Kehidupan dan takdir manusia dan semua makhluk di dunia ini sudah di gariskan oleh-Nya. Semua tertulis dalam lembaran takdir di catatan Lauful Mahfud.
Garis takdirku pun Tuhan yang mengatur. Namun pilihan hidup yang ku jalani saat ini bukanlah pilihan Tuhan, tetapi aku sendirilah yang memilih. Aku yang memilih jalan hidup yang penuh dengan liku - liku dan air mata penderitaan. Hingga akhirnya hanya berujung penyesalan.
Aku percaya, kehidupan ini Tuhan yang mengatur. Namun, yang namanya manusia, kita pun tak luput dari sikap serakah. Sifat inilah yang mendominasi sisi kehidupan manusia hingga kadang menjerumuskan manusia pada penderitaan yang tak berkesudahan.
Malam itu, setelah mengetahui statusku, Mas Haris langsung mengajakku pulang. Sepanjang jalan, Mas Haris lebih banyak diam. Aku yang menyadari hal itu merasa sedih. Tapi aku faham dengan kondisinya saat ini.
Aku tahu, betapa sulit baginya untuk menerima kenyataan tentang statusku. Statusku yang janda memang sulit dia terima. Aku menyadari lelaki mana yang bisa menerima seorang wanita yang sudah janda sementara dia sendiri adalah perjaka tulen.
Aku pernah gagal dalam membina rumah tangga. Wajar saja dia merasa ragu untuk menjalani kehidupan berumah tangga di masa depan. Aku tak bisa menyalahkan dia bila kemudian dia akhirnya mundur dan memilih yang lain. Aku pasrah.
Waktu berjalan lambat. Satu bulan berlalu sejak kejadian malam itu. Mas Haris tak pernah lagi datang atau mengirimkan pesan sekedar untuk mengabariku.
" Pukul 08.00, temui aku di cafe biasa. Jangan terlambat! Aku mau bicara. "
Aku terhenyak saat membaca pesan itu. Ini adalah pesan pertama yang kuterima sejak Mas Haris mengabaikan aku selama satu bulan ini. Dia tak pernah lagi datang menjemputku atau mengantarku pulang. Saat bertemu di kantor pun dia bersikap acuh, tak menyapaku. Laksana seperti angin lalu.
" Iya, Mas." aku membalas pesan mas Haris dengan singkat.
Hari ini, aku sengaja pulang cepat. Aku tak ingin datang terlambat sesuai janjiku pada Mas Haris.
Entahlah, dalam pikiranku tak ada salahnya jika aku membuka hati untuk memulai lembaran baru dalam hidupku. Setelah sekian lama aku terpuruk dalam penderitaan dan kesunyian. Tak ada salahnya aku mulai membuka diri.
Pukul 07.30 malam, aku sudah berada di depan sebuah cafe di daerah tepian, Samarinda. Suasana cafe itu sudah lumayan ramai oleh pengunjung saat aku menginjakkan kakiku ke tempat itu.
Dari dalam terdengar sayup-sayup suara penyanyi cafe yang sedang menyanyikan 'Penjaga Hati' dari Ari Lasso dengan suara yang hampir mirip dengan suara penyanyi aslinya.
Pandangan mataku berpendar ke seluruh ruangan di cafe itu. Maklum saja, cafe ini selalu ramai oleh pengunjung setiap malamnya. Lokasinya yang strategis menghadap ke arah sungai Mahakam, menjadi nilai plus membuat cafe ini menjadi referensi yang bagus untuk tempat nongkrong bagi sebagian anak muda di kota Tepian ini.
" Asma, di sini!" Mas Haris melambaikan tangan, memanggikku. Aku sedikit terkejut saat pandanganku menyapa kepada Mas Haris. Jantungku berpacu tak menentu, Mas Haris datang bersama seorang wanita muda yang tak kukenal.
Gaun putih tanpa lengan dengan kerah berbentuk V di padu dengan denim hitam, perpaduan yang serasi. Lengan dan lehernya terekspos sempurna memamerkan kulit putihnya yang mulus. Wajah cantiknya kian sempurna dengan rambut panjang setengah punggung yang tergerai begitu saja. Cantik..! pujiku dalam hati dengan penuh rasa insecure.
" Assalamu'alaikum! " ku ucapkan salam walau dengan hati yang tak karuan.
" Waalaikum salam, Asma. Aku senang kamu akhirnya bisa datang juga. Kenalkan ini Lisda! " Mas Haris memperkenalkan wanita cantik yang datang bersamanya.
" Hai! " wanita cantik yang duduk disebelah Mas Haris itu menyapaku, ramah.
" Hai juga, aku Asma.! " Aku membalas sapaannya seraya duduk di hadapan mereka.
" Siapanya Mas Haris? " tanyanya padaku dengan kerlingan yang menggoda.
" Teman kerja, saya bawahannya Pak Haris! " jawabku sambil tersenyum.
Suasana cafe riuh oleh tawa canda pengunjung cafe berbaur dengan bisingnya suara musik yang mengalun membuatku harus memasang telinga waspada agar bisa mendengar suara lawan bicaraku.
" Aku sepupunya Mas Haris. " kata Lisda. Aku mengangguk saja mendengar Lisda menjelaskan siapa dirinya.
Lisda mengamati wajahku, kemudian wanita itu berkata pada Mas Haris.
" Ya, ampun Mas Haris. Ini wanita yang fotonya Mas tunjukan padaku kemarin?" Mas Haris mengangguk membenarkan ucapan wanita itu.
" Astaga.... aduh, mbak. Kok sepupu aku di tolak, sih. Kasian tau... dia itu sudah cukup umur menikah." Aku menatap Mas Haris. Rupanya lelaki di hadapanku ini sudah menceritakan keluh kesahnya kepada wanita itu.
Aku merasa jengah atas ucapannya. Rupanya hal ini diketahui oleh Mas Haris.
" Lisda, kamu duluan saja, aku masih mau ngomong sama Asma! " Lisda merengut manja pada Mas Haris.
" Jadi Mas Haris mengusirku, nih! " Lisda menyeruput habis minumannya.
" Oke....oke! Demi kesuksesan kehidupan cinta Mas Haris, dan demi kelangsungan garis keturunan keluarga Wicaksono, maka aku dengan rela hati angkat kaki dari sini, hehehehe. Semoga sukses ya, Mas. Dan semoga cepat sampai ke pelaminan. Assalamu'alaikum!" Lisda mengambil selembar tisu seraya tersenyum jahil. Wanita itu berlalu dari hadapan kami tanpa sempat kami membalas salamnya.
Sepeninggalan Lisda aku dan Mas Haris sama-sama terdiam. Aku merasa canggung berdua saja dengan Mas Haris. Keheningan melanda kami cukup lama.
" Mau makan apa? " tanya Mas Haris memecah kediaman di antara kami.
" Kenyang. Aku sudah makan tadi sore. " jawabku.
" Pesan minum, aja! " tawarnya lagi.
Aku mengangguk. " Kopi pahit saja." Mas Haris mengangguk lalu memanggil pelayan dan memesan sesuai pesananku.
" Terima kasih, Mas! "
Mas Haris mengangguk. Suasana kembali hening. Kami terhanyut dalam pikiran masing-masing.
" Dia cantik,Mas! " ucapku membuka kembali percakapan.
" Dia sepupuku! " jawab Mas Haris jengah. Aku terdiam merasa gagal membuka percakapan dengannya.
" Asma, aku telah memikirkan semuanya. Selama hampir sebulan ini aku telah memikirkan alasan mengapa kamu menolakku. Dan aku rasa aku bisa menerima status kamu yang maaf... janda itu. Aku tak masalah dengan status jandamu itu, asal saja itu kamu. "
" Mas....! " Aku tak mampu lagi untuk berkata. Aku lelah selama hampir sebulan ini memikirkan kembali hubunganku dengan Mas Haris.
" Stts, Asma. Dengarkan aku..! Aku tak tahu seperti apa lukamu di masa lalu.Namun yang aku tahu, saat ini aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku. Aku akan menghapus setiap goresan luka di hatimu dan tak akan membiarkan satu lukapun lagi kembali menggores di hatimu! " Asma menunduk mengusap air matanya diam - diam. Sungguh dia terharu atas cinta dan perhatian tulus laki-laki itu kepadanya.
" Tapi lukaku sangat dalam, Mas. Masa lalumu amatlah kelam. Biarlah aku sendiri saja yang mereguk pahitnya tanpa harus membaginya denganmu." ucapku dingin.
" Asma, aku tahu mungkin masa lalu yang kamu alami sangatlah kelam. Mungkin di masa lalu, kamu pernah terluka oleh seorang. Dan aku mohon maaf, saat kau terpuruk bersama luka yang kau lalui.. aku tak ada di sana untuk menghapus lukamu. Namun saat ini, aku pastikan bahwa di masa yang akan datang tak ada lagi luka yang sama yang akan terjadi padamu. Aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu bahagia dan berhenti meneteskan air mata. " Lelaki bermata syahdu itu menggengam tanganku dengan lembut dan membawanya ke bibirnya.
" Mas, masalah ini tidaklah sesederhana itu. Ini bukan masalah suka atau tidak suka. Bukan juga masalah cinta sesaat saja. Aku tak ingin terluka untuk yang kedua kalinya. Aku ingin membangun rumah tangga bukan hanya untuk setahun dua tahun saja. Aku ingin selamanya. Tapi.. masa laluku rupanya terlalu kelam untuk kubagi bersamamu. Jadi.. mas. Biarlah aku sendiri saja menyantap semua penderitaan itu tanpa ingin berbagi dengan siapapun juga, tidak juga denganmu. " tandasku.
Mas Haris terdiam mendengar ucapanku. Aku pun juga membisu setelahnya. Ku lirik jam yang tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu menunjukan pukul 20.30.
" Asma, aku tak peduli apa alasanmu menolakku. Tapi yang pasti, aku akan tetap menikahimu. Malam ini, di sini aku mengatakan padamu bahwa aku akan melamarmu secepatnya. Keluargaku sudah menerima statusmu. Jadi bersiaplah, keluargaku akan datang melamarmu! " kata - kata Mas Hari bagaikan palu hakim yang memutuskan suatu perkara. Telak, tak terbantahkan dan langsung menjatuhkan putusan. Aku tersedak.
...-----...
Aku tersadar dari lamunanku. Kulirik jam gucci yang menempel cantik di pergelangan tangan kananku. Pukul 20.00, berarti sudah hampir dua jam aku menunggu di sini. Namun tak ada seorang pun yang muncul.
Perjalanan panjang yang melelahkan membuatku merasa penat. Tubunku lelah sehingga aku mulai merasa mengantuk. Tanpa sadar aku mulai terlelap. Padahal biasanya aku tak pernah tidur di bawah jam dua belas malam.
Deru mesin mobil yang memasuki halaman rumah menerbangkan kantukku. Aku membeku, nyaliku langsung ciut. Aku tak berani menoleh kebelakang. Keberanianku mendadak hilang untuk sekedar berdiri menyambut kedatangan orang yang berada di belakang kemudi itu.
Aku memejamkan mata mencoba untuk memikirkan kata - kata yang ingin ku ucapkan kepada iparku. Dan aku semakin panik ketika mendengar pintu mobil yang terbuka dan langkah - langkah yang semakin mendekatiku.
Aku tak henti berdoa dalam hati. Semakin gugup semakin gemetar rasanya tubuhku. Keringat dingin sudah mengalir membasahi keningku. Dadaku sesak seakan pasokan oksigen di tempat itu menipis. Dan aku semakin merasa tak bisa bernafas saat kudengar langkah kaki berhenti tepat di belakangku.
" Permisi.... mau cari siapa, ya? " suara berat seorang pria terdengar dari arah belakangku.
Tunggu, itu bukan suara abangku... tapi aku rasa aku pernah mendengar suara itu.
Tidak..... tidak mungkin suara itu. Pasti aku salah dengar. Aku bergumam dalam hati. Aku gemetar menyadari buruknya pikiranku.
Dengan mata terpejam aku memutar tubuh. Memberanikan diri untuk membuka mata dan melihat siapa yang berdiri di belakangku.
Dan saat aku membuka mata... Pemandangan di depan mataku membuat tubuhku semakin bergetar hebat. Sosok yang selama sepuluh tahun ini begitu kuhindari, berdiri di sana... tepat di hadapanku. Aku terpaku....
-
-
-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
ċḧäńďäńï qʳᶠ
katemu mantan ya
2023-03-27
1
Junengsih Neng
ko ketemu dia lagi ya
2022-05-18
1
None
akhirnya ketemu syafrie..lanjut thor
2022-05-18
1