Bab. 13

Mama dan seluruh saudaraku dan anggota keluarga yang lain, semuanya sudah berkumpul di ruang tamu keluarga. Yah...... mereka semua akan menyidang ku.

Aku terduduk di kursi ruang tamu keluarga layaknya seperti seorang pesakitan yang sedang diinterogasi oleh Jaksa penuntut umum dan hakim. Jika sudah seperti ini keadaannya, rasanya kehadiran mas Haris akan sangat berarti bagiku. Genggaman tangannya seperti biasa akan mampu memberikan ketenangan dan kekuatan untuk diriku.

Mama sudah dari tadi terisak dalam pelukan kak Lela, dan Kak Darre yang terlihat membantu Kak Lela menenangkan mama. Anak-anak semua sudah di ungsikan ke tempat lain, karena sebentar lagi jadwal sidang bagiku akan tiba.

Saat melihat mama, ingin rasanya aku berlari dan memeluk mama. Namun ketika melihat kilatan amarah di mata kakak - kakakku, terutama Kak Mansyah, keberanianku jadi surut. Aku memilih duduk diam sambil memainkan ujung jilbabku.

Kak Darre, menghela nafas panjang. Kemarahan yang sempat kulihat dimatanya, kini perlahan-lahan surut. Kini kakak ketigaku itu hanya bisa menghela nafas kelu tak sanggup bersuara.

Jangan tanya soal kak Mansyah. Sorot mata lelaki itu sudah memancarkan api kemarahan yang siap untuk membakarku hidup-hidup. Aku diam - diam bergidik membayangkan bagaimana kemarahan kak Mansyah yang sebentar lagi akan menyembur keluar.

" Pikirmu kamu terlahir dari batu! " Pandangan mata kak Mansyah masih betah menatapku yang hanya bisa tertunduk tak berani menjawab sedikitpun kata - kata yang terlontar dari mulut lelaki itu.

Kedua tangannya bersedekap di dada. Mirip gaya seorang pengawas yang sedang menegur bawahannya. Rupanya kebungkamanku bagaikan percikan api yang membakar habis ranting kering. Tunggulah.... sebentar lagi mulutnya akan mengeluarkan kata - kata mutiaranya yang berbisa.

" Hal penting apa yang membawamu kembali. Apa akhirnya kamu sadar bahwa masih ada mama dan saudara - saudaramu di sini dan kamu tidak terlahir dari batu. " Nah.. kan benar...! kakakku itu sudah mulai mengeluarkan persediaan kata - kata pedasnya.

" Tenanglah sayang, janganlah membuat mama menjadi semakin sedih dengan kata-katamu yang seperti itu. " Kak Dinar, wanita yang merupakan istri dari kak Mansyah itu menenangkan suaminya agar tidak terlalu terbawa emosi dalam menghadapi diriku.

" Dia itu sudah keterlaluan, Din !" tunjuk Kak Mansyah padaku. Aku ngeri melihat tatapan penuh amarah dari kak Mansyah. " Pergi sesukanya, lalu kembali sesukanya pula. Dia pikir kami bukan siapa - siapa baginya. Lima tahun kepergiannya, kami masih bisa bersabar menunggu kepulangannya. Kami masih berharap dia kembali lagi karena masih ada mama yang sedang sakit - sakitan memikirkan dia. Sepuluh tahun tanpa kabar darinya membuat kami menyerah. Bahkan saat terakhir kemarin waktu memperbaharui kartu keluarga, ingin rasanya aku menambahkan almarhum di depan namanya. Saking putus asanya diriku sebagai kakak menunggu adiknya. Kami faham dia sedang terluka, tapi apa dia juga tak memikirkan perasaan kami. Kami juga sama berdukanya dengan dia. Kami berduka karena kehilangan Bapak dan juga keponakan kami yang menghadap Ilahi, lalu ditambah lagi duka karena kepergian dia." ucapan Kak Mansyah seperti menelanjangi habis diriku. Butiran kristal - kristal bening jatuh satu persatu di pangkuanku. Kata - kata kak Mansyah begitu menusuk, laksana tombak tajam yang menembus tepat di jantungku.

" Sudah kak, yang penting Asma sudah kembali bersama kita.! " Kak Darre menghampiri dan menggengam tanganku yang bergetar menahan isak tangisku.

Belum puas kak Mansyah mendorongku ke jurang rasa bersalah. Kembali dia membentakku. " Apanya yang sudah, Darre. Aku malu pada Syafrie yang harus memikul sendiri tanggung - jawab yang seharusnya dipikul oleh dia! " Kembali telunjuk kak Mansyah menuding ke wajahku dengan suara yang sudah naik beberapa oktaf.

Merasa tidak terima dengan cercaan Kak Mansyah, aku mengangkat wajah menatapnya heran. Mengapa pria itu dibawa - bawa dalam masalah keluarga kami. Aku sangat tidak suka dengannya dan tidak berniat untuk memaafkan kesalahannya.

" Maaf kak, Asma tahu Kak Mansyah marah. Asma tahu Asma salah, dan Asma tidak memungkirinya. Tapi bisakah kita tidak melibatkan orang lain dalam pembicaraan keluarga ini. " lirih aku berkata seraya melirik ke arah Syafrie yang duduk di belakang mama.

" Asma, Syafrie suamimu, dek." Kak Lela yang sedari tadi diam, kini bersuara. Kini semua mata menatap fokus padaku. Tangis mama sudah tak terdengar lagi. Sepertinya cukup terkejut mendengar pernyataan Kak Lela tadi.

"Apa perlu kuingatkan lagi..? Aku sudah pernah berkata pada Syafrie bahwa sejak dia menikahi perempuan itu, dia bukan lagi suami Asma. " Sengaja suaraku ku buat selembut mungkin seraya pandanganku melayang ke arah mata - mata yang kecewa terhadapku.

Entah mengapa, sedih yang tadi menganak pinak di hatiku, kini menghilang entah kemana tergantikan oleh amarah yang perlahan-lahan bangkit kembali di hatiku.

Mengapa mereka masih saja seperti dulu, tak pernah membelaku! Syafrie selalu benar dan aku selalu saja salah. Padahal yang menjadi saudara mereka itu aku, bukannya Syafrie.

" Syafrie tak pernah menceraikanmu, dek!" Kak Lela memungkas hening yang kuciptakan. " Syafrie memang pernah berbuat salah, tapi dia sudah menebusnya." Kak Lela menoleh pada Syafrie yang kemudian mengangguk seolah mengatakan bahwa dia tak apa - apa.

Aku mendengus mendengar ucapan Kak Lela. Dadaku panas oleh amarah. " Hmm, aku belum pernah menikmati uang hasil penjualan jantungnya. Jadi kurasa dia belum menebus apa - apa dariku." ucapku seraya menatap sinis ke arah Syafrie.

Demi apapun kebencianku pada Syafrie laksana racun yang terus menggerogoti. Lelaki itu bukannya marah atas bisa yang keluar dari mulutku, malah dia tersenyum seolah berkata, " keluarkan saja semua yang ada di hatimu, Asma. Kalau itu bisa bikin kamu puas." dan sumpah mati aku benar-benar eneg dibuatnya.

" Dek, apa lukamu belum sembuh? "kedua bola mataku membesar, namun secepatnya aku kembali menguasai diriku. Aku tak ingin mereka membaca luka hatiku yang kembali berdarah.

" Itu sudah sangat lama, dek. Belajarlah memaafkan orang lain. Sebab orang lain juga sudah belajar untuk memaafkanmu." Kak Darre mengelus tanganku. Sebutir cairan bening jatuh menetes di atas tangan Kak Darre, air mataku. Sesak tak terima. Mengapa aku dituntut untuk memaafkan orang lain yang telah menusukku dengan sangat dalam.

Kuusap air mataku dengan kasar. " Kak Darre, mudah bagiku untuk memaafkan kesalahan orang lain, tapi tidak untuk dia. .! " kulirik Syafrie yang diam menunduk. " Dia yang menyebabkan aku harus kehilangan Bapak dan juga anak." aku berucap lirih, nyaris tak terdengar namun mampu membuat Kak Mansyah yang mendengar kembali tersulut.

Meja di depanku digebrak dengan kuat, membuat aku mengkeret ketakutan. " Berapa kali sudah kukatakan, Syafrie sudah menebusnya, Asma! Berapa kali? Meskipun kamu adikku, bukan berarti aku membenarkan saja semua tindakanmu. Asal kamu tahu, pria yang amat kau benci itu telah menggantikan tugasmu selama bertahun-tahun mengu... "

" Kak, Asma baru saja kembali. Nanti saja aku yang mengatakannya. Kalian semua beristirahat saja dulu. Kita masih banyak waktu untuk membahas masalah ini.. " tegur Syafrie sambil menyentuh lengan Kak Mansyah.

Hah... aku muak dengannya. Bahkan dalam situasi seperti ini, dia masih saja mencari muka di hadapan seluruh keluargaku. Aku muak dengan topeng sok sucinya itu. Rasanya ingin sekali aku mencabik - cabik wajahnya sampai gak bisa lagi dikenali.

Satu persatu semua berlalu meninggalkan ruang tamu. Kak Darre menghampiriku dan berkata bahwa aku tak usah memikirkan ucapan kak Mansyah. Menurutnya, kak Mansyah hanya teramat merindukan diriku. Jadi kalimat - kalimat pedas yang keluar dari mulutnya adalah pelampiasan rasa sayang dan kerinduannya yang selama ini terpendam.

...-----...

Mataku tak bisa terpejam mengingat semua peristiwa yang terjadi sore tadi. Jadi kuputuskan untuk bangun dan duduk diteras rumah, berharap rasa kantukku akan tiba. Kubuka aplikasi Whatsapp berharap ada chat masuk dari Mas Haris. Hari ini Mas Haris tak menelpon. Aku juga tak ingin menggangunya. Mungkin saja dia sedang sibuk. Aku memutuskan untuk tidak menghubunginya.

Entah mengapa, rasa kesal menggantungi hatiku semenjak obrolan kami tadi sore yang belum tuntas. Rasa panas dan amarah masih membakar hatiku. Mengapa kak Mansyah menyalahkanku... Kak Lela dan Kak Darre tidak juga membelaku, dan mama yang memilih bungkam.

Mengapa mereka masih saja tega melakukan semua ini padaku. Apa salahku...?? Mengapa aku yang di tinggal menikah oleh suamiku yang durjana, lalu mengapa semua kesalahan ditimpakan kepadaku.

Terpopuler

Comments

Hanipah Fitri

Hanipah Fitri

kelamaan Thor... masih gelap

2022-09-21

0

Rahma Kanjui

Rahma Kanjui

ban nya dibanyakin dong jangan buat cerita kalau hanya menggantung

2022-05-26

0

Kecanduan Baca Novel

Kecanduan Baca Novel

💪💪💪💪💪💪💪💪 thor

2022-05-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 44
46 Bab. 45
47 Bab. 46
48 Bab. 47
49 Bab. 48
50 Bab. 49
51 Bab. 50
52 Bab. 51
53 Bab. 52
54 Bab. 53
55 Bab. 54
56 Bab. 55
57 Bab. 56
58 Bab. 57
59 Bab. 58
60 Bab. 59
61 Bab. 60
62 Bab. 61
63 Bab. 62
64 Bab. 63
65 Bab. 64
66 Bab. 65
67 Bab. 66
68 Bab. 67
69 Bab. 68
70 Bab. 69
71 Bab. 70
72 Bab. 71
73 Bab. 72
74 Bab. 73
75 Bab. 74
76 Bab. 75
77 Bab. 76
78 Bab. 77
79 Bab. 78
80 Bab. 79
81 Bab. 80
82 Bab. 81
83 Bab. 82
84 Bab. 83
85 Bab. 84
86 Bab. 85
87 Bab. 86
88 Bab. 86
89 Bab. 88
90 Bab. 89
91 Bab. 90
92 Bab. 91
93 Bab. 92
94 Bab. 93
95 Bab. 94
96 Bab. 95
97 Bab. 96
98 Bab. 97
99 Bab. 98
100 BAB. 99
101 Bab. 100
102 Bab. 101
103 Bab. 102 Tamat
104 Extra Bab. 103
105 Penutup
106 Bab. Promosi
107 Bab. Promosi 2
108 Bab promosi 3
109 Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 44
46
Bab. 45
47
Bab. 46
48
Bab. 47
49
Bab. 48
50
Bab. 49
51
Bab. 50
52
Bab. 51
53
Bab. 52
54
Bab. 53
55
Bab. 54
56
Bab. 55
57
Bab. 56
58
Bab. 57
59
Bab. 58
60
Bab. 59
61
Bab. 60
62
Bab. 61
63
Bab. 62
64
Bab. 63
65
Bab. 64
66
Bab. 65
67
Bab. 66
68
Bab. 67
69
Bab. 68
70
Bab. 69
71
Bab. 70
72
Bab. 71
73
Bab. 72
74
Bab. 73
75
Bab. 74
76
Bab. 75
77
Bab. 76
78
Bab. 77
79
Bab. 78
80
Bab. 79
81
Bab. 80
82
Bab. 81
83
Bab. 82
84
Bab. 83
85
Bab. 84
86
Bab. 85
87
Bab. 86
88
Bab. 86
89
Bab. 88
90
Bab. 89
91
Bab. 90
92
Bab. 91
93
Bab. 92
94
Bab. 93
95
Bab. 94
96
Bab. 95
97
Bab. 96
98
Bab. 97
99
Bab. 98
100
BAB. 99
101
Bab. 100
102
Bab. 101
103
Bab. 102 Tamat
104
Extra Bab. 103
105
Penutup
106
Bab. Promosi
107
Bab. Promosi 2
108
Bab promosi 3
109
Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!