Suara alarm dari hapeku membangunkan aku dari alam bawah sadarku. Entah sudah berapa lama aku meringkuk di atas tempat tidurku. Ku lirik waktu di handphone milikku. Pukul 03.40 pagi.
Perutku berbunyi minta diisi serta rasa haus yang mencekik leherku memaksaku untuk keluar dari kamar ini. Aku butuh air untuk membasahi keringnya kerongkongan oleh dahaga.
Namun malas rasanya jika memikirkan bahwa di luar sana aku harus melihat lagi wajah lelaki itu.
Setelah memastikan diri bahwa kemungkinan pria itu tentunya telah terlelap, aku beringsut beranjak keluar kamar. Aku berjalan dengan berjingkat - jingkat dan tanpa alas kaki agar suara langkah kakiku tak terdengar olehnya. Aku tak perduli oleh dinginnya lantai semen yang menusuk kaki telanjangku.
Lampu dapur ternyata sengaja dibiarkan agar tetap menyala. Nyala lampu dapur yang redup masih berguna untuk menerangi langkah kakiku agar tidak tersandung saat melewati ruangan itu. Lampu di rumah ini menggunakan tenaga surya, karena selama aku tinggal di desa ini, kami belum mengenal listrik.
Aku bisa membayangkan, pastilah sebagian besar warga di sekitar desaku menggunakan penerangan dari tenaga surya.
Aku mengedarkan pandangan di sekitar dapur. Dapur di rumah mamaku berdinding kayu meranti yang tersusun rapi. Berbeda dengan ruang tamu hingga ke ruang keluarga yang dibangun seluruhnya berdinding beton dan beralaskan keramik.
Dapur mama sangat sederhana sekali. Sama seperti ruang tamu, dinding dapur juga diberi cat dengan warna yang sama, putih. Lantai dapur juga terbuat dari kayu dan dilapisi oleh karpet plastik putih bercorak bunga - bunga kecil.
Tidak ada perabotan mewah di dapur mama. Hanya sebuah meja lesehan berbentuk segi empat yang terbuat dari kayu dengan dilapisi oleh taplak dan sebuah tudung saji bundar yang terbuat dari besi.
Juga tak ada perabotan masak yang mahal layaknya macam dapur di kota. Hingga dapur mama terkesan luas. Mataku tertuju pada kulkas yang terletak di samping pintu masuk ke dapur.
Aku melangkah mendekati kulkas dan segera membuka pintu kulkas dan menuntaskan dahagaku. Arghh.... segarnya terasa kerongkongan ini saat cairan bening itu mengalir di sana.
Tiba-tiba aku membeku. Air yang telah masuk mengalir kembali melalui hidung. Aku tersedak menyadari bahwa ada seseorang berdiri di hadapanku.
Sejak kapan lelaki durjana itu ada di sini? pikirku. Dalam keremangan cahaya lampu dapur dapat kulihat tatapannya menatap tajam kepadaku.
Siluet wajah yang dulu begitu kugilai, masih terpahat dengan sempurna. Bisa kulihat dengan jelas dagu terbelahnya dalam bias cahaya lampu yang temaram.
Celana perkakas coklat susu dan t-shirt hitam bertuliskan "Difficult' yang dia kenakan membungkus tubuh kekarnya. Dulu... tubuh itu kurus dan jangkung dengan gaya rambut cepak yang menjadi andalannya. Dia masih saja tampan seperti dulu, namun saat ini lebih terkesan dewasa dan matang.
Astaga..... apa yang sudah aku lakukan? Mengapa aku mengagumi Lelaki ini. Otakku memang sudah tak waras. Dahulu, mungkin hatiku akan berdesir saat melihat dia menatapku penuh makna seperti ini. Namun saat ini yang ada adalah hatiku yang sedang bergolak penuh dengan kebencian hingga rasanya aku ingin sekali mendatanginya dan menebas batang lehernya sampai putus.
Bergegas aku menutup pintu kulkas dan memilih berlalu untuk kembali ke kamar.
" Kau hauss?" suara beratnya bertanya saat aku melewati tubuhnya.
Aku menghentikan langkahku. Dasar Syafrie, apa matanya sudah buta. Jelas - jelas aku meminum air bukan makan makanan yang dia berikan, mengapa masih bertanya lagi apa aku haus atau tidak.
" Ya, aku haus.... ingin meminum darahmu dan juga darah wanitamu itu sekarang! Kau mau apa? " ketusku saat menjawab pertanyaan tololnya.
" Maaf..! "
Sebuah kata yang keluar dari mulut Syafrie membuat surut kemarahan yang tadinya sempat mencuat kembali.
" Aku rindu... tidak... tidak.. tapi sangat.. sangat rindu sekali. Aku merindukan dirimu Asma sampai rasanya dadaku mau pecah oleh rindu yang menghimpit."
Mendengar dia mengatakan itu membuat darah di ubun - ubunku kembali mendidih. Luka penghianatan yang dia goreskan di hatiku kembali mengeluarkan darah.
Aku mendecih, mengeluarkan senyum ejekan. Aku ingin memperlihatkan padanya seberapa besar kebencianku. Begitu besar...... begitu bergelora ...... hingga rasanya seperti aku ingin mencabik- cabik tubuhnya saat ini.
Lelaki bertubuh jangkung di hadapanku ini menunduk. " Aku pikir.... kita tak akan pernah bertemu. Aku hampir gila mencarimu.". Dia masih menunduk, lalu kemudian kepalanya terangkat sambil menatapku dengan tatapan sendu.
Dalam hati aku mencibir dan mencemooh habis dirinya. Syafrie... Syafrie .... kata - kata itu tak cocok keluar dari mulutmu, ejekku penuh kusumat. Lelaki dholim dan durjana seperti dirinya sangat cocok dengan ekspresi kejam dan tidak peduli dengan perasaan orang lain, seperti dulu saat dia dengan kejamnya meninggalkan diriku dan menikah dengan perempuan sialan itu, aku mengutuknya dalam hati sampai tujuh turunan. Terbakarlah di neraka jahanam yang abadi.
Lagi pula apa yang dia harapkan denganku dari ucapannya itu? Apa dia berharap agar aku tersentuh dan berlari ke pelukannya menumpahkan segenap kerinduan. Cuihh....berharap saja kau Syafrie. Mana sudi aku melakukan semua itu.
Aku melangkahkan kaki pergi meninggalkan dirinya. Tak perduli ia menatapku dengan tatapan memohon. Apa peduliku? Silahkan saja kau tenggelam dan mati dalam rasa rindu dan penyesalan. Itu mungkin satu - satunya cara agar aku bisa memaafkanmu. Itupun kalau bisa....
Sudah kukatakan padanya bahwa benciku tak lagi berwarna merah, tapi seperti perubahan warna identitas covid -19 warnanya berubah dari merah menjadi ungu lalu yang terparah menjadi hitam. Hitam pekat seperti kelamnya malam.
Bisa dibilang, tiada maaf bagimu, Syafrie. Aku menghela nafas dalam, mencoba menahan diri agar tak menerjangnya. Aku cukup malu saat menyadari bahwa ternyata waktu kabur sepuluh tahun tak membuat Asma dapat menguasai diri dan bersikap dewasa dalam menghadapinya.
Sesampainya di kamar, aku menghempaskan diri di ranjang. Penatku belum lagi hilang, tapi mengapa aku tak mampu terlelap dengan nikmat setelah kepenatan dari perjalanan panjang.
Pandangan mataku kembali tertumbuk pada pigura yang terpajang di meja belajar. Ekspresi pria itu yang tersenyum bahagia berbanding terbalik dengan ekspresi yang baru saja ku lihat tadi. Kemana.... senyum bahagia lelaki itu seperti yang tertangkap melalui kamera.
Kalau menurutkan kata hatiku, ingin rasanya kubanting saja pigura itu. Namun, hati kecilku melarang. Sama saja dengan aku memperlihatkan kelemahan diriku pada mereka. Jangan biarkan mereka tahu, bahwa kau merasa tersakiti.
Tidak.... Asma yang sekarang tidak akan lemah.... Aku sudah menghapus nama Syafrie dari hatiku. Jadi aku tak akan peduli lagi dengan apapun yang dia lakukan. Rasa itu sudah ku bunuh habis. Aku memejamkan mata.....
Namun, tak mampu juga aku menghilangkan berjuta tanya di benakku.
Lelaki itu telah menghinaku dengan membawa anak wanita itu tinggal di rumahku.
Mengapa mama dan kakak - kakakku tidak melarangnya. Apakah mereka juga sekarang berbalik bersekutu dengan laki-laki itu karena marah dengan kepergianku yang lama dan tanpa kabar. Sebab yang ku tahu, dulunya mereka sangat membenci pria itu sama seperti diriku.
Mengapa mereka membiarkan lelaki itu dan anaknya tinggal di rumah ini. Kemana istrinya? Atau jangan - jangan yang aku tempati beristirahat adalah kamar mereka?.. Tapi mengapa foto di dalam pigura itu hanya ada lelaki itu dan anak laki-laki yang wajahnya serupa dengan Syafrie. Aku mendelik memandang sekeliling. Apakah aku telah salah masuk rumah. Jangan - jangan ini bukan rumah mama tapi rumah lelaki itu dan istrinya. Mampusss aku......Kalau sudah begini, apa yang harus kulakukan?
...----...
Suara azan di surau yang terletak tak jauh dari rumah mama, memaksaku untuk terjaga dan bangun dari tidurku. Kepenatan dan lelah karena perjalanan dan kurangnya tidur membuat aku merasa kepalaku pusing dan tubuhku lemas.
Berpegang pada sandaran ranjang, aku memaksakan diri untuk bangkit. Tanganku berpegangan pada dinding dan berjalan menyusuri dinding sambil berpegangan.
Rupanya, tanpa sadar aku akhirnya tertidur juga. Mungkin ini efek dari rasa lelah dan juga amarah pada si Jahanam Syafrie. Aku terlelap sampai subuh menjelang.
Perlahan, kusingkap tirai biru yang menjadi gorden di jendela kamar ini. Hari masih terlihat gelap. Sekarang pukul lima pagi. Hari masih sangat pagi, namun aku melihat bayangan beberapa orang yang melintas hendak menuju ke surau kecil di dekat rumahku. Setelah puas melihat - lihat sebentar, aku memutuskan untuk menyeret langkahku ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi terkuak, menampilkan wajah lelaki yang paling ku benci di dunia. Dia berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan selembar handuk coklat sambil melangkah ke arah cermin yang letaknya di sebelah kulkas.
Aku berdecih saat melihatnya hanya memakai boxer dan handuk kecil yang terlilit di lehernya. Apa dia sudah putus urat malunya selama tinggal di rumahku. Apa dia lupa dengan kehadiranku di rumah ini. Dasar tak tahu diri.
Pandangan mata kami bertemu saat dia berjalan melewatiku. Aku tak peduli pada tatapannya yang lagi - lagi penuh harap dan damba. Muak aku... semua yang kulihat di dirinya semua serba salah. Aku tak peduli... Berjalan melewatinya dan berniat hendak masuk ke kamar mandi dengan gelenyar amarah hatiku.
" Tahukah kamu bahwa solat subuh bersama suami atau istri, bisa menjalin kerukunan dan keharmonisan pasangan suami istri. Apakah kamu tidak keberatan jika kita sholat bersama! " ajak lelaki itu padaku, Aku menanggapinya dengan mencibir dengusan keras.
Bantingan pintu kamar mandi yang sangat keras seolah - olah menjawab ajakan lelaki brengsek itu dariku. Aku tak ingin tahu bagaimana ekspresi wajahnya!
........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 109 Episodes
Comments
Minaaida
misteri selanjutnya ada di bab slanjutnya. Terima kasih krn baca novel aku
2022-07-07
0
💮Nena💮🍆
anak laki² itu apa anaknya Asma?
bukannya meninggal?
masih misteri..
2022-07-07
1
Kecanduan Baca Novel
berarti mereka masih pasutri yaa
2022-05-21
1