Bab. 4

Baby sometimes love just ain't enough by Patty Smith mengalun lembut di telingaku. Memang cinta saja tak cukup untuk sebuah hubungan. Kesetiaan diperlukan untuk membangun sebuah mahligai. Jika kesetiaan sudah berbuah pengkhianatan, apakah mahligai tersebut masih bisa berdiri kokoh? Itulah sebabnya aku sangat menyukai lagu ini. Mewakili isi hati dan kisah hidupku.

Aku mengenal Mas Haris sebagai atasanku di salah satu kantor cabang PT. Mahesa Alam di Samarinda. Gelar diploma III akuntansi dan perkantoran, di tambah penampilanku yang lumayan menunjang membuat aku dengan mudahnya memperoleh pekerjaan sebagai salah satu staff administrasi di bagian keuangan di salah satu kantor cabang PT. Mahesa Alam yang merupakan salah satu perusahaan yang terkenal di kota ini.

Awalnya aku dan Mas Haris adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Pertemuan pertama kami adalah ketika lelaki itu mendatangi kantor Samarinda untuk melakukan audit. Mas Haris adalah Manager keuangan kami di pusat. Saat melakukan audit di kantor cabang, kami sempat bertukar nomor whatsapp untuk memudahkan Mas Haris menghubungiku, jika membutuhkan bantuan.

Waktu terus berlalu, tak ada yang istimewa terjadi di antara hari - hariku, sampai suatu hari aku menerima sebuah pesan darinya.

" Assalamu'alaikum, hari ini aku ada di Samarinda, nanti malam aku mau mengajakmu makan malam. Aku mohon j**angan menolak, aku bisa terluka! "

Aku mengamati dan membaca pesan itu dengan datar, tanpa berniat membalasnya. Aku lebih memilih kembali melanjutkan pekerjaanku.

" Astaghfirullah, susah sekali ya, buat ngerespon?

Aku masih bergeming. Malas meladeni ajakannya.

" Hei...... yuhuuuuu✋✋✋"

Ini adalah chat masuk yang ketiga. Sungguh rasanya kurang sopan jika kali ini aku tak membalas chat dari atasanku itu.

" Apa ada hal yang penting, yang ingin Bapak bicarakan? Saya merasa agak sedikit kurang enak badan." balasku. Hening tak ada jawaban.

Aku kembali meneruskan pekerjaanku.

*

*

*

Malam hari, di rumah kontrakkanku. Aku baru saja merebahkan tubuhku di kasur. Rasa badanku agak sedikit demam. Mungkin akibat terlalu lelah. Tubuhku memang seperti ini. Jika terlalu lelah, kondisiku langsung drop. Badanku demam dan tubuhku mendadak lemas tak bertenaga.

Sebuah ketukan di pintu membuatku urung untuk melanjutkan tidurku. Aku melirik jam dinding yang terpajang di dinding ruang tamu. Siapa sih yang bertamu malam - malam begini, aku bertanya dalam hati.

Betapa terkejutnya aku saat mengetahui siapa yang bertamu ke rumahku malam - malam begini.

Mas Haris berdiri di depan pintu rumah kontrakanku sambil tersenyum. Astaga.... dari mana dia mendapatkan alamat rumah kontrakanku. Ini pasti ulah teman kantorku, Rima. Karena hanya dia yang tahu alamat rumah kontrakanku sebab dia yang sering menjemputku kalau hendak berangkat kerja.

Dengan malu - malu, aku mempersilahkan Mas Haris duduk di kursi plastik yang terdapat di ruang tamu rumah kontrakanku.

Sempat terjadi keheningan di antara kami. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bukanlah anak gadis kemarin sore yang berbunga - bunga hatinya karena di apelin sama sang pacar. Dan lagi pula Mas Haris bukanlah pacar atau kekasihku.

" Ehem! " Mas Haris berdehem memecah keheningan.

" Jadi, gimana? " tanya Mas Haris.

" Gimana apanya, Pak? " tanyaku tak faham.

" Iya, kamu kan tadi katanya sedang sakit. Apanya yang sakit, biar sekalian kita pergi ke dokter! " jawabnya kalem.

" Saya tidak sakit, Pak. Saya hanya sedang tak enak badan. Tubuh saya demam." Aku tersenyum.

" Wajah kamu pucat. Apa kamu sudah minum obat?" tanya Mas Haris.

" Tidak perlu, Pak. Di bawa istirahat saja nanti juga baik sendiri, kok! " Aku bingung dan grogi. Jujur saja, selama bekerja di PT. Mahesa Alam baru kali ini aku mendapat kunjungan langsung dari atasan.

" Bapak tak perlu khawatir. Saya tidak akan bolos bekerja cuma karena hal sepele seperti ini."

" Jangan menyepelekan hal kecil, Asma. Saya belikan obat, ya!" tawarnya padaku yang ku jawab dengan gelengan kepala.

" Tidak usah, pak. Saya minum obat warung saja. Tadi saya sudah beli. Tinggal diminum saja nanti kalau mau tidur. " Aku tak enak hati menanggapi tawaran dari atasanku.

Mas Haris beranjak berdiri.

" Sudah, jangan membantah lagi. Tunggu aku sebentar di sini. Aku akan membelikan kamu obat dan juga makanan."

Aku diam dan juga bingung. Bagaimana ini. Masa aku harus menolak dan membantah atasanku lagi.

" Tapi, pak.. "

" Saya bilang jangan membantah. Tunggu aku di sini.! " titah Mas Haris.

Akhirnya, mau tak mau aku terpaksa menurut ucapan Mas Haris.

Selang berapa lama, Mas Haris kembali lagi. Kali ini dengan menenteng bungkus yang berisi obat dan juga makanan.

" Loh, kok beli makanan juga, Pak? " Mas Haris tersenyum menatap aku yang bingung karena bos aku itu bukan hanya membawa obat untukku saja tapi juga makanan.

" Kan tadi aku sudah bilang. Temani aku makan malam. Karena kamu sedang sakit, maka makanannya aku bawa aja ke sini. Ayo makanlah, setelah itu kamu minum obat dan istirahat.! "

Jadilah malam itu aku dan mas Haris makan bersama berdua di ruang tamu rumah kontrakanku.

Setelah makan, mas Haris memastikan bahwa aku sudah minum obat yang dia belikan. Aku menurut saja saat di suruh minum obat. Pasrah.

Mas Haris pamit pulang tak lama setelah menyuruhku minum obat.

" Aku pulang dulu, Asma. Tutup pintunya dan jangan terima tamu lagi. Langsung tidur aja dan tidak usah begadang." titahnya tak boleh dibantah. Aku mengangguk seraya menutup pintu setelah melihatnya berlalu pergi meninggalkan rumah kontrakanku dengan mobilnya.

Satu minggu setelah kedatangan mas Haris ke rumah kontrakanku. Aku kembali lagi bekerja. Demam yang kuanggap sepele ternyata adalah tifus. Jadi terpaksa aku harus istirahat total di rumah sampai sembuh total baru bisa kembali lagi bekerja.

Selama sakit, aku tak. mengizinkan seorang pun dari teman - temanku untuk datang menjenguk. Tidak juga mas Haris.

Pernah merasakan sakitnya luka hati yang sangat parah akibat penghianatan Syafrie, membuat aku memilih - milih dalam berteman. Alhasil... nol. Aku tak memiliki seorang temanpun yang dekat denganku.

Aku memilih menutup diri agar terhindar dari goresan luka yang sama yang sakitnya bahkan tak mampu terucapkan.

Berharap agar tak ada lagi luka yang sama kembali hadir. Karena aku tak tahu apakah aku mampu mengobati luka ini. Tak ada yang tahu, betapa besarnya keinginan hati ini untuk mengiris pergelangan nadiku sendiri saat kembali kepahitan luka itu muncul di celah hatiku yang kecil dan bernanah.

Katakanlah.... mungkin aku kurang beriman. Aku memang jauh dari Tuhan. Tapi sungguh, aku tak mampu jika suatu hari aku kembali lagi mengalami luka yang sama. Aku tak tahu harus bagaimana.

Aku rasa aku sudah tak memiliki lagi kekuatan hati untuk bertahan dari luka itu. Luka hati yang pernah di torehkan oleh seseorang begitu dalam menghujam jiwaku. Meninggalkan luka yang sampai saat ini belum kering walaupun sudah kering air mataku menangisinya.

...----...

Sejak kedatangan Mas Haris malam itu, hubungan kami mulai dekat. Mas Haris mulai sering mendatangiku meski hanya sekedar untuk menengokku dan memastikan bahwa keadaanku baik - baik saja.

Walaupun berbeda jarak, tak menghalangi Mas Haris untuk mendekatiku. Puncaknya adalah Mas Haris yang memilih pindah ke kantor cabang Samarinda.

Dan jujur saja, hal itu tidak membuatku nyaman. Kedekatan kami menjadi buah bibir di kantor kami. Aku menjadi bahan gosip karena seringnya Mas Haris muncul di hari - hariku. Skandal antara atasan dan bawahan memang menjadi bahan gosip yang menyenangkan untuk di bahas di sela - sela kegiatan kantor yang melelahkan.

Aku tak bisa menyalahkan mereka atas semua gosip yang menerpaku. Mereka mengatakan sesuai dengan apa yang mereka liat dan rasakan. Karena aku tak juga mampu mengklarifikasi gosip itu secara pasti.

Berulang kali sudah aku berusaha untuk menghindari Mas Haris. Namun berulang kali juga dia menyeretku untuk memasuki Land Rover miliknya dan memaksaku agar aku mau untuk diantar pulang olehnya.

Aku sudah memberitahunya tentang gosip yang beredar tentang kami. Namun bukannya menghindar, dia malah makin gencar mendekatiku.

Dan benarlah pepatah berkata, cinta itu tumbuh karena sering bertemu. Awalnya hanya mengantar jemput. Lalu makan bareng. Setelah itu semua mengalir begitu saja. Mas Haris dan aku semakin dekat saja.

Hubungan kami bukan lagi sekedar hanya atasan dan bawahan. Berdua, kami sering menghabiskan waktu bersama. Kadang makan bareng di restoran, nonton bioskop atau sekedar jalan- jalan menghabiskan waktu dengan duduk santai berdua di tepi sungai Mahakam.

Aku menjelma menjadi Asma yang ceria dan lincah. Mas Haris mampu menghadirkan kembali kecerianku yang dulu pernah hilang entah kemana.

Berada di dekat mas Haris merubahku dari seorang wanita yang pemurung menjadi seorang wanita yang bahagia. Aku tak tahu apakah semua ini hanya topeng pelarianku saja atau apa. Namun satu hal yang aku tangkap dengan jelas bahwa aku bahagia bila bersama Mas Haris.

Terpopuler

Comments

Mr.VANO

Mr.VANO

sesakit itu di hianati,,sampai ikut berdenyut segumpal darah

2023-08-28

0

Shantieka

Shantieka

baru baca awal bab nya aja aku dah nyesek.

2022-07-31

0

Limi_chan

Limi_chan

cerita baru emang menarik

2022-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1
2 Bab. 2
3 Bab. 3
4 Bab. 4
5 Bab. 5
6 Bab. 6
7 Bab. 7
8 Bab. 8
9 Bab. 9
10 Bab. 10
11 Bab. 11
12 Bab. 12
13 Bab. 13
14 Bab. 14
15 Bab. 15
16 Bab. 16
17 Bab. 17
18 Bab. 18
19 Bab. 19
20 Bab. 20
21 Bab. 21
22 Bab. 22
23 Bab. 23
24 Bab. 24
25 Bab. 25
26 Bab. 26
27 Bab. 27
28 Bab. 28
29 Bab. 29
30 Bab. 30
31 Bab. 31
32 Bab. 32
33 Bab. 33
34 Bab. 34
35 Bab. 35
36 Bab. 36
37 Bab. 37
38 Bab. 38
39 Bab. 39
40 Bab. 40
41 Bab. 41
42 Bab. 42
43 Bab. 43
44 Bab. 44
45 Bab. 44
46 Bab. 45
47 Bab. 46
48 Bab. 47
49 Bab. 48
50 Bab. 49
51 Bab. 50
52 Bab. 51
53 Bab. 52
54 Bab. 53
55 Bab. 54
56 Bab. 55
57 Bab. 56
58 Bab. 57
59 Bab. 58
60 Bab. 59
61 Bab. 60
62 Bab. 61
63 Bab. 62
64 Bab. 63
65 Bab. 64
66 Bab. 65
67 Bab. 66
68 Bab. 67
69 Bab. 68
70 Bab. 69
71 Bab. 70
72 Bab. 71
73 Bab. 72
74 Bab. 73
75 Bab. 74
76 Bab. 75
77 Bab. 76
78 Bab. 77
79 Bab. 78
80 Bab. 79
81 Bab. 80
82 Bab. 81
83 Bab. 82
84 Bab. 83
85 Bab. 84
86 Bab. 85
87 Bab. 86
88 Bab. 86
89 Bab. 88
90 Bab. 89
91 Bab. 90
92 Bab. 91
93 Bab. 92
94 Bab. 93
95 Bab. 94
96 Bab. 95
97 Bab. 96
98 Bab. 97
99 Bab. 98
100 BAB. 99
101 Bab. 100
102 Bab. 101
103 Bab. 102 Tamat
104 Extra Bab. 103
105 Penutup
106 Bab. Promosi
107 Bab. Promosi 2
108 Bab promosi 3
109 Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin
Episodes

Updated 109 Episodes

1
Bab. 1
2
Bab. 2
3
Bab. 3
4
Bab. 4
5
Bab. 5
6
Bab. 6
7
Bab. 7
8
Bab. 8
9
Bab. 9
10
Bab. 10
11
Bab. 11
12
Bab. 12
13
Bab. 13
14
Bab. 14
15
Bab. 15
16
Bab. 16
17
Bab. 17
18
Bab. 18
19
Bab. 19
20
Bab. 20
21
Bab. 21
22
Bab. 22
23
Bab. 23
24
Bab. 24
25
Bab. 25
26
Bab. 26
27
Bab. 27
28
Bab. 28
29
Bab. 29
30
Bab. 30
31
Bab. 31
32
Bab. 32
33
Bab. 33
34
Bab. 34
35
Bab. 35
36
Bab. 36
37
Bab. 37
38
Bab. 38
39
Bab. 39
40
Bab. 40
41
Bab. 41
42
Bab. 42
43
Bab. 43
44
Bab. 44
45
Bab. 44
46
Bab. 45
47
Bab. 46
48
Bab. 47
49
Bab. 48
50
Bab. 49
51
Bab. 50
52
Bab. 51
53
Bab. 52
54
Bab. 53
55
Bab. 54
56
Bab. 55
57
Bab. 56
58
Bab. 57
59
Bab. 58
60
Bab. 59
61
Bab. 60
62
Bab. 61
63
Bab. 62
64
Bab. 63
65
Bab. 64
66
Bab. 65
67
Bab. 66
68
Bab. 67
69
Bab. 68
70
Bab. 69
71
Bab. 70
72
Bab. 71
73
Bab. 72
74
Bab. 73
75
Bab. 74
76
Bab. 75
77
Bab. 76
78
Bab. 77
79
Bab. 78
80
Bab. 79
81
Bab. 80
82
Bab. 81
83
Bab. 82
84
Bab. 83
85
Bab. 84
86
Bab. 85
87
Bab. 86
88
Bab. 86
89
Bab. 88
90
Bab. 89
91
Bab. 90
92
Bab. 91
93
Bab. 92
94
Bab. 93
95
Bab. 94
96
Bab. 95
97
Bab. 96
98
Bab. 97
99
Bab. 98
100
BAB. 99
101
Bab. 100
102
Bab. 101
103
Bab. 102 Tamat
104
Extra Bab. 103
105
Penutup
106
Bab. Promosi
107
Bab. Promosi 2
108
Bab promosi 3
109
Bab. 1 Promosi novel Suami Kedua ku Pangeran Jin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!