiba di desa ini hingga sekarang, tak ada sebutir nasi pun yang masuk ke perutku. Hanya air saja beberapa teguk.

Aku keluar menuju dan berjalan menuju ke kamarku. Sebenarnya aku ingin melangkah ke dapur, namun saat kulihat banyak sanak kerabat yang nongol, membuatku urung untuk ke sana. Rasa laparku kembali menguap.

Pandangan mataku tertuju pada bocah - bocah yang ramai di luar sana sedang bermain asinan. Bocah yang memakai baju kaos putih bertuliskan Holiday itu menarik perhatian ku. Wajahnya tampak ceria tertawa. Saat tertawa dia makin mirip dengan Syafrie.

Tapi tunggu dulu, tarikan sudut bibir itu, itu bukan milik Syafrie. Aku seperti pernah melihat senyum itu pada seseorang, tapi aku tak ingat. Apa milik perempuan itu. Tapi aku hanya melihatnya sekali, jadi aku tak ingat persis seperti apa wajah istri baru Syafrie itu. Namun aku yakin, senyum itu pastilah milik istrinya itu, siapa lagi kalau bukan ibu dari anak itu.

Aku mengurut dada menahan nyeri yang tiba-tiba saja datang. Andai saja anakku lahir dengan selamat saat itu, apakah wajahnya juga akan mirip diriku atau Syafrie? Atau juga bahkan perpaduan aku dan Syafrie.

Akan terasa lega rasanya, andai saja aku bisa merasakan bagaimana rasanya bermain dengan putraku. Tentunya aku tak akan sebegitu bencinya dengan Syafrie seperti saat ini.

" Fadil..! " Suara seseorang memanggil bocah yang sedang asyik bermain Asinan itu membuatnya menoleh dan menghentikan permainan.

Aku tahu pasti siapa pemilik suara yang memanggil bocah itu. Siapa lagi kalau bukan Syafrie. Bocah itu berlari menyongsong Syafrie. Pria berbaju koko itu berjongkok menyamakan tingginya dengan bocah itu. Syafrie sepertinya mengatakan sesuatu dan diangguki oleh bocah itu. Sayang sekali aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Setelah itu keduanya lalu berpelukan dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Raut wajah bocah itu tersenyum bahagia sedang Syafrie datar, tak ada ekspresi.

Aku terhenyak menyadari satu hal. Semua orang sedang mempersiapkan masa depan, namun hanya aku seorang saja yang masih terperangkap di masa lalu.

...------...

Tanganku bergetar memencet tombol telpon di hapeku. Aku gugup sekali ketika ingin menelpon Mas Haris. Lelaki yang merupakan calon suami masa depanku.

Aku merasa harus memberitahukan hal ini padanya. Hanya dia satu - satunya harapanku agar terbebas dari belenggu masa lalu yang kubenci.

" Ya, Asma. Mas lagi meeting, sayang. " Suara mas Haris menyambut ku ketika telpon kami tersambung.

" Mas bisa jemput aku sore nanti, nggak? Sebelum magrib, mas. " Ku tahan suaraku sebisa mungkin agar tak bergetar.

" Ada apa, sayang. Apa kamu sudah bicara dengan mereka. Apa mereka mau menerimaku? " tanya lelaki bermata teduh itu.

" Tentu, aku sudah bicara dengan mereka, dan mereka mau menerima hubungan kita, mas." Aku tak percaya sampai harus berbohong pada Mas Haris demi bisa terbebas dari masa lalu.

" Oke, baiklah. Kamu tunggu aku ya, Asma. Jangan jauh - jauh dari handphone karena aku belum pernah ke sana. " Suara seseorang terdengar dan sepertinya mengalihkan fokus Mas Haris di telpon. Mau tak mau aku terpaksa mengakhiri telepon kami. Aku kesal, padahal aku belum selesai bicara. Aku mau mengatakan agar laki-laki itu jangan sampai terlambat datang. Karena hanya dia satu - satunya harapanku untuk bisa terbebas dari Syafrie.

" Asma, kamu yakin dengan keputusan ini. Kalau kamu tak setuju, kamu bisa menolaknya. Kau tahu, kakak selalu mendukungmu. " Suara kak Darre membuatku terkejut. Aku yakin dia pasti mendengar pembicaraan ku dengan Mas Haris.

" Dek..! " Kak Darre kembali menyentuh bahuku.

" Hmm..! " aku hanya menjawab dengan deheman saja. Walaupun di darah kami mengalir darah yang sama, namun aku tak yakin dia bakalan bisa ku percaya.

" Yakin..? " dia kembali bertanya.

" Tidak, aku tidak bisa menerima semua ini. Aku tidak bisa menerima mereka. Jadi bisakah kalian semua membiarkan aku pergi dari sini.? Biarkan aku kembali ke tempat ku." Aku menangis menatap pantulan diriku di cermin.

Kak Darre sedikit terkejut saat melihatku seperti ini. Dia kemudian menarik diriku ke depan cermin di depan lemari. "Lihatlah adek kakak ini. Kamu sangat cantik, dek. Pasti hatimu juga cantik. Fadil itu anak kecil yang haus akan kasih sayang ibunya. Kakak yakin kamu akan menjadi ibu yang hebat untuk Fadil.! Anak itu pastilah merasa sangat bahagia sekali karena sekarang memiliki seorang Ibu. Sekali ini saja, dek. Kakak mohon! "

Lagi - lagi, putra Syafrie yang jadi alasan kakakku memohon padaku. Aku tak bisa lebih lama lagi terkurung dalam suasana seperti ini.

" Kak, kira - kira mama seperti apa ya, jika aku melarikan diri dari tempat ini? "

Kak Darre menatapku dengan sorot mata sendu " Mama sudah tua, dek. Dia ingin melihat kita semua bahagia."

" Tapi kak, bahagiaku bukan lagi bersama Syafrie. Kami hanya masa lalu yyang terperangkap oleh salah faham seseorang. "

" Kalian akan bahagia, dek! " Kembali Kak Darre menanggapi ucapanku.

Aku menggeleng, seraya memberi pengertian kepada Kak Darre. " Tak ada perahu karam bisa berlayar kembali, Terlebih jika nakhodanya memiliki peta pelayaran yang berbeda." sahutku penuh amarah dan dendam.

Terpopuler

Comments

Mr.VANO

Mr.VANO

saudara asma sakit jiwa semua,,mana ad saudara menjerumuskan adik kelamba nestapa,,,jelas2 sapi biangkerok dr adik pergi puluan tahun gak mengeti,,terlalu bodoh klo ak tilai

2023-08-28

0

Sulati Cus

Sulati Cus

pdhl tgl jujur ae apa susahnya

2023-05-22

0

Kecanduan Baca Novel

Kecanduan Baca Novel

😔😔😔😔😔😔

2022-05-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 44
46 Bab. 45
47 Bab. 46
48 Bab. 47
49 Bab. 48
50 Bab. 49
51 Bab. 50
52 Bab. 51
53 Bab. 52
54 Bab. 53
55 Bab. 54
56 Bab. 55
57 Bab. 56
58 Bab. 57
59 Bab. 58
60 Bab. 59
61 Bab. 60
62 Bab. 61
63 Bab. 62
64 Bab. 63
65 Bab. 64
66 Bab. 65
67 Bab. 66
68 Bab. 67
69 Bab. 68
70 Bab. 69
71 Bab. 70
72 Bab. 71
73 Bab. 72
74 Bab. 73
75 Bab. 74
76 Bab. 75
77 Bab. 76
78 Bab. 77
79 Bab. 78
80 Bab. 79
81 Bab. 80
82 Bab. 81
83 Bab. 82
84 Bab. 83
85 Bab. 84
86 Bab. 85
87 Bab. 86
88 Bab. 86
89 Bab. 88
90 Bab. 89
91 Bab. 90
92 Bab. 91
93 Bab. 92
94 Bab. 93
95 Bab. 94
96 Bab. 95
97 Bab. 96
98 Bab. 97
99 Bab. 98
100 BAB. 99
101 Bab. 100
102 Bab. 101
103 Bab. 102 Tamat
104 Extra Bab. 103
105 Penutup
106 Bab. Promosi
107 Bab. Promosi 2
108 Bab promosi 3
109 Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 44
46
Bab. 45
47
Bab. 46
48
Bab. 47
49
Bab. 48
50
Bab. 49
51
Bab. 50
52
Bab. 51
53
Bab. 52
54
Bab. 53
55
Bab. 54
56
Bab. 55
57
Bab. 56
58
Bab. 57
59
Bab. 58
60
Bab. 59
61
Bab. 60
62
Bab. 61
63
Bab. 62
64
Bab. 63
65
Bab. 64
66
Bab. 65
67
Bab. 66
68
Bab. 67
69
Bab. 68
70
Bab. 69
71
Bab. 70
72
Bab. 71
73
Bab. 72
74
Bab. 73
75
Bab. 74
76
Bab. 75
77
Bab. 76
78
Bab. 77
79
Bab. 78
80
Bab. 79
81
Bab. 80
82
Bab. 81
83
Bab. 82
84
Bab. 83
85
Bab. 84
86
Bab. 85
87
Bab. 86
88
Bab. 86
89
Bab. 88
90
Bab. 89
91
Bab. 90
92
Bab. 91
93
Bab. 92
94
Bab. 93
95
Bab. 94
96
Bab. 95
97
Bab. 96
98
Bab. 97
99
Bab. 98
100
BAB. 99
101
Bab. 100
102
Bab. 101
103
Bab. 102 Tamat
104
Extra Bab. 103
105
Penutup
106
Bab. Promosi
107
Bab. Promosi 2
108
Bab promosi 3
109
Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!