Tak terasa dua belas purnama sudah berlalu. Hubunganku dengan Mas Haris sudah berlangsung selama ini. Namun tanda - tanda aku bisa membuka diri dengan Mas Haris belum membuahkan hasil. Aku masih merasa nyaman dengan zona pertemanan saja dengan Mas Haris.
Walaupun dekat dengan Mas Haris, namun aku selalu menghindar jika lelaki itu mulai menyinggung tentang perasaan. Apalagi hal - hal yang menjurus pada pernyataan cinta.
Sampai pada suatu malam di tepi sungai Mahakam. Mas Haris mengucapkan kata yang selama ini aku takutkan.
" Asma, entah mengapa, akhir - akhir ini aku senang sekali melihat anak kecil yang sedang bermain - main. Rasanya aku juga ingin memiliki anak."
Aku mengerutkan alis, merasa tak faham dengan arah pembicaraan Mas Haris.
" Maksud Pak Haris apa , ya? Saya kurang faham? " Aku bertanya kepada mas Haris meminta kejelasan dari kata - katanya.
"Maksudnya Asma, jika pertemanan ini bisa berlanjut pada hal yang lebih serius, mengapa kita tak mencoba untuk saling membuka hati dan menjadi sepasang kekasih, Asma?" Aku terbungkam mendengar kata - kata Mas Haris.
" Apa maksud dari perkataan bapak?" Aku bertanya dengan ekspresi pura - pura bingung dengan perkataannya.
" Berhentilah memanggilku Bapak. Aku mau kamu memanggilku Haris saja. Aku memang atasanmu jika di kantor. Namun, saat ini kita sedang berbicara sebagai dua insan yang memiliki hubungan hati, Asma!" kata Mas Haris dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
Aku membuang pandanganku jauh ke air sungai Mahakam yang mengalir deras di bawah sana. Tak ingin bertatapan langsung dengannya.
" Tapi kan, Pak Haris atasan saya, jadi saya harus bagaimana ini , pak.. eh maksud saya mas! " Aku menunduk, jengah rasanya saat Mas Haris menggenggam jemari tanganku dengan erat.
" Jadilah kekasihku, Asma! " pintar Mas Haris. Aku segera menarik tanganku dari genggaman Mas Haris.
" Jangan bergurau, Mas! " Hatiku berdebar - debar menyadari bahwa ternyata hal yang ku takutkan terjadi juga. Mas Haris menyatakan perasaannya kepadaku.
" Aku tak bergurau, Asma. Aku suka kamu! Aku ingin melindungimu dan menjagamu!" kata Mas Haris.
" Tidak, Mas. Itu bukan cinta mas. Itu hanya rasa nyaman saja.! " aku mencoba berkelit atas pernyataan Mas Haris.
" Tidak, Asma. Aku yakin bahwa aku mencintaimu. Kau tahu... aku ingin kita berdua bukan hanya sebatas memiliki hubungan atasan dan bawahan saja, tapi aku ingin lebih dari itu. Kau tentu paham maksudku, bukan?"
Aku tercekat menatap Mas Haris. Tak tahu apa yang harus ku lakukan. Mas Haris menyatakan cintanya secara terbuka padaku.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak, saya tak bisa, pak... eh Mas! "
" Mengapa, apanya yang tidak bisa? Katakan padaku, Asma! " Mas Haris menatapku gusar.
" Yang Mas Haris rasakan itu bukan cinta. Mas Haris salah dalam menilai perasaan Mas sendiri. Mas Haris tidak boleh memiliki perasaan seperti itu terhadapku." Aku menunduk menghindar tatapan Mas Haris yang sudah menghujam tajam saat mendengar perkataan dari mulutku.
" Apa yang salah dari perasaan itu. Aku bebas dan tidak terikat oleh siapapun. Pun halnya denganmu, Asma. Jadi katakan padaku di mana salahnya perasaan ini? "
" Ya, jelas salah, Mas. Karena selama ini Mas Haris belum mengenal siapa diriku yang sebenarnya." jawabku.
" Kalau begitu jelaskan sekarang padaku, siapa dirimu sebenarnya, Asma! Agar aku bisa mengenal lagi siapa dirimu sebenarnya. Jangan membuatku bingung dengan semuanya." Mas Haris meraih kedua tanganku.
" Aku tak sanggup, Mas. Aku takut, jika aku menjelaskan siapa diriku sebenarnya, mas Haris mungkin tak ingin lagi bertemu denganku." aku memberi alasan alih - alih menghindar dari pertanyaan Mas Haris yang menjebakku.
" Coba saja. Aku bukan orang yang seperti itu. Rupanya kau pun belum mengenal diriku! " desisnya tajam.
" Tidak Mas, aku tak sanggup. Lebih baik Mas Haris lupakan saja aku. Simpan saja perasaan Mas Haris itu pada gadis lain yang lebih pantas menerimanya." kataku ambigu.
" Mengapa sulit sekali bagimu untuk mengatakannya, Asma? Apakah kau merasa aku tak pantas menjadi lelaki dalam hidupmu? " Aku gusar mendengar perkataan Mas Haris. Ku rasa dia salah mengartikan maksud dan tujuanku berkata seperti itu kepadanya.
Keheningan terjadi beberapa saat di antara kami. Aku tahu, Mas Haris masih berusaha untuk meredam emosinya saat tadi aku menyuruhnya untuk melupakan saja diriku dan memintanya mencari gadis yang lain.
Aku terdiam dan kembali merasa gugup. Aku meremas kedua tanganku. Ada kegelisahan yang merayapi hatiku saat ini. Apakah aku harus jujur mengatakannya pada Mas Haris.
" Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang." ucap Mas Haris kemudian.
" Aku janda... " ucapku lirih nyaris tak terdengar.
" Apa?" mata Mas Haris nyaris melompat keluar saat mendengar ucapanku tadi.
" Aku seorang janda, Mas. Itulah sebabnya mengapa aku tak bisa menerimamu. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku, Mas." Ada kelegaan setelah aku mengatakan hal itu kepada Mas Haris. Rasanya seperti beban berat yang kurasakan di punggung menjadi hilang.
Sesaat mas Haris terdiam. Mungkin dia merasa shock mengetahui fakta yang sesungguhnya tentang diriku.
Aku kemudian berdiri di hadapan Mas Haris saat menyadari kediaman laki-laki itu yang lama.
" Ayo kita pulang. Aku rasa Mas Haris sudah faham alasan mengapa aku menolaknya. Aku mohon antarkan aku pulang sekarang. Aku lelah, Mas! " kataku sambil beranjak
" Asma, mari kita menikah! " ajak Mas Haris tiba-tiba sambil berdiri memegang kedua tanganku.
" Mas..! Aku mengatakan dengan jujur siapa diriku supaya Mas itu sadar dan bisa memilih yang lebih baik lagi untuk Mas! "
" Lalu kalau aku berhasil mendapatkan seorang gadis, apa kau bisa menjamin bahwa aku akan hidup bahagia? "
Aku terdiam tak berkutik mendengar pertanyaan Mas Haris.
" Jawab, Asma! Apakah aku akan bahagia jika aku menikah dengan seorang gadis?"
" Ehh.. iya, Mas. Tentu saja Mas akan bahagia." jawabku dengan terbata-bata.
Bodoh.... itu jawaban terbodoh yang aku dengar yang di berikan boleh seorang wanita bernama Asmawati Basrie.
" Picik, kamu benar-benar picik, Asma. Kamu menilai aku sama dengan laki-laki lain yang hanya menilai seseorang gadis dari selaput dara dan berdasarkan pisik luarnya saja. Baik....akan ku buktikan bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu, Asma! " kata Mas Haris.
" Walaupun kamu mencintaiku dan bisa menerima kekuranganku, namun belum tentu keluarga mas juga mau menerimaku." Mas Haris terdiam.
" Kita lihat saja nanti, Asma. Akan ku buktikan bahwa anggapanmu selama ini tentang diriku salah."
Aku menggigit bibir, sakit. Namun, terasa lebih menyakitkan lagi saat melihat cibiran orang - orang terhadap diriku jika mereka tahu siapa diriku. Status warna ungu yang kusandang, dalam kehidupan sosial masyarakat belum bisa di terima sepenuhnya dalam status sosial seseorang.
Semua bukanlah atas kemauan ku. Namun, aku juga tak bisa menolak. Status janda bukanlah pilihan. Namun, apakah seorang janda tak berhak untuk hidup bahagia dan merasakan apa itu cinta? "
Kadang aku bertanya dalam hati, benarkah sudah pilihanku yang memilih hidup menjanda dari pada kembali membuka hati untuk lelaki lain.
...----...
Sudah beberapa hari, aku dan Mas Haris tak bertemu. Sejak pembicaraan kami malam itu, aku berusaha untuk menghindar bila bertemu dengan Mas Haris. Aku tak ingin lagi membicarakan hal yang menurutku hanya buang - buang waktu saja.
Aku menyadari, menyakitkan memang jika dalam sebuah hubungan yang mencintai hanyalah dirimu sendiri, sedangkan pasanganmu tidak.
Aku pernah mengalami hal seperti itu. Disaat aku berjuang untuk mempertahankan bahtera rumah tanggaku, aku di campakkan tanpa pernah tahu bahwa ternyata selama ini hanya aku sajalah yang mencintai.
Dahulu, aku pernah memimpikan tentang suatu hubungan. Di mana hubungan itu akan abadi dan kekal, seperti cerita yang terdapat dalam dongeng - dongeng. Hubungan yang berakhir ketika hanya maut saja yang berhak memisahkan.
Namun, dongeng tetaplah dongeng. Tak terjadi dalam kehidupan nyata di dunia ini. Asa yang ku rajut dengan hamparan doa dalam setiap sujudku, tak terwujud. Aku tetaplah kehilangan, tak perduli betapapun doaku sudah menggetarkan langit ke tujuh.
Dahulu, aku pernah mempersembahkan sebuah cinta kepada seorang lelaki berkulit sawo matang, bertubuh tinggi dan memiliki tatapan yang tajam. Lelaki lulusan Sarjana Teknik Mesin itu menawarkan sebongkah cinta padaku. aku yang berdebar - debar, dengan bodohnya langsung menerima dan menguncinya rapat di hatiku.
Sampai akhirnya goresan biru sembilu mengoyak habis isi di dalamnya. Aku tertatih-tatih mencari kuncinya, namun apa yang ku peroleh hanyalah kehilangan.
Aku kehilangan suami, kehilangan Bapak, dan aku juga kehilangan anak. Aku kehilangan semua cinta yang aku miliki. Semua itu karena seseorang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Mr.VANO
cuma laki2 bodoh yg membuang berlian seperti asma
2023-08-28
0
Syifa Salma
novel yg bagus...dg tata bahasa yg runut, tdk vulgar dalam setiap alurnya. Berkelas
2023-03-03
0
Ira Indriani
nyandu nih bacanya😍
2022-12-27
1