Ku pejamkan mataku berharap kantuk itu akan segera tiba. Namun, sialnya mata ini tak mau kompromi. Padahal tubuhku rasanya penat sekali. Aku mengutuk diri yang masih saja betah berlama-lama meraup duka, padahal nyata terlihat jelas mata semua orang yang ada di rumah ini bahagia.
Udara malam yang dingin di desa Suka Rahmat benar-benar menusuk hingga ke tulang membuatku memilih merapatkan jaket karena tak tahan dengan hawa dinginnya.
Aku menghela nafas panjang. Sepuluh tahun pelarianku ternyata tak membuat aku menjadi istimewa di mata keluargaku. Tetap saja, Syafrie yang selalu menjadi juaranya. Semuanya hanya syafrie dan Syafrie lagi. Selalu saja ini menyangkut tentang dia.
Aku heran, entah kebaikan apa yang diperbuat oleh pria itu, hingga semua orang menganggapnya sebagai pahlawan. Dimata keluargaku dan juga di mata orang - orang. Namun bagiku, pria itu tak lebih dari akar dukaku saja.
Kembali lagi ku hirup nafas panjang. Pertikaianku dengan Kak Mansyah terlintas kembali dalam ingatanku dan terasa kini menjadi beban berat bagiku. Mengapa semua orang bersikap baik pada si pengkhianat Syafrie. Bahkan mama pun memilih tetap bergeming tak membelaku. Aku yang nyata jelas - jelas putrinya, tapi mengapa seperti aku disini yang bekas menantu.
Aku mengedarkan pandangan ke areal persawahan yang terbentang di depan rumah mama. Menghembuskan nafas kasar , berharap beban ini akan berkurang.
Cahaya Sinar bulan memancar terang menerangi hamparan sawah yang ada didepan rumah. Pandangan netraku tertuju pada suatu dua titik yang bergerak perlahan-lahan. Kemungkinan petani yang sedang berburu tikus di sawah.
Aku tertawa tertahan saat membandingkan Syafrie dengan tikus - tikus tersebut. Tak ada bedanya dia dan tikus - tikus itu, sama - sama hama yang harus di singkirkan.
" Kenapa di luar? " Syafrie berdiri di tengah-tengah pintu memandang lekat padaku. Seorang bocah laki-laki yang aku tahu adalah anaknya sedang bergayut manja dalam gendongannya.
Aku hanya acuh,melirik sekilas tanpa minat, lalu kembali lagi melempar pandangan ke arah lain.
" Fadil selalu seperti ini jika mau tidur. Harus di usap dulu punggungnya baru bisa tertidur dia." ucapnya lagi.
Hais.... aku muak dengan sikapnya yang sok baik dan sok perhatian itu. Tapi baiklah.... aku jadi terpancing untuk kembali menginjak-injak harga diri Syafrie.
" Manja, lemah, tidak punya pendirian. Putramu itu sepertinya memiliki kesamaan dengan dirimu. Berdoa saja semoga dia jadi pria yang lebih baik dari dirimu. Oh.. iya, jangan lupa ajarkan juga tentang kesetiaan. Agar kelak istrinya tak lagi merasakan luka yang sama dengan diriku." Setelah berkata aku membuang pandangan ke arah dua petani yang tadi sedang mengejar tikus - tikus di sawah.
Syafrie mengikuti arah pandangan mataku.
" Aku tahu kau sangat membenciku, dan aku tak masalah dengan hal itu. Tapi putraku ini, dia tak berhak menerima amarahmu. " Syafrie menepuk-nepuk bocah lelaki itu dengan sayang. Sedikitpun dia tak terpancing dengan perkataan ku barusan.
Aku melihat diri Syafrie yang sekarang, sepertinya dia mampu mengolah emosinya dengan baik. Mungkin faktor usia telah mendewasakan pola pikirnya. Hal yang sungguh tidak ada pada diriku. Entah mengapa aku selalu emosi dan berapi-api jika menyangkut hal - hal yang berhubungan dengan Syafrie.
" Untunglah dia sudah tidur, jadi tidak perlu mendengar semua perkataanmu yang tadi. Tapi jika mendengar pun, dia pasti akan memaafkanmu, karena dia memiliki jiwa yang pemaaf. Tidak seperti dirimu yang pendendam." Syafrie tersenyum padaku sambil mengedipkan mata. Aku acuh, pura-pura tak mendengar ataupun melihat.
" Sudah berkenalan dengannya? " Pertanyaan Syafrie sukses membuatku kembali melayangkan tatapan tajam padanya. Berkenalan dengan anak musuhku?.. Hah, ayolah, yang benar saja.
" Kau tolol atau dungu? Aku tak berkenalan dengan seseorang yang di dalam tubuhnya mengalir darah musuhku. Itu sudah menjadi prinsipku, dan maaf aku tak berniat untuk melanggarnya. " tandasku dengan wajah sekeras batu dan pandangan yang menyala.
Syafrie menatapku lekat. Aku memilih membuang pandangan ke arah lain. "Asma, putraku adalah anak yang manis. Cobalah untuk mengenalnya. Kau pasti akan suka. "
" Aku tak mau. " ucapku singkat.
" Putraku kekurangan kasih sayang ibunya, Asma."
" Maaf, itu bukan urusanku..! " jawabku ketus.
" Asma, aku mohon, maukah kamu menganggapnya sebagai anakmu..? "
" Kau gila... ! aku tak sudi..! " emosiku meledak. Pria waras mana yang menawarkan kepada mantan istrinya agar mau menjadi ibu anaknya dari wanita lain. Syafrie memang sudah sakit jiwa.
" Lihatlah, bukankah dia sangat mirip sekali denganku. Sekali - kali kau harus lihat matanya yang sangat mirip sekali dengan mata ibunya."
Wah.... Syafrie memang cari mati. Dia seolah-olah sengaja memamerkan kebahagiaannya. Baiklah.....kau yang menabuh genderang perang, maka bersiaplah untuk menerima kata - kata berbisa yang akan keluar dari mulutku.
" Hei, Syafrie. Sudah puas kau memamerkan kebahagiaanmu? Apa kamu pikir aku akan iri? Hah, mimpi saja kamu. Kau tahu? " Aku menunjuk dadaku . " Di sini, sudah tak ada lagi namamu. Jadi.. aku mohon berhentilah memamerkan kebahagiaanmu. Karena aku sungguh-sungguh tak peduli. Kalau kau ingin minta maaf, minta maaflah dengan cara yang wajar. Mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu. Sejujurnya, aku muak mendengar tentang kamu dan anakmu itu. Maaf jika perkataanku ini telah menyinggung perasaanmu, tapi aku hanya mau jujur. " aku menoleh dan menatap sesaat kepada Syafrie yang kini berdiri dengan pandangan takjub.
Aku menatap pria itu dengan pandangan heran. Ada apa dengannya. " Kamu makin cantik kalau sedang marah, Asma. Bibirmu itu seolah - olah memanggil untuk kubungkam kembali dengan ciuman. " Sial....Syafrie sialan...... Amarahku kembali berkobar.
Rupanya kata - kataku tadi tak berpengaruh baginya. Malah sebaliknya, Syafrie seperti menemukan cara untuk mengejekku. Aku menoleh kesal. Memandang sinis ke arah pria yang kini kembali mengelus - elus kepala bocah dalam gendongannya itu dengan sayang.
" Berhentilah bermain - main seperti ini. Tunjukkan sedikit rasa malumu padaku, Syafrie. Karena dari apa yang kulihat kamu sepertinya tidak punya rasa malu.!"
Mampus kamu, Syafrie. Makiku dalam hati. Tamatlah sudah riwayatmu. Jika dia masih punya harga diri, tentunya dia akan memakiku.
" Maafkan aku, Asma. Aku memang pria yang tak tahu malu, jadi.... " Syafrie melangkah cepat mendekatiku. Satu cengkraman kasar di jilbabku dan selanjutnya rasa basah di bibirku membuatku membelalakkan mata tak menyangka. Lagi..... Syafrie dengan tanpa izin dariku kembali menciumku. Kali ini dia menciumku sambil menggendong putranya. Terkutuklah kau Syafrie....
Rasa shock yang sangat membuatku tak bisa berpikir jernih. Rasa sakit dan perih di bibir bawah akibat gigitan Syafrie, tak sesakit dan seperih hatiku yang terkoyak meradang, terhina karena merasa telah dikurang ajari olehnya.
" Jadi bagaimana rasanya kembali dicium oleh pria yang tak punya malu ini..? " Syafrie tersenyum sinis.
" Besok kalian akan mengulang kembali pernikahan kalian. Syafrie, Kamu mengulang kembali ijab qabul. Masalah penghulu dan saksi biar aku dan Kak Ardi yang mengurusnya..! " Suara kak Mansyah bagaikan petir di siang hari bolong di musim kemarau. Syafrie terbungkam. Aku terkejut dan lemas. Gemetar seketika menguasai diri ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mr.VANO
aku belum terbaca alur ceritany,,,ada apa ini
2023-08-28
0
Kecanduan Baca Novel
ya ampun
2022-05-28
1
Kecanduan Baca Novel
suka banget sma ceritanya
2022-05-26
2