Aku yang tak percaya pada kenyataan yang terpampang di depan mataku, terpaku kelu menatap penuh angkara murka.
Marah, dendam dan tak ingin percaya menjadi satu di dadaku. Pongahnya aku jika menyangka luka yang dia goreskan padaku beberapa tahun yang lalu sudah tak berdarah lagi. Nyatanya.....aku kolap.
Aku tak menyangka, ternyata aku tak sanggup jika harus menerima kenyataan hidup yang sangat rumit ini.
Bathinku sakit, sesakit luka hati yang kini baru saja kembali meradang, Tubuhku panas dingin.... Tuhan aku butuh nyawa cadangan, siapa tahu aku mati disini karena serangan jantung.
Aku yang awalnya sombong berpikir bahwa aku dengan hidupku yang baru akan sanggup bila suatu saat bertemu kembali. Kini nyatanya kesombongan itu tak terbukti.
Bertemu dengannya kembali di rumah orang tuaku adalah hal yang tak mungkin terjadi dan tak ada dalam perkiraanku, kecuali pemilik takdir dan alam semesta telah berkonspirasi.
Aku menegang takkala iris bening nan tajam itu menatapku tak berkedip. Dadaku sesak oleh luka yang kembali mengalirkan darah yang membuat celah di hatiku kembali meradang. Seandainya tak kubunuh rasa di hatiku sepuluh tahun yang lalu dan ku kubur bersama jasad seseorang di bawah sana, sudah keluar jutaan sumpah serapah dari mulutku untuknya sebagai pembukaan kata pertemuan kami.
Tatapan mata kami bertemu. Tajam matanya memandangku tak percaya. Ada rindu, kecewa, dan amarah terlihat jelas dari sorot matanya. Bahkan, tak ku pungkiri juga, aku melihat tatapan penuh damba yang membuncah di sana.
" Kau kembali... " desisnya lirih hampir tak terdengar.
Berani sekali dia berbicara padaku seolah tak pernah ada cerita kelam yang menjadi sekat hitam diantara kami.
Aku membuang muka, tak sudi aku bertatap muka dengan dia yang sudah menorehkan luka di hatiku.
"Jangan keras kepala, Asma. Percayalah kau masih memiliki aku. Kita akan hidup bersama. Aku, kamu, dan Marina akan hidup bahagia. Percayalah... Aku akan berlaku adil pada kalian semua! Tolong .. Asma, pahami posisiku! "
" Mengapa kamu berpikir bahwa kita akan bahagia. Oh yah... Kamu dan dia yang akan bahagia, tetapi aku tidak! "
" Tapi bapakmu sudah memberi izin padaku untuk menikah lagi, sayang"
Bagaikan film yang diputar ulang, ingatan akan luka yang dia torehkan kembali melintas di mataku.
Aku memang telah berdamai dengan luka dan masa lalu, namun untuk hidup berdampingan dengan si penoreh luka ini sungguh Demi apapun aku tak sanggup.
Suasana menjadi hening.
Ia berjalan mendekat ke arahku, aku mundur selangkah menghindar.
Dia bergerak membuka pintu. "Masuklah!" Aku diam, bergeming. Berlaku seolah menganggap dia tak ada. Otakku berputar, bekerja keras mencari jawaban mengapa lelaki ini ada di rumahku.
" Jangan keras kepala! Sikapmu ini malah akan membuatmu sakit. Kau tahu, di luar udara sangat dingin. Aku tak ingin repot karena harus mengurus orang yang sakit!" Oh.. Tuhan, tolong katakan padaku bahwa membunuh orang itu tak berdosa, segera akan kuhabisi lelaki di hadapanku ini dengan sadis.
Namun, tak urung juga aku melangkah masuk. Mana sudi aku menjadi sakit karena berada di luar rumah dan terkena angin malam. Membuat laki-laki yang tak tahu diri itu bisa mengambil keuntungan . Huh... enak saja.
" Tinggalkan saja..! " ujarnya. Aku mengernyitkan alis tanda tak paham akan maksud ucapannya.
" Maksudnya kopermu, tinggalkan saja biar aku yang angkat." Aku menoleh menatap wajahnya untuk pertama kali. Wajahnya masih sama seperti dulu. Wajah yang dulu begitu kugilai tak berubah sedikitpun, kecuali kini wajah itu tampak semakin dewasa.
Huh, basa basinya benar-benar membuatku muak. Aku melenggang melewatinya. Aku memasang jarak agar tak bersentuhan dengan Sayfrie.
Semerbak harum musk dan amber dan kesegaran sitrus menyapa indra penciuman. Sejak kapan selera parfum lelaki ini berubah. Dulu, dia sangat suka bau harum citrus dan rosemary yang menguar kesegaran. Tapi... peduli amat. Bukan urusanku lagi tentang seleranya.
Aku berdiri menatap ruang tamu yang berukuran 4 x 2 meter dan di cat dengan warna putih. Terkesan sederhana dan bersih. Tatapanku beralih pada bingkai di dinding yang menampilkan foto personel anggota keluarga mama. Aku tersenyum miris menyadari ketidakhadiranku di sana.
" Duduklah, aku akan keluar sebentar untuk membeli makanan. " Aku masih tak sudi menjawab kata-kata lelaki itu. Aku diam dan memilih untuk mengutak atik handphone dari pada mengindahkannya.
Bosan..! Mataku kembali bergerilya menatap ke sekeliling ruangan. Fokusku terarah pada sebuah pigura yang berisikan gambar lelaki itu dan seorang anak laki-laki yang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan dirinya.
Hatiku terasa dicubit, sakit. Berani sekali dia memasang foto anaknya dengan wanita itu. Dia telah merebut hakku. Seharusnya di sana foto anakku yang andai saja hidup, sudah pasti seumuran dengannya. Amarahku sudah menyebar ke seluruh ruang dalam tubuhku, menggetarkan seluruh persendian tubuhku. Air mata yang sejak tadi kutahan, rasanya ingin melesak keluar, untung saja aku masih bisa menahannya.
Pintu rumah terbuka. Lelaki itu masuk sambil menenteng sebuah bungkusan yang berisi nasi. Dia meletakkan sebungkus nasi di sebelahku kemudian melangkah pergi ke arah dapur.
Cuih... dia pikir aku mau makan dari hasil jerih payahnya Aku lebih memilih menahan rasa lapar dari pada harus menerima pemberiannya.
Teleponku bergetar, nama Mas Haris tertulis di sana. Segera mengangkat panggilan dari Mas Haris.
" Assalamu'alaikum, My sweet heart! " lelaki yang wajahnya selalu menghiasi mimpi - mimpiku akhir - akhir ini tersenyum saat melihat tampilan wajahku menghiasi layar kaca handphonenya.
Aku hanya diam tanpa menjawab salamnya.
" Memberi salam hukumnya sunah, tetapi menjawab salam hukumnya wajib, Asma!" kata Mas Haris.
Aku hanya melongoskan wajah. Entahlah moodku sedang tidak baik - baik saja saat ini.
" Asma, jawab salamnya! " Mas Haris menyuruhku menjawab salam yang dia ucapkan.
" Iya, iya... bawel amat sih! Waalaikum salam! " jawabku singkat. Mas Haris tersenyum mendengar jawaban salam dariku.
" Nah, gitu kek dari tadi. Kok cemberut, sweety? Apakah kamu sudah bertemu dengan keluargamu?" Mas Haris bertanya saat melihat wajahku yang terlihat diliputi mendung.
" Belum.. " jawabku masih dengan ekspresi kesal.
" Terus....?? " Senyum teduhnya terukir di wajahnya yang tampan.
" Mas, aku tak betah berada di sini. Rasanya aku sudah merindukanmu! " Aku merengek minta pulang pada lelaki itu. Mas Haris terkekeh mendengar rengekan manjaku.
" Rindu mau di peluk dan di kiss, ya?" tanya Mas Haris dengan ekspresi menggoda.
" Ehhmm..... Mas Haris! " rengekku kesal.
" Ehemm....! " obrolan kami terhenti oleh suara deheman seseorang. Aku menoleh dan mendapati lelaki itu berdiri di belakangku. Aku yakin lelaki itu pasti mendengar semua percakapan kami.
" Sweety... kayaknya ada orang. Aku sudahi dulu ya, ngobrolnya. Nanti aku hubungi lagi, Assalamu'alaikum Sweety!" Aku membalas salam mas Haris dengan wajah berbinar.
Hening kembali menyapa di ruang tamu rumah mama. Angin malam yang berhembus dan masuk melalui celah-celah daun pintu yang terbuka lebar membuat aku menggigil kedinginan.
" Tidak dimakan? " dia bertanya saat matanya menatap nasi bungkus yang masih tetap dalam posisi semula.
"Makanlah! kamu perlu tenaga untuk menjawab semua pertanyaan - pertanyaan kami semua tentang kepergianmu selama ini! " Syafrie mengambil tempat duduk di sampingku.
Aku membuang wajahku, enggan untuk menjawab kata-katanya. Dari ekor mataku aku tahu dia tengah menatapku. Bukannya geer, namun aku bisa melihat betapa tatapan mata lelaki itu sarat dengan kerinduan.
Air mataku yang sejak tadi kutahan kini mendadak ingin tumpah. Selain itu, sudah dari tadi aku menahan hajat ingin buang air kecil dan membasuh penat di tubuhku dengan bilasan air.
Aku butuh kamar mandi untuk menangis di sana. Namun, rasanya aku tak sudi jika bertanya pada lelaki itu. Namun, rupanya dia cukup peka.
" Kamar mandinya kurus saja, ke dapur di sebelah kiri. Oh, iya... kamu bisa pakai kamar yang paling ujung dari sini untuk beristirahat..... "
Tanpa menunggu ucapannya selesai aku langsung melesat menuju kamar mandi yang dia tunjukan. Betapa leganya rasanya setelah sekian lama menahan hasrat. Setelah buang air kecil aku membilas wajah dan tubuhku dengan air. Segar rasanya setelah..penat seharian, akhirnya aku bisa bernafas lega.
Setelah buang air dan membersihkan tubuh aku masuk ke kamar yang di tunjukan oleh lelaki itu.
Kamar yang berukuran 3 x 2 meter ini di isi oleh risbang berukuran kecil, sebuah meja belajar, dan sebuah lemari pakaian berukuran kecil. Seprai yang bergambar kartun Boboboy memberi gambaran padaku siapa pemilik kamar ini.
Aku merebahkan tubuhku di atas risbang. Aku merasa sedikit nyaman dengan keadaan itu hingga rasa kantuk mulai menghinggapi.
" Mengapa kamu tidak makan? Apa kamu tidak merasa lapar? " kembali suara berat itu mengingatkan diriku agar segera memakan nasi bungkus yang telah dia siapkan di meja.
Aku hanya diam kemudian membalikkan tubuh menatap ke arah dinding kamar. Mimpi saja kau di sana, Syafrie. Aku rela mati kelaparan dari pada harus makan nasi pemberian darimu.
Tengah malam aku terbangun oleh hawa dingin yang tiba-tiba menyergap tubuhku. Rupanya di luar hujan sedang turun. Tempias air hujan yang masuk melalui jendela, membuatku buru-buru menutup jendela yang terbuka.
Perutku bernyanyi oleh rasa lapar. Alih-alih menghilangkan lapar aku memilih melangkahkan kaki ke dapur untuk mengambil minum.
Mataku celingukan menyapu ke setiap sudut dapur berharap tiada siapapun di sana. Jujur saja... aku tak ingin bertemu kembali dengan lelaki itu. Bertemu dengannya membuatku sesak nafas karena hatiku selalu saja dipenuhi oleh emosi.
Deg! jantungku berdegup kencang saat netraku menatap sosok jangkung yang tengah berdiri di jendela dapur menatap hamparan hutan bakau yang berada di belakang rumah mama.
Aku mengurungkan kembali niatku untuk mengambil air minum. Aku berniat untuk kembali ke kamar dari pada harus di sini dan melihat laki-laki itu.
" Rasa hausmu tak akan hilang jika kamu kembali lagi ke dalam kamar. Sejak tadi, tak ada sesuatu pun yang masuk ke dalam perutmu." lelaki itu berbalik dan menatapku yang bersiap - siap untuk melangkah kembali lagi ke kamar.
Aku urung untuk meneruskan langkahku.
" Tuan Syafrie yang terhormat, berhentilah bersikap seolah - olah di antara kita seperti tidak pernah ada masalah. Karena anda tahu dengan pasti, bukan seperti itu keadaannya..! " ketus ucapanku menanggapi ucapannya tadi.
Syafrie terdiam sambil menatap lurus ke arahku. Kemudian dia berjalan mendekati diriku yang masih berdiri di depan pintu kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mr.VANO
kenapa sapi ad di rmh org tua asma
2023-08-28
0
Sulati Cus
astaga ngeyel bgt nih paksu😂adil seperti apa cb??
2023-05-22
0
Limi_chan
kepala ku memang keras mas, bagaimana tidak keras kepalanya aku
2022-06-19
0