Tidak ... tidak... Kak Mansyah hanya mengancam. Itu semua hanya gurauan kak Mansyah saja, bukan? Itu tidak benar. Itu cuma ancaman.... itu cuma ancaman......
Aku mencoba menghibur diri. Entah sudah berapa kali aku mengatakan pada diri sendiri bahwa kak Mansyah hanya bergurau saja. Kak Mansyah tidak serius mengatakan hal itu.
Mengingat perkataan kak Mansyah tadi membuatku semakin stress, hingga mataku makin enggan untuk terpejam. Aku sangat marah dan juga kalut, hingga membuat kepalaku terasa ingin pecah.
Dibandingkan dengan perlakuan Syafrie kepadaku, perkataan Kak Mansyah terasa lebih membuatku cemas. Andai saja dia bukan kakakku, andai saja dulu aku tak pergi lama sekali, andai saja aku tak banyak dosa pada mama, ingin sekali aku membantah semua perkataannya atau mungkin saja aku akan memakinya dengan ribuan sumpah serapahku.
Bagaimana bisa dia menyuruh kami untuk kembali bersama lagi ? Mengulang ijab qabul. Astaga.... Ohh My gooshh. Itu tidak mungkin. Kak Mansyah pasti becanda. Aku yakin itu semua hanya omong kosong saja. Bukankah dia tahu dengan pasti bahwa di dadaku ini hanya ada kebencian untuk Syafrie.
Bajingan Syafrie.... ini semua adalah salahnya. Andai saja dia bisa menahan nafsu binatangnya yang dengan tak tahu malunya sudah mencuri ciumanku, tentunya kak Mansyah tidak akan memergoki kami yang sedang dalam keadaan 'intim'. Tentulah juga tak akan ada keluar kata - kata itu dari mulut Kak Mansyah.
Aku merasa sangat malu dan kehilangan muka di hadapan kak Mansyah. Andai saja Syafrie tidak berbuat itu, maka tak akan kak Mansyah membuat keputusan yang lagi - lagi sangat merugikan aku.
Mengapa semua ini terjadi, ... aku mengutuki kemalangan nasibku. Dan siapa lagi yang menjadi pelimpahan kesalahan, tiada lain adalah si pria itu. Karena kurasa, penyebab semua kemalangan dan kesialanku adalah si Pengkhianat Syafrie.
Aku membenci semua yang ada padanya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya aku mau mati saja jika mengingat semua kemalanganku adalah karena kebodohannya.
" Tenanglah, Asma. Kak Mansyah hanya mengancam.. " itu yang Syafrie katakan sesaat setelah Kak Mansyah berlalu meninggalkan kami, saat aku melayangkan tatapan siap membunuhku padanya.
" Tenang.. tenang! Apanya yang tenang, hah? Ingat ya, Syafrie. Seujung kuku pun aku tak punya niatan untuk kembali padamu! Camkan itu..! " bentakku padanya.
" Stts, pelan - pelan bicaranya, Asma. Anakku sedang tidur! " Dia melirik ke arah bocah yang tertidur pulas dalam gendongannya.
" Bodo amat..! dia anakmu, bukan anakku. Jadi apa peduliku. .! " Aku mengendikkan bahu tak peduli. Syafrie menatapku sesaat, lalu menggelengkan kepala.
Aku melirik dan melotot kepadanya. " Apa? mau mengataiku dalam hati? tuduhku sambil melotot marah.
" Syafrie terkekeh. " Kau sangat pemarah, Asma. Pergi kemana Asmaku yang dulu penurut dan manis? "
" Mati..! jawabku dengan wajah dan senyum mengejek.
" Asma..! " Ku angkat tanganku dan memberi isyarat dengan gerakan tangan memotong leher.
Habis sudah sabarku. Geram sekali aku padanya. Rasanya ingin kuterjang saja dia dan kucakar - cakar seluruh tubuhnya biar puas rasa hatiku.
" Pergi sana, Syafrie. Jauh - jauhh.. kau dariku. Aku ingin sendiri..! pintaku lirih. Aku sudah cape hati menghadapi Syafrie.
Dekat dengan Syafrie membuat mulutku tak bisa lagi disaring. Selalu saja sumpah serapahku hadir untuk mengatainya.
" Baiklah, tunggu aku beberapa menit saja. Aku akan kembali!, jangan kemana-mana..!" katanya sambil menjauh membawa putranya ke dalam rumah.
Aku melirik tak peduli dan enggan untuk menanggapi. Masa bodoh kamu mau apa. Aku malas berbicara dengannya. Entah mengapa seharian ini, aku merasa dia semakin ngelunjak saja. Hanya karena dia kubiarkan berbicara denganku, dia jadi merasa besar kepala. Seenaknya saja dia menyuruhku menunggu. Dia pikir aku siapa, hah...?
Aku kembali menghela nafas panjang. Pikiranku kembali dihantui oleh kecemasan saat mengingat kata - kata Kak Mansyah tadi. Alasan kedatangan aku kembali ke desa ini adalah meminta izin dan restu untuk menikah dengan Mas Haris. Menikah kembali dengan Syafrie tidaklah sesuai dengan keinginanku. Aku bingung... mengapa jadi serumit ini urusan perkara meminta izin saja.
Aku tak sanggup jika harus menikah kembali dengan pria pengkhianat itu. Aku terisak sedih memikirkan nasib hubunganku dengan Mas Haris. Keinginanku untuk hidup bahagia bersama lelaki itu tampaknya harus terhalang oleh ulah pria sialan yang bernama Syafrie itu. Rasanya kebencian dihatiku padanya makin menjadi - jadi.
Handphone di saku jaketku kembali bergetar. Tulisan 'My Love' dengan gambar hati tertera di sana membuatku tahu siapa yang menghubungiku. Pacaran dengan Mas Haris membuatku seperti abege yang baru saja mengenal cinta. Parah.. abiss, dan kadang terkesan bucin. Tapi aku bahagia. Bersama Mas Haris memang penuh dengan kebahagiaan. Berbanding terbalik dengan Syafrie.
" Hai, belum tidur, sayang! " panggilan sayang yang terlontar dari mulut pria tampan berbaju koko itu sontak membuat pipiku merona merah. Aku salah tingkah dan tersipu malu menutup wajah.
" Nggak bisa tidur." jawabku pelan.
" Kenapa nggak bisa tidur? kangen aku, kah? " Dia bertanya sambil memasang kopiah di kepalanya. Aku mengangguk pelan.
" Mas Haris habis sholat tahajud, ya? " aku balik bertanya karena melihat dia memakai baju koko dan kopiah.
" Iya, Asma sayang. Masmu yang ganteng ini baru saja habis selesai sholat tahajjud. Meminta kepada Allah, agar bidadari Mas yang sedang menelpon Mas ini secepatnya bisa di halalkan olehku. " Aku makin tersipu - sipu mendengar ucapan Mas Haris.
" Amin! " aku mengaminkan harapan dan do'anya.
" Kamu sendiri, nggak sholat? " tanyanya.
Aku menggeleng. " Haid." jawabku singkat.
" Aku merasa kau semakin sedikit bicara selama di sana. Tapi aku rasa itu bagus. Agar suara merdu mu itu tak di dengar oleh laki-laki lain selain aku. Soalnya jika mereka juga mendengar, takutnya mereka malah akan suka juga seperti aku. Aku tak mau kehilangan kamu, Asma. "
Deg,... kata - kata Mas Haris membuat jantungku seperti diremas. Andai kau tahu Mas, batinku pedih. Alih-alih sedih mendengar kata - kata Mas Haris, aku tertawa terpaksa. Garing rasanya.
" Mas Haris sudah makan? " Astaga... itu pertanyaan terbodoh yang pernah kuajukan. Mana ada tengah malam begini orang makan. Dasar Asma memang sudah stress. Ini semua Syafrie punya pasal.... Syafrie laknat.
Namun, tak urung lelaki berwajah teduh itu mengangguk juga. Dia lalu melepaskan kopiahnya dan berbaring di kasur. Sambil masih memegang telpon dengan posisi miring memghadapku.
" Asma, lihat... kosong! " Dia menepuk kasur di sebelahnya. " Rasanya aku ingin cepat - cepat menyelesaikan pekerjaanku disini dan segera menyusulmu ke sana. Aku ingin secepatnya meminta izin dan restu pada orang tuamu. Rasanya aku sudah tak sabar lagi untuk melihatmu terbaring di sini. Dan di setiap malamnya kita akan.... ehemm.... ehem.. kamu mengerti kan! " katanya dengan mimik mesum menggodaku. Terselip binar kebahagiaan yang tertangkap jelas dimatanya. Aku terharu sekaligus sedih mendengar ungkapan hati Mas Haris.
" Mas..!"
" Hmm,... "
" Kalau jodoh kita pasti bertemu." ucapku dengan wajah sedih. Butir air mata yang setengah mati ku tahan, akhirnya jatuh juga.
Mas Haris terkejut dan panik. " Hei, ada apa, sayang. Jangan buat aku cemas di sini. Dari kemarin, kamu sepertinya menyimpan sesuatu. Cerita padaku, ya sayang? " bujuknya.
Aku menatap wajahnya yang sendu. Betapa aku bisa melihat ketulusan cintanya padaku. Kembali aku mengutuk Syafrie yang membuatku jadi begini. Mengapa susah sekali aku untuk bahagia, jika dekat - dekat dengan dirinya.
" Asma...! Asma.. " suara Mas Haris kembali menyadarkan aku dari lamunan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mr.VANO
setiap nama safri itu kurang ajar
2023-08-28
0
Vivi Bidadari
Cerita nya gimana nih blm bisa jelas jgn kelamaan. Thour readers kan jdi jengah
2022-10-10
2
Hanipah Fitri
thor kelamaan flashback nya
2022-09-21
0